DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

KONSULTASI PEDIATRI: Apakah Riwayat Alergi dalam Keluarga Menjadi Alasan untuk Menunda Pemberian MPASI?

Apakah Riwayat Alergi dalam Keluarga Menjadi Alasan untuk Menunda Pemberian MPASI?

Pertanyaan

“Dok, bayi saya sekarang berusia 6 bulan dan sudah menunjukkan tanda siap makan. Namun, kakaknya memiliki alergi susu sapi dan ayahnya menderita asma. Banyak yang menyarankan agar MPASI ditunda sampai usia 8 atau 9 bulan supaya risiko alerginya berkurang. Ada juga yang mengatakan telur, ikan, dan kacang sebaiknya baru diberikan setelah usia satu tahun. Saya khawatir jika mulai MPASI terlalu cepat justru akan memicu alergi. Apakah bayi yang memiliki riwayat alergi dalam keluarga memang sebaiknya menunda pemberian MPASI?”

Jawaban

Tidak. Berdasarkan rekomendasi terbaru dari berbagai organisasi internasional, termasuk WHO, American Academy of Pediatrics (AAP), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), dan European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), bayi yang memiliki risiko alergi tetap dianjurkan mulai mendapatkan makanan pendamping ASI sekitar usia 6 bulan atau ketika telah menunjukkan tanda kesiapan makan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa menunda pemberian MPASI dapat mencegah terjadinya alergi makanan.

Setelah usia 6 bulan, kebutuhan energi, protein, zat besi, seng, dan berbagai mikronutrien meningkat sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi. MPASI berfungsi melengkapi kebutuhan gizi tersebut sekaligus menjadi tahap penting dalam perkembangan kemampuan makan. Pada masa ini bayi mulai belajar mengenali rasa, aroma, tekstur, mengunyah, dan menelan. Bila pemberian MPASI ditunda tanpa alasan medis yang jelas, perkembangan keterampilan makan dapat terhambat dan risiko gangguan makan pada kemudian hari dapat meningkat.

Pandangan lama yang menyarankan penundaan pemberian telur, ikan, kacang tanah, atau makanan alergen lainnya kini sudah ditinggalkan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa memperkenalkan berbagai jenis makanan sesuai usia, termasuk makanan yang berpotensi menyebabkan alergi, tidak meningkatkan risiko alergi bila dilakukan secara bertahap dan dalam bentuk yang aman sesuai usia bayi. Sebaliknya, penundaan tanpa indikasi medis tidak memberikan manfaat dalam pencegahan alergi.

Perlu dibedakan antara bayi yang hanya memiliki faktor risiko alergi dengan bayi yang sudah dicurigai mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Riwayat alergi pada orang tua atau saudara kandung memang meningkatkan risiko, tetapi bukan berarti bayi pasti akan mengalami alergi. Oleh karena itu, bayi tetap dianjurkan menjalani pola pemberian MPASI yang normal. Sebaliknya, bila setelah mengonsumsi makanan tertentu muncul gejala yang konsisten, seperti biduran, muntah berulang, sesak napas, diare, darah pada tinja, atau gejala lain yang mengarah pada alergi, bayi perlu dievaluasi lebih lanjut oleh dokter.

Kesalahan yang masih sering terjadi adalah orang tua terlalu takut memperkenalkan berbagai jenis makanan sehingga pilihan MPASI menjadi sangat terbatas. Akibatnya, bayi berisiko mengalami kekurangan zat gizi, keterlambatan perkembangan kemampuan mengunyah dan menelan, menjadi lebih selektif terhadap makanan, serta mengalami gangguan kenaikan berat badan. Karena itu, variasi makanan yang sesuai usia justru penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Diagnosis alergi makanan juga tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan riwayat keluarga atau munculnya satu gejala saja. Bila dokter mencurigai adanya alergi makanan, evaluasi dilakukan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Pada kasus tertentu, diagnosis dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge yang hingga saat ini merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi. Pendekatan ini penting agar bayi tidak menjalani pembatasan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Dengan demikian, riwayat alergi dalam keluarga bukan merupakan alasan untuk menunda pemberian MPASI. MPASI tetap dianjurkan dimulai sekitar usia 6 bulan sesuai kesiapan bayi, dengan memberikan berbagai jenis makanan secara bertahap dan sesuai tekstur berdasarkan usia. Pendekatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mendukung perkembangan kemampuan makan dan membantu menghindari pembatasan makanan yang tidak berdasarkan diagnosis yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *