DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

7 strategi penting yang dapat diterapkan oleh calon orangtua sejak merencanakan kehamilan.

 

  • 7 Strategi Berbasis Bukti untuk Mengurangi Risiko Kelainan Bawaan pada Bayi Sejak Sebelum Kehamilan
  • dr Audi Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Kelainan bawaan atau congenital anomalies merupakan kelainan struktural maupun fungsional yang terjadi selama perkembangan janin dan dapat terdeteksi sebelum lahir, saat persalinan, atau setelah bayi dilahirkan. Kelainan ini mencakup gangguan pembentukan organ, kelainan kromosom, gangguan metabolik, serta kondisi yang memengaruhi perkembangan dan fungsi tubuh. Penyebab kelainan bawaan bersifat multifaktorial, meliputi faktor genetik, defisiensi zat gizi, infeksi maternal, penyakit kronis, penggunaan obat tertentu, dan paparan zat berbahaya. Tidak semua kelainan bawaan dapat dicegah. Namun, intervensi prakonsepsi dan perawatan antenatal berbasis bukti dapat mengurangi risiko sejumlah kelainan serta meningkatkan kesehatan ibu dan janin.

7 strategi penting yang dapat diterapkan oleh calon orangtua sejak merencanakan kehamilan.

  • 1. Mengonsumsi asam folat sebelum konsepsi
    • Asam folat merupakan bentuk sintetis vitamin B9 yang berperan penting dalam sintesis DNA, pembelahan sel, dan pembentukan jaringan embrio. Salah satu fungsi terpentingnya adalah mendukung proses penutupan tabung saraf, struktur embrional yang berkembang menjadi otak dan sumsum tulang belakang. Proses ini berlangsung pada minggu-minggu awal kehamilan, umumnya sebelum perempuan menyadari bahwa dirinya hamil.
    • Defisiensi folat pada periode perikonsepsi meningkatkan risiko neural tube defects (NTD), termasuk spina bifida dan anensefali. Suplementasi asam folat sebesar 400 mikrogram atau 0,4 mg per hari direkomendasikan bagi perempuan yang merencanakan kehamilan, dimulai setidaknya satu bulan sebelum konsepsi dan dilanjutkan selama trimester pertama. Perempuan dengan risiko tinggi, misalnya riwayat kehamilan dengan NTD atau kondisi medis tertentu, mungkin memerlukan dosis lebih tinggi berdasarkan penilaian dokter. Dosis tinggi tidak dianjurkan untuk digunakan secara mandiri.
  • 2. Melakukan pemeriksaan kesehatan prakonsepsi
    • Pemeriksaan prakonsepsi merupakan evaluasi kesehatan sebelum kehamilan untuk mengidentifikasi faktor risiko maternal yang dapat memengaruhi proses pembentukan dan perkembangan janin. Pemeriksaan ini mencakup riwayat penyakit, riwayat kehamilan sebelumnya, status gizi, riwayat keluarga, penggunaan obat, serta status imunisasi. Penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, epilepsi, dan gangguan tiroid perlu dikendalikan sebelum kehamilan.
    • Pengendalian penyakit sebelum konsepsi dapat mengurangi risiko komplikasi maternal dan sejumlah kelainan bawaan. Diabetes yang tidak terkontrol pada awal kehamilan, misalnya, berkaitan dengan peningkatan risiko kelainan jantung, neural tube defects, dan kelainan organ lainnya. Dokter juga dapat mengevaluasi obat yang digunakan, menyesuaikan terapi yang berpotensi teratogenik, serta memberikan edukasi mengenai nutrisi, aktivitas fisik, dan pemeriksaan yang diperlukan. Pendekatan ini membantu menciptakan kondisi maternal yang lebih optimal selama periode organogenesis.
  • 3. Melengkapi imunisasi sebelum dan selama kehamilan
    • Imunisasi merupakan salah satu intervensi penting untuk mencegah infeksi yang dapat mengganggu perkembangan janin. Infeksi rubella selama kehamilan, terutama pada trimester pertama, dapat menyebabkan congenital rubella syndrome (CRS), yang meliputi kelainan jantung, katarak, gangguan pendengaran, dan gangguan perkembangan. Infeksi varisela juga dapat menyebabkan komplikasi maternal dan, dalam kondisi tertentu, kelainan kongenital.
    • Perempuan yang merencanakan kehamilan perlu mengevaluasi status kekebalan terhadap rubella dan varisela. Vaksin MMR dan varisela merupakan vaksin hidup yang umumnya tidak diberikan selama kehamilan. Jika diperlukan, vaksinasi dilakukan sebelum konsepsi dengan memperhatikan interval yang direkomendasikan. Selama kehamilan, vaksin influenza, Tdap, dan vaksin lain sesuai rekomendasi klinis dapat membantu melindungi ibu dan bayi dari infeksi yang berpotensi berat. Vaksinasi perlu direncanakan bersama dokter berdasarkan riwayat imunisasi dan kondisi kesehatan ibu.
  • 4. Mengendalikan berat badan dan memperbaiki status gizi
    • Status gizi maternal sebelum kehamilan berperan dalam mendukung pertumbuhan embrio, pembentukan plasenta, dan perkembangan organ janin. Berat badan kurang, kelebihan berat badan, dan obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan. Obesitas maternal, misalnya, berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes gestasional, hipertensi, dan sejumlah kelainan bawaan, termasuk kelainan jantung dan neural tube defects.
    • Calon ibu dianjurkan mencapai berat badan yang sehat melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur sebelum konsepsi. Asupan makanan perlu mencakup protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang memadai. Zat gizi seperti folat, zat besi, yodium, dan vitamin B12 memiliki peran penting dalam kesehatan maternal dan perkembangan janin. Pengelolaan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Diet ekstrem, penggunaan obat pelangsing, atau pembatasan makanan yang berlebihan dapat menyebabkan defisiensi zat gizi dan tidak dianjurkan selama persiapan kehamilan.
  • 5. Menghindari alkohol, rokok, dan zat yang berpotensi teratogenik
    • Paparan zat tertentu selama kehamilan dapat mengganggu pembentukan organ, pertumbuhan janin, dan perkembangan sistem saraf. Alkohol merupakan salah satu zat yang diketahui dapat menyebabkan fetal alcohol spectrum disorders (FASD), yaitu kelompok gangguan yang dapat memengaruhi pertumbuhan, struktur wajah, fungsi otak, perilaku, dan kemampuan belajar anak. Tidak ada jumlah alkohol atau waktu konsumsi selama kehamilan yang terbukti aman.
    • Rokok dan paparan asap rokok berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Penggunaan narkotika serta obat tertentu juga dapat menimbulkan risiko terhadap perkembangan janin. Calon orangtua sebaiknya menghentikan konsumsi alkohol, menghindari rokok dan asap rokok, serta tidak menggunakan narkotika. Obat yang berpotensi teratogenik, seperti isotretinoin dan beberapa obat antikejang, perlu dievaluasi sebelum kehamilan. Penghentian atau penggantian obat harus dilakukan melalui konsultasi dokter agar penyakit maternal tetap terkendali.
  • 6. Mengurangi paparan bahan kimia dan faktor lingkungan berbahaya
    • Paparan bahan kimia tertentu dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan perkembangan embrio. Beberapa zat yang perlu diperhatikan meliputi timbal, merkuri, pestisida, pelarut organik, serta bahan kimia industri tertentu. Risiko dipengaruhi oleh jenis zat, dosis, lama paparan, jalur masuk ke tubuh, dan waktu paparan selama perkembangan janin.
    • Calon orangtua perlu mengenali potensi bahaya di rumah maupun tempat kerja. Perempuan yang bekerja di laboratorium, industri, pertanian, salon, atau fasilitas kesehatan sebaiknya memahami prosedur keselamatan dan menggunakan alat pelindung diri sesuai standar. Hindari paparan pestisida tanpa perlindungan, jangan mencampur bahan pembersih yang dapat menghasilkan gas beracun, dan pastikan ventilasi ruangan memadai. Apabila terdapat paparan bahan kimia berisiko tinggi, konsultasikan dengan dokter atau petugas kesehatan kerja untuk mengevaluasi kebutuhan pengurangan paparan sebelum kehamilan.
  • 7. Melakukan konseling genetik dan skrining infeksi sesuai indikasi
    • Sebagian kelainan bawaan berkaitan dengan faktor genetik, termasuk kelainan kromosom dan penyakit genetik yang diwariskan dari orangtua. Risiko dapat meningkat pada pasangan dengan riwayat keluarga penyakit genetik tertentu, riwayat anak sebelumnya dengan kelainan bawaan, atau kondisi medis yang diketahui berkaitan dengan penyakit herediter.
    • Konseling genetik dapat membantu pasangan memahami pola pewarisan penyakit, kemungkinan risiko pada kehamilan berikutnya, serta pilihan pemeriksaan yang sesuai. Skrining pembawa sifat atau carrier screening dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat keluarga, latar belakang populasi, dan rekomendasi klinis. Selain faktor genetik, pemeriksaan infeksi sebelum atau selama kehamilan juga penting. Infeksi seperti sifilis, HIV, hepatitis B, dan CMV dapat berdampak pada janin atau bayi. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mengurangi risiko komplikasi serta transmisi dari ibu kepada bayi.

Pesan Penting untuk Orangtua

  • Pencegahan kelainan bawaan sebaiknya dimulai sebelum kehamilan, bukan setelah ibu mengetahui dirinya hamil. Masa awal perkembangan embrio merupakan periode yang sangat penting karena berbagai organ mulai terbentuk pada minggu-minggu pertama.
  • Tujuh langkah yang perlu menjadi perhatian calon orangtua:
    1. Konsumsi asam folat 400 mikrogram setiap hari sebelum konsepsi.
    2. Lakukan pemeriksaan kesehatan prakonsepsi untuk mengendalikan penyakit dan mengevaluasi obat.
    3. Lengkapi imunisasi sesuai rekomendasi sebelum dan selama kehamilan.
    4. Jaga berat badan dan penuhi kebutuhan gizi melalui pola makan seimbang.
    5. Hindari alkohol, rokok, narkotika, dan penggunaan obat tanpa pengawasan medis.
    6. Kenali serta kurangi paparan bahan kimia berbahaya di rumah dan tempat kerja.
    7. Pertimbangkan konseling genetik dan lakukan skrining infeksi sesuai indikasi.
  • Tidak semua kelainan bawaan dapat dicegah. Namun, persiapan kehamilan yang tepat dapat mengurangi risiko sejumlah kelainan dan meningkatkan peluang bayi tumbuh sehat.
  • Kehamilan sehat merupakan tanggung jawab bersama. Ibu dan ayah dapat memulainya dengan menjaga kesehatan, memperbaiki kebiasaan sehari-hari, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum merencanakan kehamilan.

Referensi ilmiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *