Perilaku Anak Autisme atau ADHD Tiba-Tiba Memburuk? Jangan Langsung Menyalahkan Gangguan Perkembangannya

Tanya
Dok, anak saya laki-laki berusia 6 tahun telah didiagnosis autisme sejak usia 3 tahun dan rutin menjalani terapi wicara, terapi okupasi, serta sekolah inklusi. Selama hampir dua tahun terakhir perkembangannya cukup baik, tetapi sekitar tiga bulan terakhir perilakunya berubah cukup drastis. Ia menjadi jauh lebih hiperaktif, sulit berkonsentrasi, sering berteriak, mudah marah, lebih sering mengamuk tanpa penyebab yang jelas, kadang memukul atau menggigit dirinya sendiri maupun orang lain, serta sering terbangun pada malam hari. Gurunya juga mengatakan anak saya menjadi lebih sulit mengikuti instruksi dibandingkan sebelumnya. Selain perubahan perilaku tersebut, anak saya juga sangat sulit makan, hanya mau beberapa jenis makanan tertentu, sering mengeluh sakit perut, perutnya sering kembung, buang air besarnya keras hanya setiap 3–4 hari sekali, dan berat badannya hampir tidak bertambah selama beberapa bulan terakhir. Apakah perubahan perilaku ini memang menunjukkan autisme atau ADHD yang semakin berat, atau justru dapat disebabkan oleh gangguan kesehatan lain yang selama ini tidak disadari? Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan agar penyebabnya diketahui secara tepat sebelum dokter menambah obat atau mengubah program terapinya?

Jawab
Perubahan perilaku yang terjadi secara mendadak atau semakin berat pada anak dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) maupun Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) tidak boleh langsung dianggap sebagai progresivitas gangguan neuroperkembangannya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan perilaku sering merupakan manifestasi sekunder dari kondisi medis yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, gangguan tidur, atau stres fisiologis. Karena banyak anak dengan ASD memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan rasa sakit atau keluhan secara verbal, kondisi medis tersebut sering muncul dalam bentuk perubahan perilaku, seperti agresivitas, tantrum, hiperaktivitas, gangguan perhatian, perilaku melukai diri sendiri (self-injurious behavior), atau gangguan regulasi emosi.
Gangguan saluran cerna merupakan salah satu komorbiditas medis yang paling sering ditemukan pada anak dengan ASD. Berbagai penelitian menunjukkan prevalensi konstipasi, refluks gastroesofageal, nyeri perut kronis, diare, gangguan motilitas usus, hingga Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Nyeri kronis akibat gangguan saluran cerna dapat mengaktifkan jalur stres melalui gut–brain axis, meningkatkan aktivasi sistem saraf simpatis, mengganggu kualitas tidur, dan memperburuk regulasi perilaku serta fungsi kognitif anak.
Perkembangan ilmu dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa saluran cerna dan otak berkomunikasi melalui suatu sistem kompleks yang dikenal sebagai gut–brain–microbiome axis. Sistem ini melibatkan sistem saraf enterik, saraf vagus, mikrobiota usus, sistem imun mukosa, metabolit mikroba, hormon, dan sitokin inflamasi. Gangguan pada salah satu komponen tersebut dapat memengaruhi fungsi otak, perilaku, kemampuan belajar, regulasi emosi, bahkan fungsi sosial anak. Konsep ini juga menjadi salah satu dasar pembaruan Rome V (2026) dalam memahami DGBI.
Rome V menjelaskan bahwa DGBI bukan sekadar gangguan “fungsional”, tetapi merupakan kondisi biologis yang melibatkan gangguan motilitas saluran cerna, hipersensitivitas viseral, perubahan fungsi sawar mukosa usus (intestinal barrier dysfunction), aktivasi sistem imun mukosa, disbiosis mikrobiota, serta perubahan pemrosesan sinyal pada sistem saraf pusat. Mekanisme tersebut dapat menjelaskan mengapa sebagian anak dengan konstipasi kronis, nyeri perut, atau gangguan makan juga mengalami perubahan perilaku yang bermakna.
Selain DGBI, dokter juga perlu mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE. Berbeda dengan alergi IgE yang sering menimbulkan biduran atau anafilaksis, alergi non-IgE lebih banyak menimbulkan gejala saluran cerna seperti refluks, muntah kronis, konstipasi, diare, nyeri perut, gangguan makan, atau gangguan pertumbuhan. Inflamasi mukosa yang berlangsung kronis dapat meningkatkan pelepasan sitokin proinflamasi, mengganggu permeabilitas usus, serta memengaruhi komunikasi pada gut–brain axis sehingga berpotensi memperberat gangguan perilaku pada sebagian anak. Namun demikian, hingga saat ini bukti ilmiah belum mendukung bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama autisme atau ADHD.
Gangguan tidur juga merupakan faktor yang sangat penting. Tidur yang tidak berkualitas akan meningkatkan kadar sitokin inflamasi, mengganggu fungsi korteks prefrontal, menurunkan kemampuan atensi, mengganggu kontrol impuls, dan meningkatkan hiperaktivitas maupun iritabilitas. Oleh karena itu, evaluasi gangguan tidur harus menjadi bagian dari pemeriksaan rutin pada setiap anak dengan perubahan perilaku.
Faktor nutrisi juga tidak boleh diabaikan. Banyak anak ASD mengalami food selectivity atau pola makan yang sangat terbatas sehingga berisiko mengalami kekurangan zat besi, vitamin B12, folat, vitamin D, seng, maupun asam lemak esensial. Defisiensi mikronutrien tersebut diketahui dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter, mielinisasi, metabolisme energi neuron, serta perkembangan fungsi kognitif dan perilaku. Karena itu, evaluasi status gizi dan pertumbuhan merupakan bagian penting dalam pendekatan komprehensif.
Pendekatan diagnostik yang dianjurkan adalah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh sebelum menyimpulkan bahwa perubahan perilaku semata-mata disebabkan oleh ASD atau ADHD. Dokter perlu mengevaluasi pola tidur, pola makan, fungsi saluran cerna, riwayat infeksi, penggunaan obat-obatan, nyeri gigi, gangguan penglihatan atau pendengaran, penyakit alergi, kondisi psikososial, serta adanya alarm features seperti gagal tumbuh, anemia, perdarahan saluran cerna, muntah persisten, atau penurunan berat badan. Pemeriksaan penunjang dilakukan berdasarkan indikasi klinis, bukan secara rutin pada semua pasien.
Kesimpulannya, perubahan perilaku pada anak dengan autisme atau ADHD merupakan gejala yang bersifat multifaktorial. Gangguan perkembangan memang berperan, tetapi berbagai kondisi medis seperti DGBI, konstipasi, refluks, alergi makanan, gangguan tidur, gangguan nutrisi, infeksi, maupun nyeri kronis dapat menjadi faktor yang memperburuk perilaku. Oleh karena itu, sebelum meningkatkan dosis obat atau mengubah program terapi perilaku, diperlukan evaluasi medis yang komprehensif agar penyebab yang dapat diobati tidak terlewatkan. Pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan aspek neurologi, gastroenterologi, nutrisi, psikologi, dan rehabilitasi merupakan strategi terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup anak dan keluarganya.

Daftar Pustaka
- Hyman SL, Levy SE, Myers SM, et al. Identification, Evaluation, and Management of Children With Autism Spectrum Disorder. Pediatrics. 2020;145(1):e20193447. https://publications.aap.org/pediatrics/article/145/1/e20193447
- Buie T, Campbell DB, Fuchs GJ III, et al. Evaluation, Diagnosis, and Treatment of Gastrointestinal Disorders in Individuals With Autism Spectrum Disorders: A Consensus Report. Pediatrics. 2010;125(Suppl 1):S1–S18. https://publications.aap.org/pediatrics/article/125/Supplement_1/S1/68205







Leave a Reply