DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

MITOS DAN FAKTA TENTANG GIZI ANAK BERDASARKAN BUKTI ILMIAH

MITOS DAN FAKTA TENTANG GIZI ANAK BERDASARKAN BUKTI ILMIAH

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto


  1. MITOS 1: Buah yang mengandung gula tinggi tidak baik untuk anak.
    • FAKTA Memang benar beberapa buah mengandung gula alami (fruktosa) lebih tinggi dibandingkan buah lainnya, misalnya anggur (±16 g gula/100 g), mangga matang (±14 g), pisang matang (±12 g), leci (±15 g), dan kurma (±66 g per 100 g buah kering). Namun gula tersebut merupakan gula alami yang terdapat bersama berbagai zat gizi penting sehingga berbeda dengan gula tambahan (added sugar) pada minuman ringan, sirup, biskuit, atau permen. Buah juga mengandung serat pangan, vitamin, mineral, air, antioksidan, serta berbagai senyawa bioaktif yang memperlambat penyerapan gula sehingga tidak menyebabkan lonjakan glukosa darah sebesar minuman manis. Sebagai contoh, satu buah apel mengandung sekitar 2,4 g serat, 107 mg kalium, dan vitamin C, sedangkan pisang mengandung sekitar 358 mg kalium, vitamin B6, vitamin C, serta pati resisten yang baik bagi kesehatan usus. Pepaya kaya akan vitamin A, vitamin C, folat, dan enzim papain yang membantu pencernaan. Alpukat mengandung lemak tak jenuh tunggal, serat sekitar 6–7 g/100 g, vitamin E, folat, dan kalium. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi buah utuh berhubungan dengan penurunan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit kardiovaskular, serta membantu menjaga kesehatan saluran cerna. Oleh karena itu, WHO dan berbagai organisasi pediatri menganjurkan anak mengonsumsi berbagai jenis buah setiap hari, sedangkan yang perlu dibatasi adalah gula tambahan, bukan gula alami dari buah utuh.
  2. MITOS 2: Minuman bersoda bening lebih sehat dibandingkan soda berwarna.
    • FAKTA Warna minuman bersoda tidak menentukan nilai gizinya. Baik soda bening maupun soda berwarna umumnya mengandung 35–40 gram gula tambahan dalam satu kaleng (330 ml) atau sekitar 8–10 sendok teh gula, yang sudah melebihi anjuran konsumsi gula tambahan harian pada anak. Selain tinggi gula, minuman bersoda hampir tidak mengandung protein, serat, vitamin, maupun mineral sehingga hanya memberikan kalori kosong (empty calories). Konsumsi rutin minuman berpemanis telah terbukti meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), serta karies gigi. Air putih tetap merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan anak. Sebagai alternatif, buah utuh lebih dianjurkan dibandingkan jus karena kandungan seratnya lebih tinggi. Bila mengonsumsi jus buah, sebaiknya tanpa tambahan gula dan dalam jumlah terbatas. Minuman olahraga (sports drinks) juga umumnya tidak diperlukan untuk sebagian besar anak karena mengandung gula dan natrium cukup tinggi, kecuali pada aktivitas fisik intensitas tinggi yang berlangsung lama sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  3. MITOS 3: Karbohidrat tidak baik untuk anak dan harus dihindari.
    • FAKTA Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh dan terutama otak anak. Sekitar 45–65% kebutuhan energi harian anak berasal dari karbohidrat. Otak menggunakan glukosa sebagai bahan bakar utama untuk mendukung proses belajar, memori, konsentrasi, dan aktivitas fisik. Yang perlu diperhatikan bukanlah menghindari karbohidrat, melainkan memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat. Contohnya adalah beras, kentang, ubi jalar, singkong, jagung, oat, roti gandum utuh, dan berbagai buah-buahan. Selain menyediakan energi, makanan tersebut juga mengandung serat, vitamin B kompleks, magnesium, kalium, dan berbagai fitonutrien. Sebagai contoh, oat mengandung beta-glukan, yaitu serat larut yang membantu kesehatan usus dan menjaga kadar kolesterol. Kentang kaya vitamin C dan kalium, sedangkan ubi jalar mengandung beta-karoten yang merupakan prekursor vitamin A. Sebaliknya, makanan tinggi gula sederhana seperti minuman manis, kue, dan permen memberikan energi tetapi miskin zat gizi. Cara pengolahan juga penting; merebus, mengukus, memanggang, atau menumis lebih dianjurkan dibandingkan menggoreng berulang kali. Pada kondisi medis tertentu, seperti diabetes atau penyakit metabolik, pembatasan karbohidrat dilakukan secara individual berdasarkan rekomendasi dokter.
  4. MITOS 4: Sayur dan buah beku atau kalengan tidak sehat.
    • FAKTA Penelitian menunjukkan bahwa sayuran dan buah beku maupun kalengan dapat memiliki kandungan vitamin dan mineral yang hampir setara dengan produk segar, terutama bila diproses segera setelah dipanen. Proses pembekuan cepat (flash freezing) mampu mempertahankan sebagian besar kandungan vitamin C, vitamin A, folat, serat, dan antioksidan. Misalnya, brokoli beku masih mengandung vitamin C, vitamin K, folat, dan sulforaphane dalam jumlah yang baik, sedangkan bayam beku tetap kaya zat besi, folat, vitamin A, dan lutein. Jagung beku mempertahankan kandungan serat dan vitamin B, sedangkan kacang polong beku tetap merupakan sumber protein nabati, serat, folat, dan vitamin K. Pada produk kalengan, yang perlu diperhatikan adalah memilih sayuran dengan label “no salt added” (tanpa tambahan garam) dan buah yang dikemas dalam 100% jus buah, bukan dalam sirup yang mengandung gula tambahan. Produk beku dan kalengan dapat menjadi pilihan yang praktis, ekonomis, memiliki masa simpan lebih lama, dan tetap bergizi, terutama bila akses terhadap buah dan sayuran segar terbatas. Yang terpenting adalah memastikan anak mengonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang cukup setiap hari sesuai anjuran gizi seimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *