DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Diagnosis Klinis Tuberkulosis (TB): Pelajaran dari Misdiagnosis dan Overdiagnosis serta Pentingnya Membedakan dengan Alergi Makanan dan Alergi Saluran Cerna

Diagnosis Klinis Tuberkulosis (TB): Pelajaran dari Misdiagnosis dan Overdiagnosis serta Pentingnya Membedakan dengan Alergi Makanan dan Alergi Saluran Cerna

Abstrak

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Di negara dengan beban TB tinggi, dorongan untuk menemukan kasus sedini mungkin sangat penting, tetapi dapat meningkatkan risiko misdiagnosis (salah diagnosis) dan overdiagnosis (diagnosis berlebihan). Artikel Clinical diagnosis of TB: lessons on misdiagnosis and overdiagnosis oleh Singini dkk. (2025) menekankan bahwa diagnosis TB tidak boleh hanya berdasarkan gejala klinis atau satu pemeriksaan penunjang, melainkan harus mengintegrasikan anamnesis, pemeriksaan fisik, faktor risiko, pemeriksaan radiologi, serta konfirmasi mikrobiologi bila memungkinkan. Salah satu tantangan yang sering dihadapi, terutama pada anak, adalah adanya penyakit lain yang memberikan gambaran klinis menyerupai TB, termasuk alergi makanan dan gangguan alergi saluran cerna. Kondisi ini dapat menyebabkan batuk kronis, gangguan pertumbuhan, berat badan sulit naik, infeksi saluran napas berulang, dan keluhan sistemik sehingga berpotensi menimbulkan salah diagnosis bila evaluasi tidak dilakukan secara komprehensif.

Pendahuluan

Diagnosis TB merupakan kombinasi antara ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, dan penggunaan pemeriksaan penunjang yang tepat. Tidak ada satu gejala maupun satu pemeriksaan yang memiliki akurasi 100% untuk memastikan atau menyingkirkan TB. Oleh karena itu, pendekatan diagnostik yang terlalu sederhana dapat menyebabkan dua masalah besar, yaitu underdiagnosis (TB tidak terdiagnosis) maupun overdiagnosis (pasien didiagnosis TB padahal bukan TB).

Menurut Singini dkk. (2025), overdiagnosis tidak hanya menyebabkan penggunaan obat anti-TB yang tidak diperlukan, tetapi juga menunda penegakan diagnosis penyakit sebenarnya. Akibatnya, pasien mengalami efek samping obat, beban psikologis, stigma sosial, serta keterlambatan terapi yang sesuai.

Mengapa Misdiagnosis dan Overdiagnosis Masih Sering Terjadi?

Beberapa faktor utama yang berkontribusi antara lain:

  1. Gejala TB tidak spesifik. Batuk kronis, penurunan berat badan, demam, mudah lelah, nafsu makan menurun, atau pembesaran kelenjar getah bening juga dijumpai pada banyak penyakit lain, termasuk infeksi virus, penyakit paru kronis, penyakit autoimun, keganasan, gangguan nutrisi, serta alergi.
  2. Ketergantungan pada foto toraks. Gambaran infiltrat, pembesaran kelenjar, atau kelainan paru tidak selalu berarti TB aktif. Berbagai infeksi lain, kelainan inflamasi, maupun kelainan bawaan dapat memberikan gambaran serupa.
  3. Interpretasi berlebihan terhadap uji tuberkulin atau IGRA. Hasil positif menunjukkan adanya paparan terhadap Mycobacterium tuberculosis, tetapi tidak membuktikan adanya penyakit TB aktif.
  4. Riwayat kontak TB dianggap sebagai bukti diagnosis. Riwayat kontak meningkatkan risiko, tetapi tidak cukup untuk menegakkan diagnosis tanpa evaluasi klinis dan pemeriksaan lain.
  5. Keterbatasan akses pemeriksaan mikrobiologi. Di banyak fasilitas kesehatan, konfirmasi bakteriologis belum selalu tersedia sehingga diagnosis lebih banyak mengandalkan penilaian klinis.
  6. Bias kognitif (anchoring bias). Dokter cenderung mempertahankan diagnosis awal TB meskipun terdapat bukti yang mengarah pada penyakit lain.

Seberapa Besar Masalah Overdiagnosis?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa overdiagnosis TB merupakan masalah nyata, terutama pada anak. Di beberapa negara dengan beban TB tinggi, proporsi anak yang mendapatkan terapi TB tanpa konfirmasi bakteriologis sangat tinggi. Evaluasi lanjutan menunjukkan bahwa sebagian pasien ternyata memiliki penyakit lain sebagai penyebab utama gejalanya. Besarnya angka overdiagnosis bervariasi antarnegara dan antarpenelitian karena dipengaruhi metode diagnosis, akses pemeriksaan molekuler, dan karakteristik populasi. Hal ini menegaskan pentingnya evaluasi ulang apabila perjalanan klinis pasien tidak sesuai dengan diagnosis TB.

Overdiagnosis tuberkulosis (TB) merupakan tantangan nyata, terutama di negara dengan beban TB tinggi dan pada populasi anak. Berbeda dengan orang dewasa, sebagian besar anak dengan TB bersifat paucibacillary, yaitu jumlah kuman Mycobacterium tuberculosis sangat sedikit sehingga pemeriksaan mikrobiologi sering memberikan hasil negatif. Akibatnya, diagnosis pada anak masih banyak bergantung pada kombinasi gejala klinis, riwayat kontak, pemeriksaan radiologi, dan penilaian dokter. Pendekatan ini memang meningkatkan kemungkinan menemukan kasus TB, tetapi sekaligus meningkatkan risiko overdiagnosis maupun misdiagnosis.

WHO melaporkan bahwa hanya sekitar 36,5% anak yang diperkirakan menderita TB pada tahun 2020 berhasil terlaporkan ke program nasional TB. Pada kelompok usia di bawah 5 tahun, angka deteksinya bahkan hanya sekitar 27,5%, menunjukkan bahwa sebagian besar kasus TB anak masih belum terdiagnosis atau tidak dilaporkan. Kondisi ini menyebabkan banyak klinisi di negara dengan beban TB tinggi lebih memilih memulai terapi berdasarkan kecurigaan klinis untuk menghindari keterlambatan pengobatan. Namun, strategi tersebut memiliki konsekuensi berupa meningkatnya risiko overdiagnosis pada sebagian pasien yang sebenarnya menderita penyakit lain.

Kesulitan diagnosis juga tercermin dari rendahnya angka konfirmasi bakteriologis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kultur hanya mampu mengonfirmasi sekitar 10–50% kasus TB anak yang telah didiagnosis secara klinis, dengan angka median sekitar 24–29%. Artinya, sebagian besar anak yang mendapatkan terapi TB tidak memiliki konfirmasi mikrobiologis karena keterbatasan metode diagnostik, bukan karena diagnosis tersebut pasti salah. Hal ini menjelaskan mengapa evaluasi klinis secara berkala sangat penting setelah terapi dimulai.

Penelitian multicenter RaPaed-TB yang melibatkan lima negara menunjukkan bahwa dari 965 anak yang dievaluasi karena dicurigai TB, 239 anak (25%) memiliki TB yang terkonfirmasi secara mikrobiologis, sedangkan 282 anak (29%) diklasifikasikan sebagai TB tidak terkonfirmasi (unconfirmed TB) berdasarkan diagnosis klinis. Temuan ini menunjukkan bahwa proporsi pasien yang menjalani tata laksana berdasarkan pertimbangan klinis masih sangat besar, sehingga diperlukan evaluasi lanjutan untuk memastikan ketepatan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding.

Singini dan kolega (2025) menekankan bahwa overdiagnosis dan misdiagnosis merupakan konsekuensi dari keterbatasan diagnosis klinis TB, terutama ketika gejala yang tidak spesifik, akses pemeriksaan mikrobiologi terbatas, serta tekanan untuk tidak melewatkan kasus TB menyebabkan diagnosis ditegakkan tanpa bukti yang cukup. Akibatnya, sebagian pasien menerima pengobatan anti-TB padahal penyebab sebenarnya adalah penyakit lain, seperti infeksi non-TB, penyakit inflamasi, keganasan, gangguan imun, maupun penyakit alergi.

Pada anak, alergi makanan dan gangguan alergi saluran cerna merupakan salah satu diagnosis banding yang penting. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal tumbuh, berat badan sulit naik, nafsu makan menurun, batuk kronis, refluks gastroesofageal, konstipasi atau diare kronis, serta infeksi saluran napas berulang. Manifestasi tersebut dapat menyerupai TB sehingga berpotensi menimbulkan salah diagnosis apabila evaluasi dilakukan hanya berdasarkan gejala klinis tanpa mempertimbangkan diagnosis alternatif. Oleh karena itu, bila perjalanan penyakit atau respons terhadap terapi TB tidak sesuai harapan, dokter perlu melakukan evaluasi ulang secara menyeluruh dan mempertimbangkan kemungkinan penyakit lain sebagai penyebab utama gejala pasien.

⚠️ Diagnosis Klinis Tuberkulosis (TB): Pelajaran Penting tentang Salah Diagnosis (Misdiagnosis) dan Diagnosis Berlebihan (Overdiagnosis)

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Di negara dengan beban TB tinggi, dokter sering menghadapi dilema antara segera memulai pengobatan untuk mencegah penularan dan kematian, atau menunggu pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap agar diagnosis lebih akurat. Artikel terbaru oleh Singini dan kolega (2025) mengingatkan bahwa diagnosis TB yang hanya mengandalkan gejala klinis tanpa konfirmasi yang memadai dapat menyebabkan misdiagnosis (salah diagnosis) maupun overdiagnosis (diagnosis berlebihan). Kedua kondisi tersebut sama-sama merugikan pasien. Pasien yang sebenarnya tidak menderita TB dapat menerima pengobatan selama berbulan-bulan, mengalami efek samping obat, beban biaya, stigma sosial, serta keterlambatan diagnosis penyakit lain yang menjadi penyebab sebenarnya. Sebaliknya, pasien TB yang tidak terdiagnosis akan terus menularkan penyakit dan berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat.

Penulis menekankan bahwa gejala TB seperti batuk lama, demam, penurunan berat badan, keringat malam, atau pembesaran kelenjar getah bening bukanlah gejala yang spesifik. Berbagai penyakit lain dapat memberikan gambaran yang serupa, seperti infeksi bakteri atau jamur, penyakit paru kronis, kanker paru, penyakit autoimun, gagal jantung, hingga berbagai penyakit saluran cerna dan gangguan nutrisi pada anak yang menyebabkan berat badan sulit naik. Oleh karena itu, diagnosis TB harus menggabungkan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, penilaian faktor risiko, pemeriksaan radiologi, serta konfirmasi mikrobiologi seperti pemeriksaan molekuler cepat (misalnya Xpert MTB/RIF), mikroskopi, atau kultur bila memungkinkan. Tidak satu pun pemeriksaan klinis yang dapat berdiri sendiri sebagai dasar diagnosis TB.

Dalam praktik sehari-hari, overdiagnosis sering terjadi ketika dokter terlalu bergantung pada satu temuan, misalnya foto toraks yang dianggap khas TB, riwayat kontak dengan penderita TB, atau uji tuberkulin yang positif. Padahal, hasil tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit TB aktif. Sebaliknya, misdiagnosis juga dapat terjadi ketika gejala TB dianggap sebagai infeksi biasa sehingga diagnosis terlambat ditegakkan. Oleh karena itu, keputusan memulai terapi TB harus mempertimbangkan keseluruhan data klinis dan hasil pemeriksaan penunjang, serta dilakukan evaluasi ulang bila respons pengobatan tidak sesuai harapan.

Bagi tenaga kesehatan, pelajaran utama dari artikel ini adalah pentingnya menerapkan diagnosis berbasis bukti (evidence-based diagnosis). Setiap pasien perlu dievaluasi secara menyeluruh, diagnosis banding harus selalu dipertimbangkan, dan diagnosis perlu ditinjau kembali apabila perjalanan penyakit tidak sesuai dengan dugaan awal. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan ketepatan diagnosis TB, tetapi juga mencegah pengobatan yang tidak diperlukan serta mempercepat penanganan penyakit lain yang mungkin menjadi penyebab utama keluhan pasien. Dengan demikian, kualitas pelayanan kesehatan dapat meningkat sekaligus mengurangi dampak negatif dari salah diagnosis maupun diagnosis berlebihan.

Alergi Makanan dan Alergi Saluran Cerna: Penyakit yang Sering Menyerupai TB pada Anak

Pada anak, alergi makanan—terutama bentuk non-IgE atau campuran IgE/non-IgE—sering menimbulkan manifestasi multisistem sehingga dapat menyerupai TB.

Gejala yang dapat ditemukan meliputi:

  • Berat badan sulit naik atau gagal tumbuh.
  • Nafsu makan menurun.
  • Muntah berulang atau refluks gastroesofageal (GERD).
  • Diare kronis atau konstipasi.
  • Nyeri perut berulang.
  • Batuk kronis.
  • Asma atau mengi.
  • Rinitis alergi.
  • Infeksi saluran napas berulang.
  • Bronkopneumonia berulang.
  • Mudah lelah dan gangguan tidur.

Pada sebagian anak, keluhan saluran cerna merupakan manifestasi utama, sedangkan gejala kulit tidak selalu ditemukan. Akibatnya, diagnosis alergi makanan sering terlambat dikenali.

Peradangan kronis akibat alergi saluran cerna dapat menyebabkan penurunan asupan makanan, gangguan penyerapan nutrisi, peningkatan kebutuhan energi, serta gangguan pertumbuhan. Gambaran klinis ini sangat mirip dengan TB sehingga diperlukan evaluasi yang sistematis.

Selain itu, inflamasi alergi pada saluran napas dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus maupun bakteri sehingga anak tampak sering sakit. Kondisi ini dapat semakin memperkuat dugaan TB apabila tidak dievaluasi secara menyeluruh.

Bagaimana Membedakan TB dengan Alergi Makanan?

TB umumnya didukung oleh kombinasi faktor risiko epidemiologis, gejala klinis yang konsisten, gambaran radiologi yang sesuai, serta bukti infeksi Mycobacterium tuberculosis melalui pemeriksaan mikrobiologi atau molekuler.

Sebaliknya, pada alergi makanan sering ditemukan hubungan gejala dengan konsumsi makanan tertentu, riwayat atopi pada anak atau keluarga, keluhan saluran cerna kronis, rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, serta perbaikan setelah eliminasi makanan yang terbukti sebagai pencetus. Namun, diagnosis alergi makanan juga tidak boleh hanya berdasarkan dugaan atau pemeriksaan IgE saja. Bila diperlukan, Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan secara terstandar tetap merupakan baku emas untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara makanan dan gejala.

Implikasi bagi Praktik Klinis

Setiap pasien yang dicurigai TB perlu dievaluasi secara komprehensif. Bila gejala tidak sepenuhnya sesuai, hasil pemeriksaan tidak mendukung, atau respons terhadap terapi TB tidak memadai, diagnosis harus ditinjau kembali. Dokter juga perlu mempertimbangkan diagnosis banding seperti alergi makanan, penyakit saluran cerna, penyakit paru kronis, imunodefisiensi, keganasan, dan penyakit inflamasi lainnya.

Pendekatan berbasis bukti ini akan mengurangi pemberian obat anti-TB yang tidak diperlukan sekaligus mempercepat penanganan penyakit yang sebenarnya.

 

Kesimpulan

Misdiagnosis dan overdiagnosis TB masih menjadi tantangan besar dalam praktik klinis. Penyebab utamanya adalah gejala yang tidak spesifik, keterbatasan pemeriksaan konfirmasi, interpretasi berlebihan terhadap hasil pemeriksaan penunjang, serta bias klinis. Pada anak, alergi makanan dan alergi saluran cerna merupakan salah satu diagnosis banding penting karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, batuk kronis, infeksi saluran napas berulang, dan berbagai gejala sistemik yang menyerupai TB. Oleh karena itu, diagnosis TB harus ditegakkan melalui pendekatan klinis yang komprehensif, berbasis bukti, dan disertai evaluasi berkala terhadap kemungkinan diagnosis alternatif.

Referensi

  1. Singini DS, Sanjase N, Kagujje M, et al. Clinical diagnosis of TB: lessons on misdiagnosis and overdiagnosis. Public Health Action. 2025;15(2):93–95.
  2. World Health Organization. Global Tuberculosis Report. Edisi terbaru.
  3. World Health Organization. Operational Handbook on Tuberculosis.
  4. WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis.
  5. European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI). Food Allergy Guidelines.
  6. World Allergy Organization (WAO). Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guidelines.
  7. Muraro A, et al. EAACI Guidelines on Food Allergy.
  8. Nowak-Wegrzyn A, et al. AAAAI–EAACI PRACTALL Consensus Report on Oral Food Challenge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *