Pertanyaan:
Dok, anak saya didiagnosis eosinophilic esophagitis atau EoE berdasarkan gejala, pemeriksaan endoskopi, dan biopsi esofagus yang menunjukkan banyak eosinofil. Anak sering menolak makanan padat, lebih memilih makanan lunak atau cair, makan sangat lama, dan sering minum ketika makan. Kadang anak gagging atau batuk saat menelan, bahkan pernah mengatakan makanan terasa sakit atau seperti tersangkut di dada. Berat badan juga sulit naik meskipun anak masih mau makan beberapa jenis makanan. Anak pernah menjalani diet eliminasi karena dicurigai alergi makanan. Skin prick test juga menunjukkan sensitisasi terhadap beberapa makanan, tetapi belum jelas apakah makanan tersebut benar-benar menjadi pencetus EoE. Saya membaca systematic review EAACI Task Force oleh Ruano-Zaragoza dan kolega yang diterbitkan di Pediatric Allergy and Immunology tahun 2025. Review tersebut menemukan feeding difficulties pada anak dengan EoE dengan angka yang sangat bervariasi, yaitu 13% sampai 75,3%. Mengapa EoE dapat membuat anak mengalami masalah makan? Bagaimana membedakannya dari picky eating, pediatric feeding disorder atau PFD, dan ARFID? Apakah hasil tes alergi yang positif berarti makanan tersebut harus dihindari? Bagaimana menentukan makanan pencetus EoE, serta bagaimana menilai pengaruhnya terhadap nutrisi dan pertumbuhan anak?
Jawaban:
Eosinophilic esophagitis atau EoE adalah penyakit peradangan kronis pada kerongkongan atau esofagus yang berhubungan dengan respons sistem imun. Diagnosis EoE tidak cukup hanya berdasarkan hasil tes alergi. Dokter perlu melihat keseluruhan gambaran, mulai dari keluhan anak, pemeriksaan endoskopi, sampai hasil biopsi esofagus. Pada anak kecil, EoE sering tidak muncul sebagai keluhan “sulit menelan” yang jelas. Anak justru dapat menunjukkan perubahan perilaku makan karena berusaha menghindari rasa sakit atau tidak nyaman ketika makanan melewati esofagus.
Bayangkan seorang anak yang beberapa kali merasa sakit ketika menelan daging atau nasi. Lama-kelamaan anak dapat belajar bahwa makanan padat membuatnya tidak nyaman. Anak kemudian memilih bubur, sup, makanan lunak, atau minuman. Ia mungkin mengunyah sangat lama, memotong makanan menjadi sangat kecil, atau sering minum di sela-sela makan agar makanan lebih mudah turun. Dari luar, perilaku tersebut terlihat seperti anak “pilih-pilih makanan”. Padahal, bisa saja anak sedang berusaha menghindari rasa sakit.
Peradangan EoE dapat menyebabkan esofagus menjadi lebih sensitif. Bila berlangsung lama, proses peradangan juga dapat menyebabkan perubahan struktur, termasuk fibrosis, penyempitan, dan berkurangnya kemampuan esofagus untuk meregang ketika makanan lewat. Akibatnya, makanan padat dapat terasa lebih sulit ditelan. Anak dapat mengalami sensasi makanan seperti tersangkut di dada, gagging, batuk saat makan, atau membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghabiskan makanan.
Inilah sebabnya feeding difficulties pada EoE tidak selalu merupakan masalah perilaku. Anak dapat membentuk strategi makan sebagai respons terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan. Masalahnya, strategi tersebut dapat bertahan walaupun peradangan esofagus sudah mulai membaik. Anak yang sudah lama takut makanan padat mungkin tetap memilih makanan lunak karena sudah terbiasa merasa lebih aman dengan tekstur tersebut.
Systematic review EAACI Task Force oleh Ruano-Zaragoza dan kolega pada 2025 menunjukkan bahwa masalah ini memang cukup penting. Dari ribuan abstrak yang disaring, hanya 10 penelitian yang memenuhi kriteria review. Angka feeding difficulties yang dilaporkan sangat bervariasi, sekitar 13% sampai 75,3%. Rentang yang lebar ini menunjukkan bahwa definisi dan cara menilai feeding difficulties antarpenelitian belum seragam. Review tersebut menemukan 18 istilah dan enam instrumen berbeda yang digunakan untuk menggambarkan atau mengukur masalah makan.
Karena penelitian yang tersedia masih heterogen, angka 13% sampai 75,3% tidak boleh dianggap sebagai angka pasti bahwa sekian persen anak EoE pasti mengalami feeding difficulties. Sebagian besar penelitian bersifat observasional dan banyak menggunakan data rekam medis. Karena itu, review tersebut lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa masalah makan merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan pada anak dengan EoE, bukan sebagai bukti bahwa EoE selalu menyebabkan gangguan makan.
Hal penting berikutnya adalah membedakan dysphagia dengan feeding difficulty. Dysphagia berarti adanya gangguan dalam proses menelan. Feeding difficulty mempunyai arti yang lebih luas. Anak dengan EoE dapat mengalami dysphagia terlebih dahulu, kemudian mengembangkan pola makan tertentu untuk menghindari rasa sakit. Akibatnya, anak akhirnya mengalami feeding difficulty. Bahkan setelah dysphagia membaik, pola makan yang sudah terbentuk dapat tetap bertahan.
Picky eating juga tidak sama dengan pediatric feeding disorder atau PFD. Anak yang picky eater biasanya masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan pertumbuhannya tetap baik. Sebaliknya, PFD dapat menyebabkan masalah yang lebih bermakna, misalnya variasi makanan sangat terbatas, asupan nutrisi tidak mencukupi, waktu makan sangat panjang, keterampilan makan terganggu, atau aktivitas makan mengganggu kehidupan anak dan keluarga. Jadi, yang perlu dilihat bukan hanya “anak pilih-pilih makanan”, tetapi dampaknya terhadap kesehatan, nutrisi, pertumbuhan, dan fungsi sehari-hari.
ARFID atau avoidant/restrictive food intake disorder juga perlu dibedakan. Anak dengan ARFID dapat membatasi makanan karena tidak tertarik makan, sangat sensitif terhadap tekstur atau karakteristik makanan, atau takut mengalami konsekuensi tertentu seperti tersedak, muntah, atau sakit. Pada anak dengan EoE, food avoidance harus dievaluasi terlebih dahulu dalam konteks penyakit medisnya. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan psikologis hanya karena ia takut atau menolak makanan.
Bagaimana dengan tes alergi? Ini bagian yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Sebagian anak dengan EoE memang mempunyai alergi atau sensitisasi terhadap makanan. Namun, hasil skin prick test atau specific IgE yang positif menunjukkan adanya sensitisasi, bukan otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut merupakan pencetus peradangan EoE. EoE juga bukan penyakit yang dapat ditentukan hanya dengan mencari makanan yang positif pada tes IgE.
Karena itu, makanan yang positif pada skin prick test tidak otomatis harus dihilangkan dari makanan anak. Diet eliminasi pada EoE harus direncanakan secara hati-hati. Dokter perlu mempertimbangkan diagnosis, strategi terapi, usia anak, jumlah makanan yang harus dihindari, pola makan sebelumnya, dan kondisi pertumbuhan. Semakin banyak makanan yang dihilangkan, semakin besar pula kemungkinan variasi makanan anak menjadi sempit. Pada anak yang sudah mengalami feeding difficulties, pembatasan makanan yang terlalu luas justru dapat memperkuat kebiasaan menghindari makanan.
Penilaian nutrisi menjadi sangat penting. Dokter tidak cukup hanya melihat apakah berat badan anak naik atau turun. Pertumbuhan perlu dinilai secara serial melalui berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh menurut usia, dan kurva pertumbuhan. Riwayat makan juga penting, termasuk jumlah dan variasi makanan, tekstur yang dapat diterima, lama waktu makan, frekuensi minum saat makan, gagging, batuk, muntah, serta pengalaman makanan terasa tersangkut. Ahli gizi pediatrik dapat membantu memastikan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi selama terapi.
Masalah feeding juga perlu dinilai setelah EoE mendapatkan terapi. Bila peradangan sudah terkendali tetapi anak masih takut makan, hanya mau beberapa jenis makanan, makan sangat lama, atau menolak tekstur tertentu, masalahnya mungkin sudah berkembang menjadi feeding difficulty yang membutuhkan intervensi khusus. Feeding therapist atau tenaga profesional yang kompeten dalam gangguan makan anak dapat menilai keterampilan oral-motor, respons sensorik, kemampuan menerima tekstur, serta pola perilaku makan. Pendekatannya bukan sekadar menyuruh anak “jangan pilih-pilih makanan”.
Pada kondisi tertentu, pendekatan multidisiplin sangat membantu. Gastroenterolog anak berperan dalam mengendalikan peradangan EoE dan menilai kondisi esofagus. Alergolog dapat membantu bila terdapat dugaan alergi makanan yang memang relevan secara klinis. Ahli gizi memastikan diet tetap memenuhi kebutuhan pertumbuhan. Feeding therapist membantu mengatasi masalah keterampilan dan pengalaman makan. Bila terdapat kecemasan makan yang berat atau kecurigaan ARFID, tenaga kesehatan mental dapat ikut dilibatkan.
Pesan terpentingnya adalah anak dengan EoE yang sulit makan tidak boleh langsung dianggap sebagai picky eater. Bisa jadi anak sedang beradaptasi terhadap rasa sakit, sulit menelan, atau pengalaman makanan yang terasa tersangkut. Sebaliknya, tidak semua masalah makan pada anak dengan EoE otomatis disebabkan oleh peradangan esofagus. Feeding difficulties dapat merupakan hasil interaksi antara penyakit, nyeri, dysphagia, pengalaman makan, diet eliminasi, faktor sensorik, nutrisi, dan faktor psikososial. Karena itu, penanganannya perlu melihat anak secara utuh. Tujuannya bukan hanya membuat biopsi esofagus membaik, tetapi juga memastikan anak dapat makan dengan aman, cukup, bervariasi, tumbuh optimal, dan kembali memiliki pengalaman makan yang positif.







Leave a Reply