Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Overdiagnosis tuberkulosis (TB) adalah masalah medis yang signifikan yang sering terjadi di berbagai negara, termasuk negara-negara dengan prevalensi TB yang tinggi termasuk Indonesia. Meskipun TB merupakan penyakit menular yang dapat mengancam nyawa, proses diagnosis yang tidak tepat dapat mengarah pada penanganan yang tidak perlu dan bahkan berbahaya bagi pasien. Beberapa kasus overdiagnosis TB terjadi ketika gejala-gejala yang mirip dengan TB, seperti penurunan berat badan, batuk, dan demam, diidentifikasi tanpa pemeriksaan yang memadai. Dalam beberapa kasus, pasien didiagnosis dengan TB tanpa konfirmasi bakteriologis, seperti yang terjadi pada enam kasus yang dilaporkan oleh Gill, Krige, dan Pelly (1983), di mana pasien yang sebelumnya didiagnosis TB tanpa pemeriksaan bakteriologis akhirnya mendapatkan diagnosis yang benar setelah dua tahun, yang menyebabkan morbiditas yang tinggi dan pengobatan yang tidak perlu.
Overdiagnosis TB lebih sering terjadi pada pasien yang berasal dari daerah dengan prevalensi TB tinggi. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan tenaga medis untuk cepat memberikan diagnosis TB berdasarkan gejala yang ada, tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala serupa. Misalnya, pada pasien dengan gejala saluran pernapasan, seperti batuk dan demam, bisa saja mereka menderita infeksi saluran pernapasan lain atau penyakit paru lainnya yang bukan TB. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan yang lebih teliti, termasuk pemeriksaan bakteriologis dan tes diagnostik lainnya seperti kultur dan teknik molekuler untuk memastikan diagnosis yang akurat.
Pentingnya diagnosis yang tepat sangat ditekankan dalam kasus smear-negative pulmonary tuberculosis (PTB), di mana hasil sputum negatif tidak selalu menyingkirkan kemungkinan TB. Sebuah studi oleh Davies dan Pai (2008) menunjukkan bahwa diagnosa TB bisa sangat bergantung pada fasilitas medis yang tersedia. Di beberapa negara, terutama dengan keterbatasan fasilitas medis, diagnosis TB sering kali didasarkan pada gejala klinis dan pencitraan, sementara tes molekuler atau kultur yang lebih akurat tidak selalu tersedia. Hal ini bisa menyebabkan overdiagnosis, di mana pasien yang tidak mengidap TB diberikan pengobatan yang tidak perlu, yang dapat berisiko bagi kesehatan mereka.
Selain itu, penundaan dalam memulai pengobatan TB juga merupakan masalah utama dalam kasus smear-negative PTB. Dalam studi yang dilaporkan oleh Viney et al. (2013), ditemukan bahwa pasien dengan PTB smear-negatif mengalami penundaan pengobatan yang signifikan karena ketergantungan pada diagnosis klinis dan radiologis. Ini menunjukkan pentingnya pengujian yang lebih mendalam, seperti tes kultur atau amplifikasi asam nukleat, untuk memastikan diagnosis yang akurat sebelum pengobatan dimulai. Penundaan ini tidak hanya memperburuk kondisi pasien tetapi juga meningkatkan risiko penularan penyakit kepada orang lain.
Dalam beberapa kasus, overdiagnosis TB dapat mengarah pada pengobatan yang tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berisiko menimbulkan efek samping. Pengobatan TB melibatkan penggunaan obat-obatan kuat yang memiliki efek samping yang signifikan, termasuk kerusakan hati, gangguan ginjal, dan masalah pencernaan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pasien yang didiagnosis dengan TB benar-benar mengidap penyakit ini dan tidak hanya mengalami gangguan saluran pernapasan lain yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang lebih tepat.
Pentingnya pendekatan yang lebih hati-hati dan pemeriksaan yang lebih menyeluruh dalam mendiagnosis TB harus menjadi perhatian utama dalam praktik medis. Penggunaan teknik diagnostik yang lebih canggih, seperti kultur dan tes molekuler, harus diprioritaskan untuk memastikan bahwa diagnosis TB tidak salah dan pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi medis pasien. Pengobatan yang tepat waktu dan sesuai dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat TB, serta mencegah komplikasi yang disebabkan oleh overdiagnosis dan pengobatan yang tidak perlu.
Skoring TB
Dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis (TB) pada anak, disarankan untuk menggunakan berbagai prosedur diagnostik, namun apabila terdapat keterbatasan sarana maupun biaya, dapat digunakan sistem skoring yang dikembangkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dan WHO sebagai pendekatan alternatif, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Sistem skoring ini menilai sejumlah parameter klinis dan epidemiologis dengan pembobotan tertentu sebagaimana ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI tahun 2013, di mana hasil pemeriksaan tuberkulin (uji Mantoux) dan riwayat kontak erat dengan pasien dewasa TB menular memiliki skor tertinggi yaitu 3. Meskipun demikian, uji tuberkulin bukan merupakan pemeriksaan penentu utama diagnosis TB anak karena interpretasinya perlu dikaitkan dengan gejala klinis dan hasil pemeriksaan lain. Anak dengan total skor ≥6 dapat ditegakkan sebagai kasus TB dan harus segera mendapatkan pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Bila ditemukan kondisi klinis khusus seperti gibbus, koksitis TB, tanda bahaya TB sistem saraf pusat (misalnya kejang, kaku kuduk, atau penurunan kesadaran), atau tanda kegawatan lain seperti sesak napas dan gambaran radiologis yang menunjukkan efusi pleura, milier, atau kavitas, maka anak harus dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada penilaian sistem skoring, kontak dengan pasien dewasa TB BTA positif hanya diberi skor 3 jika terdapat bukti tertulis hasil laboratorium BTA dari sumber penularan yang dapat diverifikasi melalui formulir TB 01 atau hasil laboratorium resmi. Selain itu, status gizi anak juga perlu dinilai menggunakan parameter BB/TB atau BB/U dengan pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta umur saat kunjungan. Untuk anak usia di bawah 5 tahun, penilaian gizi menggunakan panduan buku KIA dari Kemenkes RI, sedangkan untuk anak usia di atas 5 tahun menggunakan kurva CDC tahun 2000. Bila ditemukan berat badan kurang, anak harus mendapat intervensi perbaikan gizi dan dilakukan evaluasi ulang setelah satu bulan untuk memastikan perbaikan status gizi sebelum atau selama penatalaksanaan TB.
Gejala klinis seperti demam yang berlangsung ≥2 minggu dan batuk ≥3 minggu dapat dinilai dalam sistem skoring TB anak jika tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan sesuai standar di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Gambaran foto toraks yang mendukung diagnosis TB anak dapat berupa pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan atau tanpa infiltrat, atelektasis, konsolidasi segmental atau lobar, milier, kalsifikasi disertai infiltrat, maupun tuberkuloma, namun foto toraks hanya berperan sebagai penunjang diagnosis. Penegakan diagnosis TB anak sebaiknya dilakukan oleh dokter, namun bila dokter tidak tersedia, kewenangan terbatas dapat diberikan kepada petugas kesehatan yang telah dilatih strategi DOTS untuk menegakkan diagnosis dan melakukan tatalaksana TB anak. Dalam sistem ini, anak dinyatakan menderita TB bila total skor ≥6 dari skor maksimal 13. Anak dengan skor 6 yang berasal dari kontak dengan pasien TB BTA positif dan hasil uji tuberkulin positif tetapi tanpa gejala klinis belum perlu diberi OAT, melainkan cukup diobservasi atau diberi profilaksis INH sesuai usia. Anak usia balita dengan skor 5 dan gejala meragukan harus dirujuk ke fasilitas rujukan untuk evaluasi lebih lanjut. Namun, bila anak dengan skor 5 memperoleh nilai dari kontak BTA positif dan dua gejala klinis lain, dan uji tuberkulin tidak tersedia, maka anak dapat didiagnosis dan diterapi sebagai TB anak dengan pemantauan ketat selama dua bulan awal terapi. Jika terdapat perbaikan klinis, pengobatan OAT dilanjutkan hingga enam bulan. Semua bayi yang menunjukkan reaksi cepat (<2 minggu) setelah imunisasi BCG juga harus dicurigai terinfeksi TB dan segera dievaluasi menggunakan sistem skoring TB anak untuk memastikan diagnosis dan tatalaksana yang tepat.
Penanganan
Apabila seorang anak dicurigai menderita tuberkulosis (TB), diagnosis TB meragukan, kontak erat TB tidak ada, anak sangat aktif dan juga menunjukkan gejala alergi dan riwayat alergi sebelumnya, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menangani terlebih dahulu masalah alerginya. Penatalaksanaan awal dilakukan dengan cara menghindari makanan yang dicurigai sebagai pemicu alergi, kemudian dilanjutkan dengan oral food challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan apakah gejala yang timbul benar disebabkan oleh alergi makanan atau oleh penyakit lain, termasuk TB. Penghentian sementara terhadap makanan pencetus alergi dapat membantu mengurangi peradangan sistemik dan memperjelas gejala yang berkaitan dengan TB, sehingga hasil evaluasi dan diagnosis dapat menjadi lebih akurat.
Apabila dalam waktu 1–3 minggu pelaksanaan OFC dilakukan secara ketat dan disiplin, kemudian didapatkan perbaikan klinis berupa peningkatan nafsu makan, kenaikan berat badan sekitar 200–250 gram per minggu, serta membaiknya gejala alergi pencernaan maupun gangguan pernapasan seperti batuk pilek, maka hal ini menunjukkan bahwa alergi memiliki peran besar terhadap kondisi anak. Dalam situasi tersebut, terapi TB belum perlu diberikan sampai evaluasi ulang dilakukan oleh dokter untuk memastikan bahwa gejala sisa bukan disebabkan oleh infeksi TB aktif. Pendekatan bertahap seperti ini membantu menghindari diagnosis berlebih (overdiagnosis) TB pada anak dengan keluhan mirip TB tetapi sebenarnya dipicu oleh reaksi alergi, serta memastikan setiap intervensi pengobatan diberikan secara tepat sasaran dan aman bagi pasien.
Secara keseluruhan, overdiagnosis TB adalah masalah yang dapat dihindari dengan pemeriksaan yang lebih teliti dan penggunaan teknologi diagnostik yang lebih maju. Upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya diagnosis yang tepat, serta memperbaiki sistem kesehatan untuk mendukung penggunaan tes diagnostik yang lebih akurat, sangat penting dalam mencegah overdiagnosis TB. Hal ini akan memastikan bahwa pasien menerima pengobatan yang benar-benar diperlukan, tanpa mengalami efek samping yang tidak perlu atau penundaan pengobatan yang dapat memperburuk kondisi mereka.
Daftar Pustaka:
- Gill, G. V., Krige, L. P., & Pelly, M. D. (1983). Overdiagnosis of tuberculosis. Case Reports S Afr Med J, 63(24), 933-935. PMID: 6857418.
- Dippenaar J. Overdiagnosis of tuberculosis. A report of 3 cases. S Afr Med J. 1986 Dec 20;70(13):839-40. PMID: 3798275.
- Claassens, M. M. (1986). Overdiagnosis of tuberculosis: A report of 3 cases. Case Reports S Afr Med J, 70(13), 839-840.
- Davies PD, Pai M. The diagnosis and misdiagnosis of tuberculosis. Int J Tuberc Lung Dis. 2008 Nov;12(11):1226-34. PMID: 18926032.








Leave a Reply