DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Pityriasis Alba (Putih Seperti Panu) dan Hubungannya dengan Alergi Makanan pada Anak

Pityriasis Alba (Putih Seperti Panu) dan Hubungannya dengan Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Sistematis

Abstrak

Pityriasis alba (PA) adalah gangguan hipopigmentasi kulit yang sering muncul pada anak-anak, ditandai oleh bercak putih tidak merata dengan batas yang jelas. Meskipun sering dikaitkan dengan infeksi jamur, penelitian menunjukkan bahwa PA tidak disebabkan oleh tinea atau mikroorganisme, tetapi lebih terkait dengan dermatitis atopik ringan, kulit kering, dan kemungkinan alergi makanan. Alergi makanan dapat memperburuk kondisi kulit dan menimbulkan flare ringan, terutama pada anak dengan riwayat atopik. Penanganan PA meliputi perawatan kulit dasar, identifikasi alergi makanan bila dicurigai, dan intervensi terapi topikal atau oral food challenge (OFC) bila diperlukan. Artikel ini meninjau epidemiologi, penyebab, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, penanganan, pencegahan, dan kesimpulan terkait PA dan alergi makanan pada anak.

Pendahuluan

Pityriasis alba adalah kondisi kulit kronis ringan yang paling sering ditemukan pada anak usia 3–16 tahun. Lesi ditandai dengan bercak putih hipopigmentasi, sering muncul di wajah, lengan, dan batang tubuh. PA biasanya bersifat asimptomatik, meski kadang disertai pruritus ringan. Kondisi ini sering muncul pada anak dengan riwayat dermatitis atopik ringan, dan sering membingungkan orang tua karena mirip dengan infeksi jamur.

Alergi makanan juga dapat berperan dalam fluktuasi PA pada anak. Paparan alergen tertentu dapat memicu inflamasi kulit subklinis, memperburuk hipopigmentasi atau menyebabkan flare sementara. Identifikasi alergen makanan, perawatan kulit rutin, dan strategi manajemen holistik menjadi kunci untuk mengurangi gejala, mencegah komplikasi, dan memperbaiki kualitas hidup anak serta keluarga.

Angka Kejadian

Pityriasis alba dilaporkan terjadi pada 5–10% anak-anak di seluruh dunia, dengan prevalensi lebih tinggi pada populasi dengan kulit lebih gelap. Laki-laki dan perempuan hampir sama risiko terkena, dan onset paling sering antara usia 3–12 tahun.

Insidensi PA pada anak dengan riwayat atopik lebih tinggi, diperkirakan sekitar 30–40%. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan tertentu lebih rentan mengalami flare hipopigmentasi atau lesi bercak lebih luas. Data epidemiologi menekankan hubungan PA dengan kulit kering dan riwayat atopik daripada infeksi jamur.

Penyebab

  1. Dermatitis atopik ringan: PA dianggap manifestasi ringan dari atopik, dengan peradangan subklinis yang menyebabkan hipopigmentasi.
  2. Kulit kering (xerosis): Kehilangan kelembapan kulit memperburuk penampilan bercak putih, terutama di wajah.
  3. Faktor imunologis: Aktivasi Th2 dan respon IgE terhadap alergen makanan dapat memicu inflamasi kulit ringan dan fluktuasi bercak.
  4. Paparan sinar matahari: Lesi PA terlihat lebih jelas pada kulit yang terbakar matahari karena kontras dengan kulit normal.
  5. Alergi makanan: Susu, telur, kedelai, dan kacang dapat memicu flare subklinis pada anak dengan riwayat atopik, meski tidak semua kasus PA berhubungan langsung dengan alergi makanan.

Patofisiologi

  1. Gangguan pigmentasi: Inflamasi ringan pada epidermis menyebabkan melanosit bekerja kurang optimal, menghasilkan bercak hipopigmentasi.
  2. Inflamasi imunologis: Aktivasi Th2 dan IgE terhadap alergen makanan atau lingkungan memicu peradangan subklinis.
  3. Gangguan barrier kulit: Xerosis dan defisiensi lipid epidermal meningkatkan kehilangan air trans-epidermal (TEWL), mempermudah iritasi dan flare bercak putih.

Tabel Jenis dan Tanda-Gejala Pityriasis Alba

Jenis Tanda & Gejala Penjelasan
PA ringan Bercak putih, batas jelas, ukuran 0,5–3 cm, biasanya di wajah Tidak menimbulkan gatal berat, kadang sedikit pruritus; muncul bertahap dan bisa multifokal
PA luas Banyak bercak di wajah, lengan, batang tubuh Sering terkait dengan kulit kering atau atopik ringan; flare dapat dipicu alergi makanan atau faktor lingkungan
PA residual Hipopigmentasi pasca flare Bisa bertahan beberapa bulan hingga kulit kembali ke warna normal

PA bervariasi dari ringan hingga luas. Lesi biasanya asimptomatik, tapi flare ringan dapat terjadi akibat faktor alergi atau iritan.

Tanda dan Gejala Alergi Lainnya

Sistem Gejala Penjelasan
Kulit Eksim, urtikaria, pruritus Flare dapat muncul bersamaan dengan PA; biasanya ringan jika alergen makanan dikendalikan
Gastrointestinal Muntah, diare, kolik Bisa menyertai flare alergi makanan; tidak selalu ada pada semua kasus PA
Respiratori Rhinitis, batuk, mengi Kadang terjadi pada anak dengan atopik polimorbid; biasanya ringan

Alergi makanan atau atopik lain dapat memodifikasi tampilan PA, tetapi bukan penyebab utama. Pengendalian alergen penting untuk mencegah flare tambahan.

Diagnosis

Diagnosis PA bersifat klinis, didasarkan pada bercak hipopigmentasi asimptomatik, biasanya pada wajah dan lengan. Riwayat atopik atau flare yang dipicu alergi makanan mendukung diagnosis.

Tes tambahan meliputi:

  1. Oral Food Challenge (OFC) bila dicurigai flare dipicu makanan tertentu, dibawah pengawasan dokter alergi anak
  2. Tes alergi kulit atau serum IgE spesifik untuk mendeteksi sensitivitas terhadap alergen makanan.
  3. Evaluasi kulit kering dan barrier: TEWL atau pemeriksaan dermatologis untuk menilai xerosis
  4. Pemeriksaan mikologi hanya jika diagnosis tinea masih dicurigai, walau jarang relevan.

Diagnosis Banding

  1. Tinea versicolor: Lesi bercak putih, tapi bersisik halus, sering di batang tubuh, tes KOH positif.
  2. Vitiligo: Bercak putih lebih tegas, progresif, tanpa batas eritema, tidak terkait atopik.
  3. Seborrheic dermatitis: Lesi merah bersisik kuning, biasanya di kulit kepala, alis, wajah.
  4. Pityriasis rosea: Ruam merah oval, bersisik, biasanya bermula dengan herald patch.

Penanganan Terkini

  1. Perawatan kulit dasar: Emolien rutin untuk mengurangi xerosis dan memperbaiki barrier kulit.
  2. Topikal ringan: Kortikosteroid ringan atau immunomodulator untuk flare ringan jika gatal.
  3. Pengendalian alergi makanan: Eliminasi hanya bila terbukti melalui OFC atau tes alergi; hindari penggantian sembarangan.
  4. Monitoring dan edukasi keluarga: Mengamati flare, mengidentifikasi pemicu, dan menjaga kelembapan kulit.
  5. OFC terkontrol: Digunakan untuk memastikan alergen makanan yang memicu flare, sehingga pengelolaan diet menjadi lebih tepat.

Pencegahan

  1. Hidrasi kulit rutin: Emolien sejak bayi berisiko atopik dapat mencegah flare PA.
  2. Identifikasi alergen sejak dini: Tes alergi dan OFC membantu mencegah flare kulit akibat makanan.
  3. Edukasi orang tua: Mengenali flare, menghindari iritan yang tidak terbukti, dan menjaga rutinitas perawatan kulit.
  4. Pengelolaan lingkungan: Hindari debu, polusi, atau paparan faktor yang memicu kulit kering.

Kesimpulan

Pityriasis alba pada anak adalah kondisi kulit ringan yang sering terkait dengan atopik dan alergi makanan, bukan infeksi jamur. Manajemen yang efektif mencakup perawatan kulit, identifikasi alergen melalui tes dan OFC, serta edukasi keluarga. Pengendalian alergi makanan dan hidrasi kulit rutin dapat mengurangi flare dan memperbaiki kualitas hidup anak. Pendekatan holistik dan berbasis bukti menjadi kunci keberhasilan terapi.

Daftar Pustaka 

  1. Paller AS, Mancini AJ. Hurwitz Clinical Pediatric Dermatology. 6th ed. Elsevier; 2016.
  2. Bieber T. Atopic dermatitis. N Engl J Med. 2008;358:1483–1494.
  3. Leung DY, et al. New insights into atopic dermatitis. J Clin Invest. 2004;113:651–657.
  4. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:291–307.
  5. Wollenberg A, et al. Guidelines of care for the management of atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol. 2018;141:1502–1510.
  6. Hanifin JM, Rajka G. Diagnostic features of atopic dermatitis. Acta Derm Venereol. 1980;92(Suppl):44–47.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *