DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

KONSULTASI DOKTER SPESIALIS: Dok Anakku Kurus, Apakah TB ?

Pertanyaan:
Dok, anak saya usia 4 tahun dengan berat badan 12 kg. Sejak usia 6 bulan berat badannya sulit naik, padahal anak sangat aktif, jarang sakit, dan perkembangannya bagus. Namun, dulu sempat divonis tuberkulosis (TB) karena berat badan sulit naik, tapi setelah saya periksa ulang ke dokter spesialis paru anak ternyata bukan TB. Anak saya memang sejak kecil punya masalah pencernaan: sering sembelit, sulit buang air besar, dan susah makan. Kata dokter, pencernaan yang sensitif bisa membuat anak sulit makan dan berat badan tidak naik. Apakah benar seperti itu, dan bagaimana penanganannya agar berat badannya bisa bertambah dengan sehat?

Jawaban Dokter:

  • Kondisi anak Ibu sangat mungkin termasuk dalam kelompok constitutional growth delay, yaitu variasi pertumbuhan yang normal di mana anak memiliki pola berat dan tinggi badan di bawah rata-rata, tetapi tetap proporsional, aktif, dan sehat tanpa tanda penyakit kronis. Anak dengan tipe ini biasanya memiliki metabolisme lebih cepat dan tubuh yang sulit menyimpan lemak, sehingga berat badan tampak sulit naik meskipun aktivitasnya tinggi. Salah satu tanda penting bahwa kondisi ini bukan penyakit adalah anak tampak bugar, tidak mudah sakit, dan pertumbuhan tinggi badan berjalan stabil meski lambat. Diagnosis TB pada anak dengan berat badan sulit naik memang sering terjadi secara berlebihan di lapangan, padahal penurunan berat badan tanpa gejala infeksi aktif seperti demam lama, keringat malam, atau pembesaran kelenjar getah bening tidak selalu berarti TB.
  • Namun, pada banyak kasus, gangguan pencernaan fungsional seperti sembelit kronik dan hipersensitivitas saluran cerna (food allergy–related gastrointestinal disorder) dapat menjadi penyebab utama sulit makan dan pertambahan berat badan yang terhambat. Penelitian di PubMed menunjukkan bahwa anak dengan functional constipation dan food allergy sering mengalami inflamasi mikro di mukosa usus dan ketidakseimbangan mikrobiota (gut dysbiosis), yang dapat memengaruhi nafsu makan dan penyerapan nutrisi. Ketika usus sering mengalami peradangan ringan atau distensi akibat penumpukan feses, anak merasa tidak nyaman, cepat kenyang, dan akhirnya menolak makan. Gejala ini bukan karena anak “pilih-pilih makanan”, melainkan karena sinyal kenyang dan nyeri dari usus yang sensitif menghambat refleks lapar alami. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan failure to thrive fungsional meskipun anak tampak sehat.
  • Penanganan utama adalah dengan memperbaiki fungsi pencernaan dan pola makan bertahap, bukan memaksa makan atau langsung menambah kalori tinggi. Langkah awal meliputi memperlancar buang air besar dengan memperbaiki asupan serat, cairan, dan bila perlu menggunakan pelunak feses sesuai anjuran dokter. Selanjutnya, penting dilakukan evaluasi kemungkinan alergi makanan tersembunyi yang dapat memicu peradangan saluran cerna, misalnya terhadap susu sapi, telur, kedelai, atau gluten. Pendekatan terbaik untuk memastikan hal ini adalah melalui Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis anak konsultan alergi. Bila alergen teridentifikasi, diet eliminasi selektif dilakukan tanpa mengorbankan kecukupan nutrisi.
  • Selain diet, fokus terapi adalah menormalkan sistem imun dan keseimbangan mikrobiota usus (gut healing) dengan pemberian probiotik yang sesuai, makanan bergizi seimbang, serta jadwal makan yang teratur tanpa tekanan emosional. Pola makan yang baik mencakup porsi kecil tapi sering, pilihan makanan yang mudah dicerna, serta suasana makan yang tenang dan menyenangkan. Anak dengan pencernaan sensitif biasanya akan mengalami perbaikan berat badan setelah saluran cerna pulih dan tidak meradang. Dengan pemantauan berkala oleh dokter dan pendekatan nutrisi yang konsisten, anak dengan kondisi seperti ini biasanya dapat mengejar pertumbuhan pada usia berikutnya dan mencapai berat badan ideal sesuai potensi genetiknya.

Skoring TB

Dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis (TB) pada anak, disarankan untuk menggunakan berbagai prosedur diagnostik, namun apabila terdapat keterbatasan sarana maupun biaya, dapat digunakan sistem skoring yang dikembangkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dan WHO sebagai pendekatan alternatif, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Sistem skoring ini menilai sejumlah parameter klinis dan epidemiologis dengan pembobotan tertentu sebagaimana ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI tahun 2013, di mana hasil pemeriksaan tuberkulin (uji Mantoux) dan riwayat kontak erat dengan pasien dewasa TB menular memiliki skor tertinggi yaitu 3. Meskipun demikian, uji tuberkulin bukan merupakan pemeriksaan penentu utama diagnosis TB anak karena interpretasinya perlu dikaitkan dengan gejala klinis dan hasil pemeriksaan lain. Anak dengan total skor ≥6 dapat ditegakkan sebagai kasus TB dan harus segera mendapatkan pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Bila ditemukan kondisi klinis khusus seperti gibbus, koksitis TB, tanda bahaya TB sistem saraf pusat (misalnya kejang, kaku kuduk, atau penurunan kesadaran), atau tanda kegawatan lain seperti sesak napas dan gambaran radiologis yang menunjukkan efusi pleura, milier, atau kavitas, maka anak harus dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada penilaian sistem skoring, kontak dengan pasien dewasa TB BTA positif hanya diberi skor 3 jika terdapat bukti tertulis hasil laboratorium BTA dari sumber penularan yang dapat diverifikasi melalui formulir TB 01 atau hasil laboratorium resmi. Selain itu, status gizi anak juga perlu dinilai menggunakan parameter BB/TB atau BB/U dengan pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta umur saat kunjungan. Untuk anak usia di bawah 5 tahun, penilaian gizi menggunakan panduan buku KIA dari Kemenkes RI, sedangkan untuk anak usia di atas 5 tahun menggunakan kurva CDC tahun 2000. Bila ditemukan berat badan kurang, anak harus mendapat intervensi perbaikan gizi dan dilakukan evaluasi ulang setelah satu bulan untuk memastikan perbaikan status gizi sebelum atau selama penatalaksanaan TB.

Gejala klinis seperti demam yang berlangsung ≥2 minggu dan batuk ≥3 minggu dapat dinilai dalam sistem skoring TB anak jika tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan sesuai standar di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Gambaran foto toraks yang mendukung diagnosis TB anak dapat berupa pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan atau tanpa infiltrat, atelektasis, konsolidasi segmental atau lobar, milier, kalsifikasi disertai infiltrat, maupun tuberkuloma, namun foto toraks hanya berperan sebagai penunjang diagnosis. Penegakan diagnosis TB anak sebaiknya dilakukan oleh dokter, namun bila dokter tidak tersedia, kewenangan terbatas dapat diberikan kepada petugas kesehatan yang telah dilatih strategi DOTS untuk menegakkan diagnosis dan melakukan tatalaksana TB anak. Dalam sistem ini, anak dinyatakan menderita TB bila total skor ≥6 dari skor maksimal 13. Anak dengan skor 6 yang berasal dari kontak dengan pasien TB BTA positif dan hasil uji tuberkulin positif tetapi tanpa gejala klinis belum perlu diberi OAT, melainkan cukup diobservasi atau diberi profilaksis INH sesuai usia. Anak usia balita dengan skor 5 dan gejala meragukan harus dirujuk ke fasilitas rujukan untuk evaluasi lebih lanjut. Namun, bila anak dengan skor 5 memperoleh nilai dari kontak BTA positif dan dua gejala klinis lain, dan uji tuberkulin tidak tersedia, maka anak dapat didiagnosis dan diterapi sebagai TB anak dengan pemantauan ketat selama dua bulan awal terapi. Jika terdapat perbaikan klinis, pengobatan OAT dilanjutkan hingga enam bulan. Semua bayi yang menunjukkan reaksi cepat (<2 minggu) setelah imunisasi BCG juga harus dicurigai terinfeksi TB dan segera dievaluasi menggunakan sistem skoring TB anak untuk memastikan diagnosis dan tatalaksana yang tepat.

Penanganan

Apabila seorang anak dicurigai menderita tuberkulosis (TB), diagnosis TB meragukan, kontak erat TB tidak ada, anak sangat aktif  dan juga menunjukkan gejala alergi dan riwayat alergi sebelumnya, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menangani terlebih dahulu masalah alerginya. Penatalaksanaan awal dilakukan dengan cara menghindari makanan yang dicurigai sebagai pemicu alergi, kemudian dilanjutkan dengan oral food challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan apakah gejala yang timbul benar disebabkan oleh alergi makanan atau oleh penyakit lain, termasuk TB. Penghentian sementara terhadap makanan pencetus alergi dapat membantu mengurangi peradangan sistemik dan memperjelas gejala yang berkaitan dengan TB, sehingga hasil evaluasi dan diagnosis dapat menjadi lebih akurat.

Apabila dalam waktu 1–3 minggu pelaksanaan OFC dilakukan secara ketat dan disiplin, kemudian didapatkan perbaikan klinis berupa peningkatan nafsu makan, kenaikan berat badan sekitar 200–250 gram per minggu, serta membaiknya gejala alergi pencernaan maupun gangguan pernapasan seperti batuk pilek, maka hal ini menunjukkan bahwa alergi memiliki peran besar terhadap kondisi anak. Dalam situasi tersebut, terapi TB belum perlu diberikan sampai evaluasi ulang dilakukan oleh dokter untuk memastikan bahwa gejala sisa bukan disebabkan oleh infeksi TB aktif. Pendekatan bertahap seperti ini membantu menghindari diagnosis berlebih (overdiagnosis) TB pada anak dengan keluhan mirip TB tetapi sebenarnya dipicu oleh reaksi alergi, serta memastikan setiap intervensi pengobatan diberikan secara tepat sasaran dan aman bagi pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *