DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

KONSULTASI PEDIATRI: ANTI VAKSIN PADA ANAK: MEMAHAMI MANFAAT, RISIKO, DAN DAMPAK TIDAK IMUNISASI

PERTANYAAN

Dok, saya termasuk orang tua yang anti vaksin karena membaca banyak artikel dan mendengar berbagai pengalaman buruk setelah vaksin pada anak, sedangkan suami saya bahkan lebih anti vaksin dan berpendapat bahwa vaksin justru berbahaya dan sebenarnya tidak diperlukan karena anak dapat memperoleh kekebalan secara alami, apalagi sejak bayi mendapat ASI, makanan bergizi, vitamin, menjaga kebersihan dan menjalani pola hidup sehat. Kami khawatir vaksin menyebabkan demam, kejang, alergi, gangguan tumbuh kembang, autisme atau masalah kesehatan lainnya. Sebenarnya secara ilmiah apa dampaknya bila anak sama sekali tidak divaksin atau imunisasinya tidak lengkap? Apakah benar vaksin lebih berbahaya daripada penyakit yang dicegahnya? Apakah anak yang sehat, jarang sakit, mendapat ASI, makanan bergizi dan vitamin tetap membutuhkan vaksin?

JAWABAN

Vaksin memang bukan intervensi yang bebas risiko. Seperti obat dan tindakan medis lainnya, vaksin dapat menimbulkan efek samping. Sebagian besar bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri di tempat suntikan, kemerahan, rewel, mengantuk atau demam. Namun penelitian keamanan menunjukkan bahwa kejadian serius memang dapat terjadi pada vaksin tertentu, tetapi frekuensinya sangat rendah. Systematic review besar terhadap 338 studi yang mencakup 518 publikasi menemukan hanya sedikit hubungan antara vaksin dan kejadian serius tertentu. Bukti berkualitas tinggi juga tidak menunjukkan peningkatan risiko autisme setelah vaksin MMR.

Penting membedakan adverse event following immunization atau AEFI dengan adverse reaction yang benar-benar disebabkan vaksin. Jika seorang anak demam, kejang atau mengalami keluhan beberapa hari setelah vaksinasi, urutan waktunya belum membuktikan hubungan sebab akibat. Anak dapat mengalami infeksi atau penyakit lain pada periode yang sama. Hubungan kausal harus dinilai berdasarkan karakteristik kejadian, interval waktu, mekanisme biologis yang masuk akal, data epidemiologi dan pola kejadian pada populasi. Karena itu sistem farmakovigilans vaksin sangat penting untuk menemukan efek samping yang sangat jarang sekalipun.

Demam setelah imunisasi dapat terjadi dan biasanya bersifat sementara. Kejang demam juga merupakan kejadian yang sudah diketahui pada beberapa vaksin. Systematic review keamanan vaksin anak menemukan bukti kuat mengenai peningkatan risiko kejang demam setelah MMR, tetapi ini berbeda dari epilepsi atau kerusakan otak permanen. Sebagian besar kejang demam berlangsung singkat dan anak pulih tanpa gangguan neurologis menetap. Jadi, mengatakan “vaksin tidak pernah menyebabkan kejang” tidak tepat, tetapi mengatakan “vaksin menyebabkan kerusakan otak pada anak” juga tidak didukung oleh bukti keamanan vaksin secara keseluruhan.

Kekhawatiran mengenai autisme merupakan salah satu isu vaksin yang paling banyak diteliti. Meta-analisis Taylor dan kolega yang mencakup lima studi kohort dengan lebih dari 1,25 juta anak dan lima studi case-control dengan hampir 10.000 anak tidak menemukan hubungan antara vaksinasi dan autisme. Pada studi kohort, odds ratio untuk hubungan vaksinasi dengan autisme adalah 0,99 dengan 95% CI 0,92–1,06. Tidak ditemukan hubungan dengan MMR, thimerosal maupun merkuri. Meta-analisis systematic review yang lebih luas juga menemukan bukti berkualitas tinggi bahwa MMR tidak meningkatkan risiko autisme.

Karena itu, vaksin tidak dapat dinilai hanya berdasarkan cerita seorang anak yang mengalami gangguan perkembangan setelah vaksinasi. Banyak gangguan perkembangan mulai tampak pada usia yang berdekatan dengan jadwal imunisasi sehingga hubungan waktunya dapat terlihat sangat meyakinkan bagi keluarga. Namun temporal association tidak sama dengan causal association. Dalam penelitian epidemiologi, hubungan tersebut harus diuji dengan kelompok pembanding dan jumlah subjek yang besar. Sampai sekarang, bukti epidemiologi yang tersedia tidak mendukung hubungan kausal antara vaksin anak dan autisme.

Sebaliknya, tidak memberikan vaksin mempunyai konsekuensi biologis yang nyata. Anak yang tidak divaksin tidak otomatis akan sakit berat, tetapi ketika terpapar patogen yang dapat dicegah dengan vaksin, anak tersebut tidak memiliki perlindungan spesifik yang seharusnya diperoleh melalui imunisasi. Risiko ini sangat jelas pada campak. WHO menyatakan bahwa dua dosis vaksin campak diperlukan untuk memberikan perlindungan populasi yang optimal, dan cakupan sekitar 95% dengan dua dosis diperlukan untuk mencegah wabah. Pada 2023 diperkirakan terdapat 10,3 juta kasus campak di dunia, meningkat sekitar 20% dibandingkan 2022.

Penelitian juga menunjukkan hubungan antara tidak imunisasi dan kejadian penyakit. Dalam sebuah systematic review mengenai penolakan vaksin dan penyakit yang dapat dicegah, lebih dari separuh kasus campak yang dilaporkan tidak memiliki riwayat vaksinasi. Dari kasus yang memiliki data imunisasi, sebagian besar anak yang memenuhi syarat vaksin ternyata tidak divaksin. Pada berbagai wabah pertusis, individu yang tidak atau kurang divaksin juga membentuk proporsi penting dari kasus. Data tersebut tidak berarti setiap kasus penyakit disebabkan oleh penolakan vaksin, tetapi menunjukkan bahwa kesenjangan imunisasi merupakan salah satu faktor penting dalam munculnya wabah.

Contoh lain terlihat dalam penelitian wabah campak di San Diego. Dari 839 orang yang terpapar, terjadi 11 kasus tambahan dan seluruh kasus tersebut terjadi pada anak yang tidak divaksin. Satu bayi yang terlalu muda untuk mendapatkan vaksin harus dirawat di rumah sakit. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelompok anak yang sengaja tidak divaksin dapat menjadi titik rentan dalam populasi, sekaligus meningkatkan risiko bagi bayi yang belum mencapai usia vaksinasi atau individu yang tidak dapat divaksin karena alasan medis.

Anak yang memperoleh ASI tetap mempunyai banyak keuntungan kesehatan. ASI mengandung berbagai faktor imunologis dan berhubungan dengan perlindungan terhadap sejumlah infeksi. WHO Indonesia pada 2026 tetap merekomendasikan pemberian ASI hingga setidaknya usia 2 tahun dengan pemberian makanan pendamping yang sesuai mulai usia 6 bulan. Namun fungsi ASI berbeda dengan vaksin. ASI tidak memberikan kekebalan spesifik yang dapat menggantikan imunisasi terhadap campak, difteri, pertusis, polio, hepatitis B atau penyakit lain yang menjadi sasaran vaksin.

Vitamin juga tidak dapat menggantikan imunisasi. Kekurangan vitamin atau mikronutrien memang dapat mengganggu fungsi sistem imun sehingga kecukupan gizi merupakan bagian penting dari kesehatan anak. Tetapi vitamin tidak menghasilkan respons imun spesifik terhadap antigen vaksin. Bahkan pada campak, vitamin A memiliki peran terapeutik pada anak yang sudah mengalami campak untuk mengurangi komplikasi, bukan sebagai pengganti vaksin untuk mencegah infeksi. WHO tetap menempatkan imunisasi sebagai intervensi utama untuk mencegah campak.

Menariknya, penelitian global menunjukkan besarnya dampak imunisasi terhadap kesehatan anak. Studi pemodelan yang diterbitkan di The Lancet pada 2024 memperkirakan bahwa imunisasi sejak dimulainya Expanded Programme on Immunization pada 1974 telah mencegah sekitar 154 juta kematian, termasuk sekitar 146 juta kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun dan sekitar 101 juta pada bayi di bawah 1 tahun. Angka ini merupakan hasil pemodelan epidemiologis, bukan hitungan langsung setiap kematian, tetapi memberikan gambaran mengenai besarnya kontribusi vaksinasi terhadap penurunan kematian anak secara global.

Manfaat vaksin juga dapat dilihat secara lebih konkret dari efektivitas vaksin campak. WHO melaporkan bahwa satu dosis vaksin campak memiliki efektivitas sekitar 95% terhadap campak, sedangkan setelah dosis kedua perlindungan meningkat hingga sekitar 99% dalam data yang dirangkum WHO. Dua dosis diperlukan karena sebagian anak tidak membentuk respons imun yang cukup setelah dosis pertama. Jadi, konsep “lebih baik terkena campak secara alami agar kebal” mengabaikan fakta bahwa kekebalan alami diperoleh dengan terlebih dahulu mengalami penyakit yang dapat menyebabkan pneumonia, ensefalitis, rawat inap bahkan kematian.

Karena itu, anak yang sehat, jarang sakit, mendapatkan ASI, makanan bergizi dan vitamin tetap dapat membutuhkan imunisasi sesuai usia dan kondisi medisnya. Hidup sehat tidak menggantikan vaksin karena mekanisme perlindungannya berbeda. Kebersihan dapat mengurangi paparan, nutrisi mendukung fungsi sistem imun, ASI memberikan berbagai faktor protektif, sedangkan vaksin membentuk respons imun spesifik sebelum anak menghadapi patogen tertentu. Prinsip yang sama berlaku untuk anak yang jarang sakit. Jarang sakit tidak berarti sudah memiliki antibodi terhadap semua penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Bagi orang tua yang masih ragu, pendekatan ilmiah bukan mengabaikan pengalaman buruk setelah vaksin, tetapi mengevaluasinya secara individual. Bila anak pernah mengalami demam tinggi, kejang, reaksi alergi atau keluhan lain setelah imunisasi, catat jenis vaksin, waktu munculnya gejala, lama gejala, diagnosis dokter dan terapi yang diberikan. Kemudian evaluasi bersama dokter apakah kejadian tersebut benar-benar merupakan reaksi terhadap vaksin, apakah merupakan kontraindikasi untuk dosis berikutnya, atau apakah vaksin tertentu masih dapat diberikan. Jadi, keputusan imunisasi sebaiknya tidak didasarkan pada label “pro vaksin” atau “anti vaksin”, tetapi pada analisis manfaat dan risiko setiap vaksin untuk anak tertentu berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia.

TABEL FAKTA ILMIAH

Pertanyaan Data dan fakta penelitian
Apakah vaksin sama sekali tidak memiliki risiko? Tidak. Beberapa vaksin mempunyai efek samping yang diketahui, tetapi sebagian besar ringan. Kejadian serius umumnya sangat jarang.
Apakah vaksin dapat menyebabkan kejang? Beberapa vaksin dapat sedikit meningkatkan risiko kejang demam. Systematic review menemukan bukti kuat untuk MMR. Kejang demam berbeda dengan epilepsi dan umumnya tidak menyebabkan kerusakan neurologis menetap.
Apakah vaksin menyebabkan autisme? Meta-analisis 10 studi dengan lebih dari 1,26 juta anak tidak menemukan hubungan vaksinasi dengan autisme. OR 0,99, 95% CI 0,92–1,06.
Apakah MMR menyebabkan autisme? Bukti epidemiologi tidak mendukung hubungan tersebut. Systematic review keamanan vaksin juga menemukan bukti berkualitas tinggi bahwa MMR tidak meningkatkan risiko autisme.
Apakah vaksin mengandung merkuri yang terbukti menyebabkan autisme? Meta-analisis tidak menemukan hubungan antara paparan thimerosal dalam vaksin dan autisme.
Apakah anak tidak divaksin pasti sakit? Tidak. Namun anak kehilangan perlindungan spesifik dan memiliki risiko lebih tinggi bila terpapar penyakit yang dapat dicegah.
Apakah ASI menggantikan vaksin? Tidak. ASI memberikan manfaat imunologis, tetapi tidak menggantikan kekebalan spesifik yang ditargetkan vaksin.
Apakah vitamin menggantikan vaksin? Tidak. Vitamin mendukung fungsi tubuh dan sistem imun, tetapi tidak menggantikan imunisasi spesifik.
Berapa besar dampak imunisasi global? Pemodelan Lancet memperkirakan imunisasi sejak 1974 mencegah sekitar 154 juta kematian, termasuk 146 juta pada anak <5 tahun.
Seberapa efektif vaksin campak? Sekitar 95% setelah satu dosis dan hingga sekitar 99% setelah dosis kedua dalam data WHO yang dirangkum.
Mengapa dua dosis campak diperlukan? Karena tidak semua anak membentuk kekebalan setelah dosis pertama. Dosis kedua meningkatkan proporsi anak yang terlindungi.
Apa risiko tidak imunisasi? Anak lebih rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah dan komplikasinya, serta dapat berkontribusi pada terbentuknya kelompok rentan saat cakupan imunisasi menurun.
Apakah anak yang jarang sakit tidak perlu vaksin? Tidak. Frekuensi sakit tidak menunjukkan bahwa anak memiliki antibodi spesifik terhadap semua penyakit sasaran vaksin.
Apa yang dilakukan jika anak pernah mengalami reaksi setelah vaksin? Evaluasi jenis vaksin, kronologi, diagnosis dan beratnya reaksi bersama dokter sebelum menentukan dosis berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Shattock AJ, Johnson HC, Sim SY, et al. Contribution of vaccination to improved survival and health: modelling 50 years of the Expanded Programme on Immunization. Lancet. 2024;403(10441):2307-2316. doi:10.1016/S0140-6736(24)00850-X. PMID: 38705159.
  • Haber P, Moro PL, Cano M, et al. Safety of vaccines used for routine immunization in the United States: An updated systematic review and meta-analysis. Vaccine. 2021. PMID: 34049735.
  • Maglione MA, Das L, Raaen L, et al. Safety of vaccines used for routine immunization of U.S. children: a systematic review. Pediatrics. 2014;134(2):325-337. doi:10.1542/peds.2014-1079. PMID: 25086160.
  • Taylor LE, Swerdfeger AL, Eslick GD. Vaccines are not associated with autism: an evidence-based meta-analysis of case-control and cohort studies. Vaccine. 2014;32(29):3623-3629. doi:10.1016/j.vaccine.2014.04.085. PMID: 24814559.
  • Phadke VK, Bednarczyk RA, Salmon DA, Omer SB. Association Between Vaccine Refusal and Vaccine-Preventable Diseases in the United States: A Review of Measles and Pertussis. JAMA. 2016;315(11):1149-1158. PMID: 26978210.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *