DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

KONSULTASI PEDIATRI: Bagaimana Dokter Memastikan Seorang Bayi Benar-Benar Mengalami Alergi Makanan?

Bagaimana Dokter Memastikan Seorang Bayi Benar-Benar Mengalami Alergi Makanan?

Pertanyaan

“Dok, anak saya sekarang berusia 10 bulan. Sejak mulai MPASI usia 6 bulan, ia sering muntah setelah makan, kadang gumoh, sembelit, dan muncul ruam merah di pipi. Belakangan makannya juga mulai pilih-pilih, hanya mau makanan tertentu, sering mengulum makanan, dan berat badannya sulit naik. Saya sudah bertanya kepada beberapa orang. Ada yang bilang pasti alergi susu sapi, ada yang menyuruh tes darah IgE, ada juga yang menyarankan langsung mengganti susu formula. Saya jadi bingung. Sebenarnya bagaimana dokter memastikan apakah anak saya benar-benar mengalami alergi makanan?”

Jawaban

Menegakkan diagnosis alergi makanan tidak sesederhana melihat satu gejala atau hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Dokter akan memulai dengan wawancara yang sangat rinci mengenai keluhan anak. Riwayat kapan gejala muncul, makanan apa yang dikonsumsi sebelum keluhan timbul, berapa lama jeda antara makan dan munculnya gejala, apakah keluhan selalu berulang setelah makanan yang sama, serta apakah terdapat keluhan lain seperti eksim, muntah, diare, sembelit, batuk, atau sesak napas merupakan informasi yang jauh lebih penting daripada hasil tes semata.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan menilai pertumbuhan anak menggunakan kurva pertumbuhan. Berat badan yang sulit naik, faltering weight, gangguan makan, perkembangan kemampuan mengunyah dan menelan, serta status gizi akan dievaluasi karena alergi makanan, terutama yang mengenai saluran cerna, sering kali memengaruhi pertumbuhan dan kemampuan makan anak. Pada tahap ini dokter juga akan mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain yang dapat memberikan gejala serupa, seperti refluks gastroesofageal, konstipasi fungsional, infeksi, intoleransi makanan, atau gangguan oral-motor.

Banyak orang tua mengira bahwa pemeriksaan darah atau tes alergi dapat langsung memastikan diagnosis. Kenyataannya tidak demikian. Pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik hanya bermanfaat pada kondisi tertentu, terutama bila dicurigai alergi yang diperantarai IgE. Hasil pemeriksaan yang positif hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap suatu makanan, bukan berarti anak pasti mengalami alergi ketika mengonsumsi makanan tersebut. Sebaliknya, hasil yang negatif juga tidak selalu menyingkirkan alergi, terutama pada alergi makanan non-IgE yang lebih sering menimbulkan keluhan saluran cerna.

Bila berdasarkan riwayat dan pemeriksaan dokter memang mencurigai alergi makanan, biasanya akan dilakukan diet eliminasi yang terarah. Hanya makanan yang paling dicurigai dihentikan sementara sambil dipantau apakah gejala membaik. Pendekatan ini harus dilakukan secara sistematis karena menghentikan terlalu banyak jenis makanan sekaligus dapat menyebabkan kekurangan zat gizi dan justru menyulitkan dokter menentukan makanan mana yang sebenarnya menjadi penyebab.

Perlu diingat bahwa membaiknya gejala setelah diet eliminasi belum otomatis membuktikan adanya alergi makanan. Banyak penyakit saluran cerna membaik seiring waktu atau karena perubahan pola makan. Oleh sebab itu, bila kondisi anak memungkinkan dan tidak ada riwayat reaksi alergi berat, dokter dapat menganjurkan Oral Food Challenge, yaitu pemberian kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Saat ini, Oral Food Challenge merupakan baku emas atau pemeriksaan paling akurat untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi.

Kesalahan yang masih sering terjadi adalah diagnosis alergi makanan ditegakkan hanya berdasarkan dugaan, cerita dari orang lain, atau hasil satu jenis pemeriksaan. Akibatnya, anak menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan, menggunakan susu formula khusus tanpa indikasi yang jelas, menjadi semakin pilih-pilih makanan, mengalami gangguan oral-motor karena variasi makanan terbatas, bahkan berat badannya sulit bertambah akibat asupan gizi yang tidak optimal. Pendekatan diagnosis yang sistematis akan membantu memastikan apakah keluhan benar-benar disebabkan oleh alergi makanan atau oleh penyakit lain yang memerlukan penanganan berbeda.

Jadi, diagnosis alergi makanan merupakan gabungan antara riwayat klinis yang khas, pemeriksaan fisik, evaluasi pertumbuhan, pemeriksaan penunjang bila memang diindikasikan, diet eliminasi yang terarah, dan konfirmasi dengan Oral Food Challenge pada kasus yang sesuai. Pendekatan berbasis bukti ini membantu menghindari overdiagnosis maupun underdiagnosis sehingga anak memperoleh terapi yang tepat tanpa menjalani pembatasan makanan yang tidak diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *