
Pertanyaan:
Dok, anak saya usia 3 tahun dengan berat badan 10 kg. Sejak usia 6 bulan berat badannya sulit naik, padahal anak sangat aktif dan perkembangan motoriknya bagus. Namun anak saya mudah sekali batuk, pilek, dan demam. Dulu sempat divonis tuberkulosis (TB) karena berat badan sulit naik, tapi setelah saya periksa ulang ke dokter spesialis paru anak ternyata bukan TB. Sejak bayi, anak saya sering muntah, mual, dikatakan punya GERD, sembelit, dan susah makan. Kata dokter, pencernaan yang sensitif bisa membuat anak sulit makan, berat badan susah naik, dan tubuhnya mudah sakit. Apakah benar seperti itu, dok? Bagaimana penanganan yang tepat supaya berat badannya bisa bertambah dengan sehat dan tidak mudah sakit lagi?


Jawaban Dokter:
Pertama-tama, kondisi yang Ibu ceritakan cukup sering terjadi pada anak-anak dengan alergi saluran cerna dan sistem kekebalan mukosa yang belum matang sempurna. Banyak anak dengan berat badan sulit naik, padahal tampak aktif, sering disalahartikan sebagai kasus tuberkulosis (TB), padahal sebenarnya bukan. Fenomena ini dikenal sebagai overdiagnosis TB pada anak, yang sering muncul karena dokter melihat pola berat badan stagnan tanpa menilai faktor alergi atau gangguan pencernaan fungsional. Penelitian di PubMed menunjukkan bahwa sejumlah besar anak yang awalnya didiagnosis TB ternyata mengalami alergi makanan kronik atau gangguan pencernaan fungsional (functional gastrointestinal disorders/FGID) seperti gastroesophageal reflux disease (GERD) dan sembelit akibat inflamasi usus ringan. Peradangan mikro akibat alergi membuat penyerapan zat gizi tidak optimal, sehingga anak sulit naik berat badan meski nafsu makannya kadang cukup baik.
Kaitan antara alergi makanan, gangguan saluran cerna, dan infeksi berulang kini telah banyak dibuktikan dalam literatur kedokteran modern. Anak dengan alergi saluran cerna mengalami gangguan keseimbangan mikrobiota usus (gut dysbiosis), yang berakibat pada lemahnya sistem pertahanan mukosa tubuh, terutama pada saluran pernapasan dan cerna. Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi berulang seperti batuk, pilek, dan demam. Alergen makanan yang sering berperan antara lain susu sapi, telur, ayam, ikan laut, kedelai, dan coklat, yang dapat memicu inflamasi kronik pada usus dan lambung (GERD). Ketika peradangan ini berlangsung lama, anak sering merasa mual, cepat kenyang, atau tidak nyaman setiap kali makan, sehingga nafsu makan menurun. Kondisi ini bukanlah masalah perilaku makan, tetapi reaksi imunologis tubuh terhadap makanan tertentu. Karena itu, pemberian suplemen penambah nafsu makan, vitamin, atau enzim pencernaan biasanya tidak memberikan hasil signifikan bila sumber alerginya belum diidentifikasi dan dihindari.
Untuk memastikan penyebab pastinya, langkah yang paling tepat adalah melakukan Oral Food Challenge (OFC) di bawah pengawasan dokter spesialis anak konsultan alergi-imunologi. Pemeriksaan ini merupakan gold standard dalam menentukan jenis makanan yang menyebabkan reaksi alergi atau inflamasi saluran cerna. Setelah diketahui, dilakukan diet eliminasi selektif untuk menghindari makanan pemicu sambil tetap menjaga kecukupan gizi. Selama proses ini, pemulihan fungsi usus sangat penting dilakukan dengan memperbaiki flora usus menggunakan probiotik yang sesuai dan memastikan asupan vitamin D yang cukup, karena penelitian menunjukkan kadar vitamin D rendah berhubungan dengan meningkatnya risiko alergi dan infeksi berulang. Dengan demikian, penanganan menjadi komprehensif, tidak sekadar menambah kalori, tetapi menormalkan kembali fungsi imun dan pencernaan anak.
Skoring TB
Dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis (TB) pada anak, disarankan menggunakan berbagai prosedur diagnostik, namun apabila terdapat keterbatasan sarana dan biaya, dapat digunakan sistem skoring yang dikembangkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dan WHO sebagai pendekatan alternatif, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Sistem skoring ini menilai sejumlah parameter klinis dan epidemiologis, dengan pembobotan tertentu yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI tahun 2013, di mana hasil pemeriksaan tuberkulin (uji Mantoux) dan riwayat kontak erat dengan pasien dewasa TB menular memiliki nilai tertinggi yaitu 3.
Meskipun demikian, uji tuberkulin bukan merupakan pemeriksaan penentu utama diagnosis TB anak, karena interpretasinya perlu dikaitkan dengan gejala klinis dan hasil pemeriksaan lain. Anak dengan total skor ≥6 dapat ditegakkan sebagai kasus TB dan harus segera mendapatkan pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Namun, bila ditemukan kondisi klinis khusus seperti gibbus, koksitis TB, tanda bahaya TB sistem saraf pusat (misalnya kejang, kaku kuduk, atau penurunan kesadaran), atau tanda kegawatan lain seperti sesak napas serta gambaran radiologis yang menunjukkan efusi pleura, milier, atau kavitas, maka anak harus dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada penilaian sistem skoring, kontak dengan pasien dewasa TB BTA positif hanya diberi skor 3 jika terdapat bukti tertulis hasil laboratorium BTA dari sumber penularan yang dapat diverifikasi melalui formulir TB 01 atau hasil laboratorium resmi. Status gizi anak juga harus dinilai menggunakan parameter BB/TB atau BB/U dengan pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta umur pada saat kunjungan (moment opname). Untuk anak usia di bawah 5 tahun, penilaian status gizi menggunakan panduan buku KIA dari Kemenkes RI, sedangkan untuk anak usia di atas 5 tahun menggunakan kurva CDC tahun 2000. Apabila ditemukan berat badan kurang, anak perlu mendapatkan intervensi perbaikan gizi dan dilakukan evaluasi ulang setelah satu bulan guna memastikan status gizi membaik sebelum atau selama penatalaksanaan TB.
Gejala klinis seperti demam yang berlangsung ≥2 minggu dan batuk yang menetap ≥3 minggu dapat dinilai dalam sistem skoring TB anak apabila tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan sesuai standar di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Gambaran foto toraks yang mendukung diagnosis TB anak dapat berupa pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan atau tanpa infiltrat, atelektasis, konsolidasi segmental atau lobar, milier, kalsifikasi disertai infiltrat, maupun tuberkuloma. Namun, pemeriksaan foto toraks tidak digunakan sebagai alat diagnostik utama, melainkan hanya sebagai penunjang diagnosis. Penegakan diagnosis TB anak menggunakan sistem skoring sebaiknya dilakukan oleh dokter, tetapi apabila di fasilitas pelayanan kesehatan tidak terdapat dokter, pelimpahan kewenangan dapat diberikan secara terbatas kepada petugas kesehatan yang telah dilatih dalam strategi DOTS untuk menegakkan diagnosis dan melakukan tatalaksana TB anak. Dalam sistem skoring ini, anak dinyatakan menderita TB jika total skor ≥6 dari skor maksimal 13.
Apabila seorang anak memperoleh skor 6 yang hanya berasal dari poin kontak dengan pasien dewasa TB BTA positif dan hasil uji tuberkulin positif tetapi tanpa gejala klinis, maka anak tersebut belum perlu diberikan terapi OAT, melainkan cukup dilakukan observasi atau diberikan profilaksis isoniazid (INH) sesuai usia anak. Sementara itu, anak usia balita yang mendapat skor 5 dengan gejala klinis yang masih meragukan harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut. Namun, bila anak dengan skor 5 memperoleh nilai dari poin kontak BTA positif serta dua gejala klinis lain, dan di fasilitas tersebut tidak tersedia pemeriksaan uji tuberkulin, maka anak dapat didiagnosis dan diterapi sebagai TB anak dengan pemantauan ketat selama 2 bulan awal terapi. Jika setelah 2 bulan terapi terdapat perbaikan klinis, maka pengobatan OAT dilanjutkan hingga total 6 bulan. Selain itu, semua bayi yang menunjukkan reaksi cepat (<2 minggu) setelah imunisasi BCG perlu dicurigai mengalami infeksi TB dan harus segera dievaluasi menggunakan sistem skoring TB anak untuk memastikan diagnosis dan tatalaksana yang tepat.
Penanganan
Apabila seorang anak dicurigai menderita tuberkulosis (TB), diagnosis TB meragukan, kontak erat TB tidak ada, anak sangat aktif dan juga menunjukkan gejala alergi dan riwayat alergi sebelumnya, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menangani terlebih dahulu masalah alerginya. Penatalaksanaan awal dilakukan dengan cara menghindari makanan yang dicurigai sebagai pemicu alergi, kemudian dilanjutkan dengan oral food challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan apakah gejala yang timbul benar disebabkan oleh alergi makanan atau oleh penyakit lain, termasuk TB. Penghentian sementara terhadap makanan pencetus alergi dapat membantu mengurangi peradangan sistemik dan memperjelas gejala yang berkaitan dengan TB, sehingga hasil evaluasi dan diagnosis dapat menjadi lebih akurat.
Apabila dalam waktu 1–3 minggu pelaksanaan OFC dilakukan secara ketat dan disiplin, kemudian didapatkan perbaikan klinis berupa peningkatan nafsu makan, kenaikan berat badan sekitar 200–250 gram per minggu, serta membaiknya gejala alergi pencernaan maupun gangguan pernapasan seperti batuk pilek, maka hal ini menunjukkan bahwa alergi memiliki peran besar terhadap kondisi anak. Dalam situasi tersebut, terapi TB belum perlu diberikan sampai evaluasi ulang dilakukan oleh dokter untuk memastikan bahwa gejala sisa bukan disebabkan oleh infeksi TB aktif. Pendekatan bertahap seperti ini membantu menghindari diagnosis berlebih (overdiagnosis) TB pada anak dengan keluhan mirip TB tetapi sebenarnya dipicu oleh reaksi alergi, serta memastikan setiap intervensi pengobatan diberikan secara tepat sasaran dan aman bagi pasien.
Selain pengaturan diet, pola makan anak perlu diatur dengan pendekatan feeding therapy yang positif — tidak memaksa makan, memberikan porsi kecil tapi sering, dan menciptakan suasana makan yang tenang. Anak dengan pencernaan sensitif biasanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap makanan baru, terutama setelah diet eliminasi dimulai. Jika gejala sembelit atau GERD masih muncul, dokter dapat membantu dengan terapi tambahan yang aman dan disesuaikan dengan kondisi alerginya. Hindari penggunaan antibiotik berulang atau obat penguat nafsu makan tanpa indikasi yang jelas, karena dapat memperburuk keseimbangan mikrobiota usus dan menurunkan daya tahan tubuh jangka panjang.
Dengan manajemen alergi yang tepat — melalui identifikasi alergen, eliminasi terarah, perbaikan mikrobiota, dan dukungan nutrisi komprehensif — anak seperti ini biasanya akan menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam 3–6 bulan. Frekuensi sakit berulang akan menurun, nafsu makan membaik, pencernaan menjadi lebih lancar, dan berat badan perlahan naik secara stabil. Kondisi anak yang aktif dan perkembangan baik merupakan tanda positif bahwa masalah utamanya bukan penyakit kronik berat, melainkan alergi pencernaan fungsional yang dapat pulih sepenuhnya dengan penanganan yang sabar, ilmiah, dan konsisten di bawah pengawasan dokter spesialis.









Leave a Reply