- KESULITAN MAKAN DAN GANGGUAN PERTUMBUHAN PADA ANAK: TINJAUAN ILMIAH TENTANG PEDIATRIC FEEDING DISORDER DAN ALERGI MAKANAN NON-IgE
Tinjauan literatur berdasarkan publikasi Clinical & Experimental Allergy tahun 2026 dan pedoman klinis terkait
abstrak
Kesulitan makan (feeding difficulties) dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat merupakan masalah klinis penting pada populasi pediatri karena dapat berdampak terhadap kecukupan nutrisi, pertumbuhan linear, perkembangan, dan kualitas hidup anak. Kesulitan makan memiliki etiologi multifaktorial, meliputi penyakit medis, gangguan keterampilan makan, faktor psikososial, serta konsekuensi nutrisi. Alergi makanan non-imunoglobulin E (non-IgE) merupakan salah satu kemungkinan kondisi medis yang perlu dipertimbangkan pada anak dengan manifestasi klinis yang sesuai. Tinjauan sistematis Tomlin dan kolega, diterbitkan dalam Clinical & Experimental Allergy pada 2026, melaporkan prevalensi kesulitan makan sebesar 13,6%–86,2% pada penelitian anak dengan alergi makanan dan 22%–59,3% pada penelitian yang secara khusus mengidentifikasi alergi non-IgE. Variasi hasil yang luas, heterogenitas definisi, serta keterbatasan instrumen penilaian menghambat generalisasi temuan. Artikel ini membahas hubungan kesulitan makan dengan gangguan pertumbuhan, mekanisme potensial pada penyakit saluran cerna, pendekatan diagnostik, dan prinsip penatalaksanaan berbasis bukti. Kesimpulannya, kesulitan makan yang disertai pertumbuhan tidak optimal memerlukan evaluasi sistematis, bukan sekadar intervensi perilaku atau pemberian suplemen. Alergi makanan perlu dipertimbangkan secara selektif dan dikonfirmasi melalui pendekatan diagnostik yang sesuai.
Kata kunci: feeding difficulties, pediatric feeding disorder, faltering weight, alergi makanan non-IgE, pertumbuhan anak, EoE.
1. Pendahuluan
Kesulitan makan pada anak merupakan keluhan yang sering ditemukan dalam praktik pediatri, tetapi definisi dan penyebabnya tidak tunggal. Istilah picky eating umumnya menggambarkan perilaku memilih makanan, sedangkan feeding difficulties mencakup spektrum lebih luas, termasuk penolakan makan, keterbatasan variasi makanan, kesulitan menerima tekstur, durasi makan berkepanjangan, serta masalah mengunyah atau menelan.
Dalam konteks klinis, perhatian utama muncul ketika kesulitan makan berdampak terhadap asupan nutrisi, fungsi sehari-hari, atau pertumbuhan. Anak dapat mengonsumsi makanan dalam jumlah yang tidak mencukupi, mengalami defisiensi zat gizi tertentu, atau menunjukkan perlambatan kenaikan berat badan. Sebagian anak juga mengalami penyakit medis yang membuat aktivitas makan terasa tidak nyaman, sehingga penolakan makan berkembang sebagai respons terhadap pengalaman sebelumnya.
Kerangka pediatric feeding disorder (PFD) membantu menjelaskan kompleksitas tersebut. Konsensus Goday dan kolega mendefinisikan PFD sebagai asupan oral yang tidak sesuai dengan usia dan berkaitan dengan disfungsi medis, nutrisi, keterampilan makan, dan/atau psikososial. Dengan demikian, masalah makan tidak tepat apabila selalu dipandang hanya sebagai persoalan perilaku atau pola asuh. [2]
2. Hubungan kesulitan makan dengan pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan indikator penting untuk menilai dampak klinis kesulitan makan. Asupan energi yang lebih rendah daripada kebutuhan tubuh dapat menyebabkan kenaikan berat badan melambat, penurunan berat badan, atau gangguan pertumbuhan apabila berlangsung menetap.
Namun, berat badan yang rendah tidak dengan sendirinya mengidentifikasi penyebab. Evaluasi harus mempertimbangkan berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, berat badan menurut tinggi badan atau indeks massa tubuh menurut umur, serta perubahan lintasan pertumbuhan pada pengukuran serial. Pengukuran satu kali kurang memadai untuk membedakan variasi konstitusional dari gangguan pertumbuhan yang bermakna.
Pedoman klinis American Academy of Pediatrics (AAP) dan North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) tahun 2026 menggunakan istilah faltering weight untuk menggambarkan pertumbuhan berat badan yang tidak sesuai harapan. Pendekatan tersebut menekankan pengukuran antropometri yang akurat, evaluasi penyebab berdasarkan temuan klinis, serta intervensi nutrisi dan terapi gangguan makan bila terindikasi. [4]
Secara klinis, terdapat beberapa kemungkinan mekanisme:
- Asupan energi dan protein tidak mencukupi akibat penolakan makan atau variasi makanan yang sangat terbatas.
- Pengalaman makan yang tidak menyenangkan akibat nyeri, muntah, atau gangguan menelan.
- Kebutuhan nutrisi yang meningkat atau penyakit yang mengganggu pemanfaatan zat gizi.
- Kombinasi faktor medis, keterampilan makan, psikososial, dan lingkungan.
Oleh karena itu, hubungan antara kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan harus dianalisis sebagai interaksi beberapa faktor, bukan diasumsikan berasal dari satu penyakit tertentu.
3. Bukti dari tinjauan sistematis Tomlin dan kolega
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, dan Bennett CJ menerbitkan tinjauan sistematis berjudul Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review dalam Clinical & Experimental Allergy pada 2026. Pencarian dilakukan melalui MEDLINE, Embase, Emcare, dan Scopus hingga 17 September 2025. Dari 10.681 rekaman, 17 artikel memenuhi kriteria inklusi. Protokol penelitian terdaftar di PROSPERO dengan nomor CRD42023458648. [1]
- Penulis melaporkan rentang prevalensi kesulitan makan sebesar 13,6%–86,2% pada penelitian anak dengan alergi makanan. Dalam penelitian yang secara khusus mengidentifikasi alergi non-IgE, prevalensi berkisar 22%–59,3%.
- Angka tersebut tidak boleh diinterpretasikan sebagai satu estimasi risiko yang berlaku untuk semua anak. Perbedaan desain penelitian, populasi, definisi kesulitan makan, jenis alergi, dan instrumen penilaian menyebabkan hasil antarstudi tidak sepenuhnya sebanding. Penulis juga menyoroti bahwa bukti yang tersedia masih heterogen dan sebagian besar penelitian belum menggunakan instrumen skrining kesulitan makan yang tervalidasi.
- Temuan ini mendukung perlunya perhatian klinis terhadap kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan, tetapi tidak membuktikan bahwa alergi non-IgE menyebabkan semua kasus kesulitan makan atau berat badan sulit naik.
4. Alergi makanan non-IgE sebagai salah satu diagnosis banding
- Alergi makanan non-IgE melibatkan respons imun terhadap protein makanan yang tidak terutama dimediasi antibodi IgE spesifik. Manifestasi klinisnya bervariasi menurut jenis penyakit dan dapat melibatkan saluran cerna.
- Salah satu kondisi yang menonjol dalam tinjauan Tomlin dan kolega adalah eosinophilic esophagitis (EoE). Penyakit inflamasi esofagus ini dapat menyebabkan disfagia, penolakan makanan, makan berkepanjangan, penghindaran tekstur tertentu, dan pada sebagian anak, gangguan pertumbuhan.
- Pada anak kecil, gejala EoE mungkin tidak muncul sebagai keluhan disfagia yang jelas, tetapi berupa muntah, penolakan makan, atau kesulitan menerima makanan sesuai tahap perkembangan. Pada anak lebih besar, gangguan menelan dan makanan yang tersangkut dapat lebih menonjol.
- Meskipun demikian, EoE merupakan diagnosis tersendiri dan tidak dapat disimpulkan hanya dari perilaku makan. Evaluasi spesialis, endoskopi, dan biopsi esofagus diperlukan sesuai indikasi klinis.
- Penting pula membedakan alergi makanan dari intoleransi makanan, gangguan motilitas, konstipasi fungsional, refluks, gangguan keterampilan makan, serta masalah perkembangan. Semua kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala yang tumpang tindih, tetapi memerlukan penatalaksanaan yang berbeda.
5. Pendekatan diagnostik pada anak dengan kesulitan makan dan berat badan sulit naik
Evaluasi awal harus mengidentifikasi tingkat keparahan masalah pertumbuhan, dampak fungsional kesulitan makan, dan kemungkinan penyakit medis yang mendasari.
- Anamnesis dan evaluasi pola makan. Riwayat perlu mencakup durasi makan, variasi dan tekstur makanan, asupan susu, respons terhadap makanan tertentu, gejala saluran cerna, serta riwayat pertumbuhan. Informasi dari pengasuh mengenai pola makan harian dapat membantu memperkirakan kecukupan asupan dan mengidentifikasi situasi yang memicu penolakan makan.
- Penilaian antropometri. Berat dan tinggi badan harus diukur secara akurat dan diplot pada kurva pertumbuhan yang sesuai. Pengukuran serial membantu menilai apakah anak mengikuti lintasan pertumbuhan yang diharapkan atau mengalami perlambatan.
- Evaluasi keterampilan makan. Kesulitan mengunyah, batuk atau tersedak ketika makan, penolakan tekstur, serta dugaan disfagia membutuhkan penilaian lebih lanjut. Bila diperlukan, anak dirujuk kepada tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam keterampilan makan dan menelan.
- Pemeriksaan medis terarah. Pemeriksaan laboratorium atau prosedur lain dipilih berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik, dan tanda klinis. Pemeriksaan yang tidak terarah pada anak tanpa indikasi spesifik dapat meningkatkan biaya dan risiko tanpa manfaat diagnostik yang jelas.
- Evaluasi alergi makanan. Alergi non-IgE dipertimbangkan bila terdapat pola gejala yang sesuai. Eliminasi makanan secara diagnostik harus terarah dan dibatasi waktunya, kemudian diikuti reintroduksi atau oral food challenge (OFC) sesuai dugaan diagnosis dan profil risiko. Tes IgE spesifik dan skin-prick test terutama digunakan untuk mengevaluasi sensitisasi yang relevan pada dugaan alergi IgE; hasil positif tidak otomatis membuktikan alergi klinis.
6. Prinsip penatalaksanaan
- Penanganan harus didasarkan pada masalah yang teridentifikasi dan tidak hanya berfokus pada penambahan berat badan dalam jangka pendek.
- Pertama, kecukupan energi dan zat gizi perlu dipulihkan melalui rencana makan yang sesuai usia dan kebutuhan anak. Suplementasi nutrisi oral dapat dipertimbangkan bila asupan tidak mencukupi, dengan pemantauan agar tidak menggantikan seluruh kesempatan makan utama.
- Kedua, terapi kesulitan makan diperlukan apabila terdapat gangguan keterampilan makan atau PFD. Intervensi dapat melibatkan dokter anak, dietisien, terapis keterampilan makan dan menelan, serta tenaga profesional lain sesuai kebutuhan.
- Ketiga, penyakit yang mendasari harus ditangani secara spesifik. Konstipasi, gangguan menelan, EoE, atau alergi makanan yang telah dievaluasi memerlukan pendekatan yang berbeda. Pada dugaan alergi non-IgE, diet eliminasi tidak boleh dilakukan secara luas atau berkepanjangan tanpa pengawasan karena dapat meningkatkan risiko kekurangan energi, protein, kalsium, dan mikronutrien.
- Keempat, hasil terapi perlu dievaluasi dengan indikator objektif, termasuk perubahan lintasan pertumbuhan, kecukupan asupan, kemampuan menerima makanan, gejala terkait makan, dan kualitas hidup. Perbaikan berat badan saja tidak selalu membuktikan bahwa penyebab dasar telah teratasi.
7. Diskusi dan implikasi klinis
- Tinjauan Tomlin dan kolega memperkuat pandangan bahwa kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan merupakan masalah klinis yang perlu dikenali secara aktif. Akan tetapi, rentang prevalensi yang lebar dan heterogenitas penelitian membatasi kemampuan untuk menentukan besarnya risiko secara pasti pada populasi umum.
- Secara metodologis, tinjauan ini merupakan Research Letter yang menyajikan sintesis sistematis, bukan meta-analisis dengan satu estimasi prevalensi gabungan. Temuan penelitian lebih tepat digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyusun pertanyaan klinis daripada sebagai alat untuk menegakkan diagnosis individual.
- Dalam praktik pediatri, anak dengan kesulitan makan dan berat badan sulit naik perlu dinilai melalui pendekatan multidisiplin. Diagnosis alergi tidak boleh menjadi asumsi awal pada setiap anak, tetapi juga tidak seharusnya diabaikan apabila riwayat klinis menunjukkan kemungkinan penyakit alergi yang relevan.
- Pendekatan yang tepat adalah mengidentifikasi gangguan makan, mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan, mengevaluasi penyakit yang mungkin mendasari, dan memberikan intervensi nutrisi serta terapi makan yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, tujuan klinis bukan sekadar meningkatkan berat badan, tetapi juga memperbaiki fungsi makan, kecukupan nutrisi, dan lintasan pertumbuhan jangka panjang.
8. Kesimpulan
Kesulitan makan dan faltering weight merupakan masalah pediatri yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Tinjauan sistematis Tomlin dan kolega tahun 2026 menunjukkan bahwa kesulitan makan sering dilaporkan pada anak dengan alergi makanan non-IgE, terutama pada kelompok dengan EoE. Namun, bukti yang tersedia belum memungkinkan kesimpulan bahwa alergi non-IgE merupakan penyebab utama seluruh kasus kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan.
Penilaian klinis yang baik harus mencakup riwayat makan, antropometri serial, kecukupan nutrisi, keterampilan makan, faktor psikososial, serta pemeriksaan penyakit medis berdasarkan indikasi. Eliminasi makanan dan OFC digunakan secara terarah apabila alergi makanan dicurigai, bukan sebagai intervensi universal bagi semua anak yang sulit makan.
Pesan klinis utama: pada anak yang sulit makan dan berat badannya tidak naik sesuai harapan, prioritasnya adalah memastikan status pertumbuhan, mengidentifikasi penyebab yang mendasari, dan memberikan dukungan nutrisi serta terapi makan yang tepat.
Daftar pustaka
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clinical & Experimental Allergy. 2026;56(9):1117–1124. doi:10.1111/cea.70367.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, Lukens CT, Dodrill P, Cohen SS, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019;68(1):124–129. doi:10.1097/MPG.0000000000002188.
- Page MJ, McKenzie JE, Bossuyt PM, Boutron I, Hoffmann TC, Mulrow CD, et al. The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ. 2021;372. doi:10.1136/bmj.n71.
- Kersten HB, Goday PS, Abdelhadi R, et al. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026;157(4). doi:10.1542/peds.2025-075764.
Sumber artikel utama
- Tomlin ML, et al. Artikel lengkap di Wiley Online Library.
- Goday PS, et al. Konsensus definisi Pediatric Feeding Disorder.
- AAP/NASPGHAN. Pedoman klinis faltering weight tahun 2026.






Leave a Reply