DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Memahami Hubungan Antara Alergi Makanan dan Asma

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Asma dan alergi makanan adalah dua kondisi atopik yang sering ditemukan pada populasi anak-anak. Meskipun hubungan antara kedua kondisi ini telah banyak diteliti, mekanisme yang mendasari interaksi mereka belum sepenuhnya dipahami. Anak-anak dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan asma, dan keberadaan kedua kondisi ini secara bersamaan dapat meningkatkan keparahan gejala, termasuk risiko episode asma berat dan anafilaksis. Oleh karena itu, memahami hubungan antara asma dan alergi makanan menjadi penting bagi tenaga medis untuk memberikan pengobatan yang optimal dan aman.

Selama beberapa dekade terakhir, telah diamati peningkatan prevalensi asma dan alergi makanan pada populasi pediatrik. Pada bayi, sensitisasi makanan, terutama terhadap telur, meningkatkan risiko berkembangnya asma alergi. Risiko ini menjadi lebih besar jika sensitisasi terhadap alergen makanan terjadi lebih awal, yaitu dalam beberapa tahun pertama kehidupan. Diketahui bahwa kedua penyakit ini dapat hadir secara bersamaan pada populasi anak-anak, tetapi keberadaan keduanya secara bersamaan dapat memengaruhi tingkat keparahan kedua kondisi tersebut dengan meningkatkan risiko episode asma yang mengancam jiwa serta anafilaksis yang terkait dengan makanan. Oleh karena itu, karakterisasi klinis dan fenotipe yang akurat pada kelompok anak-anak berisiko tinggi dengan asma dan alergi makanan, serta manajemen yang lebih agresif, dapat membantu mengurangi morbiditas dan mortalitas yang terkait. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk memberikan gambaran terkini tentang hubungan erat antara alergi makanan dan asma serta pengaruh negatif timbal balik di antara keduany, termasuk mekanisme yang mendasari, faktor risiko, dan pendekatan pengelolaan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penyakit seperti asma, eksim, rinitis alergi, dan alergi makanan sering kali digolongkan sebagai penyakit alergi. Anak-anak yang memiliki salah satu dari kondisi ini cenderung mengembangkan kondisi alergi lainnya, yang dikenal sebagai “atopic march.” Misalnya, bayi dengan eksim memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan alergi makanan, sementara anak-anak dengan alergi telur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit alergi pernapasan. Hubungan kausal antara kondisi-kondisi ini masih belum sepenuhnya jelas, tetapi hipotesis “dual-allergen” memberikan penjelasan yang masuk akal tentang bagaimana penyakit alergi dapat berkembang melalui paparan alergen kulit yang memicu sensitisasi imunologi.

Asma adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum pada anak-anak, dengan prevalensi sekitar 9%. Penyakit ini ditandai oleh serangan sesak napas berulang yang disebabkan oleh peradangan dan penyempitan saluran napas. Pengelolaan asma melibatkan penilaian tingkat keparahan, penggunaan obat-obatan akut dan kronis seperti bronkodilator dan kortikosteroid, serta pengobatan komorbiditas. Strategi eskalasi bertahap dalam pengobatan jangka panjang mencakup penggunaan agonis beta kerja panjang, antagonis reseptor leukotrien, dan kortikosteroid inhalasi.

Alergi makanan didefinisikan sebagai reaksi imunologis yang merugikan akibat paparan makanan tertentu yang berulang. Kondisi ini dapat berupa alergi yang dimediasi oleh imunoglobulin-E (IgE), non-IgE, atau campuran keduanya. Gejala alergi makanan bervariasi dari ringan hingga berat, termasuk anafilaksis yang mengancam jiwa. Diagnosis alergi makanan melibatkan anamnesis, uji tusuk kulit, pengukuran IgE spesifik serum, dan tantangan makanan oral sebagai standar emas. Pengelolaan alergi makanan mencakup penghindaran ketat terhadap alergen dan, dalam beberapa kasus, penggunaan perangkat injeksi adrenalin darurat.

Memahami Hubungan Antara Alergi Makanan dan Asma

Asma dan alergi makanan sering kali ditemukan bersama, dengan berbagai faktor risiko seperti riwayat keluarga atopik dan eksim. Penelitian menunjukkan bahwa sensitisasi makanan pada tahun pertama kehidupan dapat memprediksi perkembangan asma di usia sekolah. Anak-anak dengan alergi makanan memiliki risiko dua kali lipat untuk mengembangkan asma dibandingkan dengan anak-anak tanpa alergi makanan. Selain itu, reaksi alergi terhadap makanan tertentu, seperti kacang tanah atau telur, dapat memicu gejala asma yang berat.

Gangguan alergi yang dipicu oleh makanan adalah reaksi imunologis yang merugikan dan berpotensi mengancam jiwa yang terjadi akibat paparan makanan tertentu. Gangguan ini dikategorikan menjadi dua jenis: mekanisme yang dimediasi oleh Imunoglobulin-E (IgE) dan mekanisme yang tidak dimediasi oleh IgE. Pada jenis pertama, gejala muncul dengan cepat dalam dua jam pertama setelah konsumsi dan dapat melibatkan saluran pernapasan, kulit, saluran pencernaan, serta sistem kardiovaskular. Pada jenis kedua, gejala muncul lebih lambat (12–24 jam setelah konsumsi) dan terutama memengaruhi kulit serta saluran pencernaan.

Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang umum terjadi, ditandai dengan obstruksi aliran udara yang bervariasi dan reversibel. Gejala asma meliputi episode mengi, sesak napas, batuk, dan rasa sesak di dada. Kondisi ini, seperti halnya alergi makanan, dianggap disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Asma dapat diklasifikasikan menjadi atopik atau non-atopik, meskipun komponen alergi semakin diakui dalam etiopatogenesis penyakit kompleks ini. Beberapa pemicu serangan asma yang diketahui meliputi olahraga, merokok, sinusitis, obat-obatan, makanan, dan aditif makanan.

Paparan alergen inhalasi diketahui sebagai faktor paling penting dalam memperburuk asma, seperti serbuk sari pohon, rumput, dan gulma, jamur, bulu hewan, tungau debu, serta kotoran kecoa. Kini diketahui bahwa asma dan alergi makanan dapat hadir secara bersamaan pada populasi pediatrik, namun keberadaan keduanya dapat memperburuk tingkat keparahan masing-masing kondisi.

Meta-analisis terbaru dari empat studi prevalensi cross-sectional menunjukkan hubungan kuat antara alergi makanan dan asma pada populasi pediatrik, dengan rasio odds (OR) keseluruhan sebesar 2,87 [95% CI: 2,05–4,00]. Ini membuktikan bahwa alergi makanan meningkatkan risiko berkembangnya asma alergi, terutama jika sensitisasi terhadap alergen makanan terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan.

Alergi Makanan dan Risiko Asma

Penelitian oleh Illi et al. menunjukkan bahwa asma pada usia sekolah lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan sensitisasi awal terhadap alergen makanan dalam dua tahun pertama kehidupan, bahkan tanpa sensitisasi terhadap alergen udara. Schroeder A et al. melaporkan usia onset asma yang lebih awal dan peningkatan prevalensi asma pada anak-anak dengan alergi makanan dibandingkan dengan anak-anak tanpa alergi makanan.

Sensitisasi alergi simultan terhadap alergen makanan dan udara meningkatkan risiko berkembangnya alergi pernapasan dibandingkan dengan sensitisasi tunggal. Mekanisme patogenetik yang membuat alergi makanan meningkatkan risiko asma tampaknya dimediasi oleh IgE. Paparan makanan penyebab alergi memicu produksi histamin dan leukotrien oleh sel mast, yang menyebabkan peradangan saluran napas dan bronkospasme.

Makanan yang paling sering dikaitkan dengan peningkatan risiko asma adalah kacang tanah, susu, dan telur. Indeks prediktif asma (API) yang dimodifikasi mencakup sensitisasi yang dimediasi IgE terhadap susu, telur, dan kacang tanah sebagai faktor risiko sekunder untuk onset asma pada anak kecil.

Asma yang Dipicu Makanan

Alergi makanan dapat menyebabkan reaksi ringan hingga berat yang mengancam jiwa, namun jarang menyebabkan bronkospasme tanpa gejala lain. Gejala pernapasan seperti batuk, rinitis, dan edema laring dapat muncul akibat alergi makanan.

Bronkospasme yang dipicu makanan adalah kejadian langka tetapi lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan eksim dan kadar IgE yang tinggi. Sekitar 2–9% anak-anak dengan asma mengalami bronkospasme yang dipicu oleh tes tantangan makanan oral (OFC). Namun, gejala gastrointestinal dan kulit lebih sering terjadi dibandingkan serangan asma.

Paparan alergen makanan melalui konsumsi atau inhalasi dapat memicu serangan asma pada anak-anak yang telah tersensitisasi. Protein makanan yang terhirup, seperti protein kedelai atau ikan, dapat menyebabkan serangan asma berat dan kadang fatal. Dalam kasus ini, satu-satunya pilihan terapi adalah menghindari makanan penyebab alergi tersebut.

Beberapa sindrom alergi akibat reaksi silang antara alergen udara dan makanan juga memiliki dampak klinis yang signifikan. Reaksi silang ini merupakan mekanisme imun yang melibatkan pengikatan antibodi IgE pada molekul alergen yang serupa. Contohnya adalah reaksi silang antara serbuk sari pohon dengan apel, ceri, nektarin, dan kacang tanah, serta antara serbuk sari mugwort dengan wortel, seledri, dan mangga. Pola sensitisasi terhadap alergen udara umum dapat ditentukan melalui tes kulit (skin prick test) atau pengukuran IgE spesifik. Tes provokasi oral tetap menjadi standar emas untuk diagnosis, terutama pada pasien dengan riwayat klinis yang tidak jelas.

Alergen makanan dapat memicu gejala asma melalui berbagai mekanisme, termasuk inhalasi partikel makanan yang memicu peradangan saluran napas. Contoh yang sering dilaporkan adalah asma yang dipicu oleh inhalasi protein ikan di pasar terbuka atau tepung di lingkungan kerja. Pada anak-anak, paparan lingkungan terhadap makanan alergenik di rumah juga dapat memperburuk gejala asma kronis.

Pada anak-anak, 4–8% pasien asma memiliki alergi makanan, dan sekitar 50% dari mereka dengan alergi makanan mengalami reaksi alergi yang melibatkan gejala pernapasan akut. Berbagai faktor, termasuk perubahan musim, respons imun tubuh, dan penggunaan terapi anti-IgE, memengaruhi risiko perkembangan asma pada anak-anak dengan alergi makanan. Jika Anda memerlukan bagian tertentu dari teks yang lebih rinci atau penjelasan tambahan, silakan beri tahu!

Penutup

Pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara asma dan alergi makanan sangat penting untuk meningkatkan strategi pengelolaan kedua kondisi ini. Dengan pendekatan yang komprehensif, termasuk penghindaran alergen, penggunaan obat-obatan yang tepat, dan pemantauan berkala, diharapkan kualitas hidup pasien dapat meningkat secara signifikan.

Daftar Pustaka

  • Foong, R.-X., du Toit, G., & Fox, A. T. (2017). Asthma, Food Allergy, and How They Relate to Each Other. Frontiers in Pediatrics, 5, 89. https://doi.org/10.3389/fped.2017.00089
  • Martin, P. E., et al. (2013). The role of early-life environmental and dietary factors in food allergy and asthma. Clinical & Experimental Allergy, 43(6), 609–621.
  • Schroeder, A., et al. (2009). The relationship between food allergy and asthma. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 123(5), 1107–1115.
  • Milgrom, H., et al. (2001). Anti-IgE therapy and its effects on asthma. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 108(5), 777–783.
  • di Palmo E, Gallucci M, Cipriani F, Bertelli L, Giannetti A, Ricci G. Asthma and Food Allergy: Which Risks? Medicina (Kaunas). 2019 Aug 21;55(9):509. doi: 10.3390/medicina55090509. PMID: 31438462; PMCID: PMC6780261.
  • Kewalramani A, Bollinger ME. The impact of food allergy on asthma. J Asthma Allergy. 2010 Jul 28;3:65-74. doi: 10.2147/jaa.s11789. PMID: 21437041; PMCID: PMC3047906.
  • Stukus DR, Prince BT. Asthma and food allergy: A nuanced relationship. J Food Allergy. 2023 Dec 1;5(2):33-37. doi: 10.2500/jfa.2023.5.230009. PMID: 39022752; PMCID: PMC11250531.
  • Ozol D, Mete E. Asthma and food allergy. Curr Opin Pulm Med. 2008 Jan;14(1):9-12. doi: 10.1097/MCP.0b013e3282f1981c. PMID: 18043270.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *