
Apakah Perilaku Balita Normal atau Tanda Masalah yang Lebih Serius?
Abstrak
Perilaku balita sering kali menunjukkan emosi yang besar dan ketidakmampuan mengontrol diri, seperti tantrum, picky eating, agresi, kesulitan tidur, dan kesalahan pengucapan kata. Meskipun sebagian besar perilaku ini merupakan tahap perkembangan normal, beberapa tanda ekstrem dapat mengindikasikan gangguan perkembangan atau mental yang lebih serius, seperti Disruptive Mood Dysregulation Disorder (DMDD) atau Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Artikel ini membahas perbedaan antara perilaku normal dan tanda peringatan pada balita, serta memberikan panduan intervensi di rumah dan evaluasi lebih lanjut oleh tenaga profesional.
Tahap toddler (1–3 tahun) merupakan fase kritis dalam perkembangan emosional dan sosial anak. Anak mulai mengeksplorasi independensi dan batasan diri, sering kali disertai tantrum, picky eating, agresi ringan, kesulitan tidur, dan kesalahan pengucapan kata. Perilaku ini biasanya normal secara perkembangan, namun bila muncul secara ekstrem atau menimbulkan risiko keselamatan, dapat menjadi indikasi masalah psikologis atau medis yang memerlukan perhatian profesional.
Para ahli kesehatan anak menekankan pentingnya memahami tanda-tanda perilaku yang wajar dan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut, sehingga intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi jangka panjang.
Perilaku Balita Normal atau Tanda Masalah yang Lebih Serius?
1. Tantrum
“Tantrum adalah reaksi yang wajar pada anak-anak kecil, karena mereka bisa merasa kewalahan dengan emosi besar yang mereka alami dan tidak tahu bagaimana menanganinya,” jelas Jennifer Daffon, seorang konselor kesehatan mental berlisensi yang memiliki Emotesy Child and Family Counseling Services di Everett, Washington. Dia mengatakan bahwa karena anak-anak belum belajar mengatur emosi mereka, dan sering kali tidak memiliki kosakata untuk mengekspresikan emosi tersebut, mereka cenderung bertindak keluar (acting out). Meskipun tantrum bisa sepenuhnya wajar secara perkembangan, ia menambahkan bahwa penyebab kekhawatiran muncul terkait masalah keselamatan. Misalnya, jika anak Anda memukul kepalanya ke dinding saat marah atau melempar benda ke orang lain saat tantrum, itu bisa menjadi alasan untuk berbicara dengan dokter anak. “Tanda peringatan lainnya adalah jika Anda melihat anak mengalami beberapa tantrum sepanjang hari yang berlangsung selama beberapa menit,” jelas Daffon. “Ini bisa menjadi indikator gangguan regulasi mood disruptif (disruptive mood dysregulation disorder/DMDD).”
Gejala khasnya, menurutnya, adalah anak-anak yang:
- Mengalami beberapa tantrum
- Merespons pemicu dengan cara yang di luar normal secara perkembangan
- Sulit kembali ke perilaku normal (baseline behavior)
DMDD adalah gangguan yang relatif baru dan biasanya hanya didiagnosis pada anak usia 6–18 tahun yang menunjukkan gejala ini secara konsisten selama lebih dari satu tahun. “Seorang terapis anak dapat membantu anak belajar keterampilan koping dan cara yang tepat untuk mengelola emosi besar. Orang tua juga dapat bekerja sama dengan terapis untuk memperoleh keterampilan tambahan agar anak lebih berhasil,” kata Daffon.
2. Memilih-milih makanan (Picky Eating)
Melanie Potock, seorang ahli patologi wicara pediatrik dan spesialis pemberian makan, memiliki pengalaman bertahun-tahun bekerja dengan anak-anak yang picky eating-nya menjadi perhatian. Dia mengatakan, “Dari usia 6–18 bulan, sebagian besar anak terbuka untuk mencoba makanan baru, selama orang tua terus menawarkan berbagai rasa dan tekstur. Tetapi ketika anak mendekati usia 2 tahun, wajar bagi mereka menjadi lebih pemilih.” Mengapa? Potock menjelaskan ada dua alasan: pertumbuhan mulai melambat dan anak-anak sibuk. “Mereka sekarang berlari-lari, bermain, dan terlibat dengan dunia, sehingga duduk di meja makan bukan prioritas utama. Selain itu, karena pertumbuhan mulai melambat dibandingkan 18 bulan pertama, anak-anak memang tidak makan sebanyak dulu,” jelasnya.Tetapi, hanya karena mereka tidak membutuhkan banyak makanan, bukan berarti mereka tidak tetap membutuhkan nutrisi yang baik. Dan bagi beberapa anak, picky eating dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Dalam buku Raising a Healthy Eater: A Stage-by-Stage Guide to Setting Your Child on the Path to Adventurous Eating, yang ditulis bersama Dr. Nimali Fernando, ia menjelaskan hal-hal yang bisa menjadi alasan untuk membawa picky eating anak ke perhatian dokter anak:
- Memberi makan anak menjadi frustrasi dan menimbulkan stres dalam keluarga
- Pertumbuhan anak stagnan, bukan hanya melambat
- Anak tampak sangat pemilih dan membatasi makanan pada kategori tertentu (misal, hanya biskuit dan roti) atau hanya tekstur/kemasan tertentu, seperti pouch apel
- Anak makan baik di daycare, tapi tidak di rumah
- Anak sering tersedak atau mengalami episode tersedak (meskipun hanya satu kejadian penting untuk dibicarakan dengan dokter anak)
Karena picky eating bisa menjadi tahap perkembangan normal, beberapa dokter mungkin awalnya mengabaikan kekhawatiran ini. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa setidaknya 1 dari 4 anak tidak akan tumbuh melewati picky eating. Bahkan, ada gangguan makan baru yang dikenal sebagai avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID), yang sering dimulai pada masa balita dan bisa menjadi berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. “Jangan menunggu untuk meminta evaluasi pemberian makan formal oleh ahli pemberian makan pediatrik. Biasanya, ahli ini memiliki pelatihan lanjutan dalam gangguan makan anak dan paling sering adalah patologi wicara atau terapis okupasi,” saran Potock.
3. Memukul dan menggigit (Hitting and Biting)
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menyakiti orang lain, tetapi beberapa perilaku cenderung lebih mudah dimaafkan pada masa balita, termasuk memukul dan menggigit. “Beberapa perilaku agresif seperti memukul saat marah adalah wajar secara perkembangan untuk balita,” jelas Daffon. “Mereka belum sepenuhnya belajar norma sosial atau cara mengelola perasaan mereka. Tugas orang tua adalah memodelkan perilaku yang diharapkan saat anak marah atau kesal.” Ia menjelaskan bahwa ini melibatkan memberi nama pada perasaan yang terlihat dan mengungkapkan emosi tersebut kepada anak, sehingga mereka mulai memiliki kosakata untuk perasaan mereka sendiri. Selain itu, orang tua harus menjelaskan cara yang dapat diterima dan tidak dapat diterima untuk mengekspresikan rasa kesal. (Hanya karena normal tidak berarti diperbolehkan.)
Beberapa kalimat yang disarankan Daffon:
- “Aku melihat kamu marah. Tidak apa-apa marah, tapi tidak boleh menyakiti orang lain.”
- “Tidak boleh memukul di keluarga kita, tapi kamu bisa — (masukkan alternatif yang aman) — sebagai gantinya.”
Daffon menambahkan, memukul, menggigit, dan perilaku kekerasan lainnya menjadi perhatian jika anak melukai diri sendiri sebagai cara mengatur emosinya. Ini jelas menunjukkan anak memiliki sedikit atau tidak ada keterampilan koping positif.
4. Salah pengucapan kata (Mispronouncing Words)
Sebagai orang tua, kita sering menganggap lucu cara anak mengucapkan kata-kata. Namun, usia ini juga menjadi saat masalah bicara mulai terlihat. Kapan ini hanya kesalahan lucu yang akan diperbaiki seiring waktu, dan kapan perlu evaluasi terapis wicara? “Beberapa kesalahan bunyi bisa wajar sesuai usia,” kata Nicole Well, seorang terapis wicara di CHOC Children’s, California.
Jika Anda khawatir tentang penggunaan kata anak, ia menyarankan:
- Pecah kata menjadi bunyi atau suku kata tunggal untuk diulang anak.
- Jika anak masih kesulitan, konsultasikan dengan dokter anak untuk evaluasi wicara.
“Jika anak terdaftar di prasekolah, guru juga bisa menjadi sumber penting untuk mengamati inkonsistensi perkembangan,” tambah Well.
5. Kesulitan tidur malam (Nighttime Sleep Battles)
Melawan waktu tidur adalah hal yang umum pada usia ini, dan menyeimbangkan tidur siang dan malam bisa menjadi tantangan terus-menerus. “Anak-anak mengalami sedikit FOMO (takut ketinggalan) saat tidur, dan itu wajar. Mereka ingin selalu menjadi bagian dari kegiatan sepanjang hari. Beralih ke mode tidur bisa sulit karena itu,” jelas Daffon. Salah satu cara membantu adalah menetapkan rutinitas tidur yang konsisten, sederhana, dan mudah diikuti. “Waktu satu lawan satu dengan orang tua atau pengasuh dapat membuat anak merasa terhubung tanpa perlu berusaha terlalu keras,” kata Daffon.
Namun, terkadang pertarungan tidur bisa menjadi tanda masalah lebih serius:
- Jika anak menunjukkan kecemasan signifikan atau khawatir saat tidur, eksplorasi lebih lanjut diperlukan.
- Jangan mengabaikan ketakutan anak, karena bagi mereka ketakutan itu nyata. Mengabaikan dapat memperburuk rasa takut dan membuat anak merasa tidak didengar atau diperhatikan.
- Jika sudah mencoba rutinitas menenangkan, menghilangkan akses perangkat layar biru, dan menghadapi ketakutan anak tanpa hasil, mungkin saatnya menghubungi dokter anak.
Tabel Ringkas Gejala Balita, Tanda Peringatan, dan Intervensi
| Perilaku / Gejala | Ciri Normal | Tanda Peringatan / Masalah Serius | Intervensi / Rekomendasi |
|---|---|---|---|
| Tantrum | Terjadi sesekali, durasi pendek, ekspresi emosi besar | Terjadi beberapa kali sehari, durasi lama, melukai diri sendiri atau orang lain → mungkin DMDD | Bimbing anak belajar coping skills, konsultasi psikolog anak, orang tua belajar teknik pengelolaan emosi |
| Picky eating / pilih-pilih makanan | Balita memilih jenis makanan tertentu sementara masih mencoba variasi lain | Pertumbuhan terhenti, membatasi jenis makanan secara ekstrem, gagging/choking → mungkin ARFID | Evaluasi oleh ahli gizi/pediatric feeding expert (SLP atau OT), pengaturan pola makan, tidak memaksakan makan |
| Hitting / biting (agresi ringan) | Terkadang memukul/menyenggol saat frustrasi, belajar norma sosial | Menyakiti diri sendiri atau orang lain secara berulang untuk regulasi emosi | Ajarkan kosakata emosi, beri contoh cara mengekspresikan marah yang aman, penguatan positif perilaku prososial |
| Kesalahan pengucapan kata | Salah pengucapan wajar, sering memperbaiki diri seiring waktu | Masalah tetap setelah latihan atau tidak berkembang, sulit dipahami | Konsultasi terapis wicara, latihan fonetik, pengawasan guru/dosen di preschool |
| Kesulitan tidur / night sleep battles | Enggan tidur sesekali, takut missing out, rutinitas tidur tidak konsisten | Kecemasan berlebihan, tidak mau tidur meski rutinitas sudah konsisten | Tetapkan rutinitas tidur yang konsisten, waktu one-on-one dengan orang tua, evaluasi pediatrik jika cemas berlebihan |
| Perilaku / Gejala | Indikator Harian | Intervensi di Rumah | Intervensi di Sekolah / Guru | Catatan Pemantauan |
|---|---|---|---|---|
| Tantrum | Menangis, berteriak, membanting barang | Tetap tenang, beri ruang aman, ajarkan kata-kata emosi (“Aku marah”), reinforcement perilaku positif setelah tenang | Beri kesempatan anak menenangkan diri di area aman, catat frekuensi & durasi tantrum | Tandai lama tantrum, pemicu, respons anak setelah diarahkan |
| Picky eating / pilih-pilih makanan | Menolak jenis makanan tertentu, makan sedikit | Sajikan variasi makanan, jangan memaksa, libatkan anak memilih makanan sehat | Amati pola makan di kantin, beri pujian untuk mencoba makanan baru | Catat jenis makanan yang ditolak/dicoba, frekuensi makan sesuai porsi |
| Hitting / biting | Memukul, menggigit, menendang saat frustrasi | Ajarkan cara mengekspresikan marah yang aman, beri contoh & latihan kata-kata emosi | Intervensi cepat saat agresi muncul, gunakan teknik time-out atau redirect, beri pujian perilaku prososial | Catat frekuensi agresi, penyebab, dan strategi yang berhasil |
| Kesalahan pengucapan kata / bicara | Salah pengucapan kata, sulit dipahami | Latih pengucapan kata per suku kata, bacakan buku & libatkan anak berbicara | Perhatikan kemampuan komunikasi anak di kelas, dukung latihan kata, koordinasi dengan terapis wicara | Catat kata yang sulit, kemajuan harian, intervensi yang dilakukan |
| Kesulitan tidur / night sleep battles | Menolak tidur, bangun malam, cemas | Tetapkan rutinitas tidur konsisten, batasi gadget sebelum tidur, one-on-one time | Jika ada program tidur siang, koordinasi rutinitas tidur, beri ketenangan | Catat jam tidur, durasi tidur malam/siang, kecemasan saat tidur |
- Petunjuk Praktis Pemantauan Harian
- Gunakan tabel ini sebagai log harian untuk mencatat setiap kejadian perilaku, pemicu, dan intervensi yang berhasil.
- Setiap hari, orang tua dan guru dapat membandingkan catatan untuk melihat pola dan kemajuan anak.
- Tanda peringatan: perilaku ekstrem yang sering muncul, melukai diri atau orang lain, atau mengganggu kesehatan/gizi → konsultasi profesional wajib (psikolog anak, SLP, atau dokter anak).
- Puji dan reinforcement positif setiap perilaku yang berhasil diarahkan, fokus pada penguatan perilaku adaptif daripada menghukum perilaku negatif.
Kesimpulan
- Perilaku balita seperti tantrum, picky eating, agresi ringan, kesalahan pengucapan kata, dan kesulitan tidur sebagian besar merupakan bagian normal dari perkembangan. Namun, tanda-tanda ekstrem atau berulang dapat mengindikasikan gangguan perkembangan atau psikologis seperti DMDD atau ARFID. Intervensi awal meliputi pengaturan pola asuh di rumah, rutinitas yang konsisten, dan pengawasan guru di sekolah, serta evaluasi profesional oleh psikolog anak, ahli gizi, atau terapis wicara. Pemantauan dan intervensi tepat waktu dapat mencegah masalah jangka panjang dan mendukung perkembangan optimal balita.








Leave a Reply