SENSITISASI ALERGEN MAKANAN PADA ANAK DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER
Temuan Studi Komparatif, Interpretasi Imunologis, dan Implikasi Klinis
Reportase ilmiah berbasis bukti
Autism spectrum disorder (ASD) merupakan kondisi neuroperkembangan yang kompleks, sementara alergi makanan merupakan gangguan imunologis yang dapat menimbulkan manifestasi klinis setelah pajanan terhadap alergen tertentu. Kedua kondisi tersebut secara konseptual berbeda, tetapi sejumlah penelitian epidemiologis menunjukkan adanya hubungan antara ASD dan penyakit alergi. Karena itu, perhatian ilmiah tidak hanya diarahkan pada prevalensi alergi, tetapi juga pada kemungkinan perbedaan respons imunologis terhadap berbagai alergen pada anak dengan ASD.
Salah satu penelitian yang secara khusus mengevaluasi persoalan tersebut adalah penelitian Estrella dan kolega yang dipublikasikan dalam Annals of Allergy, Asthma & Immunology. Penelitian ini berjudul Food Allergies and Autism Spectrum Disorder: A Comparative Study of Sensitization in Children. Publikasi tersebut berada dalam edisi suplemen jurnal pada tahun 2023 dan menggunakan pendekatan komparatif untuk mengevaluasi sensitisasi terhadap alergen makanan pada anak dan remaja dengan diagnosis ASD.
Pertanyaan penelitian terutama diarahkan pada apakah anak dengan ASD memperlihatkan pola sensitisasi terhadap alergen makanan yang berbeda dibandingkan anak tanpa ASD. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melibatkan kelompok anak dan remaja dengan ASD serta kelompok kontrol yang memiliki rentang usia sebanding. Evaluasi sensitisasi dilakukan menggunakan skin prick test (SPT), yaitu pemeriksaan yang digunakan dalam praktik alergologi untuk mendeteksi respons kulit yang menunjukkan sensitisasi terhadap alergen tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok anak dengan ASD memiliki proporsi hasil SPT positif terhadap alergen makanan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Analisis statistik dalam penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara riwayat ASD dan hasil SPT positif terhadap alergen makanan. Dengan demikian, dalam populasi yang diteliti, ASD berkaitan dengan frekuensi sensitisasi makanan yang lebih tinggi.
Pola sensitisasi yang ditemukan juga memberikan informasi mengenai jenis alergen yang paling sering menunjukkan respons positif pada kelompok ASD. Gandum merupakan salah satu alergen yang paling banyak ditemukan, disusul komponen telur, ikan, serta cokelat. Temuan tersebut menggambarkan distribusi respons imunologis terhadap sejumlah makanan dalam populasi penelitian, tetapi tidak dapat diartikan bahwa makanan-makanan tersebut secara universal merupakan penyebab keluhan pada anak dengan ASD.
Dalam interpretasi alergologi, terdapat perbedaan fundamental antara sensitisasi dan alergi makanan klinis. Sensitisasi menggambarkan adanya respons imun spesifik terhadap suatu alergen yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan seperti SPT. Sebaliknya, alergi makanan klinis merupakan kondisi ketika pajanan terhadap makanan tertentu berkaitan dengan manifestasi klinis yang sesuai dengan mekanisme alergi. Oleh sebab itu, hasil SPT positif tidak dengan sendirinya menetapkan diagnosis alergi makanan.
Pembedaan tersebut memiliki konsekuensi klinis yang penting. Pemeriksaan SPT harus diinterpretasikan dalam konteks anamnesis, pola gejala, hubungan temporal antara konsumsi makanan dan timbulnya reaksi, serta pemeriksaan klinis. Dalam situasi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan, termasuk pengukuran IgE spesifik dan, apabila memang memiliki indikasi serta dilakukan dalam lingkungan medis yang sesuai, oral food challenge sebagai bagian dari proses konfirmasi diagnosis.
Temuan Estrella dan kolega tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa alergi makanan menyebabkan ASD. Sebaliknya, penelitian tersebut juga tidak menunjukkan bahwa ASD merupakan penyebab alergi makanan. Desain komparatif penelitian memungkinkan identifikasi asosiasi, tetapi tidak cukup untuk menetapkan hubungan kausal. Interpretasi kausal membutuhkan desain penelitian yang mampu menilai urutan waktu, faktor perancu, mekanisme biologis, serta reproduksibilitas hubungan pada populasi yang berbeda.
Temuan tersebut menjadi lebih menarik apabila ditempatkan dalam konteks penelitian epidemiologis yang lebih luas. Sebuah systematic review dan meta-analysis oleh Wang dan kolega yang mencakup berbagai penelitian menemukan adanya asosiasi antara ASD dan alergi makanan. Para peneliti menyimpulkan bahwa individu dengan ASD dalam kumpulan studi yang dianalisis memiliki prevalensi alergi makanan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, tetapi mereka juga menekankan perlunya penelitian prospektif untuk memahami hubungan tersebut dengan lebih baik.
Penelitian berbasis populasi yang diterbitkan di JAMA Network Open juga menemukan hubungan antara alergi makanan dan ASD pada anak. Studi tersebut menggunakan data survei kesehatan nasional dan tetap menemukan asosiasi setelah dilakukan penyesuaian terhadap sejumlah karakteristik demografis dan kondisi alergi lainnya. Namun, peneliti menekankan bahwa mekanisme dan kausalitas hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Dari perspektif imunologi, kemungkinan keterkaitan antara sistem imun dan ASD merupakan bidang penelitian yang masih berkembang. Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi peran disregulasi imun, inflamasi, sawar mukosa, mikrobiota intestinal, serta interaksi sistem imun dengan sistem saraf. Akan tetapi, keberadaan berbagai hipotesis biologis tersebut tidak boleh diterjemahkan menjadi kesimpulan klinis sebelum didukung bukti kausal yang memadai. Studi asosiasi dapat menunjukkan pola epidemiologis, tetapi tidak secara otomatis menjelaskan mekanisme biologis yang mendasarinya.
Aspek nutrisi menjadi pertimbangan penting lainnya. Anak dengan ASD dapat mengalami perilaku makan selektif dan memiliki preferensi makanan yang terbatas. Apabila hasil pemeriksaan sensitisasi kemudian diterjemahkan secara berlebihan sebagai larangan mengonsumsi berbagai makanan tanpa konfirmasi alergi klinis, eliminasi diet yang tidak diperlukan dapat semakin mempersempit variasi makanan. Karena itu, evaluasi alergi pada anak dengan ASD idealnya dilakukan berdasarkan indikasi klinis dan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi secara keseluruhan.
Penelitian Estrella dan kolega tetap memiliki keterbatasan metodologis yang perlu dipertimbangkan. Laporan tersebut merupakan publikasi singkat dalam suplemen jurnal, dengan ukuran sampel yang relatif kecil dan menggunakan SPT sebagai instrumen utama untuk menilai sensitisasi. Selain itu, informasi metodologis yang tersedia dalam abstrak tidak memberikan gambaran selengkap artikel penelitian primer mengenai seluruh karakteristik peserta, spektrum alergen yang diperiksa, faktor perancu, maupun rincian analisis statistik. Karena itu, generalisasi hasil penelitian ke seluruh populasi anak dengan ASD harus dilakukan secara hati-hati.
Secara keseluruhan, bukti yang tersedia menunjukkan adanya asosiasi antara ASD dan penyakit atau sensitisasi alergi makanan, sementara penelitian komparatif Estrella dan kolega memberikan data khusus mengenai lebih tingginya frekuensi sensitisasi alergen makanan pada kelompok ASD yang diteliti. Temuan ini relevan bagi bidang alergologi, pediatri, nutrisi, dan neurodevelopmental medicine, tetapi belum memberikan dasar untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Penelitian prospektif dengan populasi yang lebih besar, definisi fenotipe alergi yang ketat, pengukuran biomarker imunologis, evaluasi nutrisi, serta tindak lanjut longitudinal diperlukan untuk menjelaskan apakah hubungan tersebut mencerminkan mekanisme biologis tertentu atau kombinasi berbagai faktor.
Dengan demikian, pesan klinis utama dari penelitian ini bukanlah bahwa anak dengan ASD harus menjalani diet eliminasi atau menghindari makanan tertentu. Pesan ilmiahnya adalah bahwa sensitisasi alergen makanan pada anak dengan ASD merupakan fenomena yang patut diteliti dan dievaluasi secara klinis ketika terdapat indikasi, tetapi interpretasinya harus tetap berada dalam kerangka alergologi berbasis bukti. Diagnosis ASD, sensitisasi imunologis, dan alergi makanan klinis merupakan tiga entitas yang berbeda dan tidak boleh dipertukarkan. Pendekatan yang tepat adalah mengintegrasikan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergologi yang sesuai, serta evaluasi status nutrisi untuk menghasilkan keputusan klinis yang individual dan berbasis bukti.
Referensi ilmiah
- Estrella M, Gonzalez-Diaz S, Macouzet-Sanchez C, Noyola Pérez A. Food Allergies and Autism Spectrum Disorder: A Comparative Study of Sensitization in Children. Annals of Allergy, Asthma & Immunology. 2023;131(5 Suppl 1):S71–S72. doi:10.1016/j.anai.2023.08.216.
- Wang L, Shen W, Yao H, Zheng R, Chen W, Zhang W. Association between Autism Spectrum Disorder and Food Allergy: A Systematic Review and Meta-analysis. Autism Research. 2021;14(1):220–230. doi:10.1002/aur.2454.
- Miyazaki C, Koyama M, Ota E, et al. Allergies in Children with Autism Spectrum Disorder: A Systematic Review and Meta-analysis. Review Journal of Autism and Developmental Disorders. 2015. doi:10.1007/s40489-015-0059-4.
- Xu G, Snetselaar LG, Jing J, Liu B, Strathearn L, Bao W. Association of Food Allergy and Other Allergic Conditions With Autism Spectrum Disorder in Children. JAMA Network Open. 2018.
- Lyall K, et al. Asthma and Allergies in Children With Autism Spectrum Disorders: Results From the CHARGE Study. Autism Research. 2015.









Leave a Reply