Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto ,
Pada anak-anak, proses menyusu dan menelan merupakan keterampilan dasar yang berkembang seiring waktu. Ada dua jenis menyusu yang perlu dipahami, yaitu menyusu nonnutritif (NNS) dan menyusu nutritif. Menyusu nonnutritif terjadi ketika tidak ada nutrisi yang terlibat, seperti saat bayi mengisap empeng atau jari mereka. Aktivitas ini lebih fokus pada kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan oral motorik tanpa melibatkan konsumsi makanan atau minuman.
Tahapan Perkembangan
Lau mendefinisikan menyusu nutritif yang matang sebagai kombinasi antara isapan ritmis (tekanan intraoral negatif yang menarik susu ke dalam rongga mulut) dan ekspresi, yang ditandai dengan kompresi dan gaya pemisahan yang diterapkan oleh lidah pada puting susu untuk mengeluarkan susu ke dalam mulut. Menyusu yang matang berkembang melalui lima tahapan utama:
- Tahap 1: Ekspresi yang tidak ritmis tanpa isapan.
- Tahap 2: Transisi menuju ekspresi ritmis dan munculnya isapan yang tidak ritmis.
- Tahap 3: Munculnya isapan ritmis.
- Tahap 4: Perkembangan pola isapan dan ekspresi yang bergantian, dengan peningkatan amplitudo isapan dan durasi isapan.
- Tahap 5: Tahapan akhir ini mencerminkan perkembangan menyusu yang matang, yang berkorelasi dengan usia postmenstruasi dan kinerja makan oral, yang didefinisikan oleh Lau sebagai laju transfer susu (ml/menit) dan kemampuan untuk menyelesaikan makan dalam waktu 20 menit.
Menyusu Nonnutritif (NNS) dan Manfaatnya
Meskipun menyusu nonnutritif tidak melibatkan konsumsi nutrisi, aktivitas ini memberikan manfaat penting dalam perkembangan keterampilan makan oral. Misalnya, penggunaan empeng saat pemberian makan melalui selang (gavage feeding) dapat meningkatkan toleransi makan, mempercepat transisi dari makan melalui selang ke makan oral, meningkatkan kenaikan berat badan, dan mengurangi lama perawatan di rumah sakit. NNS juga dapat meningkatkan motilitas lambung dan memberikan indikasi kesiapan makan anak.
Namun, meskipun pola NNS yang matang dengan isapan dan ekspresi bergantian dapat diamati, hal ini tidak menjamin bahwa pola isapan yang matang akan muncul saat pemberian makan melalui botol. Pada beberapa bayi, koordinasi yang diperlukan untuk menghubungkan isapan–menelan–pernapasan dalam mendukung makan oral yang aman mungkin belum berkembang dengan baik.
Menelan pada Anak: Koordinasi Isapan, Menelan, dan Pernapasan
Selama menyusu nonnutritif, tuntutan terhadap menelan relatif minimal, karena bayi hanya perlu menangani sekresi mereka sendiri. Dengan demikian, NNS dan pernapasan dapat beroperasi secara independen. Namun, pada saat menelan nutritif, menelan terjadi lebih sering, dan peristiwa isapan–menelan–pernapasan harus saling terhubung dengan sangat baik untuk menghindari aspirasi.
Menelan yang tidak matang tidak hanya mencerminkan kemampuan isapan yang belum berkembang, tetapi juga dapat mencerminkan keadaan koordinasi antara isapan, menelan, dan pernapasan. Menyusu nonnutritif memberikan gambaran keterampilan isapan dasar, namun tidak mencakup keterampilan koordinasi tambahan yang diperlukan untuk perlindungan saluran napas selama makan nutritif.
Dengan kematangan neuromuskuler, proses menelan menjadi lebih cepat dan adaptif dalam menangani ukuran bolus yang lebih besar dan bervariasi. Laju menelan yang lebih cepat berkorelasi dengan kekuatan lidah yang lebih tinggi dan tekanan intrabolus yang lebih besar untuk mendorong bolus ke faring posterior dan memicu refleks menelan. Pengamatan ini menguatkan hubungan erat antara isapan dan menelan, serta menunjukkan adanya mekanisme kontrol sensorimotorik neural dinamis yang mengatur pola aktivitas di tiga jaringan pola otak batang otak untuk mencapai menelan yang aman.
Batang otak memainkan peran penting dalam koordinasi pernapasan–menelan (BSC), namun peran struktur suprabulbar selama tahun pertama kehidupan masih belum jelas. Menelan nonnutritif sering terjadi selama tidur pada bayi dan sangat penting untuk pembersihan cairan serta perlindungan saluran napas. Sebuah studi terbaru menggunakan polisomnografi multisaluran dan sensor tekanan faring untuk memeriksa hubungan temporal antara menelan, jeda pernapasan, dan rangsangan pada enam bayi prematur yang telah mencapai usia term. Hasilnya menunjukkan bahwa menelan terjadi lebih sering selama jeda pernapasan dan rangsangan dibandingkan dengan periode kontrol.
Proses menyusu dan menelan pada anak-anak, baik itu menyusu nonnutritif maupun nutritif, sangat penting dalam perkembangan keterampilan makan oral yang aman. Keterampilan ini berkembang melalui tahapan yang berurutan, dan meskipun menyusu nonnutritif dapat memberikan manfaat dalam perkembangan keterampilan dasar, koordinasi yang lebih kompleks antara isapan, menelan, dan pernapasan diperlukan untuk memastikan makan oral yang aman. Pemahaman yang lebih baik tentang proses ini, serta penggunaan teknologi canggih dalam penilaian menelan, dapat membantu dalam mendukung perkembangan makan yang sehat pada anak-anak, terutama pada bayi prematur atau mereka yang mengalami kesulitan makan.








Leave a Reply