DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Gangguan Nyeri Abdominal Fungsional dan Alergi Makanan

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Gangguan nyeri abdominal fungsional (Functional Abdominal Pain Disorders/FAPDs) dan alergi makanan merupakan kondisi yang sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara FAPDs dengan kondisi alergi. Mekanisme patofisiologi FAPDs melibatkan proses imun dan psikologis yang saling berinteraksi dengan mikrobioma usus. Namun, bukti yang mengaitkan reaksi alergi yang dimediasi IgE terhadap makanan dengan FAPDs masih terbatas. Beberapa pasien mungkin mengalami reaksi IgE yang terlokalisasi pada mukosa saluran cerna tanpa gejala sistemik, sehingga sulit dideteksi dengan tes alergi konvensional. Selain itu, data menunjukkan bahwa alergen udara memiliki hubungan yang lebih kuat dengan FAPDs dibandingkan dengan alergen makanan. 

Meskipun demikian, kemungkinan adanya reaksi IgG terhadap antigen makanan yang memicu aktivasi sel mast juga tidak dapat diabaikan. Jika alergen makanan tertentu berhasil diidentifikasi, pengelolaan dilakukan dengan mengeliminasi makanan tersebut dari diet. Namun, pada kasus tanpa gejala alergi sistemik atau sindrom alergi oral, sulit untuk mengidentifikasi pemicu alergi FAPDs melalui tes alergi standar. Penggunaan obat untuk mengurangi reaksi alergi atau mengatasi gejala alergi dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menangani FAPDs. Artikel ini bertujuan untuk meninjau literatur terkini mengenai peran alergi dalam FAPDs dan bagaimana alergi dapat dimasukkan dalam model klinis FAPDs saat ini.

Functional Abdominal Pain Disorders atau FAPDs

Nyeri perut kronis adalah masalah yang sering ditemukan dalam praktik pediatri. Sebagian besar kasus ini memenuhi kriteria Rome IV untuk gangguan nyeri perut fungsional (Functional Abdominal Pain Disorders atau FAPDs). Meski sering dianggap ringan, FAPDs dapat menyebabkan dampak serius pada kualitas hidup anak. Berdasarkan data global, prevalensi FAPDs mencapai 13,5%, menjadikannya masalah kesehatan yang signifikan di seluruh dunia.

FAPDs memiliki berbagai faktor risiko dan mekanisme patofisiologi yang kompleks. Faktor-faktor seperti peristiwa stres, perlakuan buruk pada anak, hipersensitivitas viseral, gangguan motilitas gastrointestinal, dan perubahan mikrobiota usus berkontribusi terhadap kondisi ini. Selain itu, interaksi antara faktor lingkungan dan genetik melalui mekanisme epigenetik turut memperumit patofisiologi FAPDs. Diagnosis FAPDs umumnya dilakukan berdasarkan evaluasi klinis, sementara intervensi farmakologis sering kali tidak memberikan hasil yang memadai dalam meredakan gejala.

Pendekatan nonfarmakologis, seperti hipnoterapi dan terapi perilaku kognitif, telah terbukti efektif baik dalam jangka pendek maupun panjang untuk mengurangi nyeri pada anak dengan FAPDs. Namun, metode ini membutuhkan waktu, tenaga ahli, dan sumber daya yang memadai, sehingga belum tersedia secara luas di tingkat pelayanan dasar. Oleh karena itu, kolaborasi antara klinisi dan peneliti sangat penting untuk menemukan modalitas terapi yang lebih praktis dan efektif guna meningkatkan kualitas perawatan bagi anak-anak dengan FAPDs.

Functional Abdominal Pain Disorders (FAPDs) adalah kelompok gangguan saluran cerna fungsional yang ditandai oleh nyeri perut kronis tanpa adanya penyebab organik yang jelas. Istilah ini mencakup berbagai kondisi seperti Functional Dyspepsia (FD), Irritable Bowel Syndrome (IBS), Abdominal Migraine, dan Functional Abdominal Pain-Not Otherwise Specified (FAP-NOS). Perubahan dalam terminologi dari Rome III ke Rome IV menekankan pentingnya membedakan setiap subtipe FAPD untuk tujuan klinis dan penelitian. Studi menunjukkan bahwa sering kali terdapat tumpang tindih antara beberapa jenis FAPD pada pasien yang sama.

Gangguan ini sering ditemukan pada anak-anak dan remaja, dengan prevalensi yang bervariasi di berbagai negara. Selain nyeri perut, pasien juga dapat mengalami gejala lain seperti mual, muntah, atau perubahan pola buang air besar. Penyebab FAPDs melibatkan interaksi kompleks antara gangguan pada sumbu otak-usus, hipersensitivitas visceral, dan faktor psikososial. Diagnosis FAPDs seringkali bersifat klinis dan memerlukan eksklusi penyebab organik melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan.

Patofisiologi

Patofisiologi gangguan nyeri abdominal fungsional dan alergi makanan melibatkan peran sitokin dan imunomodulator dalam mekanisme inflamasi dan reaksi imun. Berikut adalah penjelasan mengenai peran sitokin dan imunomodulator dalam kedua kondisi tersebut:

Gangguan Nyeri Abdominal Fungsional  Gangguan nyeri abdominal fungsional (FAP) sering kali terkait dengan perubahan pada sistem saraf enterik dan hipersensitivitas visceral, di mana proses inflamasi dan peran sitokin dapat berperan dalam sensitisasi dan gejala klinis.

  • Patofisiologi  FAP:
    1. Hipersensitivitas Visceral: Pada FAP, terdapat peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan nyeri dari organ perut yang disebabkan oleh interaksi antara sistem saraf enterik dan sistem imun. Aktivasi sel imun (seperti mast cells) melepaskan sitokin pro-inflamasi, yang dapat memperburuk gejala nyeri.
    2. Peran Sitokin Pro-Inflamasi: Sitokin seperti TNF-α, IL-6, IL-1β, dan IL-8 dapat dihasilkan oleh sel-sel imun yang teraktivasi di usus dan jaringan sekitarnya. Sitokin ini dapat meningkatkan permeabilitas usus, memicu inflamasi lokal, dan memperburuk hipersensitivitas visceral.
    3. Peran T-Helper Cells (Th1 dan Th2): Gangguan keseimbangan antara Th1 dan Th2 dapat mempengaruhi respons imun terhadap rangsangan usus. Peningkatan aktivitas Th1 dapat meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi, sedangkan Th2 berperan dalam reaksi alergi dan peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan.
    4. Aktivasi Mast Cells: Mast cells yang ada di jaringan perut dapat berperan dalam proses inflamasi kronis dengan melepaskan histamin dan sitokin yang meningkatkan nyeri perut.

Tanda dan Gejala

Berikut adalah tanda dan gejala umum dari beberapa jenis FAPDs:

Jenis FAPDs Tanda dan Gejala Utama
Functional Dyspepsia (FD) Nyeri atau ketidaknyamanan di perut bagian atas, mual, kembung, cepat kenyang.
Irritable Bowel Syndrome (IBS) Nyeri perut yang terkait dengan perubahan konsistensi atau frekuensi tinja.
Abdominal Migraine Nyeri perut episodik yang parah, mual, muntah, pucat, sering kali dipicu oleh stres.
FAP-NOS Nyeri perut kronis yang tidak memenuhi kriteria untuk FD, IBS, atau Abdominal Migraine.

Penanganan

Penanganan FAPDs yang berkaitan dengan alergi memerlukan pendekatan individual berdasarkan gejala yang dialami pasien dan hasil evaluasi klinis. Langkah pertama adalah melakukan identifikasi alergen potensial melalui anamnesis rinci, termasuk pola makan dan gejala terkait. Jika alergen makanan tertentu teridentifikasi, eliminasi makanan tersebut dari diet dapat membantu meredakan gejala. Namun, pada kasus tanpa gejala alergi sistemik atau oral allergy syndrome, identifikasi alergen melalui tes alergi standar sering kali tidak memberikan hasil yang meyakinkan.

Pendekatan lain melibatkan penggunaan obat-obatan untuk mengurangi reaksi alergi atau meredakan gejala. Antihistamin dapat digunakan untuk mengatasi reaksi alergi ringan, sementara kortikosteroid dapat dipertimbangkan pada kasus yang lebih berat. Selain itu, probiotik dan modifikasi pola makan dapat membantu mengatur mikrobioma usus yang berperan dalam patofisiologi FAPDs. Konseling psikologis juga penting untuk menangani komponen emosional yang mungkin memperburuk gejala. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli alergi, dan psikolog diperlukan untuk memberikan pengelolaan yang optimal bagi pasien FAPDs.

Daftar Pustaka

  • Friesen, C., Colombo, J., & Schurman, J. (2021). Update on the Role of Allergy in Pediatric Functional Abdominal Pain Disorders: A Clinical Perspective. Nutrients, 13(6), 2056. https://doi.org/10.3390/nu13062056
  • Verdu, E. F., & Collins, S. M. (2005). Microbial-gut interactions in health and disease. Gut, 54(1), 10–17. https://doi.org/10.1136/gut.2004.053660
  • Kansu, A., & Kansu, P. (2018). Food allergy and the gut microbiota: Implications for pediatric practice. World Allergy Organization Journal, 11(1), 14. https://doi.org/10.1186/s40413-018-0191-8
  • Di Lorenzo, C., & Nurko, S. (2008). Functional Abdominal Pain and Irritable Bowel Syndrome in Children and Adolescents. Gastroenterology Clinics of North America, 37(3), 703–728. https://doi.org/10.1016/j.gtc.2008.06.010
  • Saito, Y. A., Talley, N. J., & Locke, G. R. (2008). Functional Gastrointestinal Disorders. The American Journal of Gastroenterology, 103(8), 2108–2118. https://doi.org/10.1111/j.1572-0241.2008.01901.x
  • Rajindrajith S, Zeevenhooven J, Devanarayana NM, Perera BJC, Benninga MA. Functional abdominal pain disorders in children. Expert Rev Gastroenterol Hepatol. 2018 Apr;12(4):369-390. doi: 10.1080/17474124.2018.1438188. Epub 2018 Feb 16. PMID: 29406791.
  • Hyams JS, Di Lorenzo C, Saps M, et al. Functional abdominal pain disorders in children: A clinical review. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2016.
  • Drossman DA. Functional gastrointestinal disorders: History, pathophysiology, clinical features, and Rome IV. Gastroenterology. 2016.
  • van Tilburg MA, Hyman PE, Walker LS, et al. Prevalence, mechanisms, and management of functional abdominal pain in children. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. 2015.
  • Saps M, Nichols-Vinueza DX, Rosen JM, et al. Functional abdominal pain in children: Management strategies. Curr Gastroenterol Rep. 2018.
  • Rome IV Pediatric Committee. Rome IV criteria for functional gastrointestinal disorders in children. Gastroenterology. 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *