- KONSTIPASI KRONIS, PEDIATRIC FEEDING DIFFICULTY, DAN DUGAAN GANGGUAN PERTUMBUHAN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH: LAPORAN KASUS DENGAN EVALUASI KEMUNGKINAN ALERGI MAKANAN NON-IgE
- Dr Sandiaz Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Abstrak
- Latar belakang: Kesulitan makan (feeding difficulties), konstipasi kronis, dan pertumbuhan yang diduga tidak optimal merupakan masalah klinis yang sering berhubungan dan membutuhkan evaluasi multidimensional. Pada sebagian anak, alergi makanan non-imunoglobulin E (non-IgE-mediated food allergy) dapat menjadi salah satu diagnosis banding, tetapi manifestasi gastrointestinal yang tidak spesifik berisiko menimbulkan diagnosis berlebihan apabila tidak dievaluasi secara sistematis.
- Presentasi kasus: Seorang anak berusia 4 tahun dengan berat badan 12 kg dilaporkan mengalami kesulitan makan, perilaku memilih makanan (picky eating), serta buang air besar yang tidak berlangsung setiap hari. Feses digambarkan keras, berbentuk bulatan kecil menyerupai kotoran kambing, berbau tajam, dan berwarna hitam gelap. Manifestasi lain yang dilaporkan meliputi kulit kering, kebiasaan bernapas melalui mulut, mendengkur ringan, aktivitas tinggi, disregulasi emosi, dan perilaku agresif. Setelah intervensi yang dilaporkan melibatkan evaluasi makanan dan oral food challenge (OFC), nafsu makan membaik dalam 1–3 minggu dan berat badan dilaporkan meningkat sekitar 200 gram per minggu.
- Pembahasan: Kombinasi konstipasi, kesulitan makan, dan dugaan gangguan pertumbuhan memerlukan evaluasi status gizi, kecukupan asupan, konstipasi fungsional, keterampilan makan, faktor psikososial, dan kemungkinan penyakit organik. Alergi protein susu sapi dapat dipertimbangkan pada kasus terpilih, khususnya bila konstipasi refrakter terhadap tata laksana standar dan terdapat riwayat klinis yang mendukung. Namun, perubahan nafsu makan dan berat badan setelah intervensi tidak cukup untuk membuktikan hubungan kausal atau mengonfirmasi alergi non-IgE tanpa dokumentasi eliminasi, reintroduksi, dan/atau OFC yang dapat diinterpretasikan secara klinis.
- Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya pendekatan diagnostik terstruktur pada anak dengan kesulitan makan, konstipasi, dan kemungkinan gangguan pertumbuhan. Konfirmasi alergi makanan memerlukan korelasi klinis dan evaluasi pajanan makanan yang tepat, sementara setiap manifestasi di luar saluran cerna harus dinilai berdasarkan diagnosis bandingnya masing-masing.
- Kata kunci: anak prasekolah; konstipasi kronis; kesulitan makan; picky eating; gangguan pertumbuhan; alergi makanan non-IgE; oral food challenge.
Kesulitan makan pada anak merupakan keluhan klinis dengan etiologi multifaktorial. Manifestasinya dapat berupa penolakan makanan, variasi makanan yang sangat terbatas, asupan energi yang tidak memadai, durasi makan yang berkepanjangan, atau kesulitan mengunyah dan menelan. Apabila berlangsung menetap dan mengganggu pemenuhan kebutuhan nutrisi, kondisi tersebut perlu dievaluasi dalam kerangka pediatric feeding disorder (PFD), yaitu gangguan asupan oral yang tidak sesuai dengan usia dan berkaitan dengan disfungsi satu atau lebih domain medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial [1].
Konstipasi juga dapat berkontribusi terhadap kesulitan makan. Retensi feses, nyeri saat defekasi, distensi abdomen, dan rasa tidak nyaman dapat menurunkan nafsu makan serta memperkuat perilaku menolak makanan. Sebaliknya, asupan yang rendah, pola makan terbatas, dan kebiasaan menahan defekasi dapat mempertahankan siklus konstipasi. Oleh karena itu, hubungan antara kesulitan makan dan konstipasi tidak selalu menunjukkan adanya penyakit alergi.
Alergi makanan non-IgE merupakan salah satu kemungkinan diagnosis banding pada anak dengan manifestasi gastrointestinal tertentu. Akan tetapi, gejala seperti konstipasi, perubahan karakteristik feses, penolakan makanan, atau gangguan pertumbuhan tidak bersifat spesifik untuk alergi. European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) menekankan bahwa diagnosis alergi protein susu sapi perlu didasarkan pada riwayat klinis yang sesuai dan, jika terindikasi, diet eliminasi diagnostik jangka pendek yang diikuti reintroduksi atau OFC [2].
Laporan kasus ini mendeskripsikan seorang anak prasekolah dengan konstipasi, kesulitan makan, berat badan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut, dan beberapa manifestasi ekstra-gastrointestinal. Tujuannya adalah membahas pendekatan diagnostik dan kemungkinan kontribusi alergi makanan tanpa mengasumsikan hubungan kausal yang belum terbukti.
Presentasi kasus
- Informasi pasien dan keluhan utama
- Seorang anak berusia 4 tahun dengan berat badan yang dilaporkan sebesar 12 kg dibawa untuk evaluasi karena tampak kurus, mengalami kesulitan makan, dan menunjukkan perilaku memilih makanan. Informasi mengenai jenis kelamin, tinggi badan, riwayat berat badan serial, usia gestasi, riwayat kelahiran, pola pemberian makan, riwayat penyakit sebelumnya, dan riwayat keluarga dengan penyakit atopik belum tersedia dalam data kasus yang disampaikan.
- Manifestasi gastrointestinal
- Anak dilaporkan tidak selalu buang air besar setiap hari. Feses digambarkan keras dan berbentuk bulatan kecil menyerupai kotoran kambing, disertai bau tajam dan warna hitam gelap. Gambaran feses keras mendukung kemungkinan konstipasi, tetapi penetapan diagnosis konstipasi fungsional memerlukan informasi tambahan mengenai frekuensi defekasi, durasi keluhan, nyeri saat buang air besar, perilaku menahan feses, episode inkontinensia fekal, serta adanya massa feses pada pemeriksaan klinis.
- Warna feses yang dilaporkan hitam gelap merupakan temuan yang memerlukan klarifikasi. Perlu dibedakan antara feses berwarna cokelat sangat gelap akibat makanan atau suplementasi zat besi dengan melena, yaitu feses hitam seperti ter akibat perdarahan saluran cerna. Apabila feses benar-benar hitam pekat, lengket seperti ter, atau disertai pucat, lemas, nyeri abdomen, maupun muntah darah, evaluasi medis segera diperlukan.
- Manifestasi di luar saluran cerna
- Keluhan tambahan meliputi kulit kering, kebiasaan bernapas melalui mulut, mendengkur ringan, aktivitas tinggi, emosi yang mudah meningkat, dan perilaku agresif. Data mengenai durasi gejala, pemeriksaan kulit, gejala rinitis, pola tidur, frekuensi mendengkur, gangguan fungsi pada siang hari, serta evaluasi perkembangan belum tersedia.
- Manifestasi tersebut perlu diperlakukan sebagai temuan klinis yang memerlukan penilaian tersendiri. Kulit kering dapat berkaitan dengan dermatitis atopik atau faktor nonalergi. Napas melalui mulut dan mendengkur dapat berhubungan dengan obstruksi hidung, pembesaran adenoid, atau gangguan pernapasan saat tidur. Aktivitas tinggi dan disregulasi emosi juga dapat dipengaruhi oleh tidur yang tidak berkualitas, asupan nutrisi, faktor perkembangan, dan lingkungan. Hubungan kausal antara seluruh manifestasi ini dan alergi makanan belum dapat disimpulkan dari informasi yang tersedia.
- Evaluasi status gizi dan pertumbuhan
- Berat badan 12 kg pada usia 4 tahun memerlukan evaluasi antropometri lebih lanjut, tetapi angka berat badan tunggal tidak cukup untuk menetapkan derajat malnutrisi atau gangguan pertumbuhan. Penilaian perlu mempertimbangkan jenis kelamin, usia dalam bulan, tinggi badan, serta riwayat pengukuran berat dan tinggi badan sebelumnya.
- Antropometri sebaiknya diplot pada standar pertumbuhan WHO yang sesuai usia, dengan mempertimbangkan berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan indeks massa tubuh menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan sesuai kelompok usia [3]. Pengukuran serial diperlukan untuk menilai kecepatan pertumbuhan dan apakah anak mengalami penurunan lintasan pertumbuhan.
- Evaluasi nutrisi juga perlu mencakup riwayat makan 24 jam atau catatan makan beberapa hari, volume susu dan minuman, variasi makanan, asupan energi dan protein, sumber zat besi, serta kemungkinan defisiensi mikronutrien. Jika asupan sangat terbatas atau terdapat gangguan pertumbuhan yang terverifikasi, pemeriksaan laboratorium dipilih berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, bukan dilakukan sebagai panel rutin tanpa indikasi.
- Diagnosis banding
- Beberapa diagnosis perlu dipertimbangkan secara paralel.
- Pertama, konstipasi fungsional. Kondisi ini merupakan penyebab umum konstipasi pada anak. Feses keras dapat menyebabkan nyeri, yang kemudian memicu perilaku menahan defekasi dan memperburuk retensi feses. Riwayat klinis dan pemeriksaan fisik menjadi dasar evaluasi; pemeriksaan tambahan dipertimbangkan apabila ditemukan tanda bahaya atau perjalanan penyakit yang tidak sesuai dengan konstipasi fungsional.
- Kedua, pediatric feeding disorder atau kesulitan makan bermakna secara klinis. Perilaku memilih makanan tidak otomatis memenuhi kriteria PFD. Evaluasi harus menentukan apakah terdapat gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia serta dampaknya pada status nutrisi, keterampilan makan, fungsi medis, atau partisipasi sosial [1].
- Ketiga, asupan energi yang tidak mencukupi dan gangguan pertumbuhan. Kesulitan makan dapat mengakibatkan defisit energi, tetapi gangguan pertumbuhan juga dapat disebabkan oleh penyakit kronis, gangguan absorpsi, peningkatan kebutuhan metabolik, atau kondisi lain. Penilaian harus mengikuti temuan klinis dan lintasan pertumbuhan.
- Keempat, alergi protein susu sapi atau alergi makanan non-IgE. Kemungkinan ini dapat dipertimbangkan jika riwayat klinis menunjukkan hubungan yang masuk akal antara konsumsi makanan tertentu dan gejala. Namun, konstipasi atau perubahan karakteristik feses saja tidak cukup untuk mendiagnosis alergi. Menurut ESPGHAN, alergi protein susu sapi sering mengalami diagnosis berlebihan karena gejalanya tumpang tindih dengan gangguan gastrointestinal fungsional [2].
- Kelima, penyebab organik lain. Apabila terdapat tanda bahaya, konstipasi persisten, atau gangguan pertumbuhan yang terverifikasi, perlu dipertimbangkan diagnosis lain berdasarkan konteks klinis, termasuk penyakit endokrin, gangguan metabolik, penyakit saluran cerna, atau kelainan anatomis. Pemeriksaan harus diarahkan oleh temuan, bukan mengasumsikan seluruh keluhan berasal dari alergi.
- Evaluasi kemungkinan alergi makanan non-IgE
- Alergi makanan non-IgE melibatkan respons imun terhadap protein makanan yang manifestasinya tidak terutama diperantarai oleh antibodi IgE spesifik. Diagnosis didasarkan pada kesesuaian riwayat klinis, pola waktu munculnya gejala, hubungan dengan pajanan makanan, respons terhadap eliminasi yang terarah, dan kekambuhan gejala setelah reintroduksi yang sesuai.
- Dalam kasus ini, data yang tersedia belum menjelaskan jenis makanan yang dicurigai, pola konsumsi sebelum intervensi, durasi eliminasi, definisi perbaikan gejala, urutan reintroduksi, atau kriteria respons positif pada OFC. Karena itu, status diagnosis alergi makanan non-IgE masih harus dipandang sebagai dugaan klinis, bukan diagnosis yang telah terkonfirmasi.
- Untuk dugaan alergi protein susu sapi, ESPGHAN merekomendasikan diet eliminasi diagnostik selama 2–4 minggu yang diikuti pengenalan kembali protein susu atau OFC sesuai indikasi dan profil risiko [2]. Perbaikan selama eliminasi saja tidak cukup, karena gejala dapat membaik secara spontan, akibat perubahan asupan, atau karena intervensi lain. Reintroduksi membantu menilai apakah gejala yang relevan benar-benar berulang ketika makanan dikonsumsi kembali.
- OFC harus dilakukan dengan metode dan tingkat pengawasan yang sesuai dengan riwayat reaksi serta risiko pasien. Pada dugaan alergi IgE, reaksi berat sebelumnya, atau kondisi seperti food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), pajanan ulang tidak boleh dilakukan secara mandiri tanpa arahan medis. Pemeriksaan IgE spesifik yang positif, bila dilakukan, menunjukkan sensitisasi dan tidak dengan sendirinya membuktikan alergi klinis; sebaliknya, hasil negatif tidak menyingkirkan seluruh bentuk alergi non-IgE.
- Intervensi dan luaran klinis
- Menurut informasi yang tersedia, intervensi yang dilakukan melibatkan evaluasi makanan dan OFC. Dalam 1–3 minggu setelah intervensi, nafsu makan dilaporkan membaik dan berat badan meningkat sekitar 200 gram per minggu. Perbaikan tersebut merupakan observasi klinis yang relevan untuk dicatat, tetapi metode penimbangan, berat badan awal dan akhir yang terukur, tanggal pengukuran, perubahan pola makan, tata laksana konstipasi, serta hasil pajanan ulang belum terdokumentasi secara lengkap.
- Oleh sebab itu, hasil tersebut hanya dapat ditafsirkan sebagai hubungan temporal antara intervensi dan perubahan klinis. Hasil ini belum membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama kesulitan makan atau gangguan pertumbuhan. Kenaikan berat badan dalam periode singkat dapat dipengaruhi oleh peningkatan asupan energi, perubahan hidrasi, perubahan isi saluran cerna, dan faktor lain.
- Pelaporan luaran yang lebih kuat memerlukan pengukuran berat badan terstandar, catatan asupan, frekuensi dan konsistensi feses, gejala sebelum dan sesudah eliminasi, serta dokumentasi respons terhadap reintroduksi. Perubahan gejala kulit, pernapasan, tidur, dan perilaku sebaiknya dicatat sebagai luaran terpisah, bukan digabungkan menjadi satu indikator respons alergi.
- Pembahasan
- Kasus ini menggambarkan kompleksitas evaluasi anak dengan kombinasi konstipasi, kesulitan makan, dan dugaan gangguan pertumbuhan. Ketiga masalah tersebut dapat saling memperkuat, tetapi tidak selalu memiliki satu penyebab yang sama. Konstipasi dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengurangi minat makan, sementara pola makan yang terbatas dapat memperburuk kecukupan energi dan komposisi diet.
- Kerangka pediatric feeding disorder membantu menghindari reduksi masalah makan menjadi sekadar perilaku pilih-pilih makanan. Penilaian perlu meliputi empat domain: medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial [1]. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi masalah oral-motor, kesulitan sensorik, interaksi saat makan, dan faktor medis yang mungkin membutuhkan intervensi berbeda.
- Alergi protein susu sapi dapat berperan pada sebagian anak dengan gejala gastrointestinal tertentu, termasuk sebagian kasus konstipasi yang tidak merespons tata laksana standar. Namun, ESPGHAN menekankan bahwa konstipasi pada anak jauh lebih sering bersifat fungsional dan alergi protein susu sapi bukan penyebab yang dapat diasumsikan pada setiap kasus [2]. Oleh karena itu, evaluasi alergi sebaiknya dilakukan pada pasien terpilih dengan indikasi klinis, bukan berdasarkan satu gejala atau perubahan feses semata.
- Perbaikan nafsu makan dan kenaikan berat badan setelah intervensi merupakan sinyal klinis yang layak ditindaklanjuti. Meskipun demikian, laporan satu kasus tidak dapat membuktikan efektivitas intervensi secara umum ataupun menetapkan hubungan kausal. Interpretasi akan lebih kuat apabila tersedia urutan waktu yang rinci, dokumentasi eliminasi dan reintroduksi, pengukuran objektif, serta evaluasi alternatif penyebab gejala.
- Manifestasi ekstra-gastrointestinal juga memerlukan kehati-hatian. Kulit kering, napas melalui mulut, mendengkur, aktivitas tinggi, dan perubahan emosi dapat terjadi bersamaan, tetapi koeksistensi tidak membuktikan bahwa seluruhnya disebabkan oleh alergi makanan. Pemeriksaan kulit, saluran napas atas, kualitas tidur, dan perkembangan anak perlu dilakukan berdasarkan indikasi masing-masing.
- Keterbatasan utama laporan ini adalah tidak tersedianya data antropometri lengkap, riwayat klinis terstruktur, hasil pemeriksaan fisik, rincian protokol OFC, identitas makanan yang diuji, dokumentasi eliminasi dan reintroduksi, serta pengukuran objektif luaran sebelum dan sesudah intervensi. Keterbatasan tersebut menghalangi penetapan diagnosis alergi non-IgE secara definitif dan membatasi inferensi kausal.
- Implikasi klinis dan penatalaksanaan
- Penatalaksanaan harus dimulai dengan memastikan keselamatan pasien, menilai status pertumbuhan, mengidentifikasi penyebab konstipasi, dan menentukan tingkat keparahan kesulitan makan. Bila konstipasi fungsional terdiagnosis, tata laksana dilakukan sesuai pedoman pediatri, termasuk penanganan retensi feses bila ada, pembiasaan defekasi, dan penggunaan obat sesuai penilaian klinis. Asupan cairan, serat, dan energi perlu disesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak.
- Jika ditemukan gangguan pertumbuhan atau asupan yang tidak memadai, dukungan nutrisi perlu diprioritaskan. Diet eliminasi luas tanpa indikasi dapat mengurangi variasi makanan dan meningkatkan risiko kekurangan energi, protein, serta mikronutrien. Eliminasi makanan sebaiknya spesifik, dibatasi waktunya untuk tujuan diagnostik, dan dievaluasi melalui reintroduksi atau OFC sesuai indikasi klinis.
- Evaluasi alergi perlu dilakukan secara terarah apabila terdapat riwayat yang mendukung. Sementara itu, napas melalui mulut dan mendengkur yang menetap memerlukan penilaian saluran napas atas dan kemungkinan gangguan tidur. Perubahan perilaku sebaiknya dievaluasi dengan mempertimbangkan kualitas tidur, status nutrisi, perkembangan, dan faktor lingkungan.
- Feses hitam pekat seperti ter harus diklarifikasi dan tidak boleh langsung dianggap sebagai manifestasi alergi. Jika dicurigai melena, khususnya bila disertai pucat, lemas, nyeri perut, atau muntah darah, anak memerlukan evaluasi medis segera.
- Kesimpulan
- Pada anak usia 4 tahun dengan berat badan yang dilaporkan 12 kg, kesulitan makan, konstipasi dengan feses keras, dan beberapa manifestasi ekstra-gastrointestinal, evaluasi harus dilakukan secara multidimensional. Perbaikan nafsu makan dalam 1–3 minggu dan kenaikan berat badan sekitar 200 gram per minggu setelah intervensi merupakan luaran observasional yang penting, tetapi belum cukup untuk memastikan alergi makanan non-IgE sebagai penyebab gejala.
- Diagnosis alergi memerlukan riwayat klinis yang sesuai serta evaluasi eliminasi dan reintroduksi atau OFC yang terdokumentasi dan diinterpretasikan secara tepat. Status pertumbuhan harus ditetapkan melalui antropometri serial, sedangkan konstipasi, kesulitan makan, gejala pernapasan, gangguan tidur, dan perubahan perilaku perlu dievaluasi berdasarkan diagnosis banding masing-masing. Pelaporan yang transparan mengenai data yang tersedia dan keterbatasannya merupakan syarat penting bagi validitas ilmiah laporan kasus.
- Pernyataan etika dan kelengkapan pelaporan
- Sebelum naskah diajukan untuk publikasi, persetujuan orang tua atau wali untuk publikasi informasi klinis harus diperoleh sesuai ketentuan institusi dan jurnal. Identitas pasien perlu dilindungi. Informasi mengenai pemeriksaan, intervensi, tindak lanjut, dan perspektif keluarga harus dilengkapi berdasarkan dokumentasi klinis yang benar-benar tersedia, sesuai prinsip CARE untuk pelaporan kasus [4].
Daftar pustaka
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019;68(1):124–129. doi:10.1097/MPG.0000000000002188.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN Position Paper on the Diagnosis, Management, and Prevention of Cow’s Milk Allergy. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2024;78(2):386–413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.
- World Health Organization. WHO Child Growth Standards: Length/Height-for-Age, Weight-for-Age, Weight-for-Length, Weight-for-Height and Body Mass Index-for-Age. Geneva: World Health Organization. Tersedia di: https://www.who.int/tools/child-growth-standards/standards.
- Gagnier JJ, Kienle G, Altman DG, Moher D, Sox H, Riley D; CARE Group. The CARE Guidelines: Consensus-Based Clinical Case Reporting Guideline Development. Global Advances in Health and Medicine. 2013;2(5):38–43. doi:10.7453/gahmj.2013.008.







Leave a Reply