LONG FLU PASCA INFLUENZA A, INFEKSI SALURAN NAPAS BERULANG, DAN ALERGI MAKANAN
Influenza A merupakan infeksi saluran napas akut yang pada sebagian pasien dapat diikuti keluhan yang menetap atau berulang setelah fase akut berakhir. Dalam literatur klinis, kondisi semacam ini dapat disebut secara deskriptif sebagai post-influenza symptoms atau “long flu”, meskipun istilah long flu belum mempunyai definisi diagnostik universal seperti post-COVID-19 condition. Penelitian kohort besar terhadap pasien yang dirawat di rumah sakit menunjukkan bahwa influenza dapat diikuti peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan setelah fase akut, terutama pada sistem respirasi, meskipun beban multisistem secara keseluruhan lebih besar setelah COVID-19 [1]. Temuan tersebut menunjukkan bahwa influenza tidak selalu berhenti sebagai episode akut, tetapi dapat diikuti konsekuensi kesehatan yang memerlukan evaluasi klinis lebih lanjut.
Penting untuk membedakan antara gejala pascainfluenza dan infeksi saluran napas baru. Batuk yang masih berlangsung setelah influenza tidak secara otomatis berarti virus influenza masih aktif atau terjadi infeksi berulang. Inflamasi pascavirus dan hiperresponsivitas jalan napas dapat mempertahankan batuk, sementara asma, rinitis alergi, sinusitis, pertusis, atau komplikasi paru dapat memberikan gambaran yang serupa. Oleh karena itu, istilah long flu sebaiknya digunakan secara hati-hati sebagai istilah deskriptif, bukan sebagai diagnosis tunggal. Studi Xie dan kolega mengikuti pasien sampai 18 bulan setelah perawatan, tetapi durasi tindak lanjut tersebut tidak berarti seluruh pasien mengalami gejala influenza selama 18 bulan [1].
Penyakit saluran napas alergik dapat menjadi faktor yang memperumit pemulihan setelah influenza. Anak dengan asma mempunyai saluran napas yang hiperresponsif sehingga infeksi virus dapat mencetuskan atau memperburuk batuk, mengi, dan sesak. Rinitis alergi juga dapat menyebabkan hidung tersumbat, bersin, rinore, dan postnasal drip yang mempertahankan keluhan batuk setelah infeksi virus mereda. Dengan demikian, pada anak yang mengalami batuk berkepanjangan setelah influenza, evaluasi sebaiknya tidak hanya mencari infeksi yang masih berlangsung, tetapi juga mempertimbangkan penyakit alergik dan inflamasi saluran napas yang sudah ada sebelumnya.
Hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang juga telah dilaporkan. Woicka-Kolejwa dan kolega dalam penelitian terhadap anak dengan alergi makanan menemukan adanya asosiasi antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang [2]. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan infeksi berulang. Anak dengan alergi makanan dapat memiliki berbagai kondisi yang berjalan bersamaan, seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, gangguan tidur, keterbatasan diet, dan masalah nutrisi. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi risiko penyakit dan frekuensi kontak dengan fasilitas kesehatan.
Alergi makanan sendiri merupakan respons imun terhadap protein makanan tertentu dan tidak sama dengan imunodefisiensi. Pada alergi yang dimediasi IgE, paparan makanan dapat menimbulkan urtikaria, angioedema, muntah, gejala respirasi, hingga anafilaksis. Bentuk alergi non-IgE atau campuran dapat lebih banyak menimbulkan manifestasi gastrointestinal. Karena itu, anak dengan alergi makanan tidak dapat secara otomatis dianggap memiliki sistem imun yang lemah. Bila seorang anak mengalami infeksi berulang, perlu dipertimbangkan berbagai faktor lain, termasuk usia, paparan lingkungan, status imunisasi, penyakit saluran napas alergik, status nutrisi, paparan asap rokok, dan kemungkinan imunodefisiensi apabila terdapat tanda klinis yang mendukung.
Manifestasi gastrointestinal merupakan salah satu area yang paling sulit dibedakan antara alergi makanan dan gangguan gastrointestinal fungsional. Nyeri perut, mual, muntah, kembung, diare, konstipasi, refluks, dan kesulitan makan dapat ditemukan pada berbagai penyakit. Alergi makanan dapat menjadi salah satu penyebab pada kelompok pasien tertentu, tetapi tidak setiap gejala gastrointestinal setelah makan merupakan alergi makanan. Diagnosis harus memperhatikan hubungan temporal antara makanan dan gejala, konsistensi reaksi, jenis makanan yang dicurigai, manifestasi alergi lainnya, serta hasil pemeriksaan yang relevan [3].
Konstipasi merupakan kondisi yang sangat sering dijumpai pada anak dan sebagian besar bersifat fungsional. Namun, hubungan antara alergi makanan dan konstipasi telah mendapatkan perhatian dalam literatur alergi pediatrik. EAACI menerbitkan position paper mengenai diagnosis dan tata laksana konstipasi yang berhubungan dengan alergi makanan pada anak kecil [6]. Hal ini menunjukkan bahwa alergi makanan dapat dipertimbangkan pada kelompok tertentu, tetapi eliminasi makanan tidak seharusnya dilakukan secara luas tanpa dasar diagnosis. Diet yang terlalu restriktif dapat mengurangi asupan energi, protein, vitamin, mineral, dan variasi makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Kesulitan makan juga merupakan masalah penting pada anak dengan alergi makanan. Gejala gastrointestinal, pengalaman mengalami reaksi makanan, ketakutan terhadap makanan, pembatasan diet, dan rendahnya variasi makanan dapat berkontribusi terhadap feeding difficulties. EAACI Task Force Report menekankan pentingnya mengenali masalah makan pada anak dengan alergi makanan karena kondisi tersebut dapat berdampak pada asupan nutrisi dan kualitas hidup [5]. Hubungan ini bersifat kompleks dan tidak selalu menunjukkan bahwa alergi makanan merupakan satu-satunya penyebab kesulitan makan.
Diagnosis alergi makanan harus dilakukan secara sistematis. Riwayat klinis merupakan dasar utama, sedangkan pemeriksaan skin prick test atau IgE spesifik dapat membantu pada kondisi tertentu. Hasil pemeriksaan yang positif menunjukkan sensitisasi, tetapi tidak selalu membuktikan alergi makanan klinis [3,7]. Karena itu, diagnosis tidak seharusnya hanya berdasarkan panel pemeriksaan laboratorium yang luas. Pada pasien dengan ketidakpastian diagnostik, oral food challenge dapat menjadi prosedur penting untuk menilai apakah konsumsi makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi klinis.
Oral food challenge merupakan prosedur terkontrol yang digunakan untuk mengevaluasi reaktivitas klinis terhadap makanan yang dicurigai. Pedoman EAACI serta pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL memberikan prinsip standardisasi mengenai pelaksanaan OFC [3,4]. Dalam praktik klinis, open food challenge dapat digunakan pada kondisi yang sesuai dengan penilaian risiko pasien, sedangkan double-blind placebo-controlled food challenge memberikan kontrol yang lebih ketat terhadap bias dan banyak digunakan ketika kepastian diagnostik sangat diperlukan. OFC bukan prosedur yang seharusnya dilakukan secara mandiri di rumah pada anak dengan risiko reaksi alergi.
Setelah alergi makanan terkonfirmasi, penghindaran makanan pencetus dilakukan secara terarah dengan mempertahankan kecukupan nutrisi. Tujuan eliminasi bukan menghilangkan sebanyak mungkin jenis makanan, tetapi menghindari makanan yang benar-benar terbukti menyebabkan reaksi sambil mempertahankan makanan aman sebanyak mungkin [5,8]. Evaluasi ulang toleransi juga penting karena sebagian anak dapat mengalami perubahan perjalanan alerginya. Pendekatan ini dapat mengurangi risiko pembatasan diet yang tidak perlu dan membantu mempertahankan pertumbuhan serta perkembangan pola makan yang sehat.
Konsep gut–lung axis memberikan kerangka biologis untuk memahami kemungkinan hubungan antara saluran gastrointestinal dan sistem respirasi. Interaksi tersebut melibatkan mikrobiota, metabolit, permeabilitas mukosa, mediator imun, dan komunikasi sistem imun lokal dengan sistemik. Secara teoritis, gangguan gastrointestinal, alergi, status nutrisi, dan inflamasi dapat berinteraksi dengan respons saluran napas. Namun, konsep tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan menyebabkan infeksi saluran napas berulang atau bahwa eliminasi makanan dapat mencegah influenza maupun long flu. Hubungan biologis tersebut masih memerlukan pembuktian klinis melalui penelitian prospektif.
Secara keseluruhan, bukti ilmiah menunjukkan bahwa influenza A dapat diikuti oleh keluhan kesehatan yang menetap dan bahwa penyakit saluran napas alergik dapat memperumit perjalanan pemulihan. Alergi makanan juga memiliki hubungan dengan manifestasi gastrointestinal, kesulitan makan, dan dalam beberapa penelitian observasional berasosiasi dengan infeksi saluran napas berulang [1,2,5]. Namun, hubungan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat. OFC memiliki peran penting dalam memastikan diagnosis alergi makanan ketika diagnosis belum dapat ditegakkan dengan pendekatan klinis dan pemeriksaan penunjang [3,4]. Sampai saat ini belum terdapat bukti yang cukup bahwa eliminasi makanan meningkatkan imunitas atau secara langsung mencegah long flu. Pendekatan yang paling rasional adalah membedakan gejala pascainfluenza dari infeksi baru, mengenali penyakit alergik dan gastrointestinal yang menyertai, memastikan alergi makanan secara tepat bila dicurigai, serta melakukan eliminasi makanan secara terarah dan aman secara nutrisi.
Daftar Pustaka
[1] Xie Y, Choi T, Al-Aly Z. Long-term outcomes following hospital admission for COVID-19 versus seasonal influenza: a cohort study. Lancet Infect Dis. 2024;24(3):239–255. doi:10.1016/S1473-3099(23)00684-9.
[2] Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151.
[3] Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78:3057–3076. doi:10.1111/all.15902.
[4] Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276.
[5] Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119.
[6] Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children—An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
[7] Foong RX, Dantzer JA, Wood RA, Santos AF. Improving the diagnosis of IgE-mediated food allergy. J Allergy Clin Immunol Pract. 2024.
[8] Ishibashi S, Yanagida N, Sato S, Ebisawa M. Management of food allergy based on oral food challenge. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2024;24(3):153–159. doi:10.1097/ACI.0000000000000980.






Leave a Reply