DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

TERAPI ALERGI MAKANAN MEMASUKI ERA BARU: DARI PENGHINDARAN ALERGEN MENUJU MODULASI SISTEM IMUN

TERAPI ALERGI MAKANAN MEMASUKI ERA BARU: DARI PENGHINDARAN ALERGEN MENUJU MODULASI SISTEM IMUN

Laporan ilmiah populer berbasis bukti

Alergi makanan kini tidak lagi dipandang hanya sebagai kondisi yang harus dikelola dengan menghindari makanan pencetus. Perkembangan imunologi dan terapi biologis mulai mengubah paradigma tersebut. Editorial Leung, Xing, dan Wong dalam World Journal of Pediatrics pada 2025 menggambarkan perkembangan terapi abad ke-21 yang bergerak dari pengendalian paparan menuju peningkatan ambang toleransi dan modulasi respons imun. Perubahan ini penting karena alergi makanan dapat berlangsung lama, memengaruhi kualitas hidup, menimbulkan kecemasan terhadap paparan tidak sengaja, dan pada sebagian pasien menyebabkan anafilaksis. (EAACI)

Masalah pertama dalam terapi alergi makanan sebenarnya terletak pada diagnosis. Alergi makanan tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Skin prick test dan serum-specific IgE terutama mendeteksi sensitisasi terhadap alergen tertentu. Sensitisasi tidak selalu identik dengan alergi klinis. Karena itu, riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan tetap menjadi dasar evaluasi. Bila hubungan antara makanan dan gejala belum jelas, oral food challenge atau OFC dapat digunakan untuk menentukan apakah paparan makanan benar-benar menimbulkan reaksi klinis. Pedoman AAAAI dan EAACI 2024 menekankan pentingnya protokol dosis bertahap, interval observasi, serta kriteria penghentian yang jelas untuk menjaga keamanan OFC. (EAACI)

Perubahan paradigma juga terjadi pada pencegahan. Pendekatan lama yang menganjurkan penundaan pemberian makanan alergen pada bayi berisiko telah mengalami revisi setelah munculnya bukti dari penelitian pencegahan seperti LEAP dan EAT. Pengenalan makanan alergen secara dini pada populasi bayi yang sesuai dapat menurunkan risiko alergi terhadap makanan tertentu. Temuan ini mengubah konsep lama bahwa paparan terhadap alergen pada awal kehidupan harus selalu dihindari. Strategi pencegahan kini lebih mempertimbangkan waktu pengenalan makanan, kondisi bayi, faktor risiko, dan pola konsumsi berkelanjutan. (EAACI)

Dalam keadaan akut, adrenalin tetap merupakan terapi utama untuk anafilaksis. Perkembangan formulasi adrenalin melalui hidung menunjukkan upaya memperbaiki cara pemberian obat pada keadaan darurat. Namun, terapi tersebut mempunyai tujuan yang berbeda dengan terapi modifikasi penyakit. Adrenalin menghentikan atau mengendalikan reaksi sistemik yang sedang berlangsung, sedangkan terapi imunomodulator berusaha mengubah respons imun terhadap alergen. Perbedaan tujuan ini penting agar masyarakat tidak menganggap inovasi terapi akut sebagai pengobatan yang menghilangkan alergi makanan.

Salah satu perkembangan penting adalah oral immunotherapy atau OIT. Prinsipnya adalah memberikan protein alergen dalam jumlah terukur, dimulai dari dosis rendah kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai protokol. Tujuannya meningkatkan jumlah alergen yang dapat ditoleransi sebelum timbul reaksi. Konsep ini disebut desensitisasi. Desensitisasi berarti toleransi meningkat selama terapi tetap dilakukan. Istilah ini perlu dibedakan dari sustained unresponsiveness atau toleransi yang tetap bertahan setelah terapi dihentikan. OIT juga memiliki risiko reaksi alergi sehingga pelaksanaannya memerlukan seleksi pasien, protokol yang tepat, dan pengawasan medis. (EAACI)

Palforzia menjadi tonggak penting karena pada 2020 menjadi produk imunoterapi oral berbasis alergen kacang tanah pertama yang memperoleh persetujuan FDA. Konsep terapinya bukan memberikan izin kepada pasien untuk mengonsumsi kacang tanah secara bebas. Tujuannya meningkatkan ambang reaksi terhadap protein kacang tanah sehingga paparan tidak sengaja berpotensi menimbulkan reaksi pada dosis yang lebih tinggi. Pasien tetap memerlukan pengelolaan alergi dan penghindaran alergen sesuai arahan klinis. Dengan demikian, OIT perlu dipahami sebagai strategi pengurangan risiko, bukan sebagai jaminan bahwa alergi telah sembuh. (EAACI)

Perkembangan yang sangat penting muncul dari terapi biologis anti-IgE. Omalizumab bekerja dengan berikatan dengan IgE dan mengurangi ketersediaan IgE yang berperan dalam aktivasi jalur alergi. Dalam studi fase 3 OUtMATCH yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada 2024, 67% peserta yang mendapat omalizumab memenuhi titik akhir primer berupa kemampuan mengonsumsi sedikitnya 600 mg protein kacang tanah tanpa gejala pembatas dosis, dibandingkan 7% pada kelompok plasebo. Pada tantangan terhadap kacang mede, susu, dan telur, hasil kelompok omalizumab juga lebih tinggi daripada plasebo. Penelitian tersebut melibatkan anak dan remaja dalam analisis utama sehingga penerapan hasil pada kelompok dewasa masih membutuhkan bukti tambahan. (New England Journal of Medicine)

Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa satu terapi imunologis dapat digunakan untuk menghadapi lebih dari satu alergi makanan. Namun, peningkatan ambang reaksi selama terapi tidak sama dengan penyembuhan permanen. Dalam studi OUtMATCH, peserta tetap diarahkan menghindari makanan alergennya. Efek terapi juga bergantung pada pemberian obat secara berkelanjutan. Karena itu, pertanyaan ilmiah berikutnya bukan hanya apakah suatu obat meningkatkan ambang reaksi, tetapi apakah efek tersebut bertahan setelah terapi dihentikan dan apakah terapi benar-benar mengubah perjalanan alami penyakit. (New England Journal of Medicine)

Penelitian masa depan juga bergerak menuju target imunologis yang lebih spesifik, termasuk inhibitor Bruton’s tyrosine kinase atau BTK dan kombinasi terapi biologis dengan imunoterapi oral. Jalur BTK berhubungan dengan aktivasi sel yang terlibat dalam reaksi alergi sehingga penghambatannya sedang diteliti sebagai strategi untuk meningkatkan ambang reaksi. Namun, sebagian pendekatan tersebut masih berada pada tahap penelitian dan belum dapat diperlakukan sebagai terapi standar. Arah penelitian menunjukkan pergeseran dari terapi yang hanya menghindari konsekuensi paparan menuju intervensi yang secara langsung memengaruhi mekanisme imunologis alergi. Editorial World Journal of Pediatrics 2025 menempatkan perkembangan tersebut dalam konteks perubahan besar pengelolaan alergi makanan abad ke-21. (EAACI)

Tabel. Perkembangan pendekatan terapi alergi makanan

Pendekatan Target atau mekanisme Tujuan klinis Posisi bukti
Penghindaran alergen Menghilangkan paparan Mencegah reaksi Komponen dasar pengelolaan
Adrenalin Mengatasi respons anafilaksis akut Menangani reaksi berat Terapi utama anafilaksis
OIT Paparan alergen bertahap Meningkatkan ambang reaksi Telah digunakan pada kondisi tertentu
Palforzia Imunoterapi oral kacang tanah Meningkatkan toleransi terhadap paparan tidak sengaja Produk yang telah mendapat persetujuan FDA
Omalizumab Antibodi anti-IgE Meningkatkan ambang reaksi terhadap beberapa makanan Bukti fase 3 tersedia
Inhibitor BTK Menghambat jalur aktivasi sel imun Meningkatkan ambang reaksi Masih dalam pengembangan
Kombinasi biologis dan OIT Modulasi imun + desensitisasi Meningkatkan efektivitas dan keamanan desensitisasi Masih diteliti

Sumber utama: Leung ASY, Xing YH, Wong GWK. Food allergy: emerging therapies in the twenty-first century. World Journal of Pediatrics. 2025;21:634–643. DOI: 10.1007/s12519-025-00928-0. (EAACI)

Referensi penting

  • Leung ASY, Xing YH, Wong GWK. Food allergy: emerging therapies in the twenty-first century. World Journal of Pediatrics. 2025;21:634–643. (EAACI)
  • Wood RA, Togias A, Sicherer SH, et al. Omalizumab for the Treatment of Multiple Food Allergies. New England Journal of Medicine. 2024;390:889–899. (New England Journal of Medicine)
  • AAAAI–EAACI PRACTALL. Standardizing oral food challenges, 2024 Update. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35:e14276. (EAACI)
  • Wong GWK. Options for Multiple Food Allergies, Food Avoidance or Pharmacologic Treatment? New England Journal of Medicine. 2024;390:946–948. (New England Journal of Medicine)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *