Hepatitis B pada anak merupakan infeksi virus yang dapat berlanjut menjadi infeksi kronik dengan risiko komplikasi serius di masa dewasa, seperti sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Transmisi perinatal dan masa bayi merupakan jalur infeksi paling umum, terutama pada daerah dengan prevalensi tinggi. Sebagian besar anak tidak menunjukkan gejala pada fase akut, sehingga diagnosis sering terlambat. Penanganan melibatkan pemantauan fungsi hati, evaluasi status replikasi virus, dan terapi medikamentosa pada kasus terpilih. Artikel ini menyajikan tinjauan menyeluruh mengenai patofisiologi, tanda klinis, komplikasi, diagnosis, serta terapi termasuk antiviralisme modern pada hepatitis B kronik pada anak.
Hepatitis B adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV), virus DNA dari famili Hepadnaviridae. Infeksi ini merupakan salah satu penyebab utama penyakit hati kronik di seluruh dunia, terutama di Asia dan Afrika. Menurut WHO, sekitar 2 juta anak terinfeksi hepatitis B setiap tahun, dan sebagian besar infeksi terjadi pada usia dini melalui transmisi vertikal atau horizontal. Bayi yang terinfeksi memiliki risiko tinggi (>90%) untuk mengalami infeksi kronik karena sistem imun yang belum matang sepenuhnya.
Di Indonesia, hepatitis B masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar. Program vaksinasi nasional telah berhasil menurunkan angka kejadian, namun masih ditemukan kasus baru terutama akibat kegagalan pemberian imunisasi profilaksis pada bayi baru lahir dari ibu HBsAg positif. Pengetahuan yang baik tentang perjalanan klinis dan terapi hepatitis B pada anak sangat penting dalam upaya pengendalian jangka panjang.
Patofisiologi dan Penyebab
Virus hepatitis B menyerang hepatosit dan memicu peradangan hati. Setelah virus masuk ke dalam tubuh, ia akan menuju hati melalui sirkulasi darah, menginfeksi sel hati, dan mereplikasi DNA-nya di dalam nukleus hepatosit. HBV dapat menghasilkan protein antigenik (HBsAg, HBeAg) yang menjadi penanda serologi. Kerusakan hati terjadi terutama karena respons imun tubuh terhadap sel-sel yang terinfeksi, bukan karena efek sitopatik langsung dari virus.
Pada anak-anak, terutama bayi, sistem imun belum mampu melawan HBV secara efektif sehingga virus dapat bertahan lama di dalam tubuh dan menimbulkan infeksi kronik. Infeksi pada masa perinatal (transmisi dari ibu ke anak saat lahir) adalah penyebab utama hepatitis B kronik pada anak. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak erat dengan anggota keluarga yang terinfeksi, transfusi darah, atau prosedur medis yang tidak steril.
Tanda dan Gejala
Sebagian besar anak dengan hepatitis B, terutama yang mengalami infeksi sejak bayi, tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas pada fase awal. Infeksi cenderung bersifat diam (silent infection), dan diagnosis biasanya ditegakkan melalui skrining rutin atau ketika ditemukan peningkatan transaminase hati tanpa penyebab jelas.
Pada beberapa anak, gejala bisa muncul dalam bentuk lemas, anoreksia, nyeri perut kanan atas, demam ringan, dan ikterus. Urin menjadi gelap, dan feses menjadi pucat karena gangguan ekskresi bilirubin. Hepatomegali juga dapat ditemukan saat pemeriksaan fisik. Gejala-gejala ini lebih sering muncul pada anak yang terinfeksi secara horizontal dibandingkan vertikal.
Infeksi kronik umumnya tidak menimbulkan gejala hingga anak mencapai usia remaja atau dewasa muda, saat kerusakan hati mulai nyata. Beberapa anak mungkin menunjukkan gejala seperti penurunan nafsu makan, pertumbuhan terganggu, atau mudah lelah, yang sering tidak dikaitkan langsung dengan hepatitis.
Komplikasi
Komplikasi utama hepatitis B kronik adalah perkembangan fibrosis hati progresif yang dapat berujung pada sirosis. Sirosis ditandai oleh terbentuknya jaringan parut di hati yang mengganggu fungsi normal organ ini, termasuk produksi albumin, faktor pembekuan, dan detoksifikasi. Sirosis dapat menyebabkan asites, ensefalopati hepatik, dan varises esofagus.
Komplikasi jangka panjang lainnya adalah berkembangnya karsinoma hepatoseluler (KHS). Anak-anak dengan infeksi kronik jangka panjang, terutama yang tetap HBeAg positif dan memiliki viral load tinggi, berisiko mengalami mutasi genetik pada hepatosit yang memicu transformasi ganas.
Diagnosis
Diagnosis hepatitis B pada anak ditegakkan melalui pemeriksaan serologi dan laboratorium fungsi hati. Pemeriksaan HBsAg merupakan penanda infeksi, sementara HBeAg dan anti-HBe membantu menilai status replikasi virus. Anti-HBc IgM menunjukkan infeksi akut, sedangkan anti-HBc total menandakan infeksi sebelumnya.
HBV DNA kuantitatif melalui PCR digunakan untuk menilai tingkat replikasi virus dan memantau respons terhadap terapi. Pemeriksaan fungsi hati seperti ALT, AST, albumin, dan bilirubin membantu mengevaluasi tingkat kerusakan hati. Pemeriksaan USG dan elastografi (FibroScan) digunakan untuk menilai fibrosis dan mendeteksi kemungkinan komplikasi seperti sirosis atau KHS.
Penanganan
Penanganan hepatitis B pada anak tergantung pada fase penyakit, status serologi, dan tingkat replikasi virus. Tidak semua anak memerlukan terapi medikamentosa aktif. Pada fase toleransi imun (HBeAg positif, ALT normal, HBV DNA tinggi), pemantauan berkala cukup dilakukan. Evaluasi berkala setiap 3–6 bulan dianjurkan untuk mendeteksi peralihan ke fase imun aktif.
Anak-anak dengan peningkatan ALT berulang dan HBV DNA tinggi (>20.000 IU/mL) perlu dievaluasi untuk kemungkinan terapi. Pada beberapa kasus, biopsi hati dapat dilakukan untuk mengevaluasi tingkat peradangan dan fibrosis. Jika ditemukan nekroinflamasi aktif, terapi medikamentosa dapat dimulai.
Vaksinasi dan edukasi keluarga tetap menjadi komponen penting dalam manajemen hepatitis B. Anak yang terinfeksi harus diberi informasi mengenai cara penularan, pentingnya pemantauan jangka panjang, dan perlunya mencegah penularan ke orang lain.
Obat Medikamentosa Hepatitis B pada Anak
Tiga obat yang paling direkomendasikan untuk hepatitis B pada anak adalah entecavir, tenofovir, dan interferon alfa. Pemilihan obat didasarkan pada usia, status imun, respons virologis, dan keberadaan komorbiditas.
- Entecavir: Obat ini merupakan analog nukleosida dengan potensi tinggi dan risiko resistensi rendah. Disetujui untuk anak ≥2 tahun. Efek samping minimal dan dapat diberikan jangka panjang. Entecavir efektif menurunkan HBV DNA dan normalisasi ALT.
- Tenofovir disoproxil fumarate (TDF): Disetujui untuk anak ≥12 tahun. Efektif untuk menekan replikasi virus namun memiliki efek samping potensial terhadap tulang dan ginjal. Monitoring ketat diperlukan. Tenofovir alafenamide (TAF) adalah bentuk baru dengan efek samping lebih ringan, namun belum disetujui secara luas untuk anak.
- Interferon alfa-2b: Bekerja sebagai imunomodulator. Diberikan secara injeksi, biasanya selama 6–12 bulan. Cocok untuk anak dengan respon imun baik, HBeAg positif, dan HBV DNA moderat. Kelemahannya adalah efek samping sistemik seperti demam, kelelahan, dan depresi.
Hepatitis B pada anak adalah infeksi serius yang berpotensi menjadi kronik dengan konsekuensi jangka panjang. Deteksi dini, pemantauan ketat, dan terapi yang tepat dapat mencegah komplikasi berat. Edukasi dan pencegahan melalui imunisasi tetap menjadi fondasi utama dalam pengendalian hepatitis B anak secara nasional.
Daftar Pustaka
- Indolfi G, Easterbrook P, Dusheiko G, et al. Hepatitis B virus infection in children and adolescents. Lancet Gastroenterol Hepatol. 2019;4(6):466-476. doi:10.1016/S2468-1253(19)30046-1
- Jonas MM. Hepatitis B and C in children. Pediatr Clin North Am. 2006;53(4):953-966. doi:10.1016/j.pcl.2006.02.008
- Terrault NA, Lok ASF, McMahon BJ, et al. Update on prevention, diagnosis, and treatment of chronic hepatitis B: AASLD 2018 hepatitis B guidance. Hepatology. 2018;67(4):1560–1599. doi:10.1002/hep.29800
- Chang MH, Chen HL, Yang WS, et al. Long-term follow-up of hepatitis B immunization and the need for booster doses: 30 years’ experience in Taiwan. Vaccine. 2007;25(41):6951–6955. doi:10.1016/j.vaccine.2007.07.005
- European Association for the Study of the Liver. EASL 2017 Clinical Practice Guidelines on the management of hepatitis B virus infection. J Hepatol. 2017;67(2):370–398. doi:10.1016/j.jhep.2017.03.021













Leave a Reply