
Alergi makanan pada anak telah menjadi perhatian klinis yang terus berkembang, tidak hanya karena dampak langsungnya pada kulit dan saluran cerna, tetapi juga karena kemungkinan kaitannya dengan infeksi saluran pernapasan berulang (ISPB). Studi oleh Woicka-Kolejwa et al. (2016) mengevaluasi 280 anak yang didiagnosis mengalami alergi makanan berbasis IgE dan menemukan hubungan signifikan antara sensitisasi terhadap β-laktoglobulin dengan peningkatan risiko ISPB, khususnya pada anak usia 1–2 tahun. Sebaliknya, sensitisasi terhadap alergen selain susu atau telur justru menurunkan risiko ISPB pada anak yang lebih besar. Tinjauan ini bertujuan untuk menyoroti keterkaitan antara profil alergi makanan dengan risiko infeksi saluran napas, implikasi klinis, dan arah penelitian lanjutan.
Alergi makanan merupakan kondisi imunologis yang sering terjadi pada masa anak-anak, dengan mediasi utama oleh antibodi IgE terhadap protein makanan tertentu. Diagnosis umumnya ditegakkan melalui deteksi IgE spesifik terhadap alergen seperti protein susu sapi dan telur, yang merupakan dua alergen utama pada masa kanak-kanak. Alergi makanan tidak hanya berdampak pada kulit dan saluran cerna, tetapi juga semakin diduga berperan dalam munculnya gejala respiratori seperti asma dan infeksi saluran pernapasan berulang.
Data epidemiologi menunjukkan peningkatan insiden alergi makanan pada anak dalam dekade terakhir, sehingga menjadi tantangan bagi dokter anak di seluruh dunia. Gejala awal biasanya muncul pada kulit dan saluran cerna pada bayi, sedangkan pada anak yang lebih besar, gejala respiratori lebih dominan. Hubungan antara alergi makanan, khususnya alergi susu sapi dan telur, dengan risiko asma dan infeksi saluran pernapasan masih kontroversial. Studi retrospektif oleh Woicka-Kolejwa dan kolega bertujuan untuk menjawab pertanyaan penting ini melalui analisis mendalam terhadap data klinis anak-anak yang dirujuk ke klinik alergi.
Hasil dan Diskusi:
Studi ini melibatkan 280 anak di bawah usia 10 tahun yang dirujuk ke klinik alergi dan didiagnosis alergi makanan berbasis IgE. Dari seluruh subjek, sebanyak 54,6% mengalami infeksi saluran napas berulang (ISPB), 34,3% mengalami gejala asma, dan 13,9% mengalami gangguan saluran cerna. Temuan penting adalah peningkatan risiko ISPB hampir empat kali lipat (OR = 3,91; 95% CI: 1,03–14,87) pada anak usia 1–2 tahun yang tersensitisasi terhadap β-laktoglobulin.
Sebaliknya, pada anak yang lebih besar, sensitisasi terhadap alergen selain susu atau telur justru menurunkan risiko ISPB (OR = 0,25; 95% CI: 0,10–0,62), dan sensitisasi terhadap telur dikaitkan dengan penurunan risiko asma (OR = 0,09; 95% CI: 0,01–0,75). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara sensitisasi makanan tertentu dengan gangguan gastrointestinal. Hasil ini menunjukkan adanya variasi usia dalam respons imun terhadap alergen makanan, dan bagaimana hal ini mungkin memengaruhi kecenderungan terhadap infeksi saluran napas.
Interpretasi hasil ini membuka kemungkinan bahwa pada masa awal kehidupan, sistem imun yang imatur membuat anak lebih rentan terhadap interaksi lintas sistem antara saluran cerna dan saluran napas—yang dikenal sebagai gut-lung axis. Penurunan risiko ISPB pada anak lebih besar yang sensitisasi terhadap alergen tertentu dapat disebabkan oleh toleransi imun yang berkembang seiring usia.
Kesimpulan:
Studi ini menegaskan bahwa sensitisasi terhadap β-laktoglobulin merupakan faktor risiko signifikan untuk infeksi saluran pernapasan berulang pada anak usia di bawah dua tahun. Namun, pada anak yang lebih besar, profil sensitisasi terhadap alergen makanan tidak secara langsung meningkatkan risiko gejala respiratori atau gastrointestinal. Temuan ini mendukung pentingnya pendekatan usia-spesifik dalam penatalaksanaan alergi makanan dan deteksi dini terhadap potensi komplikasi respiratori.
Daftar Pustaka
- Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, et al. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151
- Sampson HA. Food allergy—accurately identifying clinical reactivity. Allergy. 2005;60 Suppl 79:19–24. doi:10.1111/j.1398-9995.2005.00854.x
- Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. J Allergy Clin Immunol. 2014;133(2):291–307. doi:10.1016/j.jaci.2013.11.020
- Prescott SL, Pawankar R, Allen KJ, et al. A global survey of changing patterns of food allergy burden in children. World Allergy Organ J. 2013;6(1):21. doi:10.1186/1939-4551-6-21
- Berin MC, Sampson HA. Mucosal immunology of food allergy. Curr Biol. 2013;23(9):R389–R400. doi:10.1016/j.cub.2013.03.011






Leave a Reply