Dok, Anakku Aman Aman Saja Kulitnya, Tapi Kok dibilang Alergi, Padahal Tes Alergi Negatif

Tanya:
Dok, anak saya perempuan berusia 6 tahun. Sejak bayi ia sering gumoh dan sembelit, kemudian setelah mulai makan makanan keluarga menjadi sangat sulit makan dan berat badannya selalu berada di bawah kurva pertumbuhan. Selama dua tahun terakhir ia hampir setiap pagi mengalami hidung tersumbat dan bersin-bersin, sering mendengkur saat tidur, beberapa kali mengalami sinusitis dan infeksi telinga, tetapi tidak pernah mengalami biduran maupun eksim. Pemeriksaan tes alergi yang pernah dilakukan juga negatif. Apakah kondisi seperti ini masih mungkin disebabkan oleh alergi makanan, atau alergi makanan pasti harus disertai ruam kulit dan hasil tes alergi yang positif?

Jawab:
Ya, kondisi tersebut masih dapat berkaitan dengan alergi makanan dan tidak dapat langsung disingkirkan hanya karena tidak terdapat manifestasi kulit atau hasil pemeriksaan IgE yang negatif. Secara imunopatologis, alergi makanan merupakan spektrum penyakit yang melibatkan berbagai mekanisme imun, yaitu reaksi yang dimediasi imunoglobulin E (IgE), non-IgE, maupun mekanisme campuran. Variasi mekanisme imun ini menyebabkan organ sasaran dan manifestasi klinis sangat beragam. Oleh karena itu, presentasi klinis alergi makanan tidak selalu berupa urtikaria, angioedema, atau dermatitis atopik, tetapi dapat didominasi oleh gangguan saluran cerna, saluran napas, maupun gangguan pertumbuhan.
Pada bayi dan anak usia dini, saluran cerna merupakan organ yang paling sering terpapar antigen makanan sehingga menjadi lokasi utama terjadinya respons imun abnormal. Aktivasi limfosit T, eosinofil, sel mast, dan pelepasan berbagai sitokin proinflamasi menyebabkan inflamasi mukosa usus, peningkatan permeabilitas epitel (epithelial barrier dysfunction), serta gangguan regulasi sistem imun mukosa. Akibatnya muncul berbagai gejala seperti refluks gastroesofageal, muntah berulang, nyeri perut, konstipasi, diare, distensi abdomen, hingga gangguan makan yang berlangsung kronis. Pada alergi makanan non-IgE, gejala ini sering berkembang perlahan sehingga mudah disalahartikan sebagai gangguan pencernaan fungsional.
Inflamasi kronis pada mukosa usus juga berdampak terhadap status gizi dan pertumbuhan. Peradangan menyebabkan penurunan efisiensi absorpsi nutrien, peningkatan kebutuhan energi akibat proses inflamasi yang berlangsung terus-menerus, serta gangguan regulasi hormon yang mengendalikan rasa lapar dan kenyang. Selain itu, anak sering mengalami oral aversion akibat rasa tidak nyaman setiap kali makan sehingga berkembang menjadi perilaku picky eater. Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan berat badan sulit meningkat meskipun kebutuhan kalori tampak telah dipenuhi.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian mengenai gut–lung axis menunjukkan bahwa inflamasi pada saluran cerna dapat memengaruhi respons imun di saluran napas melalui interaksi antara mikrobiota usus, sistem imun mukosa, dan sirkulasi sitokin. Aktivasi respons imun tipe-2 dengan dominasi sitokin seperti IL-4, IL-5, dan IL-13 berkontribusi terhadap inflamasi mukosa saluran napas, meningkatkan produksi mukus, gangguan fungsi epitel, serta hiperreaktivitas jalan napas. Secara klinis, keadaan ini dapat bermanifestasi sebagai rinitis kronis, hidung tersumbat, bersin berulang, hipertrofi adenoid, sinusitis, otitis media berulang, batuk kronis, hingga asma pada anak yang rentan.
Tidak adanya manifestasi kulit bukanlah alasan untuk menyingkirkan diagnosis alergi makanan. Berbagai studi menunjukkan bahwa proporsi anak dengan manifestasi dominan saluran cerna atau saluran napas tanpa disertai dermatitis atopik cukup besar, terutama pada alergi makanan non-IgE. Hal ini disebabkan organ target ditentukan oleh mekanisme imun yang dominan, faktor genetik, maturasi sistem imun, integritas sawar epitel, komposisi mikrobiota usus, serta paparan lingkungan sejak awal kehidupan. Oleh sebab itu, spektrum klinis alergi makanan jauh lebih luas dibandingkan yang selama ini dipahami masyarakat.
Demikian pula, hasil tes IgE spesifik maupun skin prick test yang negatif tidak secara otomatis menyingkirkan kemungkinan alergi makanan. Kedua pemeriksaan tersebut mendeteksi sensitisasi yang dimediasi IgE, sedangkan berbagai bentuk alergi makanan non-IgE melibatkan mekanisme imun seluler sehingga hasil pemeriksaan dapat tetap normal. Sebaliknya, hasil tes yang positif juga tidak selalu berarti makanan tersebut merupakan penyebab gejala karena sensitisasi tidak selalu disertai reaktivitas klinis. Oleh karena itu, interpretasi hasil laboratorium harus selalu disesuaikan dengan gambaran klinis pasien.
Diagnosis banding pada anak dengan gangguan pertumbuhan, gangguan saluran cerna, dan keluhan saluran napas kronis sangat luas. Selain alergi makanan, dokter harus mempertimbangkan penyakit refluks gastroesofageal, penyakit celiac, eosinophilic gastrointestinal disorders, fibrosis kistik, defisiensi imun primer, tuberkulosis, kelainan anatomis saluran napas, maupun penyakit inflamasi kronis lainnya. Pendekatan diagnostik yang komprehensif diperlukan agar terapi diarahkan pada penyebab yang sebenarnya dan tidak terjadi overdiagnosis maupun underdiagnosis.
Sesuai konsensus internasional dari EAACI, WAO, AAAAI, dan PRACTALL, diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya didasarkan pada gejala klinis ataupun hasil pemeriksaan laboratorium. Penegakan diagnosis memerlukan integrasi antara anamnesis yang rinci, hubungan temporal antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala, pemeriksaan fisik, evaluasi terhadap diagnosis banding, serta bila terdapat indikasi dilakukan oral food challenge (OFC) secara terstandar di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman. Hingga saat ini, OFC tetap merupakan gold standard untuk membuktikan hubungan kausal antara konsumsi suatu makanan dan timbulnya manifestasi klinis, sehingga dapat mencegah pembatasan diet yang tidak perlu sekaligus memastikan tata laksana yang tepat berdasarkan kedokteran berbasis bukti.







Leave a Reply