DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Epilepsi Pada Anak : Penyebab dan Penanganannya

Epilepsi adalah gangguan neurologis kronis yang ditandai oleh terjadinya kejang berulang akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Pada anak-anak, epilepsi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kejang fokal hingga kejang umum, yang dapat memengaruhi kesadaran, gerakan tubuh, atau perilaku. Penyebab epilepsi pada anak sangat bervariasi, termasuk faktor genetik, malformasi otak, infeksi, cedera kepala, dan gangguan metabolik. Selain itu, beberapa sindrom epilepsi spesifik, seperti sindrom West dan sindrom Lennox-Gastaut, lebih sering ditemukan pada populasi anak-anak.

Diagnosis epilepsi pada anak melibatkan evaluasi klinis yang cermat, riwayat kejang, dan pemeriksaan penunjang seperti elektroensefalografi (EEG) dan pencitraan otak (MRI atau CT scan). Penanganan epilepsi berfokus pada kontrol kejang, yang biasanya dilakukan melalui pemberian obat antiepilepsi (OAE). Pemilihan obat disesuaikan dengan jenis kejang dan kondisi anak. Dalam beberapa kasus yang sulit dikendalikan dengan obat, terapi tambahan seperti diet ketogenik, stimulasi saraf vagus, atau bahkan pembedahan dapat dipertimbangkan. Selain itu, dukungan psikososial dan edukasi keluarga menjadi bagian integral dari manajemen epilepsi untuk meningkatkan kualitas hidup anak.

Meskipun banyak anak dengan epilepsi dapat mencapai kontrol kejang yang baik, beberapa mungkin mengalami tantangan jangka panjang, termasuk gangguan belajar, masalah perilaku, dan stigma sosial. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang melibatkan tenaga medis, pendidik, dan keluarga sangat penting untuk mendukung perkembangan optimal anak. Penelitian terbaru terus berupaya menemukan terapi yang lebih efektif dan memahami mekanisme dasar epilepsi pada anak, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil pengobatan dan kualitas hidup mereka.

Epilepsi melibatkan kejang berulang yang dapat terjadi tanpa penyebab yang diketahui, seperti demam atau infeksi otak. Kejang demam dapat terjadi pada bayi dan anak kecil yang mengalami demam, tetapi kejang ini bukan merupakan bentuk epilepsi.

Kejang adalah ledakan aktivitas listrik yang tidak terkendali di otak. Ada banyak penyebab dan pemicu potensial, seperti:

  • Demam
  • Kadar gula darah rendah
  • Trauma kepala

Orang dengan epilepsi dapat mengalami kejang dengan atau tanpa pemicu tertentu.

Kejang demam bukanlah jenis epilepsi. Kejang ini bersifat tunggal dan dapat berkembang pada bayi atau anak kecil ketika mengalami demam tinggi, yang sering disebabkan oleh infeksi telinga, flu, atau kondisi umum lainnya. Kejang demam biasanya tidak berbahaya meskipun terlihat mengkhawatirkan. Sebagian besar anak yang mengalami kejang demam tidak mengalami komplikasi lebih lanjut.

Tabel perbedaan antara epilepsi dan kejang demam pada anak secara lengkap:

Aspek Epilepsi Kejang Demam
Definisi Gangguan neurologis kronis yang ditandai dengan kejang berulang akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh (demam) tanpa adanya gangguan neurologis yang mendasari.
Penyebab Faktor genetik, malformasi otak, infeksi otak, cedera kepala, atau gangguan metabolik. Demam tinggi (≥38°C), biasanya akibat infeksi virus atau bakteri. Tidak ada kelainan otak yang mendasari.
Usia Onset Dapat terjadi pada semua usia, termasuk bayi dan anak-anak. Umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Jarang terjadi di luar rentang usia ini.
Frekuensi Kejang Kejang berulang tanpa pemicu spesifik. Biasanya hanya terjadi selama episode demam. Kejang berulang sangat jarang dalam satu episode demam.
Durasi Kejang Durasi kejang bervariasi, dapat berlangsung lebih dari 5 menit. Biasanya berlangsung kurang dari 5 menit. Kejang demam kompleks dapat berlangsung lebih lama (>15 menit).
Jenis Kejang Bisa berupa kejang fokal, kejang umum, atau jenis lainnya. Umumnya berupa kejang umum (tonik-klonik).
Kesadaran Kesadaran dapat terganggu atau tetap utuh, tergantung jenis kejang. Kesadaran terganggu selama kejang, tetapi anak biasanya kembali normal setelah kejang selesai.
Pemeriksaan EEG Hasil EEG sering menunjukkan aktivitas listrik abnormal di otak. Hasil EEG biasanya normal, kecuali ada kondisi lain yang mendasari.
Pemeriksaan MRI/CT Dapat menunjukkan kelainan struktural pada otak (misalnya, malformasi atau lesi). Normal, kecuali ada penyebab lain yang mendasari (sangat jarang).
Pengobatan Obat antiepilepsi (OAE) seperti valproat, lamotrigin, atau levetiracetam. Tidak memerlukan pengobatan khusus untuk kejang, hanya penanganan demam (antipiretik).
Risiko Berulang Risiko kejang berulang tinggi tanpa pengobatan. Risiko berulang rendah, kecuali ada riwayat keluarga atau demam tinggi yang sering.
Prognosis Jangka Panjang Dapat memengaruhi kualitas hidup, termasuk risiko gangguan kognitif atau perilaku. Prognosis sangat baik. Tidak menyebabkan kerusakan otak atau masalah jangka panjang.
Faktor Risiko Riwayat keluarga epilepsi, cedera kepala, atau infeksi otak. Riwayat keluarga kejang demam, infeksi saluran pernapasan atas, atau demam tinggi.
Kebutuhan Pemantauan Memerlukan pemantauan jangka panjang oleh dokter spesialis saraf anak. Tidak memerlukan pemantauan khusus setelah episode selesai.

Catatan:

  • Epilepsi memerlukan penanganan medis khusus karena sifatnya kronis dan risiko komplikasi.
  • Kejang demam biasanya tidak berbahaya, tetapi konsultasi dengan dokter diperlukan jika kejang berlangsung lama atau disertai gejala lain.

Gejala Epilepsi vs Kejang Demam

Gejala Epilepsi
Epilepsi melibatkan kejang berulang. Jenis kejang yang dialami tergantung pada jenis epilepsi. Beberapa kejang bisa sangat ringan sehingga hanya terlihat seperti melamun beberapa detik.

Gejala kejang yang mungkin termasuk:

  • Kebingungan
  • Perubahan emosi atau kemampuan berpikir
  • Gerakan tersentak pada lengan dan kaki
  • Kehilangan kesadaran
  • Ketidakmampuan merespons
  • Tatapan kosong
  • Gerakan bibir berulang
  • Tangisan atau tawa yang tidak terkendali

Kejang tonik-klonik umum (sebelumnya disebut grand mal) terjadi dalam dua fase:

Fase tonik:

  • Semua otot menegang.
  • Orang tersebut mungkin mengeluarkan suara atau menangis.
  • Kehilangan kesadaran dan terjatuh.

Fase klonik:

  • Lengan dan kaki mulai tersentak cepat dan berirama.
  • Tersentakan ini melambat dan akhirnya berhenti setelah beberapa menit.

Dalam kedua fase, orang tersebut mungkin menggigit lidah atau pipinya.

Gejala Kejang Demam
Kejang demam, seperti semua kejang, dapat dikategorikan sebagai sederhana (fokal) atau kompleks (umum).

  • Kejang sederhana melibatkan gerakan atau kekakuan di satu bagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran, berlangsung hingga 2 menit, dan terjadi pada satu area tubuh saja.
  • Kejang kompleks melibatkan gangguan kesadaran, dengan atau tanpa gerakan fisik. Kejang ini dapat berlangsung beberapa detik hingga 2 menit dan bisa terjadi lebih dari sekali dalam 24 jam.

Penyebab Epilepsi vs Kejang Demam
Epilepsi memiliki banyak kemungkinan penyebab, kadang tanpa sebab yang diketahui. Kejang demam dipicu oleh demam.

Penyebab Epilepsi:

  • Faktor genetik
  • Cedera otak akibat stroke, trauma, tumor, infeksi, atau kekurangan oksigen saat lahir.

Penyebab Kejang Demam:

  • Demam tinggi (≥38°C) akibat infeksi umum seperti flu atau infeksi telinga.

Siapa yang Berisiko?
Epilepsi: Faktor risiko termasuk riwayat keluarga epilepsi, cedera otak, infeksi otak, dan kondisi neurologis lainnya.

Kejang Demam: Lebih sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, terutama dengan riwayat keluarga kejang, kekurangan zat besi, atau zinc.

Kapan Harus ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis jika:

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
  • Kejang berulang.
  • Ada kesulitan bernapas, cedera, atau kehilangan kesadaran.

Pengobatan dan Pencegahan
Epilepsi diobati dengan obat antikejang, sementara kejang demam sering tidak memerlukan pengobatan kecuali sering terjadi. Pencegahan cedera otak dan infeksi dapat membantu mengurangi risiko kejang.

Epilepsi dan kejang demam memiliki perbedaan signifikan, baik dari segi penyebab maupun penanganannya.Kejang

 

Daftar Pustaka

  1. Fisher, R. S., et al. (2022). Epileptic Seizures and Epilepsy: Definitions Proposed by the International League Against Epilepsy (ILAE). Epilepsia, 63(5), 1020-1025.
  2. Wirrell, E. C., et al. (2022). The Role of Genetics in Epilepsy Diagnosis and Management. The Lancet Neurology, 21(1), 29-39.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Penatalaksanaan Epilepsi pada Anak. Jakarta: Kemenkes RI.
  4. Berg, A. T., & Millichap, J. J. (2021). The Modern Classification of Epileptic Syndromes in Childhood: Advances in Diagnosis and Treatment. JAMA Pediatrics, 175(9), 903-910.
  5. Wyllie, E., Cascino, G. D., Gidal, B. E., & Goodkin, H. P. (2021). Wyllie’s Treatment of Epilepsy: Principles and Practice (7th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *