DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Testis Tidak Turun (Kriptorkismus) pada Bayi dan Anak

Testis Tidak Turun (Kriptorkismus) pada Bayi dan Anak: Tinjauan Sistematis

Abstrak

Kriptorkismus atau testis tidak turun adalah kelainan kongenital urologi yang paling sering dijumpai pada bayi laki-laki. Kondisi ini berisiko menimbulkan infertilitas, hernia, torsio testis, dan gangguan psikososial jika tidak ditangani. Diagnosis dini, evaluasi menyeluruh, dan penanganan bedah yang tepat dapat memperbaiki prognosis fungsi testis dan kesehatan reproduktif. Artikel ini membahas epidemiologi, penyebab, tanda dan gejala, diagnosis, diagnosis banding, terapi medis dan bedah, alur manajemen, prognosis, dan kesimpulan.


Kriptorkismus didefinisikan sebagai kegagalan satu atau kedua testis turun ke skrotum pada usia lahir. Kondisi ini dapat unilateral atau bilateral, dengan lokasi testis variabel: abdomen, inguinal, atau high scrotal. Faktor genetik, hormonal, dan mekanik berperan dalam patogenesisnya.

Penanganan optimal dilakukan pada usia 6–18 bulan untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti infertilitas, risiko malignansi, dan torsio testis. Pemeriksaan rutin pada bayi laki-laki baru lahir penting untuk deteksi dini.

Angka Kejadian

  • Kriptorkismus terjadi pada 3–5% bayi lahir cukup bulan dan hingga 30% bayi prematur. Sebagian besar testis yang tidak turun akan turun spontan dalam 3–6 bulan pertama kehidupan.
  • Pada anak usia >1 tahun, sekitar 1% bayi tetap mengalami testis tidak turun, memerlukan intervensi bedah. Kasus bilateral lebih jarang, namun memiliki risiko infertilitas yang lebih tinggi.

Penyebab

  • Disfungsi hormonal: kekurangan hormon androgen atau gangguan aksis hipotalamus-hipofisis-gonad.
  • Gangguan mekanik: perlekatan jaringan fibrotik, malformasi gubernakulum, atau hernia inguinalis yang menghambat turunnya testis.
  • Faktor genetik dan lingkungan: kelainan kromosom, sindrom genetik tertentu, paparan estrogen atau obat tertentu pada ibu selama kehamilan.

Tabel 1. Tanda dan Gejala Bayi dan Anak

Usia Tanda Klinis Gejala Umum
Bayi Testis tidak terasa di skrotum, skrotum ipsilateral hypoplastic Tidak ada keluhan, kadang hernia inguinalis
Anak Testis terasa di kanalis inguinalis, ukuran testis lebih kecil Kadang nyeri, torsio testis, gangguan kosmetik

Penjelasan:

  • Pemeriksaan fisik sistematis penting untuk mendeteksi lokasi testis yang tidak turun.
  • Testis abdominal biasanya tidak teraba, sedangkan inguinal tinggi dapat diraba dengan palpasi lembut.

Diagnosis

  • Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan fisik, palpasi skrotum, dan kanalis inguinalis. Testis non-palpable dapat dievaluasi dengan USG, MRI, atau laparoskopi diagnostik.
  • Evaluasi hormonal seperti LH, FSH, testosteron, dan hCG dapat membantu membedakan kriptorkismus sekunder dari hipogonadisme.
  • Kombinasi pemeriksaan klinis dan penunjang diperlukan untuk menentukan strategi penanganan dan lokasi testis yang tepat.

Diagnosis Banding

  1. Testis retractile (turun naik ke skrotum)
  2. Agenesis testis atau testis hilang
  3. Hernia inguinalis tanpa testis turun
  4. Hidrokel kongenital
  5. Tumor testis kongenital

Penanganan

  1. Pengamatan awal: sebagian testis turun spontan dalam 3–6 bulan pertama.
  2. Terapi hormonal: hCG atau GnRH untuk merangsang turunnya testis, efektivitas bervariasi.
  3. Persiapan operasi: evaluasi lokasi testis dan kondisi skrotum.
  4. Penanganan komplikasi: torsio, hernia, atau testis kecil harus segera ditangani.
  5. Follow-up: monitoring pertumbuhan testis, fungsi reproduksi, dan risiko malignansi.
  6. Terapi Medikamentosa
Obat Indikasi Dosis / Pemberian Catatan
hCG Merangsang turunnya testis 250 IU IM tiap 2–3 hari selama 3–6 minggu (bayi <6 bulan) Efektivitas ~20–30%
GnRH analog Merangsang aksis hipotalamus-hipofisis Sesuai protokol pediatrik Dipertimbangkan pada kasus selektif

Operasi Bedah (Optek) pada Kriptorkismus

  • Orchiopexy inguinal: prosedur standar, testis dipindahkan ke skrotum dan fiksasi.
  • Laparoskopi diagnostik dan terapeutik: untuk testis non-palpable atau abdominal tinggi.
  • Fiksasi testis (orchidopexy): mencegah torsio dan mempertahankan perfusi.
  • Reseksi testis non-viable: jika testis atrofi atau tidak berkembang.
  • Perbaikan komplikasi: hernia inguinalis atau hidrokel terkait.

Alur Diagnosis dan Penanganan

  • Deteksi testis tidak turun pada pemeriksaan neonatal.
  • Evaluasi lokasi testis melalui palpasi dan imaging jika non-palpable.
  • Pertimbangkan terapi hormonal jika usia <6–12 bulan.
  • Operasi (orchiopexy) pada usia 6–18 bulan atau jika terapi hormonal gagal.
  • Monitoring pascaoperasi: fungsi testis, pertumbuhan, risiko malignansi.

Prognosis

  • Prognosis baik jika orchiopexy dilakukan sebelum 1 tahun, dengan mempertahankan fungsi spermatogenesis.
  • Risiko infertilitas meningkat pada kasus bilateral atau intervensi tertunda.
  • Risiko kanker testis meningkat, terutama jika orchiopexy dilakukan terlambat atau testis tetap abdominal.

Kesimpulan

Kriptorkismus adalah kelainan urologi paling umum pada bayi laki-laki yang memerlukan deteksi dini dan intervensi tepat waktu. Terapi hormonal dapat membantu kasus ringan, tetapi orchiopexy tetap menjadi penanganan definitif. Pemantauan jangka panjang penting untuk mencegah infertilitas, torsio, dan risiko malignansi.

Daftar Pustaka

  • Hutson JM, et al. Pediatric Surgery, 8th Edition. Springer, 2019.
  • Kolon TF, et al. “Evaluation and Treatment of Cryptorchidism.” Pediatrics, 2014;134:e1499–e1507.
  • Berkovitz GD, et al. “Hormonal Therapy for Undescended Testes.” J Pediatr Surg, 2010;45:2093–2098.
  • Ritzen EM. “Management of Nonpalpable Testes in Children.” BJU Int, 2012;109:1544–1550.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *