DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Mengapa hidung tersumbat, flu, alergi, dan ngorok dapat menyebabkan anak tidur dengan mata terbuka? πŸ‘€πŸ˜΄

Mengapa hidung tersumbat, flu, alergi, dan ngorok dapat menyebabkan anak tidur dengan mata terbuka? πŸ‘€πŸ˜΄

Saat tidur normal, tubuh berada dalam kondisi rileks, termasuk otot kelopak mata yang menutup mata secara sempurna. Namun, pada anak dengan hidung tersumbat akibat flu atau alergi, pernapasan melalui hidung menjadi sulit sehingga anak lebih sering bernapas melalui mulut. Kondisi ini dapat membuat tidur menjadi kurang nyenyak, lebih gelisah, sering berubah posisi, dan sebagian anak tidak dapat menutup kelopak mata dengan sempurna. Selain itu, alergi juga dapat menyebabkan mata gatal, iritasi, atau kering sehingga refleks penutupan kelopak mata saat tidur menjadi kurang optimal.

Pada anak yang mengalami pembesaran amandel atau adenoid, saluran napas bagian atas dapat menyempit sehingga timbul ngorok dan gangguan napas saat tidur. Akibatnya tidur menjadi tidak dalam, sering terbangun singkat (micro-arousal), dan otot-otot wajah serta kelopak mata tidak selalu berada dalam posisi relaks sempurna. Inilah sebabnya sebagian anak dengan ngorok kronis, hidung tersumbat, atau alergi lebih sering terlihat tidur dengan mata sedikit terbuka.

Mata kering atau iritasi mata juga dapat menyebabkan kelopak mata tidak menutup rapat saat tidur. Sebaliknya, tidur dengan mata terbuka dapat memperparah mata kering karena permukaan mata terus terpapar udara selama tidur. Terjadi semacam lingkaran yang saling memengaruhi.

Sementara itu, kelainan saraf atau otot wajah merupakan penyebab yang jauh lebih jarang. Pada kondisi ini, otot yang bertugas menutup kelopak mata tidak bekerja optimal sehingga mata sulit menutup sempurna, baik saat tidur maupun kadang saat terjaga. Bila disertai wajah mencong, senyum tidak simetris, atau kelemahan wajah, anak perlu segera diperiksakan ke dokter.

Pada praktik sehari-hari, penyebab tersering anak tidur dengan mata sedikit terbuka adalah hidung tersumbat karena alergi atau infeksi virus, ngorok akibat pembesaran adenoid atau amandel, serta kualitas tidur yang kurang baik, sedangkan kelainan saraf merupakan penyebab yang sangat jarang. Saat hidung tersumbat, anak harus bernapas lebih keras melalui mulut sehingga tubuh harus bekerja lebih banyak selama tidur. Akibatnya, tidur menjadi lebih gelisah, anak sering berpindah posisi, berkeringat, mengigau, tidur nungging, atau terbangun singkat tanpa disadari. Pada kondisi tersebut, relaksasi otot wajah dan kelopak mata tidak berlangsung optimal sehingga mata dapat tampak sedikit terbuka saat tidur. Kondisi ini sering kali membaik setelah gangguan pernapasan saat tidur, alergi, atau infeksi virus teratasi.

Selain itu, tidur normal terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari tidur ringan, tidur dalam (deep sleep), hingga fase REM (Rapid Eye Movement). Pada anak dengan alergi, flu berulang, atau ngorok akibat pembesaran adenoid dan amandel, perpindahan antar-tahap tidur sering terganggu. Anak lebih sering berada pada fase tidur ringan dan mengalami gangguan mikro (micro-arousal) berulang yang tidak disadari orang tua. Akibatnya, kualitas tidur menurun meskipun durasi tidur tampak cukup. Gangguan tahapan tidur ini dapat menyebabkan berbagai gejala seperti mudah lelah saat bangun, rewel, sulit fokus, hiperaktif, emosi tidak stabil, sering terbangun malam, mengigau, berkeringat saat tidur, tidur nungging, ngorok, hingga tidur dengan mata sedikit terbuka. Oleh karena itu, pada banyak kasus, tidur dengan mata terbuka bukan masalah pada mata itu sendiri, melainkan merupakan salah satu tanda adanya gangguan kualitas tidur akibat sumbatan jalan napas, alergi, atau infeksi saluran napas atas. πŸ‘ΆπŸ’€πŸ‘ƒπŸ‘€

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *