Infeksi Virus Memicu Tanda Dan Gejala Alergi, Penyebab Overdiagnosis Alergi Makanan dan Alergi Susu Sapi
Interaksi Infeksi Virus dan Reaksi Alergi Makanan pada Anak: Implikasi Diagnosis dan Penanganan Klinis
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Abstrak
Alergi makanan adalah respons imun berlebihan terhadap protein makanan tertentu yang menghasilkan gejala klinis di berbagai sistem tubuh. Di sisi lain, infeksi virus ringan seperti common cold sering memicu atau memperberat tanda dan gejala alergi makanan. Kondisi ini dapat menyebabkan kesalahan penilaian dan overdiagnosis alergi makanan, terutama alergi susu sapi, karena gejala yang muncul saat infeksi virus ditafsirkan sebagai reaksi terhadap makanan atau susu. Oral food challenge di bawah pengawasan dokter tetap menjadi standar emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan dibandingkan tes IgE darah atau tes kulit semata. Artikel ini mengevaluasi hubungan antara infeksi virus dan manifestasi klinis alergi makanan serta memberikan rekomendasi praktis untuk orang tua dan tenaga medis.
Pendahuluan
Alergi makanan dipercaya meningkat pada anak‑anak di berbagai negara, dengan prevalensi yang terus berkembang seiring waktu. Reaksi alergi makanan terjadi ketika sistem imun salah mengenali protein dalam makanan sebagai ancaman, terutama melalui jalur IgE‑mediated dan non‑IgE‑mediated respons imun. Gejala alergi makanan dapat bervariasi dari ringan sampai berat dan dapat memengaruhi kulit, pencernaan, saluran napas, serta sistem lainnya. Namun, diagnosis alergi makanan yang hanya mengandalkan tes kulit atau IgE spesifik sering menghasilkan hasil positif palsu ataupun negatif palsu, sehingga banyak anak diberi diet eliminasi yang tidak perlu.
Selain alergi makanan itu sendiri, infeksi virus ringan seperti common cold juga sering terjadi pada anak dan memicu manifestasi klinis pada saluran pernapasan dan pencernaan yang menyerupai gejala alergi. Ketika infeksi virus berinteraksi dengan sistem imun yang sudah sensitif, gejala alergi bisa tampak lebih jelas, sehingga orang tua dan tenaga medis terkadang menganggap semua reaksi ini sebagai alergi makanan. Hal ini meningkatkan risiko overdiagnosis, terutama terhadap susu sapi dan makanan lain yang umumnya dianggap memicu alergi.
Tanda dan Gejala Infeksi Virus Flu / Common Cold
- Infeksi virus ringan seperti common cold biasanya dimanifestasikan oleh gejala pernapasan bagian atas, termasuk bersin, batuk ringan, hidung tersumbat, serta sensasi tidak nyaman pada tenggorokan. Gejala sistemik ringan seperti lemas, kelelahan, dan badan teraba hangat telapak tangan dan dahi duraba berbeda ada salah satu yang lebih hangat, suhu diukur normal diraba hangat. Bjsa juga demam tinggi suhu diatas 38, terutama saat hari lertama dan hari kedua, hari ke 3-badan hanya hangat, hari ke enam membaik
- Infeksi virus atau infeksi bisa berupa Covid, Influenza A, (suoer Flu), ISPA, ISK, bronkitis, bronkopnemonia, OMA, Tifus.
- Berat ringan tanda gejala alergi saat dioicu virus tergantung penyebab alergi makanan ssbekumnya yang dikonsumsi, infeksi berukang virus, dan berat ringannya penyebab infeksi virus. Misalnya infeksi vorus covid dan influenza membuat tanda dan gejala alergi lebih kuat munculnya. Hal lain bila alergi makanan saat sehat ringan saat terkena infeksi virus lebih kuat tanda dan gejakanya
- Infeksi virus dapat memengaruhi fungsi pencernaan dan menyebabkan mual, nyeri perut ringan, atau perubahan pola BAB. Karena gejala ini tumpang tindih dengan respons imun terhadap makanan tertentu, pasien bisa salah menafsirkan eksaserbasi gejala saat infeksi virus sebagai reaksi alergi terhadap makanan yang sebenarnya tidak menjadi pemicu. Kondisi ini sering membingungkan orang tua terutama ketika madunya tidak memerlukan diet khusus tapi tampak “memperburuk” setelah makan tertentu.
- Infeksi virus tidak hanya memperjelas gejala yang sudah ada tapi juga mengganggu sistem imun, membuat mediator inflamasi lebih aktif sehingga gejala alergi yang sebenarnya ringan menjadi tampak berat. Misalnya, gejala kulit seperti ruam atau eksim mungkin menjadi lebih parah saat anak terkena infeksi virus, meskipun makanan yang dikonsumsi sebelumnya bukanlah alergennya. Keadaan ini bisa menyesatkan melakukan diet eliminasi berlebihan tanpa evaluasi diagnostik yang tepat.
Mekanisme Infeksi Virus Memicu Tanda Dan bejala Alergi
- Alergi makanan adalah reaksi imun berlebihan terhadap protein dalam makanan tertentu yang memicu gejala klinis di banyak sistem tubuh (kulit, pernapasan, pencernaan) melalui respons imun IgE atau non‑IgE. Reaksi ini terjadi cepat setelah paparan dan dapat ringan sampai berat secara sistemik. Diagnosis standar alergi makanan melibatkan riwayat klinis, pemeriksaan IgE spesifik, tes skin prick, atau oral food challenge di bawah pengawasan dokter.
- Infeksi virus pada anak, seperti rhinovirus, influenza, atau virus pernapasan lainnya, dapat memicu atau memperberat gejala alergi makanan melalui modulasi sistem imun. Virus ini menstimulasi aktivasi sel epitel saluran napas dan usus, yang melepaskan mediator inflamasi seperti IL-25, IL-33, dan thymic stromal lymphopoietin (TSLP). Sitokin ini memicu aktivasi sel T helper tipe 2 (Th2), meningkatkan produksi IgE spesifik terhadap alergen dan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, dan prostaglandin. Aktivasi jalur imun ini menyebabkan peningkatan permeabilitas epitel, hiperresponsivitas saluran napas, mual, muntah, dan reaksi kulit, sehingga gejala alergi yang biasanya ringan menjadi lebih jelas atau berat saat anak terinfeksi virus.
- Selain itu, virus dapat menurunkan fungsi imun regulatori melalui penghambatan sel T regulator (Treg) dan interferon tipe I, sehingga sistem imun menjadi lebih responsif terhadap alergen yang sebelumnya toleran. Aktivasi mastosit dan eosinofil meningkat, menghasilkan pelepasan sitokin proinflamasi tambahan seperti IL-4, IL-5, dan IL-13, yang memperparah gejala alergi pada kulit, saluran pencernaan, dan sistem pernapasan. Kombinasi peningkatan mediator proinflamasi dan penurunan kontrol imun tolerogenik ini menjelaskan mengapa alergi makanan dapat muncul atau memburuk selama infeksi virus, serta mengapa orang tua sering salah menafsirkan makanan tertentu sebagai penyebab gejala, padahal virus merupakan faktor pemicu utama.
- Infeksi virus, khususnya pada saluran napas, dapat memicu atau memperberat tanda dan gejala alergi. Bukti dari studi klinis menunjukkan hubungan kompleks antara infeksi virus pernapasan dan respons alergi pada anak, termasuk peningkatan respons T helper type 2 dan gangguan imunitas yang dapat meningkatkan eksaserbasi kondisi alergik seperti asma. Hal ini juga dapat membuat gejala alergi makanan tampak lebih jelas atau mudah terlihat saat anak juga terkena virus ringan seperti common cold.
- Infeksi virus pada anak sering menurunkan respons imun normal dan bisa memperberat gejala alergi yang ada atau membuat gejala alergi tampak lebih serius. Interaksi antara respon imun terhadap virus dan mekanisme alergi masih dipelajari, tetapi ada bukti bahwa virus dapat memodulasi respons alergi dan memperburuk manifestasinya, terutama pada saluran napas dan kulit.
Overdiagnosis Alergi Makanan Terkait Infeksi Virus dan Kesalahan Tafsir Penyeba Alergh
- Overdiagnosis alergi makanan atau alergi susu sapi banyak terjadi ketika gejala yang sebenarnya dipicu oleh infeksi virus atau kondisi lain disalahartikan sebagai reaksi alergi terhadap makanan tertentu.
- Banyak orang tua dan bahkan beberapa praktisi klinis mengandalkan hasil tes IgE atau skin prick test tanpa oral food challenge, padahal tes ini sering memberikan hasil positif palsu dan tidak selalu berkorelasi dengan reaksi klinis nyata terhadap makanan. Salah satu kajian menemukan bahwa sebagian besar tes IgE atau skin prick tidak terkonfirmasi sebagai alergi nyata setelah oral food challenge, menunjukkan bahwa makanan tidak seharusnya dihindari berdasarkan tes semata tanpa evaluasi klinis lebih lanjut.
- Dalam kasus alergi susu sapi, misalnya, banyak anak diberi label alergi setelah muncul gejala gastrointestinal saat mereka juga mengalami infeksi virus ringan yang memengaruhi saluran cerna. Tanpa oral food challenge, diagnosis ini bisa salah karena gejala gastrointestinal saat infeksi virus mungkin tidak terkait dengan hipersensitivitas makanan. Oleh karena itu, oral food challenge di bawah pengawasan dokter dan evaluasi riwayat klinis yang matang merupakan langkah penting untuk menghindari diet eliminasi yang tidak perlu dan gangguan nutrisi.
- Dalam evaluasi alergi makanan perlu membedakan antara gejala yang sebenarnya disebabkan oleh reaksi alergi terhadap makanan dengan kondisi lain yang mimic atau menyerupai alergi, termasuk infeksi virus yang menyebabkan batuk, hidung tersumbat, atau gejala pencernaan yang mirip alergi. Banyak kondisi non‑alergi lain seperti intoleransi makanan, infeksi saluran cerna, atau infeksi pernapasan dapat dipersepsikan sebagai alergi makanan tanpa adanya respons imun khas alergi.
Tabel Perbedaan Tanda dan Gejala Alergi Makanan vs Dipicu Infeksi Virus
| Sistem Tubuh | Gejala Alergi Makanan | Gejala Alergi Makanan + Infeksi Virus |
|---|---|---|
| Pernapasan | Hidung tersumbat ringan, batuk ringan dan sporadis, tidak sesak | Batuk lebih sering, lebih kuat dan lebih berdahak, bersin lebjh sering, hidung tersumbat jelas, napas berbunyi grok2, lendir lebih banyak, sesak napas , asma kambuh, harus diinhalasi atau di nebukizer |
| Pencernaan | Mual, muntah ringan, sembelit ringan, tidak BAB seharI, BAB lembek, ambyar, cair sesekali, nyeri perut ringan (mau berak tidak jadi)
Gangguan Berat Badan dan Sulit Makan: Makan mau tapi tidak banyak, tidka konsisten, kadang banyak kadang susah, lama, tidak habis, pagi terutama tidak banyak. BB tidak naik atau hanya naik sedikit dalam seminggu |
Mual lebih sering, muntah lebih sering (GERD), Sembelit lebih kuat, sakut saat bab, bjsa muncuk darah, tidka bab 2-5 hari, diare lebih sering, lebih cair & berlendir, warna hijau, kadang ada darah, nyeri perut lebih sering, lebih intens, lebih kuat gejalanya, sering dikira usus buntu padahal bukan (waspada overdiagnosis usus buntu)
Gangguan Berat Badan dan Sulit Makan: Sulit makan semakin parah, kadang tidak mau makan sama sekali, hanya susu, BB turun dalam seminggu |
| Kulit | Ruam ringan, kemerahan, gatal sporadis | Ruam meluas dan lebih parah, kulit lebih gatal, lebih sensitif, dermatitis lebih parah, ,ebih gatal, lebih luas, jadi berdarah, urtikaria/biduran, muncul urticaria papular, muncul seperti biang keringat banyak, |
| Mata | Mata gatal ringan, dikucek kucsk, sering dikira ngantuk, | Gatal mata lebih berat, dikucek kucek lebih kuat dan lebih sering, mata bengkak, mata merah, kotoran mata muncul, |
| THT | Bersin ringan, Tidak ada ingus, batuk sekali-sekali, nyeri tenggorokan ringan | Tenggorokan sakit, hidung meler lebih banyak, lebih cair, kadang ingus kental, kadang kuning, hijau, hidung lebih buntu, lebih berat, lendir bertambah, bersin dan pilek lebih sering, lebih khat gangguannya, suara parau, mimisan, telinga sakit, telinga penih seperti kemasukan aid |
| Hormonal / Metabolik | Rambut rontok ringan, bau badan berbeda, keputihan sesikit, flek ringan di celana | Rontok lebih banyak kadang bisa muncul kebotakan lokal sebagian (alopecia), bau keringat tajam, keputihan lebih banyak |
| Otot & Tulang | Nyeri ringan setelah aktivitas | Nyeri kuat, tidur gelisah, berjalan sakit, seringndianggap growing pain |
| Otak / Perilaku | Gangguan Fungsional: mudah kaget, sakit kepala ringan
Perilaku: Gelisah, mudah marah, fokus ringan terganggu, nilai sekolah terganggu ringan. Tidak membuat masalah di sekolah Penderita ABK (Autjsms, ADHD): gejala dan wgangguan perikaku ringan |
Gangguan Fungsional: mudah kaget lebih sering, jitteri, Tik (mata kedip sering, mulut dan bahu bergerak gerak), kejang dengan demam, kejang tanpa demam, EEG normal, vertigo, migrain, sakit kepala berat,
Perilaku: Gelisah parah, tantrum, agresif meningkat, gangguan fokus lebih kuat, nikai sekolah lebih buruk, brain fog, emosi unstable, membuat masalah di sekokah. lenderita ABK (Autisme, ADHD dll): gangguan perikaku lebihninten, lebih berat dan lebih sering |
Penanganan dan Rekomendasi
- Oral food challenge tetap menjadi standar emas dalam menegakkan diagnosis alergi makanan, terutama ketika hasil tes IgE atau skin prick belum sesuai dengan gejala klinis. Oral food challenge dilakukan secara bertahap dan terkontrol di lingkungan medis yang aman untuk mengidentifikasi apakah makanan tertentu benar‑benar memicu reaksi alergi. Tes darah atau skin prick bisa mendukung diagnosis tetapi tidak boleh menjadi satu‑satunya dasar untuk memberikan diagnosis dan diet eliminasi.
- Orang tua dan dokter sebaiknya bekerja sama dalam memantau gejala anak, termasuk mencatat pola gejala yang berulang setelah makan tertentu atau saat infeksi virus. Observasi klinis yang teliti, riwayat gejala, serta diskusi mengenai kapan oral food challenge diperlukan akan membantu mengurangi kesalahan diagnosis. Edukasi soal bagaimana membedakan antara gejala yang dipicu virus dan alergi makanan sangat penting untuk menghindari diet yang salah dan dampak nutrisi negatif pada anak.
Kesimpulan
Infeksi virus ringan dapat memperberat atau memodulasi gejala alergi makanan, yang sering disalahartikan sebagai reaksi terhadap makanan tertentu. Kesalahan tafsir gejala ini dapat menyebabkan overdiagnosis alergi makanan, terutama ketika diagnosis hanya berdasarkan tes IgE atau skin prick tanpa oral food challenge. Oral food challenge di bawah pengawasan dokter harus menjadi prosedur utama untuk diagnosis alergi makanan yang akurat. Kolaborasi orang tua dan tenaga medis dalam observasi gejala klinis yang teliti sangat penting untuk menghindari penanganan diet eliminasi yang tidak perlu dan memastikan kesehatan nutrisi anak.
Daftar Pustaka (
- Fleischer DM, Bock SA, Spears GC, et al. Oral food challenges in children with a diagnosis of food allergy. J Pediatr. 2011;158:578‑583.
- Nowak‑Wegrzyn A, Assa’ad AH, Bahna SL, et al. Diagnosis and management of food allergy in the United States: A practice parameter update. (see OFC importance)
- Cheung DS, Grayson MH. Role of viruses in the development of atopic disease in pediatric patients. Curr Allergy Asthma Rep. 2012 Dec;12(6):613-20. doi: 10.1007/s11882-012-0295-y. PMID: 22911226; PMCID: PMC3504451.
- Yamaya M. Virus infection-induced bronchial asthma exacerbation. Pulm Med. 2012;2012:834826. doi: 10.1155/2012/834826. Epub 2012 Aug 23. PMID: 22966430; PMCID: PMC3432542.
- Ghoshal UC, Ghoshal U, Rahman MM, Mathur A, Rai S, Akhter M, Mostafa T, Islam MS, Haque SA, Pandey A, Kibria MG, Ahmed F. Post-infection functional gastrointestinal disorders following coronavirus disease-19: A case-control study. J Gastroenterol Hepatol. 2022 Mar;37(3):489-498. doi: 10.1111/jgh.15717. Epub 2021 Nov 4. PMID: 34672022; PMCID: PMC8657345.
- Urbani F, Cometa M, Martelli C, Santoli F, Rana R, Ursitti A, Bonato M, Baraldo S, Contoli M, Papi A. Update on virus-induced asthma exacerbations. Expert Rev Clin Immunol. 2023 Jul-Dec;19(10):1259-1272. doi: 10.1080/1744666X.2023.2239504. Epub 2023 Jul 24. PMID: 37470413.
- Calvani M, Bianchi A, Reginelli C, et al. Oral Food Challenge. Medicina (Kaunas). 2019;55(10):651.
- Bartha I, et al. Feast for thought: A comprehensive review of food allergy. PMC review on food allergy mechanisms, diagnosis, prevalence.
- Edwards MR, et al. Viral infections in allergy and immunology: How allergic diseases interact with viral infections.









Leave a Reply