Gangguan Pertumbuhan dan Kesulitan Makan pada Anak: Overdiagnosis Tuberkulosis, Alergi Makanan, dan Penyakit Gastrointestinal
dr Audi Yudhasmara, dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Abstrak
Gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan pada anak merupakan masalah klinis multifaktorial yang dapat berkaitan dengan asupan energi yang tidak memadai, gangguan makan, penyakit gastrointestinal, alergi makanan, infeksi kronis, maupun faktor psikososial. Tuberkulosis (TB) perlu dipertimbangkan sesuai riwayat kontak, gejala, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang, tetapi gejala seperti berat badan sulit naik, batuk berulang, atau pembesaran kelenjar tidak bersifat spesifik. Alergi makanan, termasuk bentuk yang diperantarai mekanisme non-IgE, dapat menimbulkan gejala gastrointestinal dan berkontribusi pada kesulitan makan pada sebagian anak. Evaluasi memerlukan pengukuran antropometri serial, penilaian pola makan, pemeriksaan terarah, dan pengujian sesuai indikasi. Pada kasus terpilih, eliminasi makanan yang dicurigai diikuti reintroduksi atau oral food challenge (OFC) yang dilakukan dengan pengawasan tenaga medis dapat membantu menilai hubungan sebab-akibat. Perbaikan gejala atau kenaikan berat badan setelah eliminasi makanan tidak dapat digunakan sebagai bukti tunggal untuk menegakkan alergi makanan maupun menyingkirkan TB. Pendekatan yang seimbang diperlukan untuk mengurangi risiko diagnosis TB berlebihan sekaligus mencegah keterlambatan diagnosis TB yang sebenarnya.
Gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan sering saling berkaitan. Anak yang mengalami nyeri perut, mual, muntah, konstipasi, diare, atau gejala setelah mengonsumsi makanan tertentu dapat mengurangi jumlah dan variasi makanan yang dikonsumsi. Sebaliknya, asupan yang tidak memadai, masalah keterampilan makan, interaksi makan yang penuh tekanan, serta penyakit kronis juga dapat memengaruhi pertumbuhan.
Dalam praktik klinis, berat badan sulit naik dan gejala pernapasan berulang dapat memicu evaluasi terhadap TB, terutama bila terdapat riwayat kontak atau temuan klinis yang mendukung. Namun, gejala tersebut tidak spesifik untuk TB. Penyakit alergi, gangguan gastrointestinal, infeksi berulang, masalah asupan, dan berbagai kondisi lain dapat memiliki gambaran yang tumpang tindih. Karena itu, diagnosis harus didasarkan pada penilaian menyeluruh, bukan satu gejala atau satu respons terhadap intervensi.
Menilai gangguan pertumbuhan secara objektif
- Penilaian pertumbuhan sebaiknya menggunakan pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, dan indikator antropometri yang sesuai usia serta jenis kelamin. Hasil perlu diplot pada standar pertumbuhan WHO dan dibandingkan secara serial. Satu pengukuran saja tidak selalu menggambarkan arah pertumbuhan anak.
- Istilah seperti berat badan kurang, wasting, stunting, dan growth faltering memiliki makna yang berbeda. Penilaian juga perlu mempertimbangkan usia, riwayat lahir, pola pertumbuhan sebelumnya, tinggi badan orang tua, penyakit penyerta, kecukupan energi dan protein, serta perkembangan anak. Bila pertumbuhan melambat, dokter perlu menilai apakah penyebab utama berupa asupan yang kurang, kebutuhan energi yang meningkat, gangguan penyerapan, kehilangan zat gizi, atau kombinasi beberapa faktor.
Kesulitan makan dan kaitannya dengan pertumbuhan
- Kesulitan makan bukan diagnosis tunggal. Penyebabnya dapat mencakup keterampilan oral-motor yang belum matang, sensitivitas sensorik terhadap tekstur atau bau, jadwal makan yang tidak teratur, tekanan selama makan, nafsu makan rendah, nyeri saat makan, refluks atau gejala gastrointestinal lain, serta kondisi perkembangan dan medis tertentu.
- Evaluasi riwayat makan sebaiknya mencakup durasi makan, variasi dan tekstur makanan, volume yang dikonsumsi, perilaku menghindari makanan, tanda nyeri atau tersedak, gejala setelah makan, serta penggunaan susu atau minuman yang mungkin menggantikan makanan utama. Catatan makan dan gejala selama beberapa hari dapat membantu mengidentifikasi pola. Pembatasan makanan yang terlalu luas tanpa pengganti zat gizi berisiko memperburuk asupan dan pertumbuhan.
Diagnosis diferensial: TB, alergi makanan, dan penyakit gastrointestinal
| Aspek | Hal yang perlu dievaluasi | Batas interpretasi |
| Tuberkulosis | Riwayat kontak TB, durasi dan pola batuk, demam berkepanjangan, penurunan atau stagnasi berat badan, pemeriksaan fisik, pencitraan, dan pemeriksaan mikrobiologi atau molekuler sesuai indikasi. | Gejala saja tidak cukup untuk memastikan TB. Hasil tes negatif tidak selalu menyingkirkan TB pada anak, terutama bila jumlah kuman rendah. |
| Alergi makanan | Hubungan waktu antara paparan makanan dan gejala, pola gejala berulang, manifestasi kulit, gastrointestinal atau sistem lain, serta respons terhadap eliminasi dan reintroduksi yang terencana. | Gejala tidak spesifik. Tes tusuk kulit dan IgE spesifik menunjukkan sensitisasi, bukan otomatis alergi klinis. Hasil negatif tidak menyingkirkan semua alergi non-IgE. |
| Penyakit gastrointestinal lain | Konstipasi, diare kronis, muntah, nyeri perut, darah pada tinja, distensi, tanda malabsorpsi, dan pemeriksaan lanjutan berdasarkan indikasi klinis. | Gejala yang sama dapat berasal dari beberapa kondisi. Pemeriksaan harus disesuaikan dengan riwayat dan temuan klinis. |
| Asupan dan perilaku makan | Asupan energi, variasi makanan, kemampuan mengunyah dan menelan, rutinitas makan, faktor sensorik, serta dinamika pengasuhan. | Masalah asupan dapat menjadi penyebab sekaligus akibat gejala penyakit lain. |
Alergi makanan dan gejala gastrointestinal
- Alergi makanan dapat melibatkan mekanisme imunologis yang berbeda. Pada alergi yang diperantarai IgE, gejala umumnya muncul relatif cepat setelah paparan, meskipun pola klinis bervariasi. Pada alergi non-IgE, gejala dapat tertunda dan sering melibatkan saluran pencernaan. Konstipasi, muntah, diare, nyeri perut, atau penolakan makan tidak secara otomatis menunjukkan alergi makanan karena keluhan tersebut juga banyak ditemukan pada kondisi lain.
- Diagnosis dimulai dengan riwayat yang terperinci dan pemeriksaan yang relevan. Uji tusuk kulit (skin prick test/SPT) serta pemeriksaan IgE spesifik paling berguna bila dicurigai alergi yang diperantarai IgE. Pemeriksaan tersebut tidak dapat digunakan sendirian untuk mendiagnosis alergi makanan klinis dan tidak menilai semua bentuk alergi non-IgE.
- Pada kasus terpilih, eliminasi makanan yang dicurigai untuk jangka waktu yang sesuai, kemudian reintroduksi terencana atau OFC, dapat membantu memastikan apakah makanan tersebut benar-benar memicu gejala. OFC perlu dilakukan dengan pengawasan tenaga medis sesuai tingkat risiko. Anak dengan riwayat reaksi berat tidak boleh mencoba paparan ulang di rumah tanpa arahan dokter. Selama eliminasi, kecukupan energi, protein, kalsium, vitamin, dan zat gizi lain perlu dijaga.
Interpretasi perbaikan setelah eliminasi makanan
Jika gejala membaik setelah makanan tertentu dieliminasi, temuan tersebut dapat menjadi petunjuk klinis, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Gejala dapat berubah secara alami, dipengaruhi pengobatan lain, atau membaik karena perubahan pola makan dan rutinitas. Reintroduksi yang terencana dapat memberi informasi tambahan, tetapi hasilnya harus ditafsirkan sesuai riwayat, jenis gejala, dan keamanan pasien.
Catatan klinis penting: kenaikan berat badan, termasuk kenaikan sekitar 200–250 gram dalam satu minggu, bukan ambang diagnostik universal untuk alergi makanan dan tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan TB. Kecepatan pertumbuhan perlu ditafsirkan berdasarkan usia, berat awal, status gizi, hidrasi, interval pengukuran, dan tren antropometri yang lebih panjang.
Menghindari diagnosis TB berlebihan dan diagnosis TB yang terlewat
- Diagnosis TB pada anak dapat menantang karena gejalanya sering tidak khas dan pemeriksaan mikrobiologi dapat negatif. Oleh sebab itu, hasil negatif tidak boleh ditafsirkan secara terpisah dari riwayat kontak, kondisi klinis, pencitraan, dan penilaian dokter. Sebaliknya, berat badan sulit naik atau batuk berulang saja tidak cukup untuk memastikan TB.
- Jika TB dicurigai, pemeriksaan harus mengikuti pedoman yang berlaku dan disesuaikan dengan kondisi anak. Pemeriksaan molekuler cepat seperti Xpert MTB/RIF atau Xpert Ultra dapat dipertimbangkan pada spesimen yang sesuai menurut pedoman dan ketersediaan layanan. Keputusan diagnosis dan pengobatan harus dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten. Evaluasi alergi makanan dapat berjalan sebagai bagian diagnosis diferensial bila riwayat mendukung, tetapi tidak boleh menggantikan evaluasi TB yang diperlukan.
Kerangka pendekatan klinis
- Konfirmasi masalah pertumbuhan. Ukur berat dan panjang/tinggi badan dengan benar, plot pada kurva pertumbuhan, lalu tinjau trennya.
- Evaluasi asupan dan keterampilan makan. Tinjau catatan makan, variasi makanan, durasi makan, perilaku menghindar, serta gejala ketika makan.
- Identifikasi tanda bahaya. Misalnya penurunan berat badan nyata, dehidrasi, muntah menetap, darah pada tinja, gangguan menelan, sesak, kondisi umum memburuk, atau dugaan infeksi serius. Temuan tersebut memerlukan penilaian medis segera sesuai tingkat kegawatan.
- Periksa diagnosis diferensial. Pertimbangkan TB berdasarkan faktor risiko dan temuan klinis, serta alergi makanan atau penyakit gastrointestinal bila riwayat mendukung.
- Lakukan pemeriksaan terarah. Pilih pemeriksaan laboratorium, pencitraan, atau tes alergi berdasarkan dugaan klinis, bukan sebagai panel luas tanpa indikasi.
- Rencanakan evaluasi dan tindak lanjut. Pantau gejala, asupan, dan antropometri. Bila eliminasi makanan diperlukan, tetapkan tujuan, durasi, pengganti zat gizi, serta rencana reintroduksi atau OFC yang aman.
Implikasi penelitian
Hubungan antara alergi makanan, kesulitan makan, gangguan pertumbuhan, dan dugaan TB perlu diteliti dengan rancangan yang mampu membedakan asosiasi dari sebab-akibat. Studi prospektif sebaiknya menetapkan definisi operasional gangguan pertumbuhan, kriteria alergi makanan, standar evaluasi TB, ukuran asupan, serta jadwal pengukuran berat dan tinggi badan. Perubahan gejala dan berat badan setelah eliminasi makanan sebaiknya diperlakukan sebagai luaran yang diukur, bukan bukti tunggal untuk menetapkan diagnosis.
Kesimpulan
Gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan pada anak memerlukan pendekatan multidisiplin dan evaluasi bertahap. TB, alergi makanan, penyakit gastrointestinal, serta masalah asupan dan perilaku makan dapat memiliki gejala yang tumpang tindih. Diagnosis TB tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala tidak spesifik, tetapi juga tidak boleh disingkirkan hanya karena gejala membaik setelah eliminasi makanan atau berat badan meningkat. Diagnosis alergi makanan memerlukan riwayat yang sesuai dan, pada kasus terpilih, eliminasi serta reintroduksi atau OFC yang terencana dengan memperhatikan keselamatan dan kecukupan gizi.
Daftar pustaka
- Singini DS, Sanjase N, Kagujje M, et al. Clinical diagnosis of TB: lessons on misdiagnosis and overdiagnosis. Public Health Action. 2025;15(2):93–95. doi: 5588/pha.25.0012.
- Harries AD. Clinical diagnosis of TB: further examples of under- and over-diagnosis. Public Health Action. 2025;15(3):140–141. doi: 5588/pha.25.0023.
- Adamson JD. Over-Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis. Canadian Medical Association Journal. 1924;14(7):610–613. Teks lengkap.
- Neshati H, Sheybani F, Naderi H, et al. Diagnostic Errors in Tuberculous Patients: A Multicenter Study from a Developing Country. Journal of Environmental and Public Health. 2018;2018:1975931. doi: 1155/2018/1975931.
- World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis: Module 3: Diagnosis. 2025. WHO publication.
- Meyer R, et al. World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) guideline update: milk elimination and reintroduction in the diagnostic process of cow’s milk allergy. World Allergy Organization Journal. 2023. doi: 1016/j.waojou.2023.100785.
- World Health Organization. WHO Child Growth Standards. Standar pertumbuhan anak WHO






Leave a Reply