DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

INFLUENZA A PADA ANAK: EPIDEMIOLOGI, MANIFESTASI KLINIS, KOMPLIKASI, DIAGNOSIS, TERAPI, DAN PENCEGAHAN

 

INFLUENZA A PADA ANAK: EPIDEMIOLOGI, MANIFESTASI KLINIS, KOMPLIKASI, DIAGNOSIS, TERAPI, DAN PENCEGAHAN

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Influenza merupakan infeksi saluran napas akut yang disebabkan oleh virus influenza, terutama influenza A dan influenza B. Pada populasi pediatrik, influenza A memiliki arti klinis penting karena anak merupakan kelompok yang mudah terinfeksi dan berperan dalam transmisi virus di masyarakat. Sebagian besar infeksi bersifat self-limited, tetapi anak usia muda, terutama usia di bawah 5 tahun, serta anak dengan penyakit kronis atau gangguan imunitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat dan komplikasi. Manifestasi klinis meliputi demam akut, batuk, rinore, nyeri tenggorokan, sakit kepala, malaise, dan mialgia. Pada anak kecil dapat ditemukan muntah, diare, penurunan asupan, iritabilitas, dan dehidrasi. Komplikasi dapat berupa pneumonia, infeksi bakteri sekunder, eksaserbasi penyakit kronis, kejang demam, ensefalopati, ensefalitis, miokarditis, dan kegagalan organ pada kasus berat. Diagnosis dapat dilakukan secara klinis, sedangkan pemeriksaan molekuler seperti RT-PCR memberikan konfirmasi laboratorium dengan sensitivitas lebih tinggi dibandingkan rapid antigen test. Terapi antivirus, terutama oseltamivir, memiliki peran penting pada anak dengan penyakit berat, progresif, rawat inap, atau risiko komplikasi tinggi. Efektivitas terapi paling besar bila diberikan sedini mungkin. Vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi strategi utama pencegahan. (World Health Organization)

Kata kunci: influenza A, anak, influenza pediatrik, oseltamivir, pneumonia, komplikasi neurologis, vaksin influenza.

Pendahuluan

  • Influenza merupakan penyakit respiratorik akut yang terjadi di seluruh dunia. WHO memperkirakan terdapat sekitar satu miliar kasus influenza musiman setiap tahun, dengan sekitar 3 sampai 5 juta kasus mengalami penyakit berat dan 290.000 sampai 650.000 kematian akibat komplikasi respiratorik setiap tahun. Anak usia di bawah 5 tahun termasuk kelompok dengan risiko komplikasi lebih tinggi. (World Health Organization)
  • Influenza A dan influenza B merupakan virus utama penyebab influenza musiman pada manusia. Influenza A mempunyai karakteristik biologis yang berbeda karena diklasifikasikan berdasarkan kombinasi protein permukaan hemaglutinin dan neuraminidase. Subtipe influenza A yang saat ini beredar pada manusia terutama A(H1N1)pdm09 dan A(H3N2). (World Health Organization)
  • Pada anak, influenza memiliki implikasi klinis dan epidemiologis yang penting. Anak dapat mengalami penyakit ringan sampai berat. Anak juga dapat menjadi sumber transmisi bagi anggota keluarga dan komunitas. Literatur pediatrik menunjukkan bahwa komplikasi dapat terjadi pada anak sehat maupun anak dengan penyakit kronis. (PubMed)
  • Epidemiologi influenza A pada anak
  • Influenza dapat terjadi sepanjang tahun di wilayah tropis. Indonesia berada di wilayah tropis sehingga pola influenza tidak selalu mengikuti pola musim dingin seperti negara beriklim sedang. Aktivitas virus dapat mengalami peningkatan pada periode tertentu dan perlu dipantau melalui sistem surveilans. (World Health Organization)
  • Anak usia muda merupakan kelompok penting dalam epidemiologi influenza. Risiko penyakit berat meningkat pada anak berusia kurang dari 5 tahun, terutama pada anak yang memiliki penyakit penyerta. Kondisi neurologis, neuromuskular, respiratorik, metabolik, hematologis, kardiovaskular, dan gangguan imunitas dapat meningkatkan risiko komplikasi. (World Health Organization)

Tabel 1. Faktor yang meningkatkan risiko influenza berat pada anak

Faktor Relevansi klinis
Usia <5 tahun Risiko komplikasi lebih tinggi
Usia sangat muda Cadangan fisiologis lebih terbatas
Prematuritas Dapat meningkatkan risiko penyakit berat
Asma atau penyakit paru kronis Risiko komplikasi respiratorik
Penyakit jantung Risiko dekompensasi saat infeksi
Penyakit neurologis atau neuromuskular Risiko komplikasi berat dan gangguan respirasi
Diabetes Berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi
Gangguan imunitas Respons terhadap infeksi dapat terganggu
Penyakit ginjal atau metabolik Dapat meningkatkan risiko penyakit berat
Penyakit kronis multipel Risiko komplikasi dapat meningkat

Patogenesis

  • Influenza A menginfeksi epitel saluran respirasi. Protein hemaglutinin berperan dalam proses masuknya virus ke dalam sel melalui interaksi dengan reseptor asam sialat. Setelah replikasi, neuraminidase membantu pelepasan virion baru dari permukaan sel.
  • Kerusakan epitel respirasi dan respons inflamasi terhadap infeksi dapat menyebabkan gejala sistemik serta gangguan fungsi saluran napas. Respons imun terhadap infeksi berkontribusi terhadap demam, malaise, mialgia, dan gejala sistemik lainnya.
  • Pada sebagian pasien, kerusakan epitel respirasi dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri sekunder. Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa pneumonia bakteri dapat muncul setelah atau bersamaan dengan influenza.
  • Manifestasi klinis
  • Influenza secara klasik mempunyai onset yang relatif mendadak. Gejala utama meliputi demam, batuk, sakit tenggorokan, rinore, sakit kepala, mialgia, artralgia, dan malaise. Batuk dapat bertahan selama dua minggu atau lebih meskipun demam sudah menghilang. (World Health Organization)
  • Pada anak kecil, presentasi dapat berbeda dari anak yang lebih besar. Penurunan nafsu makan, muntah, diare, rewel, mengantuk, penurunan aktivitas, dan kesulitan minum dapat lebih menonjol.
  • Karena berbagai virus respirasi dapat menghasilkan gejala serupa, manifestasi klinis saja tidak selalu mampu membedakan influenza A dari RSV, adenovirus, rhinovirus, parainfluenza, atau SARS-CoV-2. (World Health Organization)

Tabel 2. Manifestasi klinis influenza A pada anak

Manifestasi Keterangan
Demam Sering terjadi dan dapat muncul mendadak
Batuk Gejala utama, dapat menetap >2 minggu
Rinore Sering ditemukan
Sakit tenggorokan Sering
Sakit kepala Lebih mudah dikenali pada anak besar
Mialgia Lebih jelas pada anak yang lebih besar
Malaise Dapat menyebabkan penurunan aktivitas
Anoreksia Sering pada fase akut
Muntah Lebih sering pada anak dibandingkan dewasa
Diare Dapat terjadi
Dehidrasi Terutama bila asupan turun dan muntah berulang
Sesak Mengarah pada keterlibatan saluran napas bawah
Kejang Dapat terjadi, terutama kejang demam
Gangguan kesadaran Mengarah pada penyakit berat atau komplikasi neurologis

Diagnosis

  • Diagnosis influenza dapat dilakukan berdasarkan gambaran klinis dan epidemiologi. Namun, diagnosis klinis memiliki keterbatasan karena berbagai virus respirasi menghasilkan influenza-like illness.
  • WHO menyatakan bahwa konfirmasi laboratorium dapat menggunakan deteksi antigen, kultur virus, atau deteksi RNA virus dengan RT-PCR. Pemeriksaan molekuler umumnya memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan rapid diagnostic test berbasis antigen. (World Health Organization)
  • Pemilihan pemeriksaan harus mempertimbangkan kondisi pasien dan tujuan pemeriksaan. Tidak semua anak dengan influenza ringan membutuhkan pemeriksaan laboratorium.

Tabel 3. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan Kegunaan Keterbatasan
Diagnosis klinis Praktis dan cepat Tidak spesifik
Rapid antigen test Hasil cepat Sensitivitas lebih rendah
RT-PCR Sensitivitas dan spesifisitas tinggi Membutuhkan fasilitas laboratorium
Multiplex molecular panel Dapat mendeteksi beberapa patogen Biaya lebih tinggi
Kultur virus Penting untuk surveilans tertentu Lambat untuk keputusan klinis
  • Hasil rapid antigen negatif tidak selalu menyingkirkan influenza bila gambaran klinis sangat mendukung. (World Health Organization)

Komplikasi influenza A

  • Influenza A pada sebagian anak dapat berkembang menjadi penyakit berat. Komplikasi respiratorik meliputi pneumonia viral, pneumonia bakteri sekunder, hipoksemia, dan gagal napas.
  • Influenza juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah ada. WHO secara khusus menyebutkan bahwa influenza dapat memperberat penyakit kronis dan pada kasus berat dapat menyebabkan pneumonia serta sepsis. (World Health Organization)
  • Komplikasi neurologis merupakan komplikasi yang lebih jarang tetapi penting. Literatur pediatrik melaporkan kejang demam, kejang nonfebril, ensefalopati, dan ensefalitis.
  • Studi terbaru dari pusat rujukan di Italia pada anak dengan influenza-associated encephalopathy selama musim 2023 sampai 2025 menemukan keterlibatan neurologis yang bermakna. Dalam kohort tersebut, 25 anak memenuhi kriteria ensefalopati terkait influenza. Sebanyak 16% mengalami komplikasi berat dan 12% memiliki gejala persisten atau membutuhkan terapi saat pulang. Studi tersebut merupakan penelitian rumah sakit dan tidak dapat digunakan untuk memperkirakan risiko seluruh anak dengan influenza. (PubMed)

Tabel 4. Komplikasi influenza A pada anak

Sistem Komplikasi
Respirasi Pneumonia viral
Respirasi Pneumonia bakteri sekunder
Respirasi Hipoksemia
Respirasi Gagal napas
Neurologis Kejang demam
Neurologis Kejang nonfebril
Neurologis Ensefalopati
Neurologis Ensefalitis
Kardiovaskular Miokarditis
Gastrointestinal Muntah dan dehidrasi
Sistemik Sepsis
Penyakit kronis Eksaserbasi asma dan penyakit komorbid

Influenza dan komplikasi neurologis

  • Komplikasi neurologis influenza mendapat perhatian khusus dalam pediatri. Mekanismenya belum sepenuhnya dipahami dan kemungkinan melibatkan kombinasi respons inflamasi sistemik, gangguan metabolik, dan keterlibatan sistem saraf pusat.
  • Ensefalopati terkait influenza harus dipertimbangkan bila anak mengalami perubahan kesadaran, kejang yang tidak sesuai dengan pola kejang demam sederhana, perilaku yang berubah secara signifikan, atau defisit neurologis.
  • Temuan dari penelitian terbaru menunjukkan bahwa komplikasi neurologis dapat membutuhkan pemeriksaan EEG, analisis cairan serebrospinal, dan neuroimaging pada kasus tertentu. (PubMed)

Terapi antivirus

  • Antivirus merupakan bagian penting dari tata laksana influenza pada anak dengan risiko tinggi atau penyakit berat.
  • WHO merekomendasikan terapi antivirus sedini mungkin pada kelompok berisiko tinggi dan pasien dengan penyakit berat. Anak di bawah 5 tahun termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. (World Health Organization)
  • Oseltamivir merupakan salah satu antivirus yang paling banyak digunakan pada pediatri. Literatur menunjukkan bahwa obat ini dapat digunakan untuk terapi influenza dan profilaksis pascapajanan pada populasi pediatrik tertentu. (PubMed)
  • Studi pediatrik yang lebih baru pada pasien influenza yang tidak divaksinasi melaporkan bahwa pemberian oseltamivir berkaitan dengan penurunan intensitas gejala, lama rawat, dan komplikasi pascainfeksi dalam populasi penelitian tersebut. Karena penelitian tersebut bersifat observasional, hasilnya perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan kemungkinan confounding. (PubMed)

Tabel 5. Prinsip penggunaan antivirus

Kondisi Pertimbangan
Rawat inap Antivirus perlu dipertimbangkan segera
Penyakit berat Terapi antivirus penting
Penyakit progresif Terapi segera
Komplikasi influenza Terapi antivirus dapat diperlukan
Anak <5 tahun Kelompok risiko tinggi
Penyakit kronis Ambang terapi lebih rendah
Gejala baru ≤48 jam Manfaat terapi paling optimal bila dimulai dini
Gejala >48 jam Tetap dapat dipertimbangkan pada penyakit berat atau kelompok risiko tinggi
Influenza ringan pada anak sehat Keputusan individual

Pemberian antivirus tidak seharusnya ditunda hanya untuk menunggu konfirmasi laboratorium pada pasien yang memiliki indikasi klinis kuat untuk terapi.

Terapi antivirus, dosis, dan penanganan lebih lanjut

Tidak semua anak dengan influenza A memerlukan antivirus. Pada anak sehat dengan penyakit ringan, terapi suportif dapat mencukupi. Sebaliknya, antivirus perlu segera dipertimbangkan pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat atau progresif, mempunyai komplikasi influenza, atau mempunyai faktor risiko komplikasi. AAP 2026 sampai 2027 menempatkan oseltamivir sebagai antivirus pilihan untuk influenza A dan B pada anak karena pengalaman penggunaannya yang luas pada pediatri dan kemudahan pemberian. (American Academy of Pediatrics)

Oseltamivir merupakan inhibitor neuraminidase yang diberikan secara oral atau melalui feeding tube. Untuk anak usia 1 tahun atau lebih, dosis terapi ditentukan berdasarkan berat badan. Anak dengan berat ≤15 kg mendapat 30 mg dua kali sehari selama 5 hari. Berat >15 sampai 23 kg mendapat 45 mg dua kali sehari selama 5 hari. Berat >23 sampai 40 kg mendapat 60 mg dua kali sehari selama 5 hari. Berat >40 kg mendapat 75 mg dua kali sehari selama 5 hari. Skema ini tercantum dalam rekomendasi CDC dan AAP. (CDC)

Untuk bayi cukup bulan usia 0 sampai 8 bulan, AAP menggunakan oseltamivir 3 mg/kgBB per dosis, dua kali sehari selama 5 hari. Pada usia 9 sampai 11 bulan, rekomendasi AAP menggunakan 3,5 mg/kgBB per dosis, dua kali sehari selama 5 hari. Bayi prematur membutuhkan pertimbangan khusus karena farmakokinetiknya berbeda dan dosis bergantung pada usia gestasional serta postmenstrual age. Karena itu, dosis bayi prematur sebaiknya ditentukan dokter yang menangani. (American Academy of Pediatrics)

Tabel dosis terapi oseltamivir dapat diringkas sebagai berikut:

Usia atau berat badan Dosis terapi Lama terapi
0 sampai 8 bulan, cukup bulan 3 mg/kgBB/dosis, 2 kali sehari 5 hari
9 sampai 11 bulan 3,5 mg/kgBB/dosis, 2 kali sehari 5 hari
≥1 tahun, ≤15 kg 30 mg, 2 kali sehari 5 hari
>15 sampai 23 kg 45 mg, 2 kali sehari 5 hari
>23 sampai 40 kg 60 mg, 2 kali sehari 5 hari
>40 kg 75 mg, 2 kali sehari 5 hari

Dosis di atas merupakan dosis terapi influenza, bukan dosis profilaksis. Dosis profilaksis mempunyai frekuensi dan indikasi berbeda. Selain itu, gangguan fungsi ginjal dapat memerlukan penyesuaian dosis. Karena itu, berat badan, usia, status prematuritas, fungsi ginjal, formulasi obat, dan tujuan terapi harus diperiksa sebelum menentukan resep individual. (CDC)

Waktu pemberian sangat penting. Efek klinis paling optimal bila antivirus dimulai dalam 48 jam pertama setelah onset gejala. Namun, lebih dari 48 jam bukan berarti terapi otomatis tidak berguna. Anak dengan penyakit berat, progresif, komplikasi, atau risiko komplikasi tinggi tetap dapat memperoleh manfaat dari terapi antivirus yang dimulai setelah 48 jam. Pada pasien rawat inap atau penyakit berat, keterlambatan terapi karena menunggu hasil pemeriksaan dapat merugikan. (American Academy of Pediatrics)

Terapi suportif harus berjalan bersamaan dengan terapi antivirus ketika antivirus memang diindikasikan. Hidrasi oral menjadi pilihan pada anak yang masih mampu minum. Cairan diberikan sedikit tetapi sering bila anak mual. Nutrisi diberikan sesuai toleransi. Demam dapat ditangani dengan antipiretik sesuai usia, berat badan, dan kondisi klinis. Anak tidak perlu dipaksa makan dalam jumlah besar selama fase akut, tetapi asupan cairan dan pemantauan urine harus menjadi perhatian utama. Pada dehidrasi sedang sampai berat atau ketika anak tidak mampu minum, dokter dapat mempertimbangkan cairan enteral atau intravena.

Antibiotik tidak mempunyai aktivitas terhadap virus influenza A. Antibiotik hanya diberikan bila terdapat bukti klinis, radiologis, atau laboratoris yang mendukung infeksi bakteri sekunder. Kecurigaan tersebut dapat muncul pada anak dengan pneumonia, otitis media tertentu, sepsis, atau perburukan klinis setelah periode perbaikan. Pemberian antibiotik secara rutin pada semua anak dengan influenza A tidak sesuai dengan prinsip antimicrobial stewardship.

Oseltamivir umumnya dapat menyebabkan mual dan muntah. Pemberian bersama makanan dapat membantu mengurangi keluhan gastrointestinal pada sebagian pasien. Efek samping lain yang dapat muncul antara lain sakit kepala dan reaksi kulit. AAP juga mencantumkan diare pada anak berusia kurang dari 1 tahun sebagai efek yang dapat terjadi. Bila muncul reaksi alergi berat atau gejala yang mengkhawatirkan, obat harus dievaluasi kembali oleh dokter. (American Academy of Pediatrics)

Obat antivirus lain mempunyai tempat tertentu dalam terapi influenza. Baloxavir merupakan pilihan oral dosis tunggal untuk pasien usia tertentu, tetapi penggunaannya pada anak mempunyai batas usia dan pertimbangan klinis khusus. Zanamivir merupakan antivirus inhalasi yang dapat digunakan pada anak usia tertentu, tetapi perlu kehati-hatian pada pasien dengan asma atau penyakit saluran napas karena risiko bronkospasme. Peramivir diberikan secara intravena dan dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu. AAP menempatkan oseltamivir sebagai pilihan utama, terutama pada anak yang dirawat di rumah sakit. (American Academy of Pediatrics)

Tabel pilihan antivirus pediatrik:

Antivirus Usia pediatrik Regimen terapi Catatan
Oseltamivir Termasuk bayi dengan pertimbangan klinis khusus Umumnya 2 kali sehari selama 5 hari Pilihan utama AAP
Zanamivir ≥7 tahun untuk terapi 10 mg inhalasi, 2 kali sehari selama 5 hari Hindari atau hati-hati pada penyakit saluran napas tertentu
Peramivir ≥6 bulan 12 mg/kgBB IV dosis tunggal, maksimum 600 mg Digunakan pada kondisi tertentu
Baloxavir ≥5 tahun Dosis tunggal berdasarkan berat badan Bukan pilihan untuk semua pasien

Untuk baloxavir, AAP mencantumkan dosis tunggal 2 mg/kgBB untuk berat <20 kg, 40 mg untuk berat 20 sampai <80 kg, dan 80 mg untuk berat ≥80 kg. Obat ini tidak menggantikan oseltamivir pada semua situasi klinis. Pada anak yang dirawat di rumah sakit, AAP secara khusus menempatkan oseltamivir sebagai obat antivirus pilihan. (American Academy of Pediatrics)

Anak dengan influenza A harus segera dievaluasi di fasilitas kesehatan bila mengalami sesak, napas cepat, retraksi dada, sianosis, saturasi oksigen rendah, tidak mampu minum, dehidrasi, muntah berulang, kejang, perubahan kesadaran, nyeri dada, atau perburukan setelah sempat membaik. Pada kondisi berat, tata laksana tidak berhenti pada antivirus. Dokter perlu melakukan penilaian oksigenasi, hidrasi, perfusi, status neurologis, kemungkinan pneumonia, infeksi bakteri sekunder, dan komplikasi organ lain. Pemeriksaan darah, foto toraks, pemeriksaan gas darah, kultur, atau pemeriksaan neurologis dilakukan berdasarkan indikasi klinis.

Pencegahan tetap menjadi komponen penting. AAP 2026 sampai 2027 merekomendasikan vaksin influenza tahunan bagi anak mulai usia 6 bulan yang tidak mempunyai kontraindikasi medis. Vaksin tidak menjamin bahwa anak tidak akan pernah terinfeksi influenza, tetapi bertujuan mengurangi risiko influenza dan komplikasi berat. Pencegahan juga mencakup ventilasi yang baik, kebersihan tangan, etika batuk, menghindari kontak dekat ketika sedang sakit, serta perlindungan khusus bagi anak yang mempunyai faktor risiko komplikasi. (American Academy of Pediatrics)

Untuk penerapan klinis, prinsip utamanya adalah menilai tiga hal secara bersamaan, yaitu berat penyakit, faktor risiko anak, dan waktu sejak onset. Anak sehat dengan influenza ringan dapat membutuhkan terapi suportif saja. Anak dengan risiko tinggi atau penyakit berat memerlukan ambang yang lebih rendah untuk pemberian antivirus. Oseltamivir paling efektif bila diberikan sedini mungkin, tetapi terapi tetap perlu dipertimbangkan setelah 48 jam pada penyakit berat, progresif, komplikasi, atau kelompok berisiko. Keputusan akhir harus disesuaikan dengan usia, berat badan, fungsi ginjal, komorbiditas, status klinis, serta pola resistensi influenza yang sedang beredar. (American Academy of Pediatrics)

Terapi suportif

  • Sebagian besar anak dengan influenza ringan dapat menjalani perawatan di rumah.
  • Prinsip utama meliputi hidrasi yang cukup, nutrisi sesuai toleransi, istirahat, serta terapi simptomatik yang sesuai usia.
  • Antibiotik tidak mengobati influenza karena influenza merupakan infeksi virus. Antibiotik hanya memiliki indikasi bila terdapat bukti atau kecurigaan infeksi bakteri sekunder.

Tanda bahaya

  • Evaluasi medis segera diperlukan bila anak mengalami sesak napas, retraksi dada, sianosis, dehidrasi, tidak mampu minum, kejang, penurunan kesadaran, nyeri dada, atau perburukan setelah sempat membaik.
  • Pada bayi dan anak kecil, perubahan perilaku, penurunan aktivitas yang nyata, atau berkurangnya produksi urine dapat menjadi tanda awal penyakit berat.

Vaksinasi

  • Vaksinasi influenza merupakan strategi utama pencegahan. WHO merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk kelompok anak usia 6 bulan sampai 5 tahun serta kelompok berisiko lainnya. (World Health Organization)
  • Komposisi vaksin influenza diperbarui secara berkala berdasarkan surveilans global terhadap virus yang beredar. WHO terus melakukan pemantauan melalui Global Influenza Surveillance and Response System. (World Health Organization)
  • Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, surveilans lokal dan rekomendasi nasional tetap penting karena pola sirkulasi influenza dapat berbeda dari negara beriklim sedang.

Tabel 6. Strategi pencegahan

Strategi Tujuan
Vaksinasi tahunan Mengurangi risiko infeksi dan penyakit berat
Cuci tangan Mengurangi transmisi
Etika batuk Mengurangi penyebaran droplet
Ventilasi baik Mengurangi paparan partikel respirasi
Menghindari kontak saat sakit Mengurangi penularan
Tidak berbagi alat pribadi Mengurangi transmisi
Surveilans influenza Memantau pola virus
Proteksi kelompok risiko tinggi Mengurangi komplikasi

Influenza A dan infeksi saluran napas pada anak

  • Influenza A perlu dibedakan dari infeksi saluran napas akut lain. Gejala klinis dapat tumpang tindih sehingga diagnosis berdasarkan gejala saja memiliki keterbatasan.
  • Demam tinggi dan batuk tidak otomatis berarti influenza A. Sebaliknya, tidak adanya demam tinggi juga tidak menyingkirkan influenza.
  • Diagnosis perlu mempertimbangkan kombinasi usia, onset gejala, pola epidemiologi, kontak dengan kasus influenza, komorbiditas, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan molekuler.

Kesimpulan

  • Influenza A merupakan penyebab penting infeksi respiratorik akut pada anak. Sebagian besar kasus mengalami perjalanan ringan, tetapi anak usia muda dan anak dengan penyakit kronis mempunyai risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
  • Pneumonia, infeksi bakteri sekunder, kejang, ensefalopati, ensefalitis, dan komplikasi sistemik merupakan manifestasi yang perlu dikenali.
  • Diagnosis klinis tetap penting, tetapi RT-PCR atau metode molekuler dapat memberikan konfirmasi yang lebih akurat ketika pemeriksaan diperlukan.
  • Oseltamivir memiliki peran penting pada anak dengan penyakit berat, rawat inap, penyakit progresif, komplikasi, atau faktor risiko tinggi. Terapi sebaiknya dimulai sedini mungkin ketika terdapat indikasi klinis. (World Health Organization)
  • Vaksinasi tahunan, surveilans virus, pengendalian transmisi, dan pengenalan dini tanda bahaya merupakan komponen utama pengendalian influenza pediatrik. (World Health Organization)

Daftar pustaka

  • Nair H, Brooks WA, Katz M, et al. Global burden of respiratory infections due to seasonal influenza in young children: a systematic review and meta-analysis. Lancet. 2011;378:1917-1930.
  • Gill PJ, Ashdown HF, Wang K, et al. Identification of children at risk of influenza-related complications in primary and ambulatory care: a systematic review and meta-analysis. Lancet Respir Med. 2015;3(2):139-149. doi:10.1016/S2213-2600(14)70252-8. PMID:25481379.
  • Esposito S, Daleno C, Baldanti F, et al. Influenza in children. Curr Opin Pediatr. 2017;29(1):75-81. doi:10.1097/MOP.0000000000000495. PMID:28346272. (PubMed)
  • Fiore AE, Fry A, Shay D, et al. Antiviral agents for the treatment and chemoprophylaxis of influenza. MMWR Recomm Rep. 2011;60(RR-01):1-24.
  • AAP Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Prevention and Control of Influenza in Children, 2026-2027. Pediatrics. 2026.
  • Bassett KH, Rao S, Beck J, et al. Variability of Clinician Recommendations for Oseltamivir in Children Hospitalized With Influenza. Pediatrics. 2025;155(5):e2024069111. doi:10.1542/peds.2024-069111. (PubMed)
  • World Health Organization. Influenza (seasonal). WHO. 2025. (World Health Organization)
  • World Health Organization. How can I avoid getting the flu? WHO. 2026. (World Health Organization)
  • World Health Organization. Global Influenza Surveillance and Response System and vaccine virus recommendations. WHO Global Influenza Programme. 2026. (World Health Organization)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *