
Tahukah Anda? Banyak Terjadi Overdiagnosis Alergi Susu Sapi pada Anak: Pentingnya Oral Food Challenge
Abstrak
Alergi susu sapi (cow’s milk allergy, CMA) sering didiagnosis secara berlebihan pada anak, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Banyak kasus yang sebenarnya disebabkan oleh faktor lain seperti alergi makanan selain susu, gangguan gastrointestinal, menggunakan tea alergi yang tidak akurat, menggunakan Food Diary yang tidak direkomendasikan, atau eksaserbasi akibat infeksi virus (common cold, influenza). Studi menunjukkan bahwa hanya Oral Food Challenge (OFC) di bawah pengawasan dokter spesialis alergi yang mampu memastikan diagnosis secara akurat. Data menunjukkan sekitar 60-90% anak yang sebelumnya didiagnosis CMA ternyata tidak menunjukkan reaksi alergi saat OFC terkontrol. Artikel ini membahas epidemiologi overdiagnosis, faktor penyebab, metode diagnosis, dan rekomendasi berbasis bukti untuk menghindari diet eliminasi yang tidak perlu.
Pendahuluan
Alergi susu sapi merupakan salah satu alergi makanan paling umum pada bayi dan anak kecil. Gejala klinis meliputi eksim, gangguan pencernaan, gangguan pertumbuhan, dan reaksi kulit atau saluran napas. Namun, diagnosis CMA sering dilakukan tanpa evaluasi yang memadai, seperti hanya berdasarkan riwayat orang tua atau tes darah IgE/skin prick test, sehingga berisiko terjadi overdiagnosis.
Overdiagnosis tidak hanya menimbulkan beban psikologis bagi anak dan keluarga, tetapi juga risiko nutrisi akibat diet bebas susu sapi yang tidak perlu. Memahami faktor pemicu lain, termasuk makanan lain atau infeksi virus ringan, sangat penting agar diagnosis dan pengelolaan tepat sasaran.
Epidemiologi Overdiagnosis
- Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi alergi susu sapi sebenarnya jauh lebih rendah dibandingkan angka diagnosis yang tercatat di praktik klinis. Di Eropa dan Amerika, studi multicenter menunjukkan bahwa 60–90% anak yang didiagnosis CMA tidak mengalami reaksi saat dilakukan OFC terkontrol. Data serupa ditemukan di Indonesia, meskipun penelitian lokal masih terbatas, indikasi overdiagnosis cukup tinggi.
- Faktor yang berkontribusi meliputi penggunaan tes IgE atau skin prick test tanpa konfirmasi OFC, interpretasi gejala ringan sebagai alergi, dan ketidaktahuan mengenai pengaruh infeksi virus yang memperburuk gejala.
Penelitian Overdiagnosis Alergi Susu Sapi
- Penelitian Allen et al., 2025 meneliti prevalensi dan faktor risiko overdiagnosis alergi susu sapi (CMA) pada kohort BEEP trial. Studi ini menemukan bahwa diagnosis CMA yang sebelumnya diberikan sering kali tidak akurat, dan banyak anak yang dinyatakan alergi susu sapi ternyata tidak menunjukkan reaksi ketika diuji melalui Oral Food Challenge (OFC) yang terkontrol. Hasil ini menekankan bahwa penggunaan tes IgE atau skin prick test saja tanpa konfirmasi OFC dapat menghasilkan diagnosis palsu, sehingga banyak anak menerima diet eliminasi susu sapi yang tidak perlu.
- Studi Vlieg-Boerstra et al., 2020 menyoroti risiko overdiagnosis akibat praktik reintroduksi susu di rumah tanpa pengawasan medis. Peneliti melaporkan bahwa anak-anak yang sebelumnya didiagnosis alergi susu sapi sering kali dapat mentoleransi susu saat dikonsumsi di rumah, menunjukkan bahwa banyak diagnosis CMA bersifat berlebihan. Artikel ini juga menekankan pentingnya pengawasan klinis saat reintroduksi, karena gejala alergi dapat dipicu atau diperberat oleh faktor eksternal seperti infeksi virus atau konsumsi makanan lain secara bersamaan.
- Artikel Pajno & Szajewska, 2021 memberikan perspektif kritis terhadap pedoman klinis yang ada, yang dinilai berpotensi mendorong overdiagnosis CMA. Penulis menekankan bahwa pedoman sering mengandalkan tes sensitization (IgE atau skin prick test) dan gejala klinis nonspesifik tanpa OFC, sehingga banyak anak secara keliru didiagnosis alergi susu sapi. Artikel ini menekankan perlunya standar diagnosis yang lebih ketat dengan OFC sebagai metode konfirmasi sebelum menerapkan diet eliminasi.
- Secara keseluruhan, ketiga jurnal tersebut konsisten menegaskan bahwa overdiagnosis alergi susu sapi merupakan masalah global, dengan risiko yang signifikan bagi nutrisi dan kualitas hidup anak. Faktor penyebab utama termasuk ketergantungan pada tes IgE atau skin prick test tanpa konfirmasi, interpretasi gejala ringan yang dipicu atau diperberat infeksi virus, serta pedoman klinis yang tidak selalu menekankan OFC. Semua studi menekankan bahwa OFC tetap menjadi standar emas untuk memastikan diagnosis CMA dan mencegah diet eliminasi yang tidak perlu.
Penyebab Overdiagnosis
- Multiple food intake: Anak sering mengonsumsi beberapa makanan sekaligus, sehingga sulit menentukan penyebab utama gejala.
- Infeksi virus: Common cold, influenza, atau ISPA dapat memperberat reaksi alergi, sehingga gejala ringan tampak lebih serius.
- Gejala nonspesifik: Eksim, gangguan makan, atau gejala gastrointestinal dapat disebabkan oleh faktor lain selain susu sapi, seperti telur, kacang, atau intoleransi laktosa.
- Keterbatasan tes laboratorium: IgE spesifik dan skin prick test hanya menunjukkan sensitization, bukan reaksi klinis nyata.Padahal Tes alergi paling direkomendasikan, paling akurat, paling reliabel dan menjadi gold standard adalah Oral Food Challenge
- Kesalahan interpretasi orang tua atau tenaga kesehatan: Riwayat subjektif tanpa konfirmasi OFC dapat menimbulkan diagnosis palsu.
Oral Food Challenge: Standar Emas Diagnosis
OFC dilakukan di bawah pengawasan dokter alergi dengan protokol terkontrol:
- Memberikan susu sapi dalam dosis bertahap.
- Memantau reaksi klinis secara ketat, termasuk gejala kulit, gastrointestinal, dan pernapasan.
- Mengonfirmasi atau menolak diagnosis CMA secara ilmiah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60-90% anak yang sebelumnya divonis alergi susu sapi tidak menunjukkan reaksi saat OFC. Hal ini menegaskan OFC sebagai metode paling andal untuk memastikan diagnosis dan mencegah diet eliminasi yang tidak perlu.
Kesimpulan
Alergi susu sapi (CMA) sering mengalami overdiagnosis pada anak, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Banyak kasus yang sebenarnya disebabkan oleh faktor lain, termasuk alergi terhadap makanan selain susu, gangguan gastrointestinal, penggunaan tes alergi yang tidak akurat, atau catatan Food Diary yang tidak direkomendasikan, serta eksaserbasi akibat infeksi virus seperti common cold atau influenza. Penelitian menunjukkan bahwa Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis alergi adalah satu-satunya metode yang dapat memastikan diagnosis CMA secara akurat. Data menunjukkan bahwa sekitar 60–90% anak yang sebelumnya didiagnosis CMA ternyata tidak menunjukkan reaksi alergi saat OFC terkontrol, menegaskan bahwa banyak anak menerima diet eliminasi susu sapi yang tidak diperlukan. Implementasi OFC yang tepat membantu menghindari diet bebas susu sapi yang tidak perlu, menjaga asupan nutrisi anak, dan mengurangi kecemasan orang tua.
Saran
- Gunakan OFC sebagai standar emas diagnosis: Sebelum menetapkan diet eliminasi susu sapi, lakukan OFC terkontrol untuk memastikan alergi nyata.
- Hindari ketergantungan pada tes IgE atau Skin Prick Test semata: Tes sensitization tidak selalu menunjukkan alergi klinis, sehingga dapat menimbulkan overdiagnosis.
- Tidak merekomendasikan Food Diary sebagai metode diagnosis tunggal: Food diary dapat membantu pemantauan, tetapi tidak dapat menentukan penyebab alergi secara ilmiah karena konsumsi makanan kompleks dan interaksi dengan infeksi virus.
- Edukasi orang tua dan tenaga kesehatan: Tingkatkan pemahaman mengenai risiko overdiagnosis, pentingnya OFC, dan konsekuensi diet eliminasi yang tidak tepat bagi asupan gizi anak.
- Pertimbangkan faktor eksternal: Saat menilai gejala alergi, perhatikan pengaruh infeksi virus, kondisi gastrointestinal, atau faktor makanan lain yang dapat memperberat reaksi.
Daftar Pustaka
- Allen HI, Wing O, Milkova D, Jackson E, Li K, Bradshaw LE, Wyatt L, Haines R, Santer M, Murphy AW, Brown SJ, Kelleher M, Perkin MR, Jay N, Smith TDH, Moriarty F, Montgomery AA, Williams HC, Boyle RJ. Prevalence and risk factors for milk allergy overdiagnosis in the BEEP trial cohort. Allergy. 2025 Jan;80(1):148-160. doi: 10.1111/all.16203. Epub 2024 Jun 20. PMID: 38899450; PMCID: PMC11724250.
- Vlieg-Boerstra BJ, Tissen I, Wensing C, Meijer Y, de Vries E, Hendriks T, Sprikkelman AB. Overdiagnosis of cow’s milk allergy with home reintroduction. Pediatr Allergy Immunol. 2020 Aug;31(6):704-706. doi: 10.1111/pai.13251. Epub 2020 Apr 28. PMID: 32246867.
- Pajno GB, Szajewska H. Cow’s milk allergy guidelines promote over-diagnosis of cow’s milk disease. Allergy. 2021 Jun;76(6):1929-1931. doi: 10.1111/all.14729. Epub 2021 Jan 24. PMID: 33382106.
- Nowak-Wegrzyn A, et al. Oral food challenge testing in children. J Allergy Clin Immunol. 2009;123:39–48.
- Sampson HA. Update on food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2004;113:805–819.
- Venter C, et al. Diagnosing cow’s milk allergy: Limitations of IgE and skin tests. Pediatr Allergy Immunol. 2010;21:119–126.
- Fiocchi A, et al. Cow’s milk allergy: Epidemiology, diagnosis, and overdiagnosis. Pediatr Allergy Immunol. 2010;21:1–7.








Leave a Reply