Konsumsi teh merupakan kebiasaan umum di berbagai budaya, termasuk dalam keluarga dengan anak-anak. Namun, belum banyak masyarakat yang memahami potensi risiko dan manfaat konsumsi teh pada anak-anak. Anak-anak dapat mengonsumsi teh tertentu dalam jumlah terbatas, namun orang tua harus berhati-hati terhadap kandungan kafein, tanin, dan gula. Teh herbal tanpa kafein dapat diberikan secara moderat kepada anak usia di atas 2 tahun, sementara teh berkafein seperti teh hitam dan hijau sebaiknya dihindari terutama pada usia dini. Rekomendasi dari AAP, WHO, dan para pakar gizi sepakat bahwa kafein tidak ideal bagi anak kecil, dan konsumsi teh harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan status kesehatan anak secara menyeluruh. Artikel ini bertujuan mengulas secara sistematis mengenai keamanan konsumsi teh pada anak menurut American Academy of Pediatrics (AAP), World Health Organization (WHO), serta para pakar gizi. Fokus utama diberikan pada kandungan kafein, tanin, fluorida, serta herbal dalam teh, serta dampaknya terhadap pertumbuhan, penyerapan zat besi, dan sistem saraf. Artikel juga menyajikan tabel jenis teh yang aman dan yang sebaiknya dihindari pada anak-anak.
Teh merupakan salah satu minuman paling populer di dunia. Jenis-jenis teh seperti teh hitam, teh hijau, dan teh herbal umum dikonsumsi oleh orang dewasa dan terkadang juga diberikan kepada anak-anak. Meskipun terdapat berbagai manfaat kesehatan yang dikaitkan dengan konsumsi teh, perhatian khusus harus diberikan pada anak-anak yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kandungan tertentu, seperti kafein dan tanin. WHO dan AAP belum mengeluarkan panduan khusus tentang teh, namun sejumlah rekomendasi terkait konsumsi kafein dan zat gizi anak dapat digunakan sebagai dasar evaluasi keamanan konsumsi teh.
Kandungan Utama Teh dan Dampaknya pada Anak
| Kandungan | Efek Positif | Efek Negatif pada Anak | Catatan |
|---|---|---|---|
| Kafein | Stimulasi ringan pada sistem saraf | Gelisah, sulit tidur, peningkatan detak jantung, gangguan konsentrasi | AAP merekomendasikan anak usia 4–6 tahun hanya boleh konsumsi <45 mg/hari |
| Tanin | Antioksidan | Menghambat penyerapan zat besi non-heme | Risiko anemia defisiensi besi jika dikonsumsi bersamaan dengan makan |
| Fluorida | Mencegah karies gigi | Kelebihan menyebabkan fluorosis gigi | Terutama pada teh hitam dan teh hijau tua |
| Polifenol | Antioksidan kuat | Interaksi dengan penyerapan nutrien | Efek tergantung dosis dan usia |
| Teh Herbal | Menenangkan, membantu pencernaan | Beberapa dapat toksik atau menyebabkan reaksi alergi | Harus dipilih dengan sangat hati-hati |
Rekomendasi AAP, WHO, dan Pakar Gizi
1. American Academy of Pediatrics (AAP)
- AAP tidak secara eksplisit menyarankan pemberian teh kepada anak.
- Namun, AAP memberi pedoman batas kafein harian maksimal untuk anak-anak:
- 4–6 tahun: maksimal 45 mg/hari
- 7–9 tahun: maksimal 62.5 mg/hari
- 10–12 tahun: maksimal 85 mg/hari
(Sumber: AAP Committee on Nutrition, 2014)
2. World Health Organization (WHO)
-
- WHO menyarankan menghindari konsumsi minuman berkafein pada anak-anak, terutama dalam 2 tahun pertama kehidupan.
- WHO menekankan pentingnya konsumsi zat besi yang memadai pada balita dan anak kecil. Tanin dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme, sehingga teh sebaiknya tidak diberikan bersama makanan utama.
3. Pakar Gizi
-
- Ahli gizi anak menyarankan teh herbal ringan seperti chamomile, rooibos, atau peppermint dalam jumlah kecil, hanya pada usia >2 tahun.
- Teh manis atau teh kemasan harus dihindari karena tinggi gula dan rendah nilai gizi.
Tabel Jenis Teh: Aman vs. Sebaiknya Dihindari untuk Anak
| Jenis Teh | Kandungan Kafein (rata-rata / cangkir 240 ml) | Aman untuk Anak? | Alasan |
|---|---|---|---|
| Teh Hitam | 40–70 mg | ❌ Hindari | Kafein tinggi, tanin tinggi |
| Teh Hijau | 30–50 mg | ⚠️ Hati-hati (>8 tahun) | Kafein sedang, tanin tinggi |
| Teh Oolong | 30–50 mg | ❌ Hindari | Kafein tinggi |
| Teh Putih | 15–30 mg | ⚠️ Moderasi | Kafein rendah, namun tetap mengandung tanin |
| Teh Herbal (Rooibos, Chamomile, Peppermint) | 0 mg | ✅ Aman (>2 tahun) | Tanpa kafein, efek menenangkan |
| Teh Kombucha | 10–25 mg + Alkohol fermentasi | ❌ Hindari | Mengandung alkohol dan kafein |
| Teh Manis/Kemasan | Bervariasi + Gula tinggi | ❌ Hindari | Risiko obesitas, karies gigi |
Kesimpulan
Anak-anak dapat mengonsumsi teh tertentu dalam jumlah terbatas, namun orang tua harus berhati-hati terhadap kandungan kafein, tanin, dan gula. Teh herbal tanpa kafein dapat diberikan secara moderat kepada anak usia di atas 2 tahun, sementara teh berkafein seperti teh hitam dan hijau sebaiknya dihindari terutama pada usia dini. Rekomendasi dari AAP, WHO, dan para pakar gizi sepakat bahwa kafein tidak ideal bagi anak kecil, dan konsumsi teh harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan status kesehatan anak secara menyeluruh.
Saran
- Hindari pemberian teh berkafein pada anak <6 tahun.
- Jangan memberikan teh saat atau setelah makan, karena dapat menghambat penyerapan zat besi.
- Pilih teh herbal alami yang sudah dikenal aman, dan tanpa tambahan pemanis.
- Edukasi keluarga mengenai potensi dampak negatif teh terhadap kesehatan anak, terutama yang mengalami anemia atau sulit tidur.
Daftar Pustaka
- American Academy of Pediatrics Committee on Nutrition. Sports drinks and energy drinks for children and adolescents: are they appropriate? Pediatrics. 2011;127(6):1182–1189. doi:10.1542/peds.2011-0965
- Institute of Medicine (US) Committee on Nutrition Standards for Foods in Schools. Nutrition Standards for Foods in Schools: Leading the Way Toward Healthier Youth. National Academies Press; 2007.
- World Health Organization. Guiding Principles for Complementary Feeding of the Breastfed Child. Geneva: WHO; 2003.
- Temple JL, Bernard C, Lipshultz SE, Czachor JD, Westphal JA, Mestre MA. The safety of ingested caffeine: a comprehensive review. Front Psychiatry. 2017;8:80. doi:10.3389/fpsyt.2017.00080
- Ziegler EE. Consumption of cow’s milk as a cause of iron deficiency in infants and toddlers. Nutr Rev. 2011;69 Suppl 1:S37–S42. doi:10.1111/j.1753-4887.2011.00431.x
- Wigle DT, Arbuckle TE, Turner MC, et al. Epidemiologic evidence of relationships between reproductive and child health outcomes and environmental chemical contaminants. J Toxicol Environ Health B Crit Rev. 2008;11(5–6):373–517. doi:10.1080/10937400801921320
- Oddy WH. Infant feeding and allergy prevention. Curr Opin Clin Nutr Metab Care. 2005;8(3):257–263. doi:10.1097/01.mco.0000165017.86036.c3













Leave a Reply