Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus, Komplikasi Imunologis Setelah Infeksi Streptokokus yang Menyerang Ginjal Anak
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus (GNAPS) merupakan salah satu bentuk glomerulonefritis pasca infeksi yang paling sering ditemukan pada anak usia sekolah. Penyakit ini terjadi sebagai akibat respons imun terhadap infeksi bakteri Streptococcus pyogenes atau Streptococcus beta hemolitikus grup A yang memiliki sifat nefritogenik. Infeksi awal umumnya berupa faringitis atau impetigo. Manifestasi gangguan ginjal biasanya muncul setelah infeksi primer telah membaik, sehingga hubungan antara kedua kondisi tersebut sering tidak disadari oleh orang tua.
Berbeda dengan infeksi bakteri yang langsung menyerang jaringan ginjal, GNAPS merupakan penyakit yang dimediasi oleh sistem imun. Kerusakan glomerulus terjadi akibat deposisi kompleks imun yang terbentuk setelah infeksi streptokokus. Kompleks imun tersebut mengaktifkan sistem komplemen dan memicu proses inflamasi sehingga fungsi filtrasi ginjal mengalami gangguan.
Mengapa Infeksi Tenggorokan Dapat Menyebabkan Peradangan Ginjal?
Setelah infeksi Streptococcus pyogenes, tubuh membentuk antibodi untuk menetralisasi antigen bakteri. Pada sebagian individu, antigen streptokokus seperti nephritis-associated plasmin receptor (NAPlr) dan streptococcal pyogenic exotoxin B (SpeB) membentuk kompleks imun dengan antibodi. Kompleks imun ini kemudian mengendap pada glomerulus, yaitu unit penyaring mikroskopis di dalam ginjal.
Deposisi kompleks imun menyebabkan aktivasi jalur komplemen, terutama jalur alternatif, yang diikuti pelepasan sitokin proinflamasi dan rekrutmen neutrofil serta makrofag ke glomerulus. Inflamasi yang terjadi meningkatkan permeabilitas sawar filtrasi glomerulus sehingga eritrosit dan protein dapat lolos ke dalam urin. Pada saat yang sama, laju filtrasi glomerulus menurun sehingga terjadi retensi natrium dan cairan yang menyebabkan edema dan hipertensi.
Siapa yang Berisiko Mengalami GNAPS?
GNAPS paling sering terjadi pada anak usia 5 hingga 12 tahun dan relatif jarang ditemukan pada anak berusia di bawah 2 tahun karena respons imun terhadap antigen streptokokus belum berkembang secara sempurna. Insidensi juga lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.
Risiko meningkat pada anak yang mengalami faringitis streptokokus atau impetigo akibat strain Streptococcus pyogenes nefritogenik. Faktor lingkungan seperti kepadatan hunian, sanitasi yang kurang baik, akses pelayanan kesehatan yang terbatas, dan tingginya angka infeksi streptokokus di masyarakat turut meningkatkan kejadian penyakit ini.
Manifestasi Klinis
Gejala GNAPS umumnya muncul setelah masa laten sekitar 1 sampai 3 minggu setelah faringitis atau 3 sampai 6 minggu setelah impetigo. Manifestasi klinis mencerminkan gangguan filtrasi glomerulus dan retensi cairan.
Keluhan yang paling sering dijumpai meliputi urin berwarna merah kecokelatan akibat hematuria, edema terutama pada kelopak mata saat bangun tidur, pembengkakan tungkai, penurunan jumlah urin, hipertensi, serta rasa lemah. Pada kasus yang lebih berat dapat ditemukan sakit kepala, mual, muntah, sesak napas akibat edema paru, bahkan kejang hipertensif apabila tekanan darah meningkat secara bermakna.
Sebagian pasien hanya menunjukkan hematuria mikroskopik tanpa keluhan yang nyata sehingga diagnosis memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Diagnosis GNAPS didasarkan pada kombinasi riwayat infeksi streptokokus, gambaran klinis, dan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya inflamasi glomerulus.
| Pemeriksaan | Temuan Khas | Makna Klinis |
|---|---|---|
| Urinalisis | Hematuria, proteinuria ringan, silinder eritrosit | Menunjukkan kerusakan glomerulus |
| Kreatinin serum | Normal atau meningkat | Menilai fungsi filtrasi ginjal |
| Ureum | Dapat meningkat | Menunjukkan penurunan fungsi ginjal |
| C3 serum | Menurun | Aktivasi jalur komplemen, khas pada fase akut |
| C4 serum | Umumnya normal | Membantu membedakan dengan lupus nefritis |
| ASO | Meningkat | Bukti infeksi streptokokus saluran napas sebelumnya |
| Anti-DNase B | Meningkat | Lebih sensitif setelah infeksi kulit |
| eGFR | Menurun pada kasus sedang hingga berat | Menilai derajat gangguan fungsi ginjal |
Pada sebagian besar kasus anak, biopsi ginjal tidak diperlukan. Tindakan ini dipertimbangkan bila perjalanan penyakit tidak sesuai pola khas, kadar komplemen tetap rendah lebih dari delapan minggu, terjadi penurunan fungsi ginjal progresif, atau terdapat dugaan penyakit glomerulus lain.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan GNAPS bersifat suportif karena proses imunologis umumnya akan mengalami resolusi secara spontan. Tujuan terapi adalah mempertahankan fungsi ginjal, mengendalikan retensi cairan, mengatasi hipertensi, dan mencegah komplikasi.
Pembatasan asupan garam dianjurkan pada pasien dengan edema atau hipertensi. Pembatasan cairan dilakukan bila terdapat oliguria atau retensi cairan yang bermakna. Diuretik, terutama golongan loop, digunakan untuk mengurangi kelebihan cairan. Obat antihipertensi diberikan bila tekanan darah tetap tinggi setelah pengendalian volume cairan.
Antibiotik tetap diberikan apabila infeksi streptokokus masih aktif untuk mencegah penularan dan eradikasi bakteri, meskipun tidak mengubah perjalanan GNAPS yang telah terjadi. Dialisis hanya diperlukan pada sebagian kecil pasien yang mengalami gagal ginjal akut berat, hiperkalemia, asidosis metabolik berat, atau edema paru yang tidak responsif terhadap terapi konservatif.
Prognosis
Prognosis GNAPS pada anak umumnya sangat baik. Lebih dari 90 persen pasien mengalami pemulihan fungsi ginjal secara lengkap dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Kadar komplemen C3 biasanya kembali normal dalam waktu 6 sampai 8 minggu, sedangkan hematuria mikroskopik dapat menetap selama beberapa bulan tanpa menunjukkan kerusakan ginjal yang berlanjut.
Prognosis pada orang dewasa cenderung kurang baik dibandingkan anak karena risiko berkembang menjadi penyakit ginjal kronis lebih tinggi. Oleh karena itu, seluruh pasien memerlukan pemantauan tekanan darah, fungsi ginjal, dan pemeriksaan urin secara berkala hingga seluruh parameter kembali normal.
Pencegahan
Pencegahan GNAPS berfokus pada pengendalian infeksi streptokokus di masyarakat. Diagnosis dan pengobatan yang tepat terhadap faringitis streptokokus serta impetigo dapat mengurangi penyebaran bakteri. Edukasi mengenai kebersihan tangan, etika batuk, sanitasi lingkungan, serta akses pelayanan kesehatan yang memadai juga berperan dalam menurunkan angka kejadian infeksi streptokokus.
Kesimpulan
- Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus merupakan penyakit ginjal yang dimediasi oleh respons imun setelah infeksi Streptococcus pyogenes nefritogenik. Mekanisme utama melibatkan deposisi kompleks imun pada glomerulus yang mengaktifkan sistem komplemen dan menyebabkan inflamasi, sehingga timbul hematuria, proteinuria ringan, edema, hipertensi, serta penurunan sementara fungsi ginjal. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat infeksi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan laboratorium. Sebagian besar anak memiliki prognosis yang sangat baik dengan terapi suportif dan pemantauan klinis yang adekuat.
- Versi ini setara dengan artikel edukasi ilmiah yang biasa dimuat pada media kesehatan, dengan istilah medis yang lebih presisi namun tetap mudah dipahami oleh pembaca nonmedis. Jika ditujukan untuk mahasiswa kedokteran atau jurnal ilmiah, tingkat keilmiahan masih dapat ditingkatkan lagi dengan pembahasan mengenai imunopatogenesis, histopatologi, klasifikasi, serta bukti dari pedoman KDIGO dan literatur nefrologi terkini.










Leave a Reply