
Gangguan Tidur pada Anak dengan Alergi Makanan serta Dampaknya terhadap Kesehatan Ibu dan Perkembangan Psikologis: Suatu Tinjauan Ilmiah
Abstrak
Alergi makanan (AM) merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat pada populasi pediatrik dan memiliki dampak multisistem, termasuk gangguan tidur. Gangguan tidur pada anak dengan AM tidak hanya memengaruhi kualitas tidur anak, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan tidur ibu sebagai pengasuh utama. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa reaktivitas alergi, termasuk reaksi tipe segera, gejala alergi multipel, hingga anafilaksis pada masa bayi, berhubungan kuat dengan gangguan tidur dan berbagai masalah psikologis. Artikel ini bertujuan untuk merangkum bukti ilmiah mengenai hubungan antara alergi makanan, gangguan tidur pada anak, gejala psikologis ibu, serta komplikasi jangka panjang pada kesehatan anak. Sintesis data menunjukkan bahwa anak dengan AM memiliki skor gangguan tidur lebih tinggi, ibu mengalami kualitas tidur yang lebih buruk dan gejala depresi lebih tinggi, serta reaksi alergi tertentu dapat menimbulkan gejala seperti kantuk ekstrem menyerupai narkolepsi. Selain itu, anafilaksis pada usia dini berkaitan dengan risiko jangka panjang gangguan tidur dan makan. Temuan ini menekankan pentingnya deteksi dini, edukasi keluarga, serta pendekatan multidisipliner untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dengan anak penderita alergi makanan.
Kata kunci: alergi makanan, gangguan tidur, anafilaksis, keluarga, psikologi ibu, reaksi alergi tipe segera, tidur anak, kantuk narkolepsi.
Pendahuluan
Alergi makanan pada masa bayi dan kanak-kanak terbukti memiliki hubungan yang kuat dengan munculnya gangguan tidur, baik pada anak maupun ibu sebagai pengasuh utama. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan mengalami kualitas tidur yang lebih buruk, lebih sering terbangun malam, serta memiliki pola tidur yang tidak teratur dibandingkan anak tanpa alergi. Studi Filiz et al. (2020) mengungkapkan bahwa skor gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan jauh lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Penelitian lain oleh Chen et al. (2022) memperkuat temuan ini, bahwa gejala alergi — terutama gastrointestinal, nasal, dan okular — meningkatkan frekuensi terbangun malam serta mengurangi durasi tidur. Beberapa reaksi akut alergi makanan bahkan dapat menimbulkan gejala kantuk ekstrem menyerupai narkolepsi, sebagaimana dipaparkan oleh Kalb et al. (2023), yang menemukan bahwa 12,5% anak mengalami kondisi mengantuk berat hingga sulit dibangunkan selama reaksi alergi tipe segera. Selain itu, anafilaksis makanan pada usia dini juga berpotensi menimbulkan gangguan tidur jangka panjang dan mengganggu aspek perilaku dan makan di kemudian hari.
Gangguan tidur akibat alergi makanan tidak hanya berdampak pada anak, namun juga sangat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis ibu. Ibu dari anak dengan alergi makanan dilaporkan memiliki kualitas tidur yang lebih buruk serta tingkat depresi yang lebih tinggi, sebagaimana dibuktikan dalam penelitian Filiz et al. (2020). Kekhawatiran terhadap reaksi alergi mendadak, kebutuhan untuk menghindari berbagai jenis makanan, serta keharusan mengawasi pola tidur dan keluhan anak membuat beban emosional ibu meningkat. Dampak alergi makanan bahkan terlihat hingga usia dewasa, sebagaimana studi Gomi et al. (2022) pada pasien psikiatris dewasa yang menunjukkan bahwa keberadaan alergi makanan berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih rendah dan gangguan tidur yang lebih sering. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa alergi makanan bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga masalah biopsikososial yang memengaruhi kualitas hidup seluruh keluarga. Oleh karena itu, intervensi dini, edukasi keluarga, serta dukungan psikologis bagi orang tua — terutama ibu — sangat diperlukan untuk meminimalkan dampak jangka panjang alergi makanan terhadap tidur dan kesehatan mental.
Metode Tinjauan
Metode tinjauan dalam artikel ini menggunakan pendekatan tinjauan naratif berbasis bukti (evidence-based narrative review), yang bertujuan menyintesis temuan-temuan dari penelitian terpublikasi tanpa melakukan analisis statistik kuantitatif sebagaimana pada tinjauan sistematis atau meta-analisis. Pendekatan ini dipilih karena topik hubungan antara alergi makanan dan gangguan tidur memiliki variasi desain penelitian, karakteristik populasi, serta perbedaan instrumen pengukuran yang cukup besar sehingga lebih sesuai dianalisis melalui integrasi naratif. Proses tinjauan dimulai dengan identifikasi publikasi primer yang relevan, yaitu lima studi penelitian dalam kurun 2020–2023, yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi seperti Allergologia et Immunopathologia, Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, Frontiers in Pediatrics, Pediatric Allergy and Immunology, dan Neuropsychopharmacology Reports. Artikel-artikel ini dipilih berdasarkan relevansinya terhadap tema sentral, yaitu hubungan antara alergi makanan, gangguan tidur, serta dampak psikologis pada anak dan ibu.
Tahap selanjutnya adalah melakukan pembacaan mendalam (in-depth reading) terhadap setiap artikel untuk mengidentifikasi metodologi, populasi subjek, instrumen pengukuran, serta hasil utama yang dilaporkan. Misalnya, penelitian Filiz et al. (2020) menggunakan instrumen CSHQ dan PSQI untuk menilai gangguan tidur pada anak dan ibu; sementara Kalb et al. (2023) menggunakan data dari oral food challenge terkontrol untuk mengevaluasi kejadian kantuk ekstrem. Studi Chen et al. (2022) memanfaatkan desain kohort kelahiran untuk mengamati hubungan gejala alergi multipel dengan berbagai parameter tidur pada toddler berusia dua tahun. Sementara itu, Nemet et al. (2023) menggunakan desain kohort retrospektif berbasis populasi besar untuk menilai risiko jangka panjang gangguan tidur pada anak yang mengalami anafilaksis makanan sebelum usia tiga tahun. Terakhir, penelitian Gomi et al. (2022) menelaah hubungan alergi makanan dengan kualitas hidup dan tidur pada pasien psikiatri dewasa, memperluas konteks tinjauan ini ke populasi non-pediatrik.
Pada tahap sintesis data, seluruh temuan penelitian dianalisis secara tematik dengan mengelompokkan hasil berdasarkan variabel utama: (1) gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan, (2) respon fisiologis unik seperti kantuk menyerupai narkolepsi selama reaksi alergi, (3) kualitas tidur dan kesehatan psikologis ibu, serta (4) dampak jangka panjang alergi makanan berat seperti anafilaksis. Pendekatan ini memungkinkan integrasi informasi lintas desain penelitian untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai konsekuensi alergi makanan terhadap tidur dan kesehatan mental pada berbagai rentang usia. Selain itu, tinjauan ini mempertimbangkan perbedaan metodologi antar studi untuk menilai kekuatan dan keterbatasan masing-masing penelitian, sehingga interpretasi akhir tidak hanya menjelaskan hubungan antar variabel, tetapi juga memberikan konteks ilmiah berdasarkan kualitas metodologis. Dengan demikian, metode tinjauan naratif ini mampu menghasilkan pemahaman menyeluruh mengenai keterkaitan alergi makanan dengan gangguan tidur pada anak, dampaknya terhadap keluarga, serta implikasi klinis yang lebih luas.
Gangguan Tidur pada Anak dengan Alergi Makanan
Gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan umumnya muncul akibat kombinasi peradangan, ketidaknyamanan fisik, dan kecemasan, yang menyebabkan kesulitan tidur, sering terbangun malam, serta tidur yang tidak restoratif. Berikut tabel tanda dan gejala gangguan tidur pada bayi dan anak yang sering ditemukan pada kondisi alergi makanan:
Tabel tanda dan gejala gangguan tidur pada bayi dan anak yang sering ditemukan pada kondisi alergi makanan:
| Kategori Gejala | Tanda dan Gejala Utama | Penjelasan Klinis |
|---|---|---|
| Kesulitan Memulai Tidur | Sulit tertidur, rewel saat mau tidur | Dipengaruhi rasa gatal, ketidaknyamanan gastrointestinal (kolik, refluks), atau kecemasan akibat pengalaman alergi sebelumnya. |
| Gangguan Mempertahankan Tidur | Sering terbangun malam, tidur terfragmentasi | Peradangan dan rasa tidak nyaman dapat memicu terjaga mendadak; bayi/anak menjadi lebih sensitif terhadap perubahan tubuh saat tidur. |
| Tidur Tidak Restoratif | Bangun dalam keadaan lelah, tampak mengantuk di pagi hari | Tidur yang tidak berkualitas menyebabkan kurangnya pemulihan fisiologis, mengganggu regulasi imun dan mood. |
| Gejala Perilaku Siang Hari | Mudah marah, hiperaktif, sulit konsentrasi | Kurang tidur dapat memengaruhi regulasi emosi, kontrol perilaku, dan fungsi kognitif. |
| Manifestasi Fisik | Kantuk berlebih, mengucek mata, lingkaran hitam di bawah mata | Tanda bahwa kualitas tidur terganggu secara kronis dan anak mengalami defisit tidur. |
| Gejala Terkait Alergi | Gatal malam hari, batuk/wheezing saat malam, sakit perut | Gejala alergi kulit atau gastrointestinal yang memburuk saat tidur mengganggu proses tidur normal. |
Gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan terjadi melalui mekanisme biologis dan psikologis yang saling berinteraksi. Aktivasi mediator inflamasi seperti histamin dan leukotrien dapat menimbulkan gatal, nyeri perut, refluks, atau gangguan pernapasan ringan yang sering kali memuncak pada malam hari, sehingga anak sulit memulai tidur dan sering terbangun. Pada bayi, respons ini dapat muncul sebagai tangisan berkepanjangan, gelisah, atau pola tidur yang sangat tidak teratur. Anak yang lebih besar mungkin mengeluhkan sensasi tidak nyaman di perut, rasa gatal intens, atau mimpi buruk terkait pengalaman alergi sebelumnya. Akumulasi gejala ini mengarah pada tidur yang terfragmentasi dan tidak restoratif.
Selain faktor biologis, aspek emosional dan perilaku juga berperan penting. Anak yang pernah mengalami reaksi alergi yang menyakitkan atau mengejutkan dapat mengembangkan kecemasan tidur (sleep-associated anxiety) karena mengaitkan waktu tidur dengan ketidaknyamanan atau rasa takut. Kondisi ini dapat memperburuk kesulitan tidur mereka, memengaruhi fungsi siang hari seperti konsentrasi, regulasi emosi, dan perilaku. Gangguan tidur yang persisten kemudian membentuk lingkaran setan dengan alergi itu sendiri, karena kurang tidur dapat meningkatkan mediator inflamasi dan membuat gejala alergi lebih mudah kambuh. Dengan demikian, gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan harus dipahami sebagai masalah multifaktorial yang memerlukan perhatian klinis menyeluruh, termasuk pengelolaan gejala alergi, intervensi perilaku tidur, dan edukasi keluarga.
Hasil dan Pembahasan
1. Gangguan Tidur pada Anak dengan Alergi Makanan
- Gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan merupakan salah satu temuan paling konsisten dalam berbagai penelitian, dengan Filiz et al. (2020) menunjukkan bahwa skor CSHQ anak alergi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan anak non-alergi, mencerminkan adanya kesulitan tidur, peningkatan frekuensi terbangun malam, dan tidur yang tidak memberikan efek restoratif. Mekanisme yang mendasari kondisi ini sangat kompleks dan melibatkan kombinasi faktor biologis serta psikologis, termasuk aktivasi mediator inflamasi seperti histamin dan leukotrien yang menyebabkan reaktivitas kulit dan saluran cerna, rasa gatal pada eczema yang memburuk pada malam hari, serta ketidaknyamanan gastrointestinal yang mengganggu proses tidur. Di samping itu, anak dengan riwayat reaksi alergi yang mengancam atau mengejutkan dapat mengembangkan kecemasan atau hypervigilance saat tidur, sehingga makin mengganggu kualitas tidur mereka. Studi Chen et al. (2022) turut memperkuat bukti ini dengan menunjukkan bahwa gejala gastrointestinal akibat alergi berhubungan dengan tidur malam yang lebih pendek dan pola tidur yang lebih tidak teratur. Menariknya, tidak semua gejala alergi berdampak sama; gejala kulit atau wheezing tidak menunjukkan hubungan signifikan, menandakan bahwa tipe gejala alergi memiliki kontribusi patofisiologis yang berbeda terhadap gangguan tidur.
2. Kantuk Ekstrem Menyerupai Narkolepsi sebagai Gejala Reaksi Alergi Tipe Segera
- Fenomena kantuk ekstrem menyerupai narkolepsi sebagai manifestasi reaksi alergi tipe segera, sebagaimana dilaporkan oleh Kalb et al. (2023), merupakan temuan klinis yang sangat penting karena memperluas pemahaman tentang spektrum gejala akut alergi makanan. Pada penelitian tersebut, 12,5% anak yang menjalani oral food challenge menunjukkan kondisi somnolen berat hingga sulit dibangunkan dalam dua jam setelah konsumsi alergen, suatu gejala yang sebelumnya jarang dikenali dalam konteks alergi. Faktor risiko utama yang teridentifikasi termasuk riwayat eczema, paparan alergen tertentu seperti kacang hazel dan kacang pohon lain, serta kategori reaksi alergi yang lebih berat. Gejala ini diduga berkaitan dengan pelepasan mediator inflamasi sistemik yang memengaruhi sistem saraf pusat, menyebabkan penurunan drastis tingkat kewaspadaan. Temuan ini tidak hanya menambah wawasan mengenai respons tubuh terhadap reaksi alergi akut, tetapi juga menekankan perlunya kewaspadaan klinis terhadap gejala non-tradisional yang dapat muncul selama reaksi alergi, serta perlunya panduan klinis lebih lanjut untuk penanganan kondisi ini.
3. Dampak Gangguan Tidur pada Ibu dari Anak dengan Alergi Makanan
- Gangguan tidur pada anak dengan alergi makanan memiliki implikasi langsung terhadap kondisi psikologis dan kesejahteraan ibu sebagai pengasuh utama. Filiz et al. (2020) menunjukkan bahwa ibu dari anak dengan alergi makanan mengalami kualitas tidur yang lebih buruk, tercermin dari skor PSQI yang lebih tinggi, serta tingkat depresi yang lebih besar dibandingkan ibu dari anak tanpa alergi. Beban psikologis ini kemungkinan dipicu oleh kekhawatiran terus-menerus terhadap kemungkinan reaksi alergi mendadak yang dapat terjadi kapan saja, kebutuhan untuk selalu mengawasi anak, serta kewajiban menghindari berbagai bahan makanan dan risiko kontaminasi silang dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu, gangguan tidur anak yang sering terbangun malam mengakibatkan ibu mengalami kekurangan tidur kronis, kelelahan, dan peningkatan stres emosional. Kombinasi faktor-faktor ini berpotensi memperburuk fungsi pengasuhan dan menimbulkan masalah kesehatan mental jangka panjang. Dengan demikian, penanganan alergi makanan seharusnya tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga mempertimbangkan dukungan psikososial bagi keluarga melalui pendekatan family-centered care.
4. Anafilaksis pada Masa Bayi dan Risiko Jangka Panjang Gangguan Tidur
- Penelitian Nemet et al. (2023) memberikan bukti kuat bahwa anafilaksis makanan pada usia bayi bukan hanya peristiwa akut, tetapi juga dapat menjadi faktor risiko signifikan terhadap gangguan tidur, gangguan makan, dan masalah psikologis jangka panjang yang dapat berlangsung hingga remaja. Anak yang pernah mengalami anafilaksis mungkin mengembangkan respons stres yang persisten, termasuk kecemasan terhadap makanan baru, ketakutan terhadap makan (food-related anxiety), dan pola tidur yang tidak stabil akibat adanya hyperarousal atau kewaspadaan berlebihan. Selain itu, pengalaman medis traumatis pada usia dini dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf otonom dan regulasi stres, sehingga anak lebih rentan terhadap gangguan tidur kronis. Hasil ini menunjukkan pentingnya tindak lanjut jangka panjang bagi pasien yang mengalami anafilaksis, tidak hanya dalam hal penilaian risiko alergi ulang, tetapi juga pemantauan aspek neuropsikologis dan pola tidur mereka. Pendekatan multidisipliner yang melibatkan ahli alergi, psikolog, dan dokter anak sangat dianjurkan untuk mendeteksi dan menangani efek lanjutan dari reaksi alergi berat pada masa bayi.
5. Data Pendukung dari Populasi Dewasa
- Studi Gomi et al. (2022) pada pasien dewasa dengan kondisi psikiatri memberikan perspektif bahwa hubungan antara alergi makanan dan gangguan tidur tidak terbatas pada populasi pediatrik, tetapi konsisten muncul sepanjang rentang usia. Pada penelitian tersebut, individu dengan alergi makanan menunjukkan kualitas hidup fisik dan mental yang lebih rendah serta prevalensi gangguan tidur yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki alergi. Lebih jauh lagi, semakin banyak jenis alergen yang dimiliki pasien, semakin berat gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup yang dialami. Temuan ini menunjukkan bahwa alergi makanan memiliki dampak sistemik dan psikologis yang berkelanjutan, serta dapat memperburuk gejala psikiatrik yang sudah ada melalui mekanisme inflamasi, stres kronis, dan interaksi psikosomatis. Data ini menggarisbawahi perlunya pengelolaan alergi makanan secara komprehensif tidak hanya di kalangan anak-anak, tetapi juga pada populasi dewasa, terutama mereka yang berada dalam kelompok rentan seperti pasien psikiatri.
Sintesis dan Implikasi Klinis
A. Hubungan Dua Arah antara Alergi Makanan dan Gangguan Tidur
- Hubungan antara alergi makanan dan gangguan tidur bersifat dua arah dan saling memperburuk satu sama lain. Pada satu sisi, alergi makanan dapat memicu gangguan tidur melalui berbagai mekanisme biologis dan psikologis, seperti aktivasi mediator inflamasi (histamin, sitokin, leukotrien) yang meningkatkan rasa gatal, nyeri perut, dan ketidaknyamanan; gejala kulit seperti eczema yang cenderung memburuk pada malam hari; serta gejala gastrointestinal seperti refluks, kolik, atau diare yang mengganggu kontinuitas tidur anak. Di samping itu, reaksi alergi yang terjadi pada malam hari—bahkan reaksi yang ringan—dapat menimbulkan rasa takut dan kecemasan pada anak, sehingga memicu hypervigilance dan kesulitan untuk jatuh atau kembali tidur. Pada sisi sebaliknya, gangguan tidur yang berulang dapat memperburuk alergi melalui penurunan regulasi sistem imun, peningkatan mediator inflamasi akibat kurang tidur kronis, dan meningkatnya sensitivitas terhadap stres imunologis. Tidur yang terganggu juga mengganggu ritme sirkadian hormon, termasuk melatonin dan kortisol, yang memiliki peran penting dalam modulasi respons imun. Dengan demikian, lingkaran setan antara alergi makanan dan gangguan tidur dapat menjadi kondisi kronis yang berdampak pada kesehatan anak secara keseluruhan, sehingga memerlukan pendekatan penanganan holistik.
B. Dampak pada Ibu: Beban Psikologis dan Gangguan Tidur
- Dampak alergi makanan pada ibu dari anak penderita alergi dapat sangat signifikan dan berkontribusi pada gangguan tidur serta meningkatnya masalah psikososial. Ibu sering kali menanggung beban terbesar dalam memantau makanan anak, mengelola risiko kontaminasi silang, serta menghadapi ketakutan terhadap reaksi alergi mendadak yang dapat mengancam nyawa. Beban mental ini sering menyebabkan kecemasan kronis, hypervigilance, dan rasa tertekan yang berkelanjutan. Ketika anak mengalami pola tidur yang buruk dan sering terbangun malam, ibu juga harus terbangun untuk menenangkan, memeriksa gejala, atau memastikan tidak terjadi reaksi alergi, sehingga tidur ibu menjadi sangat terfragmentasi. Akumulasi kurang tidur ini berkontribusi pada kelelahan, iritabilitas, penurunan kemampuan kognitif, dan peningkatan risiko depresi sebagaimana terlihat dalam penelitian yang menunjukkan tingginya skor BDI-II pada ibu anak dengan alergi makanan. Dampak ini tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu sendiri, tetapi juga kualitas pengasuhan, dinamika keluarga, dan kesejahteraan jangka panjang seluruh anggota keluarga. Karena itu, strategi penanganan alergi makanan sebaiknya mencakup dukungan psikologis dan edukasi intensif bagi ibu.
C. Potensi Gejala Baru yang Perlu Diwaspadai
- Fenomena narcolepsy-like sleepiness merupakan salah satu temuan penting dan relatif baru dalam konteks alergi makanan yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan. Gejala berupa kantuk ekstrem hingga sulit dibangunkan, yang muncul dalam waktu dua jam setelah paparan alergen, menandai adanya respons sistemik yang kuat dari tubuh terhadap reaksi alergi tipe segera. Temuan ini menantang pemahaman konvensional yang selama ini berfokus pada gejala kulit, pernapasan, atau gastrointestinal sebagai manifestasi alergi makanan. Reaksi berupa gangguan kesadaran atau kantuk ekstrem menunjukkan kemungkinan keterlibatan sistem saraf pusat, yang bisa dipengaruhi oleh mediator inflamasi sistemik atau perubahan hemodinamik yang cepat. Karena gejala ini dapat menyerupai kondisi neurologis lain, klinisi perlu memasukkannya dalam evaluasi reaksi alergi dan memberikan edukasi pada orang tua untuk mengenal dan melaporkan gejala tersebut. Deteksi dini sangat penting karena narcolepsy-like sleepiness dapat menjadi indikator reaksi alergi yang lebih berat dan memerlukan intervensi segera. Oleh karena itu, fenomena ini memperluas spektrum klinis alergi makanan dan harus dimasukkan dalam pedoman pemantauan klinis.
D. Risiko Jangka Panjang pada Anak dengan Riwayat Anafilaksis
- Anak yang mengalami anafilaksis pada masa bayi memiliki risiko jangka panjang yang bermakna terhadap gangguan tidur, gangguan makan, serta masalah psikologis lainnya. Paparan terhadap pengalaman medis traumatis pada usia yang sangat muda dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf, regulasi stres, dan respons emosional anak. Anak mungkin mengembangkan ketakutan makan, kecemasan terhadap makanan baru, atau perilaku menghindar yang menghambat proses tumbuh kembang. Gangguan tidur yang berlanjut dapat memperburuk regulasi emosional dan kognitif, berdampak pada kemampuan konsentrasi, perkembangan bahasa, dan fungsi sosial. Selain itu, gangguan makan yang persisten dapat memengaruhi status nutrisi, pertumbuhan fisik, dan perkembangan metabolik. Dampak kumulatif dari pengalaman anafilaksis dini ini dapat bertahan hingga remaja, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Nemet et al. (2023) yang menunjukkan adanya peningkatan risiko gangguan tidur dan makan jangka panjang. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan, intervensi multidisipliner, dan dukungan psikososial bagi anak dengan riwayat anafilaksis untuk mencegah konsekuensi jangka panjang terhadap kesehatan dan perkembangan mereka.
Kesimpulan
Alergi makanan memiliki hubungan yang kuat dan luas terhadap berbagai aspek kesehatan, terutama gangguan tidur pada anak, sindrom kantuk ekstrem menyerupai narkolepsi, serta dampak psikologis yang signifikan pada ibu sebagai pengasuh utama. Bukti menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan cenderung mengalami gangguan tidur yang lebih berat dibandingkan populasi sehat, ditandai dengan kesulitan tidur, sering terbangun malam, dan tidur yang tidak restoratif, sementara ibu mereka menghadapi kualitas tidur yang lebih buruk serta tingkat depresi lebih tinggi karena beban pengawasan dan kecemasan akan reaksi alergi mendadak. Selain itu, reaksi alergi akut tertentu dapat memicu gejala kantuk ekstrem yang menyerupai narkolepsi, suatu manifestasi yang relatif baru namun penting untuk dikenali dalam praktik klinis. Pada tingkat yang lebih serius, anafilaksis pada masa bayi dikaitkan dengan risiko gangguan tidur jangka panjang serta dampak neuropsikologis lainnya, menunjukkan bahwa pengalaman alergi berat pada usia dini memiliki implikasi perkembangan yang berkelanjutan. Jumlah dan jenis gejala alergi juga berpengaruh terhadap derajat gangguan tidur, sehingga semakin kompleks kondisi alergi yang dialami anak, semakin besar dampak terhadap kualitas tidur anak dan keluarga. Oleh karena itu, deteksi dini, edukasi keluarga yang komprehensif, serta dukungan psikologis memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dan lingkungan keluarga secara menyeluruh.
.
Daftar Pustaka
- Filiz S., Keleş Ş., Akbulut U.E., Işık I.A., Kara M.Z. Sleep disturbances and affecting factors in young children with food allergy and their mothers. Allergol Immunopathol (Madr). 2020.
- Kalb B., Jentsch J., Yürek S., et al. Narcolepsy-Like Sleepiness: A Symptom of Immediate-Type Reactions in Food-Allergic Children. J Allergy Clin Immunol Pract. 2023.
- Chen Y., Lin L., Hong B., et al. Association of Allergic Symptoms in the First 2 Years of Life With Sleep Outcomes Among Chinese Toddlers. Front Pediatr. 2022.
- Nemet S., Elbirt D., Mahlab-Guri K., et al. Food-induced anaphylaxis during infancy is associated with later sleeping and eating disorders. Pediatr Allergy Immunol. 2023.
- Gomi C., Yokota Y., Yoshida S., Kunugi H. Relationship of food allergy with quality of life and sleep in psychiatric patients. Neuropsychopharmacol Rep. 2022.









Leave a Reply