TINJAUAN ILMIAH: BENARKAH KONSUMSI ES KRIM SAAT DEMAM BERMANFAAT PADA ANAK?

ABSTRAK
Di masyarakat masih banyak berkembang anggapan bahwa konsumsi es krim atau makanan dingin saat anak demam dapat memperburuk penyakit, khususnya infeksi saluran napas. Sebaliknya, sebagian praktisi kesehatan menyatakan bahwa makanan dingin justru dapat membantu meningkatkan kenyamanan anak selama sakit. Artikel ini bertujuan menelaah bukti ilmiah mengenai manfaat dan risiko konsumsi es krim saat demam pada anak berdasarkan mekanisme fisiologis dan penelitian yang tersedia.
Kajian ilmiah menunjukkan bahwa es krim tidak memiliki efek menurunkan suhu tubuh inti secara langsung sehingga bukan terapi untuk mengatasi demam. Namun suhu dingin dapat memberikan efek analgesik lokal, mengurangi nyeri mukosa orofaring, membantu anak dengan radang tenggorokan atau tonsilitis, serta mempertahankan asupan cairan dan kalori ketika nafsu makan menurun. Hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah kuat bahwa konsumsi es krim menyebabkan pilek atau memperberat infeksi pada anak sehat. Meski demikian, pada kondisi tertentu seperti alergi protein susu sapi, intoleransi laktosa, atau gangguan gastrointestinal, konsumsi es krim memerlukan perhatian khusus.
PENDAHULUAN
Demam merupakan salah satu gejala tersering pada anak yang menyebabkan penurunan nafsu makan, ketidaknyamanan, serta kecemasan orang tua. Dalam praktik sehari-hari masih terdapat berbagai kepercayaan bahwa makanan dingin seperti es krim harus dihindari saat anak mengalami demam karena dianggap memperburuk infeksi, meningkatkan produksi lendir, atau memperpanjang masa sakit. Persepsi ini berkembang luas meskipun dasar ilmiahnya sering kali tidak jelas.
Di sisi lain, pendekatan medis modern menekankan pentingnya supportive care pada anak sakit, yaitu menjaga hidrasi, kecukupan nutrisi, kenyamanan pasien, dan mengatasi penyebab dasar penyakit. Oleh karena itu, perlu ditelaah secara ilmiah apakah konsumsi es krim saat demam benar-benar berbahaya atau justru memiliki manfaat tertentu berdasarkan bukti penelitian medis yang tersedia.
PEMBAHASAN ILMIAH
Secara fisiologis, makanan dingin dapat menimbulkan vasokonstriksi lokal sementara pada mukosa mulut dan tenggorokan, sehingga sensitivitas ujung saraf nyeri menurun. Mekanisme ini serupa dengan prinsip cold therapy yang sering digunakan untuk mengurangi inflamasi lokal dan rasa sakit. Karena itu, pada anak dengan faringitis, tonsilitis, atau nyeri saat menelan, es krim dapat memberikan rasa nyaman dan membantu anak tetap mau makan atau minum.
Selain efek lokal, es krim juga mengandung karbohidrat, lemak, cairan, dan energi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan kalori sementara pada anak sakit yang mengalami anoreksia sementara akibat infeksi. Pada keadaan demam, kebutuhan metabolik meningkat sehingga mempertahankan asupan energi menjadi bagian penting dari tata laksana suportif.
Namun penting dipahami bahwa es krim tidak menurunkan suhu inti tubuh secara bermakna. Demam merupakan proses fisiologis yang diatur pusat termoregulasi di hipotalamus akibat pelepasan mediator inflamasi seperti interleukin-1, interleukin-6, TNF-alpha, dan prostaglandin E2. Karena itu, makanan dingin tidak dapat menggantikan terapi utama berupa hidrasi, istirahat, dan pengobatan penyebab infeksi bila diperlukan.
Penelitian oleh Abdulrahman Ahmad Alnaim dkk pada 371 responden di Saudi Arabia menunjukkan bahwa sekitar 60% orang tua percaya minuman dingin dan es krim menyebabkan pilek pada anak, meskipun peneliti menegaskan bahwa belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara konsumsi makanan dingin dengan infeksi saluran napas atas. Menariknya, sekitar 30,2% responden justru melaporkan gejala membaik setelah konsumsi minuman dingin atau es krim.
Kajian sistematik oleh The BMJ mengenai infeksi saluran napas atas pada anak menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi virus memiliki perjalanan penyakit alami (self-limited disease). Dalam kondisi ini, terapi suportif yang mempertahankan hidrasi, nutrisi, dan kenyamanan anak merupakan komponen penting dalam mempercepat pemulihan klinis.
Es Krim Bermanfaat Pada penderita HMFD
Pada anak atau orang dewasa yang mengalami HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease / penyakit tangan, kaki, dan mulut), salah satu keluhan utama adalah luka sariawan atau ulkus di mulut yang menyebabkan nyeri hebat saat makan dan minum. Secara ilmiah, es krim dapat membantu mengurangi rasa nyeri pada luka mulut karena suhu dingin memberikan efek anestesi lokal sementara, yaitu menurunkan sensitivitas ujung saraf di area luka dan mengurangi rasa terbakar atau perih. Efek ini serupa dengan prinsip cold therapy yang digunakan untuk mengurangi inflamasi dan rasa sakit pada jaringan yang mengalami peradangan.
Selain membantu mengurangi nyeri, es krim juga dapat menjadi sumber cairan, kalori, dan energi sementara pada penderita HFMD yang sering mengalami penurunan nafsu makan akibat nyeri menelan. Hal ini penting karena anak dengan HFMD berisiko mengalami dehidrasi bila menolak makan dan minum terlalu lama. Namun pemilihan es krim harus diperhatikan, sebaiknya tekstur lembut, tidak terlalu asam, tidak mengandung bahan yang memicu alergi, dan tidak mengiritasi luka mulut. Jadi secara medis, es krim bukan mengobati HFMD, tetapi dapat menjadi terapi suportif yang membantu mengurangi nyeri mulut dan mempertahankan asupan nutrisi selama masa sakit.
Es Krim Pada Penderita Alergi Makanan
Pada penderita alergi makanan, masalah utama saat mengonsumsi es krim sering kali bukan karena suhu dinginnya, tetapi karena kandungan bahan di dalam es krim yang dapat memicu reaksi alergi. Beberapa bahan yang sering menjadi pencetus antara lain protein susu sapi, telur, cokelat, kacang, serta perisa atau bahan tambahan dari buah tertentu seperti mangga, durian, anggur, melon, jeruk, terutama pada individu yang memang memiliki sensitivitas terhadap makanan tersebut. Pada anak dengan riwayat alergi makanan, konsumsi es krim dengan bahan pemicu dapat menyebabkan gejala seperti gatal, ruam kulit, batuk, pilek, gangguan pencernaan, muntah, diare, hingga memperburuk peradangan saluran cerna.
Bila ingin memberikan es krim pada anak dengan riwayat alergi, umumnya lebih aman memilih es krim dengan komposisi sederhana dan rasa yang relatif rendah risiko, misalnya vanila atau stroberi, selama anak tidak memiliki alergi terhadap susu sapi atau bahan tambahan tertentu. Rasa vanila biasanya hanya menggunakan perisa dasar yang lebih sederhana, sedangkan stroberi relatif lebih aman dibanding buah dengan potensi histamin atau reaktivitas silang lebih tinggi seperti jeruk atau anggur pada sebagian anak sensitif. Karena itu prinsip utama pada anak alergi adalah bukan menghindari es krim secara mutlak, tetapi mengenali kandungan bahan yang berpotensi menjadi pencetus alergi pada masing-masing individu.
KESIMPULAN
Es krim tidak menyembuhkan atau menurunkan demam secara langsung, tetapi dapat memberikan manfaat berupa mengurangi nyeri tenggorokan, meningkatkan kenyamanan, membantu asupan cairan dan kalori, serta mendukung terapi suportif selama sakit. Tidak terdapat bukti ilmiah kuat bahwa es krim menyebabkan pilek atau memperburuk infeksi pada anak sehat. Konsumsi perlu dibatasi atau dihindari pada anak dengan alergi susu sapi, intoleransi laktosa, atau gangguan pencernaan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
- Thompson M, et al. Duration of symptoms of respiratory tract infections in children: systematic review. The BMJ. 2013;347:f7027.
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical guidance on sore throat and upper respiratory infections.
- Alnaim AA, et al. Parental practice and attitude toward cold beverages and common cold among children. Saudi observational study, 2021–2022.
- Sullivan JE, Farrar HC. Fever and Antipyretic Use in Children. Pediatrics. 2011.





Leave a Reply