Skrining Pendengaran pada Bayi Baru Lahir, Anak, dan Remaja: Pentingnya Deteksi Dini untuk Mengoptimalkan Perkembangan Bahasa dan Kecerdasan
Pendengaran merupakan salah satu indera terpenting dalam proses perkembangan bahasa, komunikasi, pembelajaran, dan interaksi sosial. Sejak berada di dalam kandungan hingga tahun-tahun pertama kehidupan, otak bayi terus membangun jaringan saraf berdasarkan suara yang didengar dari lingkungan. Oleh karena itu, gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi sejak dini dapat menghambat perkembangan bicara, bahasa, kemampuan belajar, prestasi akademik, hingga kesehatan psikososial anak.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) dan Joint Committee on Infant Hearing (JCIH), semua bayi baru lahir harus menjalani skrining pendengaran universal (Universal Newborn Hearing Screening/UNHS) sebelum pulang dari rumah sakit atau paling lambat pada usia 1 bulan. Deteksi dini memungkinkan intervensi dimulai sedini mungkin sehingga peluang perkembangan bahasa mendekati anak dengan pendengaran normal menjadi jauh lebih besar.
Mengapa Skrining Pendengaran Sangat Penting?
Sebagian besar bayi dengan gangguan pendengaran tampak sehat dan tidak memiliki kelainan fisik yang jelas. Bahkan, banyak bayi masih tampak terkejut ketika mendengar suara keras sehingga orang tua mengira pendengarannya normal. Padahal, bayi dapat memiliki gangguan pendengaran ringan hingga sedang yang cukup mengganggu proses belajar bahasa tanpa mudah dikenali melalui pengamatan sehari-hari.
Penelitian menunjukkan bahwa intervensi sebelum usia 6 bulan secara bermakna meningkatkan kemampuan bahasa reseptif, bahasa ekspresif, kemampuan membaca, prestasi akademik, dan perkembangan sosial dibandingkan bila diagnosis ditegakkan setelah usia tersebut.
Kapan Skrining Pendengaran Dilakukan?
AAP dan JCIH merekomendasikan prinsip 1-3-6, yaitu:
- Sebelum usia 1 bulan: seluruh bayi menjalani skrining pendengaran.
- Sebelum usia 3 bulan: bayi yang tidak lulus skrining harus menjalani pemeriksaan diagnostik lengkap.
- Sebelum usia 6 bulan: bayi yang dipastikan mengalami gangguan pendengaran harus mulai mendapatkan intervensi.
Selanjutnya, pemeriksaan pendengaran tetap diperlukan selama masa pertumbuhan karena gangguan pendengaran dapat muncul setelah lahir.
Jadwal Skrining Pendengaran yang Direkomendasikan
| Usia | Rekomendasi Pemeriksaan |
|---|---|
| Bayi baru lahir | Skrining sebelum usia 1 bulan |
| Bila tidak lulus skrining | Pemeriksaan diagnostik sebelum usia 3 bulan |
| Gangguan pendengaran terkonfirmasi | Intervensi dimulai sebelum usia 6 bulan |
| 4 tahun | Skrining pendengaran |
| 5 tahun | Skrining pendengaran |
| 6 tahun | Skrining pendengaran |
| 8 tahun | Skrining pendengaran |
| 10 tahun | Skrining pendengaran |
| 11–14 tahun | Skrining berkala |
| 15–17 tahun | Skrining berkala |
| 18–21 tahun | Skrining berkala |
Metode Skrining Pendengaran
1. Automated Auditory Brainstem Response (AABR)
- AABR mengukur respons saraf pendengaran dan batang otak terhadap rangsangan suara.
- Kelebihan
- Sangat akurat.
- Dapat mendeteksi gangguan saraf pendengaran.
- Cocok untuk bayi baru lahir.
- Lama pemeriksaan: sekitar 5–10 menit.
2. Otoacoustic Emissions (OAE)
- OAE mengukur suara pantulan (echo) yang dihasilkan sel rambut koklea ketika diberi rangsangan suara.
- Kelebihan
- Cepat.
- Tidak nyeri.
- Cocok untuk bayi maupun anak.
- Namun, OAE tidak dapat mendeteksi seluruh jenis gangguan pendengaran, khususnya yang berasal dari saraf pendengaran.
3. Pure Tone Audiometry (PTA)
- Dilakukan mulai usia sekitar 4 tahun ketika anak sudah dapat bekerja sama mengikuti instruksi.
- Pemeriksaan ini mengukur ambang pendengaran pada berbagai frekuensi.
Faktor Risiko Gangguan Pendengaran
Beberapa bayi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pendengaran.
Faktor risiko meliputi:
- Riwayat keluarga gangguan pendengaran.
- Bayi dirawat di NICU lebih dari 5 hari.
- Prematuritas.
- Berat badan lahir sangat rendah.
- Hiperbilirubinemia berat.
- Infeksi TORCH.
- Meningitis.
- Kelainan bawaan telinga.
- Kelainan genetik.
- Cedera kepala.
- Infeksi telinga berulang.
- Paparan suara keras.
- Paparan asap rokok.
Anak dengan faktor risiko tersebut memerlukan pemantauan pendengaran lebih ketat meskipun hasil skrining saat lahir normal.
Tanda-Tanda Gangguan Pendengaran Berdasarkan Usia
| Usia | Tanda yang Perlu Diwaspadai |
|---|---|
| 0–3 bulan | Tidak terkejut saat mendengar suara keras |
| 3–6 bulan | Tidak menoleh ke arah suara |
| 6–9 bulan | Tidak mengoceh (babbling) |
| 9–12 bulan | Tidak mengenali nama sendiri |
| 12–15 bulan | Belum mengucapkan “mama” atau “papa” bermakna |
| 18 bulan | Kosakata sangat sedikit |
| 2 tahun | Sulit dipahami saat berbicara |
| Anak lebih besar | TV terlalu keras, sering meminta pengulangan, prestasi sekolah menurun |
Dampak Bila Gangguan Pendengaran Tidak Terdeteksi
Gangguan pendengaran yang tidak dikenali sejak dini dapat menyebabkan:
- Keterlambatan bicara.
- Gangguan perkembangan bahasa.
- Kesulitan belajar.
- Prestasi akademik rendah.
- Kesulitan membaca.
- Gangguan interaksi sosial.
- Rendahnya rasa percaya diri.
- Masalah perilaku.
- Gangguan kesehatan mental.
Semakin lama gangguan tidak dikenali, semakin besar dampaknya terhadap perkembangan otak.
Apa yang Dilakukan Bila Hasil Skrining Tidak Normal?
Bila bayi tidak lulus skrining pertama, orang tua tidak perlu langsung panik karena penyebabnya bisa berupa cairan ketuban yang masih tersisa di telinga, vernix, atau bayi yang terlalu aktif saat pemeriksaan.
Namun, bayi harus menjalani:
- skrining ulang,
- pemeriksaan diagnostik oleh audiolog,
- evaluasi oleh dokter spesialis THT-KL anak,
- pemeriksaan mata bila diperlukan,
- serta evaluasi genetik pada kasus tertentu.
Bila gangguan pendengaran dipastikan, terapi dapat berupa alat bantu dengar, implan koklea pada kasus yang sesuai, terapi wicara, dan program intervensi dini.
Saran Praktis untuk Orang Tua
Selama bayi baru lahir
- Pastikan bayi menjalani skrining pendengaran sebelum usia 1 bulan.
- Simpan hasil pemeriksaan sebagai bagian dari buku kesehatan anak.
Selama masa bayi
- Sering ajak bayi berbicara, bernyanyi, dan membacakan buku.
- Perhatikan apakah bayi menoleh ketika dipanggil.
- Hindari paparan suara yang terlalu keras.
Saat anak bertambah besar
- Ikuti jadwal skrining pendengaran sesuai rekomendasi dokter.
- Segera periksa bila anak sering berkata “hah?”, menaikkan volume televisi, atau mengalami keterlambatan bicara.
- Obati infeksi telinga dengan tuntas dan hindari paparan asap rokok.
Tabel Ringkasan Skrining Pendengaran
| Topik | Rekomendasi |
|---|---|
| Skrining pertama | Sebelum usia 1 bulan |
| Diagnosis lengkap | Sebelum usia 3 bulan |
| Intervensi | Sebelum usia 6 bulan |
| Metode skrining | AABR dan OAE |
| Pemeriksaan anak >4 tahun | Pure Tone Audiometry |
| Kelompok risiko tinggi | NICU, prematur, TORCH, hiperbilirubinemia, riwayat keluarga |
| Tanda bahaya | Tidak menoleh terhadap suara, terlambat bicara, TV terlalu keras |
| Tujuan | Mencegah keterlambatan bahasa dan gangguan belajar |
Kesimpulan
Skrining pendengaran merupakan salah satu pemeriksaan neonatal yang paling penting karena gangguan pendengaran sering kali tidak tampak secara kasat mata pada bayi baru lahir. Program skrining universal memungkinkan gangguan dideteksi pada masa ketika plastisitas otak masih sangat tinggi, sehingga intervensi dini dapat mengoptimalkan perkembangan bahasa, komunikasi, fungsi kognitif, prestasi akademik, dan kualitas hidup anak. Orang tua, dokter anak, audiolog, dan dokter THT memiliki peran yang saling melengkapi dalam memastikan setiap anak memperoleh kesempatan terbaik untuk berkembang sesuai potensinya.
Daftar Pustaka
- American Academy of Pediatrics. Harlor AD Jr, Bower C; Committee on Practice and Ambulatory Medicine; Section on Otolaryngology–Head and Neck Surgery. Hearing Assessment in Infants, Children, and Adolescents: Recommendations Beyond Neonatal Screening. Pediatrics. 2023.
- Joint Committee on Infant Hearing. Year 2019 Position Statement: Principles and Guidelines for Early Hearing Detection and Intervention Programs. J Early Hear Detect Interv. 2019;4(2):1-44.
- Centers for Disease Control and Prevention. Early Hearing Detection and Intervention (EHDI): Hearing Screening and Follow-up. Atlanta, GA: CDC.






Leave a Reply