DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Dermatitis Atopik (Eksim) dan Alergi Makanan pada Bayi dan Anak: Tinjauan Sistematis

Dermatitis Atopik (Eksim) dan Alergi Makanan pada Bayi dan Anak: Tinjauan Sistematis

Abstrak

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit inflamasi kronis pada kulit yang paling sering terjadi pada bayi dan anak. Penyakit ini sering terkait dengan alergi makanan, terutama pada bayi dengan riwayat atopik. Faktor genetik, lingkungan, dan gangguan fungsi barrier kulit memicu terjadinya DA. Alergi makanan dapat memperburuk eksim dan menimbulkan gejala sistemik lain. Penanganan komprehensif meliputi identifikasi alergi, penghindaran alergen, terapi topikal, dan strategi oral food challenge (OFC) terkontrol. Pencegahan dini dan edukasi keluarga menjadi kunci mengurangi beban penyakit. Artikel ini meninjau epidemiologi, penyebab, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penanganan terkini, dan pencegahan DA yang terkait alergi makanan pada bayi dan anak.

Pendahuluan

Dermatitis atopik merupakan salah satu penyakit kulit kronis paling umum pada anak, ditandai dengan pruritus, eritema, dan lesi eksim yang kambuh. Penyakit ini sering muncul dalam 6 bulan hingga 5 tahun pertama kehidupan, dengan predileksi pada bayi dan anak dengan riwayat atopik. DA mempengaruhi kualitas hidup anak dan keluarga, termasuk gangguan tidur, stres emosional, dan biaya pengobatan yang signifikan. Selain itu, DA sering kali merupakan manifestasi awal dari “march atopik”, yang dapat berkembang menjadi rhinitis alergi, asma, dan alergi makanan.

Alergi makanan merupakan faktor penting yang dapat memicu atau memperburuk DA, terutama pada bayi dan anak muda. Alergen makanan umum meliputi telur, susu sapi, kacang tanah, kedelai, dan gandum. Identifikasi dan manajemen alergi makanan menjadi bagian penting dari strategi penanganan DA. Terapi terkini menekankan pendekatan individual, termasuk penggunaan emolien, kortikosteroid topikal, immunomodulator, dan penatalaksanaan diet berdasarkan hasil tes alergi serta oral food challenge (OFC).

Angka Kejadian

Dermatitis atopik diperkirakan mempengaruhi 15–20% anak di seluruh dunia, dengan variasi regional. Insidensi tertinggi terjadi pada bayi usia <1 tahun, dengan prevalensi sekitar 10–20%. Sekitar 50% anak dengan DA mengalami onset sebelum usia 1 tahun, dan lebih dari 85% kasus muncul sebelum usia 5 tahun.

Alergi makanan juga prevalen tinggi pada populasi ini. Sekitar 20–30% anak dengan DA sedang hingga berat memiliki alergi terhadap minimal satu jenis makanan. Insidensi alergi telur dan susu sapi paling sering ditemukan pada bayi dengan DA berat, sementara alergi kacang, kedelai, dan gandum lebih sering muncul pada anak usia >2 tahun.

Penyebab

  1. Faktor Genetik: Mutasi gen filaggrin (FLG) menyebabkan gangguan fungsi barrier kulit, meningkatkan permeabilitas terhadap alergen dan mikroorganisme. Anak dengan riwayat keluarga atopik memiliki risiko DA 2–3 kali lebih tinggi.
  2. Faktor Imunologis: DA ditandai oleh dominasi Th2, meningkatnya IgE spesifik, dan aktivasi eosinofil. Respon imun ini memicu inflamasi kronis pada kulit.
  3. Faktor Lingkungan: Polusi, paparan alergen rumah tangga, debu, tungau, dan perubahan iklim memicu atau memperburuk DA. Faktor ini memicu peradangan kulit melalui aktivasi sel imun.
  4. Alergi Makanan: Telur, susu sapi, kacang tanah, kedelai, dan gandum merupakan alergen utama. Paparan makanan ini dapat menimbulkan flare eksim dan gejala sistemik seperti gastrointestinal atau respiratori.
  5. Gangguan Microbiome Kulit: Colonisasi Staphylococcus aureus lebih tinggi pada kulit DA, yang memicu inflamasi dan kerusakan barrier. Dysbiosis kulit memperburuk gejala eksim.

Patofisiologi

  1. Gangguan Barrier Kulit: Defisiensi filaggrin mengurangi kemampuan kulit menahan air, meningkatkan kehilangan air trans-epidermal (TEWL), dan mempermudah penetrasi alergen.
  2. Inflamasi Imunologis: Aktivasi Th2 dan peningkatan sitokin IL-4, IL-5, IL-13 menyebabkan peradangan kronis. Sel mast dan eosinofil memainkan peran penting dalam gejala pruritus dan eritema.
  3. Interaksi Alergi Makanan: Paparan alergen makanan meningkatkan respon IgE, memicu flare DA dan gejala sistemik. Mekanisme ini termasuk hipersensitivitas tipe I, dengan mediator histamin dan sitokin inflamasi.

Tabel Jenis dan Tanda-Gejala Dermatitis Atopik

Jenis DA Tanda & Gejala Penjelasan
Bayi (<2 tahun) Lesi eksim pada pipi, dahi, kulit kepala; pruritus; kulit kering Umumnya muncul sebagai patch merah, berair, dengan vesikel kecil; sering kambuh terutama malam hari
Anak-anak (2–12 tahun) Lesi di lipat siku, lutut; kulit kering; pruritus Lesi lebih kering dan tebal (lichenifikasi) dibanding bayi; bisa menimbulkan bekas pigmentasi
Remaja (>12 tahun) Lichenifikasi kronis di leher, tangan, pergelangan kaki Kurang lesi vesikular, lebih cenderung kulit menebal dan bercorak pigmentasi

Dermatitis atopik bervariasi dengan usia. Bayi sering mengalami eksim basah dan merah, sedangkan anak-anak dan remaja menunjukkan lichenifikasi akibat garukan kronis. Pruritus adalah gejala utama pada semua kelompok usia.

Tanda dan Gejala Alergi Makanan Lainnya

Sistem Tubuh Gejala Penjelasan
Gastrointestinal Muntah, diare, kolik, sakit perut Gejala muncul setelah paparan alergen; sering terjadi bersamaan dengan flare eksim
Respiratori Rhinitis, batuk, mengi Terkait reaktivitas IgE sistemik; kadang muncul sebagai early signs alergi makanan
Kulit Urtikaria, angioedema Manifestasi akut alergi makanan yang dapat bersamaan dengan eksim kronis
Sistemik Anafilaksis Jarang tetapi mengancam jiwa; perlu intervensi medis segera

Alergi makanan dapat memperburuk eksim kronis, dan menimbulkan gejala sistemik di luar kulit. Identifikasi alergen spesifik penting untuk manajemen.

Pengaruh Infeksi Virus pada Aktivitas Alergi Makanan dan Alergi Kulit pada Anak

  • Infeksi virus saluran pernapasan atas, seperti common cold, influenza, dan ISPA, merupakan pemicu penting dalam memperburuk gejala alergi pada anak. Anak dengan riwayat alergi makanan atau dermatitis atopik sering mengalami flare kulit dan peningkatan reaktivitas terhadap alergen selama infeksi. Hal ini terjadi karena sistem imun yang sedang teraktivasi oleh virus meningkatkan respons inflamasi, sehingga kulit menjadi lebih sensitif dan gejala alergi makanan dapat muncul lebih nyata.
  • Namun, meskipun terjadi flare alergi saat infeksi, jika alergen makanan telah diidentifikasi dan dikendalikan dengan baik, gangguan alergi umumnya ringan dan tidak menimbulkan reaksi berat. Kendali terhadap asupan makanan alergen memungkinkan tubuh menghadapi infeksi virus tanpa menimbulkan komplikasi alergi sistemik yang serius. Strategi ini menekankan pentingnya manajemen diet dan pemantauan ketat pada anak dengan riwayat alergi.
  • Gejala infeksi virus pada anak umumnya meliputi demam ringan (badan diraba hangat , pilek, bersin, batuk, sakit tenggorokan, dan kelelahan. Pada anak dengan alergi, gejala tersebut sering disertai flare dermatitis atopik, gatal, kemerahan kulit, atau urtikaria ringan. Flare ini biasanya bersifat sementara dan membaik seiring pulihnya infeksi virus.
  • Oleh karena itu, pendekatan holistik diperlukan, termasuk menjaga hidrasi, istirahat cukup, pengelolaan diet alergen, dan terapi topikal jika perlu. Pemantauan dini terhadap gejala alergi selama infeksi virus dapat mencegah komplikasi, meminimalkan ketidaknyamanan anak, dan membantu keluarga memahami pola interaksi antara infeksi dan alergi.

Diagnosis

Diagnosis dermatitis atopik terutama klinis, berdasarkan kriteria Hanifin dan Rajka. Kriteria utama mencakup pruritus, lesi khas sesuai usia, dan riwayat kronis atau kambuh.

Tes tambahan meliputi:

  1. Tes alergi kulit (skin prick test/SPT) untuk mendeteksi sensitivitas IgE terhadap alergen makanan atau inhalan.
  2. Serum IgE spesifik untuk alergen makanan tertentu.
  3. Patch test untuk eksim terkait alergi kontak.
  4. Oral Food Challenge (OFC) terkendali untuk konfirmasi alergi makanan yang dicurigai, terutama bila SPT atau IgE positif tetapi klinis tidak jelas. Tes alergi paking akurat, paking reliabel dan gold standar adalah OFC, OFC harus dikakukan oengawasan dokter alergi anak

Perbedaan Pendapat dan kontroversi


  • Seringkali orang tua dan klinisi mengaitkan dermatitis atopik atau flare kulit pada bayi dengan alergi susu sapi, sabun mandi, air, keringat, cuaca panas, minyak telon, atau bedak. Padahal, gejala kulit tidak selalu disebabkan oleh faktor-faktor tersebut. Banyak kasus dermatitis atopik dipicu oleh kombinasi genetik, gangguan barrier kulit, atau faktor imunologis, sehingga menyalahkan satu penyebab tanpa evaluasi yang tepat dapat menimbulkan tindakan yang tidak perlu.
  • Oleh karena itu, tidak perlu buru-buru mengganti susu formula atau ASI, mengganti sabun khusus, atau mengubah kebiasaan mandi menggunakan air mineral tertentu. Penggantian yang tergesa-gesa justru dapat menimbulkan kekhawatiran orang tua dan risiko kekurangan nutrisi bila dilakukan tanpa indikasi yang jelas. Fokus utama sebaiknya pada perawatan kulit rutin, penggunaan emolien, dan pemantauan gejala.
  • Langkah yang lebih tepat adalah melakukan oral food challenge (OFC) secara terkontrol untuk memastikan apakah susu atau makanan tertentu benar-benar memicu reaksi alergi. OFC merupakan standar emas dalam diagnosis alergi makanan dan membantu menentukan apakah perlu eliminasi makanan atau tidak. Dengan pendekatan ini, intervensi menjadi lebih aman, terukur, dan sesuai kebutuhan anak.

Diagnosis Banding

  1. Seborrheic dermatitis: Lesi kuning, berminyak, kurang pruritus, biasanya di kulit kepala bayi.
  2. Infeksi kulit bakteri atau jamur: Lesi eritema dengan pustula, demam, biasanya lebih akut.
  3. Psoriasis: Lesi tebal, bersisik perak, jarang pada bayi; lokasi khas berbeda.
  4. Impetigo: Lesi bernanah, krusta kuning, cepat menyebar, tidak terkait alergi.

Penanganan Terkini

  1. Perawatan kulit dasar: Emolien setiap hari untuk memperbaiki barrier kulit, mandi dengan air hangat, hindari sabun keras.
  2. Terapi topikal: Kortikosteroid topikal untuk flare, dan immunomodulator (pimecrolimus, tacrolimus) untuk area sensitif.
  3. Identifikasi dan eliminasi alergen makanan: Berdasarkan SPT, IgE, atau OFC. Penghindaran perlu dipandu dokter alergi anak agar tidak terjadi kekurangan nutrisi.
  4. Terapi sistemik bila berat: Antihistamin untuk pruritus, kortikosteroid oral atau terapi biologik (dupilumab) pada kasus berat dan refractory.
  5. Edukasi keluarga dan monitoring: Penting untuk pengelolaan jangka panjang, mencegah flare, dan mengurangi stres psikologis anak serta keluarga.

Pencegahan

  1. Preventif primer: Pemberian ASI eksklusif minimal 6 bulan, pengenalan makanan padat bertahap, hindari paparan alergen tinggi pada bayi berisiko tinggi.
  2. Perawatan kulit rutin: Emolien dari lahir pada bayi berisiko tinggi untuk memperbaiki barrier kulit.
  3. Edukasi keluarga: Mengenali tanda flare, pengelolaan lingkungan rumah, mengurangi iritan dan pemicu.
  4. Monitoring dan follow-up: Anak dengan DA perlu monitoring jangka panjang untuk mencegah “march atopik” dan komplikasi alergi sistemik.

Kesimpulan

Dermatitis atopik pada bayi dan anak merupakan penyakit kulit kronis yang sering dikaitkan dengan alergi makanan. Penatalaksanaan efektif memerlukan kombinasi perawatan kulit, identifikasi alergen, terapi topikal, dan intervensi sistemik bila perlu. Pencegahan dini melalui perawatan kulit, edukasi keluarga, dan pengelolaan diet dapat mengurangi kejadian dan keparahan penyakit. Pendekatan holistik dan individual tetap menjadi kunci keberhasilan terapi.

Daftar Pustaka 

  1. Bieber T. Atopic dermatitis. N Engl J Med. 2008;358:1483–1494.
  2. Leung DY, et al. New insights into atopic dermatitis. J Clin Invest. 2004;113:651–657.
  3. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:291–307.
  4. Eichenfield LF, et al. Guidelines of care for the management of atopic dermatitis. J Am Acad Dermatol. 2014;70:338–351.
  5. Hanifin JM, Rajka G. Diagnostic features of atopic dermatitis. Acta Derm Venereol. 1980;92(Suppl):44–47.
  6. Wollenberg A, et al. Treatment of atopic dermatitis: update. J Allergy Clin Immunol. 2018;141:1502–1510.
  7. Sicherer SH. Epidemiology of food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2011;127:594–602.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *