DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

Alergi Makanan atau Intoleransi Makanan pada Bayi dan Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Memastikannya

Alergi Makanan atau Intoleransi Makanan pada Bayi dan Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Memastikannya

Dr Audi Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Alergi makanan dan intoleransi makanan dapat menimbulkan keluhan yang serupa pada bayi dan anak, seperti muntah, diare, perut kembung, ruam kulit, atau kesulitan makan. Namun, keduanya memiliki mekanisme yang berbeda sehingga penanganannya tidak selalu sama. Alergi makanan melibatkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan intoleransi makanan umumnya berkaitan dengan gangguan pencernaan atau proses metabolisme zat tertentu. Pada bayi dan anak, pengenalan perbedaan ini penting untuk mencegah diagnosis yang keliru, pembatasan makanan yang tidak diperlukan, dan gangguan pertumbuhan. Artikel ini membahas tanda-tanda yang perlu diperhatikan orang tua, proses diagnosis, serta prinsip penanganan yang aman berdasarkan bukti ilmiah.

Bayi yang sering muntah setelah minum susu, anak yang mengalami sembelit berulang, atau balita yang sulit makan dan berat badannya tidak naik sering menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Sebagian keluhan tersebut dapat berkaitan dengan alergi makanan, tetapi tidak semua gangguan pencernaan atau masalah kulit disebabkan oleh alergi. Refluks, infeksi, intoleransi laktosa, pola makan yang kurang sesuai, dan berbagai kondisi lain juga dapat menimbulkan gejala serupa. Karena itu, orang tua perlu memahami pola gejala, hubungan dengan makanan, serta tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan medis. Diagnosis yang tepat membantu anak mendapatkan penanganan yang sesuai tanpa harus menghindari banyak jenis makanan secara tidak perlu.

Apa perbedaan alergi makanan dan intoleransi makanan?

  • Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap protein tertentu dalam makanan. Pada sebagian anak, reaksi muncul cepat setelah makanan dikonsumsi. Pada anak lain, terutama pada beberapa jenis alergi yang tidak diperantarai IgE, keluhan dapat muncul beberapa jam kemudian atau berlangsung berulang.
  • Intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan reaksi alergi dari sistem kekebalan tubuh. Contohnya adalah intoleransi laktosa, yaitu kesulitan mencerna gula laktosa akibat aktivitas enzim laktase yang kurang. Keluhannya dapat berupa kembung, banyak gas, sakit perut, dan diare.
Aspek Alergi makanan Intoleransi makanan
Mekanisme Melibatkan sistem kekebalan tubuh Umumnya berkaitan dengan pencernaan atau metabolisme
Contoh Alergi protein susu sapi, telur, kacang Intoleransi laktosa
Gejala Dapat berupa biduran, bengkak, muntah, diare, mengi, atau reaksi berat Umumnya kembung, gas, nyeri perut, atau diare
Waktu muncul Dapat cepat atau tertunda, bergantung pada jenis reaksi Bergantung pada jenis makanan dan jumlah yang dikonsumsi
Penanganan Menghindari alergen yang terbukti relevan dengan pendampingan tenaga medis Menyesuaikan jenis atau jumlah makanan sesuai penyebabnya
  • Gejala saja tidak selalu cukup untuk membedakan kedua kondisi tersebut. Penilaian perlu mempertimbangkan usia anak, jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, waktu munculnya keluhan, dan apakah gejala berulang saat makanan yang sama dikonsumsi.
  • Alergi makanan pada bayi
    • Pada masa bayi, alergi makanan yang sering diperhatikan meliputi alergi protein susu sapi, telur, kacang tanah, kacang pohon, gandum, kedelai, ikan, dan makanan laut. Jenis makanan yang relevan dapat berbeda pada setiap anak.
  • Gejala yang perlu diperhatikan
  • Pada kulit
    • Biduran atau bentol kemerahan yang muncul setelah makan.
    • Pembengkakan bibir, kelopak mata, atau wajah.
    • Eksim yang menetap atau memburuk, meskipun eksim sendiri tidak selalu disebabkan oleh alergi makanan.
  • Pada saluran pencernaan
    • Muntah berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu.
    • Diare atau tinja berlendir, terkadang disertai darah pada kondisi tertentu.
    • Nyeri perut atau rewel yang berulang dalam pola yang konsisten.
    • Kesulitan menyusu atau makan yang disertai gejala lain.
    • Pertumbuhan berat badan yang tidak optimal, terutama bila disertai gangguan pencernaan yang menetap.
  • Pada saluran pernapasan
    • Batuk, mengi, suara napas berbunyi, atau kesulitan bernapas setelah paparan makanan.
    • Hidung berair atau bersin dapat terjadi dalam reaksi alergi, tetapi pilek berulang saja tidak cukup untuk memastikan alergi makanan.
    • Keluhan-keluhan tersebut tidak otomatis membuktikan alergi makanan. Misalnya, gumoh pada bayi sering terjadi akibat refluks, sedangkan batuk dan pilek berulang dapat disebabkan oleh infeksi atau alergi terhadap pemicu lain.
    • Alergi makanan dan gangguan berat badan
    • Berat badan yang sulit naik perlu dinilai secara menyeluruh. Pada sebagian anak dengan alergi makanan, peradangan saluran pencernaan, muntah, diare, atau kesulitan makan dapat mengurangi asupan dan mengganggu pertumbuhan.
    • Namun, gangguan berat badan juga dapat disebabkan oleh asupan energi yang tidak mencukupi, kesulitan makan perilaku, penyakit kronis, gangguan penyerapan zat gizi, atau kondisi medis lainnya. Karena itu, berat badan yang sulit naik bukan bukti tunggal adanya alergi makanan.
  • Dokter biasanya menilai:
    • Grafik berat badan dan panjang atau tinggi badan dari waktu ke waktu.
    • Riwayat menyusu, pola makan, jumlah makanan, dan variasi menu.
    • Gejala pencernaan, kulit, dan pernapasan.
    • Riwayat reaksi terhadap makanan tertentu.
    • Pemeriksaan tambahan bila ada indikasi klinis.
    • Bila alergi makanan memang terbukti, penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi gejala. Akan tetapi, perbaikan berat badan tidak dapat dijamin hanya dengan menghilangkan satu jenis makanan. Asupan energi, protein, dan zat gizi lain tetap harus mencukupi.
  • Apakah susu sapi selalu menjadi penyebab?
    • Tidak. Susu sapi merupakan salah satu penyebab alergi makanan pada bayi, tetapi muntah, gumoh, sembelit, diare, eksim, atau rewel tidak selalu menunjukkan alergi protein susu sapi.
    • Dokter akan mempertimbangkan alergi tersebut bila pola gejala, riwayat paparan, dan pemeriksaan mendukung dugaan. Pada kasus tertentu, dokter dapat menyarankan eliminasi protein susu sapi dalam jangka waktu terbatas, kemudian menilai apakah gejala membaik dan apakah pengenalan kembali menimbulkan keluhan.
    • Pada bayi yang mendapat ASI, ibu tidak dianjurkan menghindari susu dan berbagai makanan lain secara rutin tanpa alasan klinis yang jelas. Jika eliminasi dari pola makan ibu memang diperlukan, kebutuhan gizi ibu juga harus diperhatikan.
    • Formula bayi tidak boleh diganti secara sembarangan. Susu bebas laktosa, misalnya, bukan otomatis pilihan yang tepat untuk alergi protein susu sapi karena protein susunya mungkin masih ada. Pemilihan formula pengganti perlu disesuaikan dengan usia, kondisi bayi, dan penilaian dokter.
  • Bagaimana dengan intoleransi laktosa?
    • Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Gejalanya dapat berupa perut kembung, banyak gas, sakit perut, dan diare setelah mengonsumsi laktosa.
    • Intoleransi laktosa berbeda dari alergi protein susu sapi. Pada alergi, sistem kekebalan bereaksi terhadap protein susu; pada intoleransi laktosa, masalahnya adalah pencernaan gula susu.
    • Pada bayi, intoleransi laktosa bawaan sangat jarang. Penurunan sementara kemampuan mencerna laktosa dapat terjadi pada kondisi tertentu, misalnya setelah infeksi usus yang merusak permukaan usus. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung mengganti susu bayi hanya berdasarkan dugaan intoleransi laktosa.

Bagaimana dokter memastikan diagnosis?

  • Diagnosis dimulai dengan wawancara dan pemeriksaan fisik. Orang tua dapat membantu dengan mencatat makanan yang dikonsumsi, jumlahnya, waktu munculnya gejala, jenis keluhan, dan lamanya gejala berlangsung.
  • Pemeriksaan yang mungkin dipertimbangkan meliputi:
    • Tes tusuk kulit atau pemeriksaan IgE spesifik. Berguna pada dugaan alergi yang diperantarai IgE. Hasil positif menunjukkan sensitisasi, tetapi tidak selalu berarti anak mengalami alergi klinis.
    • Eliminasi makanan secara terarah. Makanan yang dicurigai dihindari untuk periode yang sesuai dengan kondisi, dengan pemantauan gejala dan kecukupan gizi.
    • Pengenalan kembali makanan. Dilakukan sesuai penilaian risiko. Pada kondisi tertentu, pengenalan kembali perlu dilakukan di fasilitas medis.
    • Oral Food Challenge (OFC). Pemberian makanan secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis untuk menilai apakah makanan tersebut benar-benar menimbulkan reaksi. OFC merupakan metode rujukan penting dalam diagnosis alergi makanan pada kasus terpilih.
    • Tes IgG atau IgG4 terhadap makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan. Pemeriksaan yang tidak sesuai indikasi dapat menghasilkan kesimpulan keliru dan menyebabkan anak menghindari makanan yang sebenarnya aman.

Apakah orang tua boleh mencoba menghilangkan makanan sendiri?

  • Sebaiknya jangan melakukan pembatasan makanan yang luas tanpa konsultasi. Pada bayi dan anak yang sedang tumbuh, penghilangan susu, telur, gandum, atau berbagai sumber protein sekaligus dapat menyebabkan kekurangan energi, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dan zat gizi lain.
  • Jika eliminasi memang diperlukan, sebaiknya ada tujuan yang jelas, durasi evaluasi yang ditentukan, pemantauan gejala, dan rencana untuk menilai kembali dugaan alergi. Ahli gizi dapat membantu menjaga agar kebutuhan tumbuh kembang anak tetap terpenuhi.
  • Jangan mencoba memberikan kembali makanan di rumah bila anak pernah mengalami sesak napas, pembengkakan tenggorokan, pingsan, reaksi sistemik berat, atau muntah hebat yang diduga berkaitan dengan alergi. Pengenalan kembali harus mengikuti arahan tenaga medis.

Kapan harus segera mencari pertolongan?

  • Segera cari pertolongan medis darurat jika setelah makan anak mengalami:
    • Kesulitan bernapas, mengi berat, atau suara napas berubah.
    • Pembengkakan lidah atau tenggorokan.
    • Anak tampak lemas mendadak, pucat, pingsan, atau sulit dibangunkan.
    • Gejala dari beberapa sistem tubuh sekaligus, misalnya biduran disertai muntah berulang atau gangguan pernapasan.
    • Gejala tersebut dapat menunjukkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang membutuhkan penanganan segera. Adrenalin atau epinefrin intramuskular merupakan terapi lini pertama untuk anafilaksis jika tersedia dan digunakan sesuai rencana medis. Antihistamin tidak dapat menggantikan epinefrin.
  • Pemeriksaan dokter juga diperlukan jika anak mengalami muntah atau diare menetap, darah pada tinja, tanda dehidrasi, sulit makan yang berkepanjangan, atau berat badan yang tidak bertambah sesuai pola pertumbuhan.

Pesan penting bagi orang tua

  • Alergi makanan dan intoleransi makanan bukanlah kondisi yang sama. Keluhan pada kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan perlu dinilai berdasarkan pola gejala dan riwayat paparan makanan, bukan berdasarkan satu gejala atau satu hasil tes saja.
  • Pada bayi dan anak, tujuan penanganan bukan sekadar menghilangkan makanan yang dicurigai, melainkan memastikan diagnosis yang tepat, mengurangi risiko reaksi, menjaga kecukupan gizi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Daftar Pustaka

  • Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
  • Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow’s milk allergy. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2024;78(2):386-413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.
  • Nowak-Węgrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International consensus guidelines for the diagnosis and management of food protein-induced enterocolitis syndrome: Executive summary. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2017;139(4):1111-1126.e4. doi:10.1016/j.jaci.2016.12.966.
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: An update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *