DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

REVIEW JOURNAL TERKINI: Konsumsi Makanan Ultra-Proses Berhubungan dengan Penurunan Aktivitas Fisik pada Anak Prasekolah, Temuan Studi Kohort Prospektif Dua Tahun

REVIEW JOURNAL TERKINI: Konsumsi Makanan Ultra-Proses Berhubungan dengan Penurunan Aktivitas Fisik pada Anak Prasekolah, Temuan Studi Kohort Prospektif Dua Tahun

Sumber: European Journal of Pediatrics. Published online 29 Juli 2026. doi:10.1007/s00431-026-07287-6

  • Sebuah studi kohort prospektif yang dipublikasikan dalam European Journal of Pediatrics melaporkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses (ultraprocessed foods, UPF) pada anak usia prasekolah berhubungan dengan penurunan kepatuhan terhadap rekomendasi aktivitas selama 24 jam setelah masa tindak lanjut selama dua tahun. Anak dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki risiko lebih besar tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian dan menunjukkan durasi screen time yang lebih panjang dibandingkan anak dengan konsumsi UPF terendah. Temuan ini memperkuat bukti bahwa pola makan sejak usia dini berkontribusi terhadap perilaku sedentari dan kesehatan jangka panjang anak.

Makanan ultra-proses merupakan produk pangan yang diproduksi melalui proses industri intensif dengan berbagai bahan tambahan, termasuk pengawet, pemanis, pewarna, pengemulsi, dan perisa. Konsumsi UPF terus meningkat di berbagai negara dan dikaitkan dengan obesitas, penyakit kardiometabolik, diabetes tipe 2, hipertensi, serta gangguan kesehatan mental. Namun, bukti mengenai dampak UPF terhadap pola aktivitas fisik pada anak prasekolah masih terbatas. Masa prasekolah merupakan periode kritis dalam pembentukan kebiasaan makan, aktivitas fisik, pola tidur, dan penggunaan media digital yang akan memengaruhi kesehatan hingga dewasa.

Metode

  • Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif dengan masa tindak lanjut selama dua tahun. Peserta terdiri atas anak-anak berusia 4 hingga 5 tahun yang direkrut pada awal penelitian. Pola konsumsi makanan dinilai menggunakan food frequency questionnaire yang telah divalidasi. Seluruh makanan diklasifikasikan berdasarkan sistem NOVA untuk menentukan proporsi konsumsi makanan ultra-proses. Berdasarkan hasil tersebut, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok konsumsi UPF, yaitu tertil rendah, sedang, dan tinggi.
  • Luaran utama penelitian adalah kepatuhan terhadap rekomendasi gerak selama 24 jam yang meliputi aktivitas fisik sesuai usia, durasi tidur yang dianjurkan, dan pembatasan screen time. Analisis statistik dilakukan dengan menyesuaikan berbagai faktor perancu, termasuk usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan orang tua, indeks massa tubuh, serta karakteristik keluarga yang berpotensi memengaruhi hasil penelitian.

Hasil

  • Setelah masa observasi selama dua tahun, anak dengan konsumsi UPF pada tertil tertinggi memiliki kemungkinan lebih rendah untuk memenuhi rekomendasi gerak selama 24 jam dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah. Hubungan tersebut tetap konsisten setelah dilakukan penyesuaian terhadap berbagai variabel perancu, sehingga menunjukkan bahwa konsumsi UPF merupakan faktor independen yang berhubungan dengan perilaku hidup kurang aktif.
  • Analisis komponen menunjukkan bahwa perbedaan terbesar terjadi pada durasi penggunaan layar elektronik. Anak dalam kelompok konsumsi UPF tertinggi menghabiskan waktu lebih lama menggunakan televisi, telepon pintar, tablet, maupun perangkat digital lainnya dibandingkan kelompok konsumsi terendah. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara pola makan kurang sehat dengan meningkatnya perilaku sedentari sejak usia dini.
  • Peneliti tidak menemukan bukti bahwa konsumsi UPF meningkatkan aktivitas fisik untuk mengimbangi tingginya asupan energi. Sebaliknya, konsumsi UPF cenderung disertai gaya hidup yang lebih pasif, sehingga meningkatkan risiko ketidakseimbangan energi yang dapat berujung pada kelebihan berat badan dan obesitas.

Interpretasi Peneliti

  • Peneliti mengemukakan beberapa mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan tersebut. Makanan ultra-proses memiliki kepadatan energi tinggi tetapi miskin serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif. Pola makan seperti ini dapat mengganggu regulasi metabolisme energi, sensitivitas insulin, hormon leptin dan ghrelin, serta pusat pengaturan nafsu makan di otak.
  • Selain itu, konsumsi UPF diketahui dapat mengubah komposisi mikrobiota usus. Perubahan mikrobiota berpotensi memengaruhi gut-brain axis melalui jalur imunologis, metabolik, hormonal, dan neurologis. Aktivasi inflamasi kronis derajat rendah serta perubahan produksi asam lemak rantai pendek diduga turut memengaruhi kualitas tidur, fungsi kognitif, regulasi emosi, dan motivasi untuk melakukan aktivitas fisik.

Makna Klinis

  • Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi praktik pediatri dan kesehatan masyarakat. Evaluasi pola makan sebaiknya menjadi bagian dari penilaian rutin pada anak dengan aktivitas fisik rendah, screen time berlebihan, maupun peningkatan berat badan yang tidak sesuai. Konseling kepada orang tua perlu menekankan pembatasan makanan ultra-proses, peningkatan konsumsi makanan segar, serta pembentukan kebiasaan bermain aktif sejak usia dini.
  • Pendekatan intervensi juga perlu dilakukan secara terpadu. Upaya meningkatkan aktivitas fisik tanpa memperbaiki kualitas pola makan kemungkinan memberikan manfaat yang kurang optimal. Kombinasi edukasi gizi, pembatasan screen time, peningkatan aktivitas bermain di luar ruangan, dan pola tidur yang baik diperkirakan memberikan dampak yang lebih besar terhadap kesehatan anak.

Keterbatasan Penelitian

  • Penelitian ini merupakan studi observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung. Penilaian konsumsi makanan dilakukan berdasarkan laporan orang tua sehingga masih terdapat kemungkinan bias ingatan maupun kesalahan pelaporan. Selain itu, perubahan pola makan selama masa tindak lanjut mungkin tidak seluruhnya dapat tercatat.
  • Faktor lingkungan seperti kebiasaan keluarga, akses terhadap ruang bermain, pola pengasuhan, serta budaya makan juga dapat memengaruhi aktivitas fisik anak meskipun telah dilakukan penyesuaian statistik. Oleh karena itu, penelitian intervensi dan uji klinis masih diperlukan untuk memastikan apakah pengurangan konsumsi makanan ultra-proses dapat secara langsung meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan screen time pada anak prasekolah.

Kesimpulan

Studi kohort prospektif ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi pada usia prasekolah berhubungan dengan rendahnya kepatuhan terhadap rekomendasi gerak selama 24 jam setelah dua tahun pengamatan. Hubungan tersebut terutama terlihat pada peningkatan durasi screen time. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas pola makan merupakan komponen penting dalam pembentukan gaya hidup sehat sejak usia dini. Strategi pencegahan obesitas dan penyakit metabolik pada anak perlu mengintegrasikan perbaikan pola makan dengan peningkatan aktivitas fisik, pembatasan penggunaan gawai, serta penerapan pola tidur yang sehat.

Daftar Pustaka

  1. Ribeiro SAV, et al. Can ultraprocessed food intake affect activity levels in preschoolers? European Journal of Pediatrics. 2026;185(8). doi:10.1007/s00431-026-07287-6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *