- ANAK SULIT MAKAN: BENARKAH ADA HUBUNGANNYA DENGAN ALERGI MAKANAN?
- Review Jurnal Ilmiah Populer: Kesulitan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Saluran Cerna Non-IgE
- dr Widodo Judarwanto pediatrician, Sandiaz Yudhasmara
Pendahuluan
- Kesulitan makan pada anak sering dianggap sebagai masalah perilaku, kebiasaan, atau fase perkembangan yang akan membaik dengan sendirinya. Anak menolak makanan, membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan makanan, memilih tekstur tertentu, atau mengalami muntah ketika makan. Namun, pada sebagian anak, kesulitan makan dapat muncul bersamaan dengan gangguan saluran cerna, termasuk alergi makanan.
- Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada tahun 2024 meneliti masalah ini pada anak dengan dugaan alergi makanan saluran cerna yang diperantarai mekanisme non-IgE. Penelitian tersebut menemukan bahwa kesulitan makan merupakan keluhan yang cukup sering dilaporkan. Temuan ini penting karena membantu tenaga kesehatan dan orang tua melihat kesulitan makan secara lebih menyeluruh, bukan semata-mata sebagai perilaku anak.
-
- Meski demikian, hubungan antara alergi makanan dan kesulitan makan perlu dipahami secara hati-hati. Tidak semua anak yang sulit makan mengalami alergi, dan tidak semua gangguan pencernaan pada anak disebabkan oleh makanan tertentu.
- Apa yang diteliti?
- Penelitian berjudul Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem dilakukan oleh Chebar-Lozinsky dan kolega di Great Ormond Street Hospital for Children, London, Inggris.
- Penelitian ini bertujuan menilai seberapa sering kesulitan makan ditemukan pada anak yang menjalani evaluasi untuk dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE, serta mengidentifikasi gejala yang berkaitan dengan masalah tersebut.
- Alergi makanan non-IgE merupakan jenis alergi yang mekanisme reaksinya tidak terutama diperantarai antibodi imunoglobulin E (IgE). Gejalanya dapat muncul lebih lambat setelah konsumsi makanan dan bisa berupa gangguan pencernaan. Diagnosisnya memerlukan penilaian klinis yang tepat karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit lain.
- Hasil penelitian: lebih dari separuh anak mengalami kesulitan makan
- Dari 131 anak yang direkrut, sebanyak 114 orang tua menyelesaikan kuesioner mengenai kesulitan makan. Sebanyak 61 anak atau 53,5% dilaporkan mengalami setidaknya satu masalah makan.
Tiga masalah yang paling sering dilaporkan adalah:
| Jenis kesulitan makan | Proporsi yang dilaporkan |
|---|---|
| Sering menolak makanan | 26,9% |
| Waktu makan berlangsung lama | 26,7% |
| Tersedak atau mengalami refleks muntah (gagging) saat menghadapi tekstur makanan | 26,5% |
- Di antara 61 anak yang mengalami kesulitan makan, 40 anak mempunyai sedikitnya dua jenis kesulitan. Delapan anak mengalami empat jenis kesulitan atau lebih.
- Angka ini menunjukkan bahwa masalah makan pada sebagian anak tidak selalu berupa penolakan makanan saja. Kesulitan dapat melibatkan beberapa aspek sekaligus, mulai dari penerimaan makanan, durasi makan, hingga kemampuan menerima tekstur tertentu.
- Penting: angka 53,5% berasal dari kelompok anak yang sedang dievaluasi di rumah sakit rujukan karena dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai prevalensi kesulitan makan pada seluruh anak atau seluruh anak dengan alergi makanan.
- Mengapa sembelit dan muntah perlu diperhatikan?
- Penelitian menemukan bahwa kesulitan makan lebih sering dilaporkan pada anak yang mengalami sembelit dan muntah.
- Sembelit: ditemukan pada 60,7% anak dengan kesulitan makan, dibandingkan 35,8% pada anak tanpa kesulitan makan.
- Muntah: ditemukan pada 63,9% anak dengan kesulitan makan, dibandingkan 41,5% pada anak tanpa kesulitan makan.
- Perbedaan tersebut bermakna secara statistik dalam penelitian ini. Namun, hasil tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa sembelit atau muntah pasti disebabkan oleh alergi makanan atau menjadi penyebab langsung kesulitan makan.
- Secara klinis, ada kemungkinan pengalaman makan yang berulang kali disertai nyeri perut, muntah, atau rasa tidak nyaman membuat anak mengantisipasi pengalaman yang tidak menyenangkan. Anak kemudian dapat menolak makanan, makan lebih lambat, atau membatasi jenis makanan yang diterimanya. Mekanisme ini masuk akal, tetapi penelitian observasional tersebut tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
- Sembelit dan muntah juga memiliki banyak penyebab lain. Karena itu, keduanya perlu dievaluasi berdasarkan riwayat, pemeriksaan klinis, pola pertumbuhan, serta gejala penyerta.
- Penelitian menemukan bahwa kesulitan makan lebih sering dilaporkan pada anak yang mengalami sembelit dan muntah.
- Apakah kesulitan makan memengaruhi pertumbuhan?
- Penelitian menemukan bahwa anak dengan kesulitan makan memiliki skor tinggi badan menurut umur yang lebih rendah secara statistik (height-for-age z-score, p=0,049). Namun, tidak ditemukan perbedaan bermakna pada skor berat badan menurut umur, indeks massa tubuh menurut umur, maupun berat badan menurut tinggi badan.
- Temuan ini memberikan sinyal bahwa masalah makan perlu diperhatikan dalam pemantauan pertumbuhan. Akan tetapi, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa kesulitan makan atau alergi merupakan penyebab langsung pertumbuhan yang lebih rendah.
- Dalam praktik, penilaian pertumbuhan sebaiknya dilakukan melalui pengukuran berat badan dan tinggi atau panjang badan secara berkala, kemudian diplot pada kurva pertumbuhan yang sesuai. Satu hasil pengukuran saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan pertumbuhan.
- Bagaimana memahami hasil ini dalam praktik sehari-hari?
- Ketika anak sulit makan, langkah pertama bukan langsung menghilangkan berbagai jenis makanan dari menu. Orang tua dan tenaga kesehatan perlu mencari kemungkinan penyebabnya secara sistematis.
- Penilaian dapat mencakup:
-
- Riwayat makan: makanan yang ditolak, tekstur yang diterima, durasi makan, serta pola makan sehari-hari.
- Gejala saluran cerna: sembelit, muntah, diare, nyeri perut, atau keluhan lain yang muncul berulang.
- Pertumbuhan dan kecukupan nutrisi: perubahan berat badan, tinggi badan, variasi makanan, dan risiko kekurangan zat gizi.
- Kemampuan makan: keterampilan mengunyah dan menelan, sensitivitas terhadap tekstur, serta kemungkinan gangguan keterampilan makan.
- Evaluasi alergi bila ada indikasi: hubungan waktu antara konsumsi makanan dan gejala, pola reaksi yang berulang, serta pemeriksaan terarah sesuai dugaan klinis.
- Jika alergi makanan dicurigai, eliminasi makanan sebaiknya dilakukan secara terencana dengan pengawasan tenaga kesehatan, terutama jika banyak makanan akan dihindari atau anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Pada keadaan yang sesuai, pengenalan kembali makanan atau oral food challenge (OFC) di bawah pengawasan medis dapat membantu memastikan diagnosis. Pemeriksaan IgE saja tidak dapat menegakkan atau menyingkirkan seluruh jenis alergi non-IgE.
- Kekuatan dan keterbatasan penelitian
- Penelitian ini memberikan gambaran klinis yang berguna karena menilai beberapa bentuk kesulitan makan pada kelompok anak yang sedang dievaluasi untuk dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Hasilnya dapat meningkatkan kewaspadaan tenaga kesehatan terhadap masalah makan yang mungkin tidak terungkap jika konsultasi hanya berfokus pada gejala pencernaan.
- Namun, terdapat keterbatasan penting. Penelitian dilakukan di rumah sakit rujukan sehingga hasilnya belum tentu mewakili populasi umum. Data kesulitan makan berasal dari laporan orang tua menggunakan kuesioner yang belum tervalidasi. Penelitian ini juga bersifat observasional, sehingga tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara alergi, gejala pencernaan, dan kesulitan makan.
- Selain itu, kelompok yang diteliti merupakan anak dengan dugaan alergi, bukan bukti bahwa setiap anak telah dipastikan mengalami alergi melalui uji tantangan makanan. Oleh sebab itu, hasilnya tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa kesulitan makan merupakan tanda pasti alergi makanan.
- Kesimpulan
- Kesulitan makan pada anak dapat terjadi bersamaan dengan dugaan alergi makanan saluran cerna non-IgE. Dalam penelitian ini, lebih dari separuh anak yang dievaluasi dilaporkan mengalami kesulitan makan, dan masalah tersebut lebih sering ditemukan pada anak dengan sembelit atau muntah. Anak dengan kesulitan makan juga memiliki skor tinggi badan menurut umur yang lebih rendah, meskipun tidak ditemukan perbedaan bermakna pada beberapa indikator antropometri lainnya.
Pesan utamanya adalah anak yang sulit makan perlu dinilai secara menyeluruh, bukan langsung dianggap sekadar pemilih makanan atau langsung didiagnosis alergi. Gangguan pencernaan, keterampilan makan, kecukupan nutrisi, perkembangan, dan kemungkinan alergi perlu dipertimbangkan secara proporsional. Tujuan evaluasi bukan menghindari sebanyak mungkin makanan, melainkan menemukan masalah yang benar-benar ada dan memberikan penanganan yang sesuai.
- Referensi utama
- Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, et al. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. Published May 22, 2024. https://doi.org/10.3390/nu16111563







Leave a Reply