Gangguan gastrointestinal fungsional (functional gastrointestinal disorders/FGIDs) pada anak dan remaja merupakan kondisi yang sering ditemui dalam praktik klinis. FGIDs ditandai dengan adanya gejala gastrointestinal yang tidak dapat dijelaskan oleh kelainan organik, inflamasi, metabolik, atau neoplastik setelah evaluasi medis yang memadai. Dalam Rome IV, pendekatan diagnosis FGIDs lebih menekankan pada gejala berbasis, dengan menghilangkan kebutuhan untuk menyingkirkan bukti penyakit organik secara menyeluruh. Salah satu subkategori penting dalam FGIDs adalah gangguan mual dan muntah fungsional, yang mencakup sindrom muntah siklik, mual fungsional, muntah fungsional, sindrom ruminasi, dan aerofagia.
Mual dan muntah fungsional dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup anak dan remaja. Kondisi ini seringkali memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan evaluasi klinis, terapi farmakologis, dan intervensi non-farmakologis. Artikel ini akan membahas patofisiologi, tanda dan gejala, serta penanganan gangguan mual dan muntah fungsional berdasarkan rekomendasi Rome IV.
Gangguan fungsional gastrointestinal (FGID) pada anak dan remaja telah mengalami evolusi dalam karakterisasi selama dua dekade terakhir melalui proses Rome, yang kini mencapai Rome IV. Pendekatan dalam mendiagnosis FGID tidak lagi hanya berdasarkan pengecualian penyakit organik, tetapi lebih pada diagnosis berbasis gejala. Rome IV menghilangkan frasa “tidak ada bukti penyakit organik” dalam definisi FGID dan menggantinya dengan “setelah evaluasi medis yang sesuai, gejala tidak dapat dikaitkan dengan kondisi medis lain.” Perubahan ini memungkinkan klinisi untuk melakukan pemeriksaan selektif atau bahkan tidak melakukan pemeriksaan untuk mendukung diagnosis positif FGID. FGID juga dapat berkoeksistensi dengan kondisi medis lain yang menyebabkan gejala gastrointestinal (misalnya, penyakit radang usus).
Perubahan Utama dalam Rome IV
- Definisi FGID yang lebih jelas dan berbasis bukti.
- Penambahan gangguan baru, seperti mual fungsional dan muntah fungsional.
- Perubahan terminologi dari “gangguan gastrointestinal fungsional terkait nyeri perut” menjadi “gangguan nyeri perut fungsional” (FAPD).
- Penambahan istilah baru, yaitu “nyeri perut fungsional—tidak ditentukan secara spesifik” (FAP-NOS), untuk menggambarkan anak-anak yang tidak sesuai dengan gangguan spesifik seperti sindrom iritasi usus (IBS), dispepsia fungsional, atau migrain perut.
Klasifikasi FGID Berdasarkan Rome IV
- Gangguan mual dan muntah fungsional
- Sindrom muntah siklik (CVS)
- Mual fungsional dan muntah fungsional
- Sindrom regurgitasi (rumination syndrome)
- Aerofagia
- Gangguan nyeri perut fungsional
- Dispepsia fungsional
- Sindrom iritasi usus (IBS)
- Migrain perut
- Nyeri perut fungsional—tidak ditentukan secara spesifik (FAP-NOS)
- Gangguan defekasi fungsional
- Konstipasi fungsional
- Inkontinensia feses nonretentif
Daftar Pustaka
- Hyams JS, et al. “Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/Adolescent.” Gastroenterology. 2016.
- NASPGHAN Guidelines for CVS.
- Rome IV Criteria for FGIDs.
- Shulman RJ, et al. “Pathophysiologic Features of Functional Disorders.” Gastroenterology. 2016.
- Hyams JS, Di Lorenzo C, Saps M, Shulman RJ, Staiano A, van Tilburg M. Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/Adolescent. Gastroenterology. 2016;150(6):1456-1468. doi:10.1053/j.gastro.2016.02.015.
- North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition. Clinical guidelines for cyclic vomiting syndrome. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2016;62(3):459-473.
- Saps M, van Tilburg M, Lavigne JV, et al. Recommendations for the diagnosis and management of functional gastrointestinal disorders in children. Pediatrics. 2016;138(6):e20160687. doi:10.1542/peds.2016-0687.












Leave a Reply