Dampak Konsumsi Makanan Ultra-Proses terhadap Kesehatan: Bukti Ilmiah Terkini
Makanan ultra-proses (ultraprocessed foods, UPF) merupakan kelompok pangan yang diklasifikasikan dalam Grup 4 sistem NOVA, yaitu produk yang diformulasikan melalui berbagai proses industri menggunakan bahan hasil ekstraksi, pemurnian, atau sintesis pangan, disertai berbagai aditif seperti pengawet, pemanis, pewarna, pengemulsi, penstabil, penguat rasa, dan perisa. Produk ini umumnya mengandung sedikit atau tidak mengandung bahan pangan utuh serta memiliki densitas energi tinggi, tetapi rendah serat, vitamin, mineral, dan komponen bioaktif.
Dalam dua dekade terakhir, konsumsi UPF meningkat secara bermakna di berbagai negara dan menyumbang lebih dari 50% total asupan energi harian di beberapa negara berpendapatan tinggi. Bukti epidemiologi yang konsisten menunjukkan bahwa tingginya konsumsi UPF berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular, termasuk obesitas, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, kanker, gangguan kesehatan mental, penyakit ginjal kronis, serta peningkatan mortalitas. Pada populasi anak, konsumsi UPF juga dikaitkan dengan obesitas, kualitas diet yang buruk, perilaku sedentari, dan gangguan perkembangan metabolik.
Contoh Makanan Ultra-Proses
| Kelompok | Contoh |
|---|---|
| Minuman | Minuman berpemanis, minuman berkarbonasi, minuman energi, teh dan kopi kemasan |
| Makanan ringan | Keripik, biskuit, wafer, cokelat, permen |
| Makanan siap saji | Mi instan, nugget, sosis, burger, pizza beku |
| Produk olahan | Roti industri, sereal bergula, es krim, yogurt tinggi gula |
Dampak Kesehatan Berdasarkan Bukti Ilmiah
| Luaran Kesehatan | Bukti Ilmiah |
|---|---|
| Obesitas | Meningkatkan densitas energi makanan, asupan kalori, adipositas, dan indeks massa tubuh. |
| Diabetes melitus tipe 2 | Berhubungan dengan resistensi insulin, gangguan homeostasis glukosa, dan peningkatan risiko diabetes. |
| Penyakit kardiovaskular | Meningkatkan risiko hipertensi, dislipidemia, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, dan stroke. |
| Kanker | Berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, payudara, dan beberapa keganasan lain. |
| Penyakit ginjal kronis | Berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis. |
| Kesehatan mental | Dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, gangguan kecemasan, dan penurunan fungsi kognitif. |
| Mortalitas | Berhubungan dengan peningkatan mortalitas semua penyebab dan mortalitas kardiovaskular. |
| Anak | Berkaitan dengan obesitas, kualitas diet yang rendah, peningkatan screen time, serta penurunan aktivitas fisik. |
Ringkasan Penelitian Terkini
| Publikasi | Desain Penelitian | Temuan Utama |
|---|---|---|
| BMJ, 2024 | Umbrella review terhadap meta-analisis epidemiologi | Konsumsi UPF berhubungan dengan lebih dari 30 luaran kesehatan yang merugikan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, depresi, kanker, dan mortalitas. Bukti terkuat ditemukan pada luaran kardiometabolik dan kesehatan mental. |
| European Journal of Pediatrics, 2026 | Kohort prospektif dua tahun | Anak usia 4 hingga 5 tahun dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan lebih rendah memenuhi rekomendasi gerak selama 24 jam serta memiliki durasi screen time yang lebih panjang dibandingkan kelompok konsumsi terendah. |
| Public Health Nutrition | Studi klasifikasi NOVA | Menetapkan definisi operasional UPF yang menjadi standar internasional dalam penelitian epidemiologi gizi. |
Mekanisme Patofisiologi
Efek merugikan UPF diduga dimediasi melalui beberapa mekanisme biologis, meliputi peningkatan densitas energi makanan, tingginya kandungan gula bebas, lemak jenuh, natrium, dan rendahnya serat pangan. Pola konsumsi tersebut dapat menyebabkan keseimbangan energi positif, resistensi insulin, disfungsi endotel, aktivasi inflamasi kronis derajat rendah, stres oksidatif, serta perubahan komposisi mikrobiota usus. Disbiosis usus selanjutnya memengaruhi gut-brain axis, metabolisme glukosa, regulasi hormon leptin, ghrelin, glucagon-like peptide-1 (GLP-1), dan peptide YY sehingga meningkatkan risiko penyakit metabolik.
Implikasi Klinis
Tenaga kesehatan perlu memasukkan evaluasi konsumsi UPF sebagai bagian dari asesmen nutrisi rutin, terutama pada pasien dengan obesitas, diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskular, maupun gangguan pertumbuhan anak. Edukasi gizi hendaknya menekankan pengurangan konsumsi makanan ultra-proses dan peningkatan konsumsi pangan segar, buah, sayuran, kacang-kacangan, serealia utuh, ikan, serta sumber protein alami sebagai bagian dari strategi pencegahan penyakit tidak menular.
Rekomendasi
- Batasi konsumsi makanan ultra-proses dan minuman berpemanis.
- Prioritaskan konsumsi pangan segar atau pangan yang diproses secara minimal.
- Tingkatkan konsumsi buah, sayuran, serealia utuh, kacang-kacangan, ikan, telur, dan susu tanpa tambahan gula.
- Terapkan edukasi membaca label pangan untuk mengidentifikasi kandungan gula, natrium, dan lemak jenuh.
- Pada anak, kombinasikan perbaikan pola makan dengan peningkatan aktivitas fisik dan pembatasan screen time sesuai rekomendasi usia.
Kesimpulan
Akumulasi bukti dari studi kohort prospektif, meta-analisis, dan umbrella review menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses merupakan faktor risiko yang konsisten terhadap berbagai penyakit kronis. Hubungan tersebut mencakup obesitas, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, kanker, gangguan kesehatan mental, penyakit ginjal kronis, dan peningkatan mortalitas. Pada anak usia prasekolah, konsumsi UPF juga berhubungan dengan rendahnya kepatuhan terhadap rekomendasi gerak selama 24 jam dan peningkatan perilaku sedentari. Pengurangan konsumsi makanan ultra-proses merupakan salah satu strategi berbasis bukti yang penting dalam pencegahan penyakit tidak menular sepanjang siklus kehidupan.
Daftar Pustaka
- Lane MM, Gamage E, Du S, Ashtree DN, McGuinness AJ, Gauci S, et al. Ultra-processed food exposure and adverse health outcomes: umbrella review of epidemiological meta-analyses. BMJ. 2024;384:e077310. doi:10.1136/bmj-2023-077310.
- Ribeiro SAV, Faria FR, Rocha NP, et al. Can ultraprocessed food intake affect activity levels in preschoolers? Eur J Pediatr. 2026;185(8). doi:10.1007/s00431-026-07287-6.
- Monteiro CA, Cannon G, Levy RB, Moubarac JC, Louzada MLC, Rauber F, et al. Ultra-processed foods: what they are and how to identify them. Public Health Nutr. 2019;22(5):936-941. doi:10.1017/S1368980018003762.
- Monteiro CA, Cannon G, Moubarac JC, Levy RB, Louzada MLC, Jaime PC. The UN Decade of Nutrition, the NOVA food classification and the trouble with ultra-processing. Public Health Nutr. 2018;21(1):5-17. doi:10.1017/S1368980017000234.
- Monteiro CA, Cannon G, Lawrence M, Costa Louzada ML, Machado PP. Ultra-Processed Foods, Diet Quality, and Health Using the NOVA Classification System. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations; 2019.










Leave a Reply