DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

NYERI PERUT PADA BAYI: 8 PENYEBAB, CARA MEMBEDAKAN YANG NORMAL DAN YANG BERBAHAYA.

 

NYERI PERUT PADA BAYI: 8 PENYEBAB, CARA MEMBEDAKAN YANG NORMAL DAN YANG BERBAHAYA. Pendekatan Ilmiah terhadap Kolik, Gas, Alergi Protein Susu Sapi, Konstipasi, Stenosis Pilorus, Intususepsi, Infeksi, dan Refluks

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Nyeri atau ketidaknyamanan abdomen merupakan salah satu keluhan yang sering muncul pada bayi, terutama selama tahun pertama kehidupan. Masalahnya, bayi belum mampu menyampaikan lokasi, intensitas, maupun karakter nyeri. Manifestasi klinis dapat berupa menangis, menggeliat, mengejan, menarik tungkai ke arah abdomen, melengkungkan punggung, menolak menyusu, muntah, perubahan pola buang air besar, atau gangguan tidur.

Sebagian besar keluhan bersifat fisiologis atau fungsional dan membaik seiring maturasi sistem gastrointestinal. Namun, gejala yang tampak serupa dapat menjadi manifestasi penyakit organik yang membutuhkan diagnosis dan terapi segera. Stenosis pilorus, intususepsi, obstruksi intestinal, infeksi, dehidrasi, serta gangguan pertumbuhan merupakan beberapa kondisi yang tidak boleh terlewat.

Delapan kondisi yang penting dipertimbangkan meliputi kolik infantil, akumulasi gas atau aerofagia, alergi protein susu sapi, konstipasi, stenosis pilorus hipertrofik, intususepsi, infeksi, serta refluks gastroesofagus atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Masing-masing memiliki pola klinis yang berbeda.

Pendekatan modern menekankan bahwa diagnosis tidak boleh didasarkan pada satu gejala saja. Riwayat makan, pola muntah dan tinja, usia, pertumbuhan, hidrasi, pemeriksaan fisik, dan tanda bahaya harus dinilai secara terpadu. Pada dugaan alergi protein susu sapi, ESPGHAN 2024 menekankan bahwa perubahan karakteristik tinja, feeding aversion, atau bercak darah sesekali tidak cukup untuk menegakkan diagnosis; diet eliminasi diagnostik singkat yang diikuti reintroduksi atau challenge merupakan bagian penting dari konfirmasi diagnosis. (PubMed)

Bayi dapat mengalami rasa tidak nyaman di perut tanpa mampu mengatakan bahwa perutnya sakit. Karena itu, orang tua dan dokter harus membaca “bahasa tubuh” bayi. Bayi yang mengalami ketidaknyamanan gastrointestinal dapat menangis, menggeliat, mengejan, menarik kaki ke arah perut, melengkungkan punggung, menolak menyusu, atau tampak lebih sulit tidur.

Namun, semua gejala tersebut bersifat nonspesifik. Tangisan tidak selalu berarti nyeri perut. Gumoh tidak selalu berarti GERD. Lendir pada tinja tidak otomatis menunjukkan alergi susu sapi. Jarang buang air besar tidak selalu berarti konstipasi. Sebaliknya, beberapa penyakit serius pada bayi juga dapat diawali gejala yang tampak sederhana. Inilah alasan evaluasi nyeri abdomen pada bayi harus menggunakan pendekatan berbasis pola klinis.

TABEL 1. DELAPAN PENYEBAB UTAMA KETIDAKNYAMANAN ATAU NYERI ABDOMEN PADA BAYI

Kondisi Mekanisme utama Gambaran klinis khas Tingkat kewaspadaan
Kolik infantil Regulasi neurogastrointestinal yang masih maturasi; mekanisme multifaktorial Menangis/rewel berulang pada bayi yang tetap sehat dan tumbuh baik Umumnya fisiologis setelah penyebab lain disingkirkan
Gas/aerofagia Udara tertelan dan maturasi motilitas gastrointestinal Menggeliat, mengejan, tampak tidak nyaman terutama setelah menyusu Biasanya ringan
Alergi protein susu sapi Respons imun terhadap protein susu sapi Gejala gastrointestinal ± kulit/respirasi; dapat berupa muntah atau darah pada tinja Perlu diagnosis yang tepat; mudah overdiagnosis
Konstipasi Tinja keras, retensi, gangguan defekasi BAB keras dan nyeri, retensi tinja Umumnya dapat ditangani, tetapi red flags perlu dievaluasi
Stenosis pilorus Hipertrofi otot pilorus menyebabkan obstruksi outlet lambung Muntah nonbilious menyemprot pada bayi muda Kondisi yang membutuhkan evaluasi segera
Intususepsi Satu segmen usus masuk ke segmen lainnya Nyeri hebat episodik, menarik tungkai, muntah ± darah/lendir Kegawatan abdomen
Infeksi Infeksi gastrointestinal atau ekstra-gastrointestinal Demam, muntah, diare, rewel, penurunan asupan Bergantung pada penyebab dan kondisi umum
Refluks/GERD Aliran balik isi lambung ke esofagus Gumoh; GERD dapat disertai feeding difficulty dan komplikasi Refluks fisiologis sangat umum; GERD perlu diagnosis klinis
  1. KOLIK INFANTIL: BAYI MENANGIS, TETAPI TETAP SEHAT
    • Kolik infantil merupakan salah satu penyebab tersering bayi tampak sangat rewel tanpa ditemukan penyakit organik yang jelas.
    • Secara klinis, bayi biasanya mengalami episode menangis atau rewel berlebihan, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan. Gejala sering meningkat sekitar usia 6–8 minggu dan kemudian berangsur membaik.
    • Yang sangat penting adalah kondisi bayi di luar episode menangis.
    • Bayi dengan kolik umumnya tetap memiliki kondisi umum yang baik, mau menyusu, tidak mengalami dehidrasi, dan memiliki pertumbuhan yang sesuai.
    • Jika bayi mengalami penurunan berat badan, muntah berulang, darah pada tinja, demam, letargi, gangguan menyusu, atau distensi abdomen, diagnosis kolik tidak boleh langsung diterima tanpa evaluasi lebih lanjut.
    • Kolik juga bukan berarti “semua gejala berasal dari psikologis”. Regulasi otak-usus, maturasi sistem saraf, motilitas gastrointestinal, mikrobiota, serta faktor lingkungan dan interaksi caregiver dapat berperan.
  2. GAS DAN AEROFAGIA: TIDAK SEMUA PERUT KEMBUNG BERARTI PENYAKIT
    • Gas merupakan bagian normal dari fisiologi gastrointestinal.
    • Bayi dapat menelan udara ketika menangis atau menyusu. Koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas juga masih berkembang.
    • Akibatnya, bayi dapat tampak mengejan, menggeliat, menarik tungkai, atau menangis setelah menyusu.
    • Evaluasi teknik menyusu merupakan langkah penting. Pada bayi yang menggunakan botol, posisi bayi, aliran dot, dan cara pemberian susu perlu diperhatikan.
    • Sendawa selama dan setelah menyusu dapat dicoba. Pijat abdomen lembut dan gerakan tungkai seperti mengayuh sepeda juga dapat dilakukan bila bayi nyaman.
    • Namun, gas tidak boleh menjadi diagnosis “serbaguna”.
    • Jika terdapat muntah hijau, perut sangat distensi, darah dalam tinja, bayi tidak mau minum, atau kondisi umum memburuk, diperlukan evaluasi medis.
  3. ALERGI PROTEIN SUSU SAPI: DIAGNOSIS HARUS HATI-HATI
    • Alergi protein susu sapi atau cow’s milk allergy (CMA) merupakan reaksi imun terhadap protein susu sapi.
    • Manifestasinya dapat melibatkan gastrointestinal, kulit, sistem pernapasan, maupun reaksi sistemik.
    • Pada bayi, gejala gastrointestinal dapat berupa muntah, diare, darah dalam tinja, feeding difficulty, atau gangguan pertumbuhan.
    • Tetapi terdapat masalah penting dalam praktik klinis modern: CMA sering mengalami overdiagnosis.
    • Position paper ESPGHAN 2024 menyatakan bahwa CMA pada bayi yang mendapat ASI eksklusif memang dapat terjadi, tetapi tidak umum. Perubahan karakteristik tinja, feeding aversion, atau bercak darah sesekali pada tinja tidak secara otomatis membuktikan CMA. (PubMed)
    • Bahkan menangis, iritabilitas, atau kolik sebagai satu-satunya manifestasi tidak dianggap cukup spesifik untuk menunjukkan CMA. (PubMed)
    • Karena itu, diagnosis sebaiknya menggunakan pendekatan eliminasi dan reintroduksi yang terstruktur.
    • Pada kasus yang secara klinis sesuai, diet eliminasi diagnostik selama sekitar 2–4 minggu dapat dilakukan, kemudian diikuti reintroduksi atau oral challenge sesuai kondisi klinis. ESPGHAN menempatkan challenge setelah eliminasi singkat sebagai bagian penting dari proses diagnosis. (PubMed)
    • Hal ini penting untuk mencegah diet eliminasi yang tidak perlu.
    • Eliminasi susu dan produk susu pada ibu menyusui juga harus memperhatikan kecukupan energi, protein, kalsium, vitamin D, dan mikronutrien lainnya.
  4. KONSTIPASI: BUKAN SEKADAR JARANG BAB
    • Konstipasi pada bayi sering disalahpahami sebagai “tidak BAB setiap hari”.
    • Padahal, frekuensi saja tidak cukup.
    • Bayi dapat BAB setiap beberapa hari tetapi tinjanya lunak dan tidak nyeri. Kondisi tersebut tidak otomatis merupakan konstipasi.
    • Sebaliknya, tinja keras, nyeri saat defekasi, retensi tinja, atau tinja berdiameter besar lebih mendukung konstipasi.
    • Konstipasi juga dapat membentuk lingkaran patologis.
    • Tinja keras menyebabkan nyeri. Nyeri membuat anak menahan defekasi. Retensi membuat tinja semakin besar dan keras. Akibatnya, defekasi berikutnya semakin menyakitkan.
    • Pada bayi, konstipasi yang persisten harus dinilai lebih hati-hati terutama jika disertai distensi abdomen, muntah, gangguan pertumbuhan, atau kelainan sejak periode neonatal.
  5. STENOSIS PILORUS: MUNTAH MENYEMPROT PADA BAYI MUDA
    • Stenosis pilorus hipertrofik merupakan kondisi ketika otot pilorus mengalami hipertrofi sehingga pengosongan lambung menuju duodenum terhambat.
    • Gambaran klinis klasik adalah muntah nonbilious yang semakin kuat dan dapat tampak menyemprot setelah menyusu.
    • Bayi sering tetap tampak lapar setelah muntah.
    • Bila terlambat dikenali, muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan elektrolit serta menghambat pertambahan berat badan.
    • Ultrasonografi abdomen merupakan pemeriksaan utama dalam diagnosis.
    • Setelah dehidrasi dan gangguan elektrolit dikoreksi, terapi definitif umumnya berupa pyloromyotomy.
    • Karena itu: Muntah menyemprot berulang pada bayi muda bukan sekadar “gumoh biasa”.
  6. INTUSUSEPSI: NYERI YANG DATANG BERGELOMBANG
    • Intususepsi terjadi ketika satu bagian usus masuk ke bagian usus lainnya sehingga menyebabkan obstruksi dan berpotensi mengganggu perfusi usus.
    • Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi dan anak kecil.
    • Gambaran yang sangat penting adalah nyeri atau tangisan hebat yang datang secara episodik.
    • Bayi dapat tiba-tiba menangis keras, meringkuk, atau menarik kedua tungkai ke arah perut.
    • Setelah episode tersebut, bayi dapat tampak relatif tenang.
    • Pola “sakit hebat lalu membaik sementara” justru tidak boleh membuat orang tua merasa aman.
    • Muntah, distensi abdomen, letargi, dan tinja berdarah bercampur lendir dapat muncul.
    • Namun, tinja berdarah klasik tidak selalu muncul pada fase awal.
    • Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penting. Pada kasus yang sesuai, reduksi dengan enema udara atau cairan dapat menjadi tindakan diagnostik sekaligus terapeutik.
    • Jika reduksi gagal atau terdapat komplikasi seperti perforasi atau peritonitis, diperlukan pembedahan.
  7. INFEKSI: JANGAN HANYA MENCARI MASALAH DI PERUT
    • Infeksi gastrointestinal dapat menyebabkan muntah, diare, demam, dan ketidaknyamanan abdomen.
    • Sebagian besar gastroenteritis akut pada anak disebabkan oleh virus sehingga terapi terutama berupa rehidrasi dan perawatan suportif.
    • Antibiotik tidak diberikan secara rutin pada gastroenteritis virus.
    • Namun, pada bayi, muntah atau nyeri abdomen dapat berasal dari infeksi di luar saluran gastrointestinal.
    • Infeksi saluran kemih, misalnya, dapat muncul dengan gejala yang tidak spesifik seperti demam, rewel, muntah, atau penurunan asupan.
    • Pneumonia juga dapat disertai muntah atau keluhan abdomen.
    • Karena itu, pemeriksaan bayi harus bersifat menyeluruh.
    • Demam, letargi, dehidrasi, darah dalam tinja, gangguan pernapasan, atau penurunan kondisi umum membutuhkan penilaian medis.
  8. REFLUK GASTROESOFAGUS: KAPAN NORMAL DAN KAPAN MENJADI GERD?
    • Refluks gastroesofagus merupakan fenomena fisiologis yang sangat umum pada bayi.
    • Isi lambung dapat kembali ke esofagus karena sistem gastrointestinal bayi masih mengalami proses maturasi.
    • Sebagian bayi adalah “happy spitter”: sering gumoh tetapi tetap nyaman, aktif, mau menyusu, dan tumbuh dengan baik.
    • Kondisi tersebut berbeda dari gastroesophageal reflux disease atau GERD.
    • GERD mengacu pada refluks yang menimbulkan gejala bermakna atau komplikasi.
    • Pedoman NASPGHAN/ESPGHAN menekankan pentingnya membedakan gastroesophageal reflux fisiologis dari GERD dan menggunakan pendekatan diagnostik serta terapi berdasarkan gejala dan kondisi klinis. (PubMed)
    • Dengan demikian, bayi yang sering gumoh tetapi tumbuh baik tidak otomatis memerlukan obat penekan asam.
    • Sebaliknya, feeding difficulty berat, gangguan pertumbuhan, komplikasi, atau gejala yang tidak sesuai dengan refluks fisiologis membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

TABEL 2. POLA GEJALA DAN DIAGNOSIS YANG PERLU DIPIKIRKAN

Pola klinis Diagnosis yang perlu dipertimbangkan Tingkat urgensi
Menangis berulang tetapi bayi sehat dan tumbuh baik Kolik infantil Umumnya rendah
Menggeliat setelah menyusu tanpa gejala sistemik Gas/aerofagia Umumnya rendah
Muntah + darah pada tinja + gejala terkait makanan Alergi protein susu sapi dan diagnosis banding lain Evaluasi terarah
Tinja keras dan nyeri saat BAB Konstipasi Evaluasi sesuai derajat
Muntah nonbilious menyemprot pada bayi muda Stenosis pilorus Segera
Nyeri episodik + menarik tungkai Intususepsi Darurat
Muntah + diare + demam Gastroenteritis Evaluasi hidrasi
Demam + muntah tanpa diare ISK/infeksi lain Perlu evaluasi
Gumoh tetapi bayi nyaman dan tumbuh baik Refluks fisiologis Biasanya observasi
Gumoh + feeding difficulty + gangguan pertumbuhan GERD atau diagnosis lain Evaluasi
Muntah hijau + distensi abdomen Obstruksi intestinal sampai terbukti sebaliknya Darurat

TABEL 3. MEMBEDAKAN KONDISI FISIOLOGIS DENGAN RED FLAGS

Parameter Lebih mendukung kondisi fisiologis Red flags
Kondisi umum Aktif, responsif Letargi, sangat lemah
Menyusu Tetap baik Menolak minum
Pertumbuhan Berat badan bertambah sesuai pola Berat tidak naik/menurun
Muntah Gumoh sedikit Menyemprot, berulang, berdarah, atau hijau
Abdomen Lunak, tidak distensi Distensi, keras, atau nyeri berat
Tinja Variasi normal sesuai usia Darah banyak, hitam, atau perubahan berat
Hidrasi Urine cukup Urine sangat berkurang
Demam Tidak ada Demam dengan kondisi umum buruk
Nyeri Rewel dapat ditenangkan Episode nyeri hebat dan berulang
Napas Normal Sesak, retraksi, sianosis

PENDEKATAN DIAGNOSTIK: JANGAN TERLALU BANYAK, JANGAN TERLALU SEDIKIT

  • Evaluasi bayi dengan keluhan abdomen harus bersifat probabilistik.
  • Dokter pertama-tama menentukan apakah bayi tampak sakit atau tidak.
  • Kemudian dinilai hubungan gejala dengan pemberian makan, pola muntah, pola tinja, demam, urine, pertumbuhan, serta pemeriksaan abdomen.
  • Pemeriksaan laboratorium dan pencitraan tidak selalu diperlukan.
  • Pada dugaan stenosis pilorus, ultrasonografi sangat penting.
  • Pada dugaan intususepsi, ultrasonografi menjadi pemeriksaan utama.
  • Pada dugaan infeksi saluran kemih, pemeriksaan urine menjadi relevan.
  • Pada dugaan alergi protein susu sapi, pemeriksaan tidak boleh digantikan oleh panel alergi yang tidak sesuai indikasi. Diagnosis harus mempertimbangkan pola klinis dan respons terhadap eliminasi serta reintroduksi. (PubMed)

TABEL 4. PEMILIHAN PEMERIKSAAN BERDASARKAN KECURIGAAN KLINIS

Kecurigaan Pemeriksaan utama Catatan
Kolik Umumnya tidak diperlukan Fokus pada evaluasi klinis dan red flags
Gas/aerofagia Umumnya tidak diperlukan Evaluasi teknik menyusu
CMA Evaluasi klinis + eliminasi/reintroduksi Tidak ada satu tes tunggal yang dapat menggantikan penilaian klinis
Konstipasi fungsional Umumnya klinis Pemeriksaan tambahan bila terdapat red flags
Stenosis pilorus USG abdomen Pemeriksaan pilihan
Intususepsi USG abdomen Dapat diikuti reduksi terapeutik bila sesuai
Gastroenteritis Pemeriksaan selektif Fokus pada hidrasi dan derajat penyakit
ISK Urinalisis/kultur sesuai indikasi Gejala pada bayi sering tidak spesifik
GERD Evaluasi klinis Pemeriksaan khusus pada kasus terpilih

TABEL 5. KAPAN ORANG TUA HARUS SEGERA MENCARI PERTOLONGAN MEDIS?

Gejala Makna klinis
Muntah hijau/bilious Harus menyingkirkan obstruksi intestinal
Muntah menyemprot berulang pada bayi muda Pertimbangkan stenosis pilorus
Nyeri hebat episodik dan menarik tungkai Pertimbangkan intususepsi
Darah pada tinja Membutuhkan evaluasi sesuai usia dan kondisi
Perut sangat kembung/keras Dapat menunjukkan obstruksi atau proses intraabdomen
Tidak mau menyusu Risiko dehidrasi dan tanda penyakit sistemik
Urine sangat berkurang Dehidrasi
Letargi Dapat menunjukkan penyakit serius
Demam dengan kondisi umum memburuk Evaluasi infeksi serius
Gangguan pertumbuhan Perlu mencari penyebab organik/nutrisi
Sesak atau sianosis Kondisi emergensi

KESALAHAN YANG SERING TERJADI

  • Tidak tepat jika semua bayi yang menangis langsung disebut kolik.
  • Tidak tepat jika semua gumoh dianggap GERD.
  • Tidak tepat jika semua lendir atau sedikit darah pada tinja langsung disebut alergi susu sapi.
  • Tidak tepat jika bayi terus berganti formula tanpa diagnosis yang jelas.
  • Tidak tepat jika antibiotik diberikan untuk semua muntah dan diare.
  • Tidak tepat pula jika obat penekan asam diberikan hanya karena bayi sering gumoh.
  • Dan yang paling berbahaya adalah mengabaikan red flags karena menganggap semua keluhan perut bayi merupakan “masuk angin”, “gas”, atau “kolik”.

TABEL 6. “JANGAN TERJEBAK DIAGNOSIS SEDERHANA”

Gejala Jangan langsung menyimpulkan Pertanyaan klinis yang lebih tepat
Bayi menangis “Pasti kolik” Apakah bayi sehat, tumbuh baik, dan tidak ada red flags?
Banyak gas “Pasti alergi” Bagaimana pola menyusu, muntah, tinja, dan pertumbuhan?
Gumoh “Pasti GERD” Apakah bayi nyaman dan tumbuh baik?
Lendir tinja “Pasti alergi susu” Apakah ada pola gejala konsisten dan respons eliminasi-reintroduksi?
Jarang BAB “Pasti konstipasi” Apakah tinja keras dan nyeri?
Muntah “Karena lambung sensitif” Apakah muntah bilious, projectile, berulang, atau disertai dehidrasi?
Nyeri datang-hilang “Sudah membaik” Apakah terdapat episode nyeri hebat yang berulang?
Berat badan tidak naik “Memang bawaan kurus” Apakah terdapat feeding difficulty atau penyakit organik?

PESAN ILMIAH UNTUK ORANG TUA

  • Pada bayi, keluhan perut harus dibaca sebagai sebuah pola.
  • Bukan satu gejala.
  • Bukan satu hasil pemeriksaan.
  • Bukan satu dugaan alergi.
  • Dan bukan semata-mata seberapa keras bayi menangis.
  • Bayi yang menangis tetapi tetap sehat, menyusu baik, tumbuh baik, tidak muntah patologis, dan tidak memiliki tanda bahaya dapat mengalami gangguan fisiologis seperti kolik atau refluks.
  • Sebaliknya, bayi dengan muntah hijau, muntah menyemprot berulang, darah dalam tinja, distensi abdomen, nyeri episodik hebat, letargi, dehidrasi, atau gangguan pertumbuhan membutuhkan evaluasi medis.
  • Prinsip terpenting adalah: “Tidak semua tangisan adalah penyakit. Tetapi tidak semua tangisan boleh dianggap kolik.”

DAFTAR PUSTAKA PILIHAN

  • Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN Position Paper on the Diagnosis, Management, and Prevention of Cow’s Milk Allergy. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2024;78(2):386–413. DOI: 10.1097/MPG.0000000000003897. PMID: 38374567. (PubMed)
  • Robert E, et al. Symptoms and management of cow’s milk allergy: perception and evidence. Frontiers in Allergy. 2024. PMID: 38952569. (PubMed)
  • Rosen R, Vandenplas Y, Singendonk M, et al. Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of NASPGHAN and ESPGHAN. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2018;66(3):516–554. DOI: 10.1097/MPG.0000000000001889. PMID: 29470322. (PubMed)
  • Tabbers MM, Di Lorenzo C, Berger MY, et al. Evaluation and treatment of functional constipation in infants and children: evidence-based recommendations from ESPGHAN and NASPGHAN. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2014;58(2):258–274. DOI: 10.1097/MPG.0000000000000266.
  • Groen J, Gordon M, Chogle A, et al. ESPGHAN/NASPGHAN guidelines for treatment of irritable bowel syndrome and functional abdominal pain-not otherwise specified in children aged 4–18 years. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2025;81(2):442–471. DOI: 10.1002/jpn3.70070. PMID: 40444524. (PubMed)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *