DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Hirsutisme: Penyebab, Patofisiologi dan Penatalaksanaan Terkini

Hirsutisme: Penyebab, Patofisiologi dan Penatalaksnaan Terkini

Abstrak

Hirsutisme adalah kondisi yang ditandai dengan pertumbuhan rambut terminal berlebihan pada wanita di area tubuh yang biasanya mengalami pertumbuhan rambut tipe laki-laki, seperti wajah, dada, punggung, dan perut. Kondisi ini sering menjadi manifestasi klinis dari hiperandrogenisme, terutama akibat sindrom ovarium polikistik (Polycystic Ovary Syndrome/PCOS), hiperplasia adrenal kongenital (Congenital Adrenal Hyperplasia/CAH), atau tumor penghasil androgen. Insidensi hirsutisme dilaporkan mencapai 5–10% pada wanita usia reproduksi. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik menggunakan skor Ferriman-Gallwey, serta pemeriksaan hormonal seperti testosteron, DHEAS, dan LH/FSH ratio. Penatalaksanaan meliputi terapi farmakologis (antiandrogen, kontrasepsi oral kombinasi, dan inhibitor 5α-reduktase), serta terapi nonfarmakologis (laser hair removal dan modifikasi gaya hidup). Artikel ini bertujuan memberikan tinjauan komprehensif mengenai aspek patofisiologi, penyebab, diagnosis, serta terapi terkini pada hirsutisme.

Pendahuluan

Hirsutisme merupakan salah satu keluhan dermatologis dan endokrinologis yang sering menimbulkan masalah estetika, psikologis, dan sosial pada wanita. Kondisi ini menggambarkan adanya pertumbuhan rambut terminal berlebih di daerah yang sensitif terhadap androgen. Rambut terminal berbeda dari rambut vellus karena memiliki pigmen lebih gelap, lebih tebal, dan tumbuh lebih panjang. Prevalensi hirsutisme bervariasi secara global, namun diperkirakan terjadi pada 5–15% wanita usia reproduktif, dengan perbedaan signifikan antar ras dan populasi.

Secara klinis, hirsutisme tidak selalu identik dengan hiperandrogenisme, karena sensitivitas folikel rambut terhadap androgen juga berperan. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk membedakan hirsutisme idiopatik dari hirsutisme patologis yang memerlukan intervensi medis. Pemahaman mengenai mekanisme hormonal dan genetik di balik kondisi ini sangat penting untuk menentukan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang tepat.

Patofisiologi

  • Patofisiologi hirsutisme terutama berkaitan dengan peningkatan kadar androgen sirkulasi atau peningkatan aktivitas enzim 5α-reduktase pada folikel rambut, yang mengubah testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT), bentuk aktif androgen. DHT berikatan dengan reseptor androgen di folikel rambut, merangsang transformasi rambut vellus menjadi rambut terminal.
  • Selain peningkatan produksi androgen oleh ovarium atau adrenal, peningkatan sensitivitas reseptor androgen di kulit juga dapat menyebabkan hirsutisme meskipun kadar hormon dalam batas normal. Pada PCOS, disfungsi ovarium menyebabkan peningkatan LH dan penurunan SHBG (Sex Hormone Binding Globulin), yang meningkatkan kadar testosteron bebas. Sedangkan pada hiperplasia adrenal kongenital, peningkatan produksi 17-hidroksiprogesteron memicu sintesis androgen berlebihan melalui jalur steroidogenesis.

Penyebab Hirsutisme

Kategori Penyebab Keterangan
Ovarium Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) Paling umum (70–80% kasus); disertai anovulasi, obesitas, dan resistensi insulin
Adrenal Hiperplasia Adrenal Kongenital (CAH), tumor adrenal Peningkatan DHEAS dan testosteron
Obat-obatan Anabolik steroid, fenitoin, minoksidil, dan danazol Efek samping stimulasi reseptor androgen
Idiopatik Tidak ditemukan kelainan hormonal Diduga akibat peningkatan sensitivitas folikel rambut terhadap androgen
Neoplasma Tumor ovarium atau adrenal penghasil androgen Onset cepat, hirsutisme berat, disertai virilisasi

Tanda dan Gejala

  • Tanda utama hirsutisme adalah pertumbuhan rambut terminal berlebihan pada wajah (dagu, bibir atas, pipi), dada, perut bawah, paha, dan punggung bagian bawah. Derajat keparahan dinilai menggunakan Ferriman-Gallwey Score (FGS), di mana skor ≥8 menunjukkan hirsutisme bermakna.
  • Selain pertumbuhan rambut, pasien dapat menunjukkan gejala hiperandrogenisme lain seperti jerawat (acne vulgaris), sebore, suara menjadi berat, alopecia androgenetik, dan klitoromegali pada kasus berat.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan melalui:

  1. Anamnesis: Riwayat onset, progresivitas, siklus menstruasi, penggunaan obat, dan riwayat keluarga.
  2. Pemeriksaan fisik: Penilaian FGS, tanda virilisasi, obesitas sentral, dan jerawat.
  3. Pemeriksaan laboratorium:
    1. Testosteron total dan bebas
    2. DHEAS
    3. LH, FSH
    4. 17-hidroksiprogesteron (bila dicurigai CAH)
    5. Prolaktin dan TSH untuk menyingkirkan gangguan endokrin lain
  4. Pemeriksaan penunjang: USG pelvis (mendeteksi PCOS), CT scan atau MRI adrenal bila diduga tumor.

Penanganan

Penatalaksanaan hirsutisme bertujuan menekan produksi androgen, memblokir efek androgen pada folikel rambut, serta menghilangkan rambut yang sudah tumbuh. Pendekatan bersifat multimodal:

  1. Terapi Farmakologis:
    • Kontrasepsi oral kombinasi (COC): Menekan LH dan meningkatkan SHBG (mis. etinilestradiol + drospirenon).
    • Antiandrogen: Spironolakton, flutamid, dan finasterid.
    • Metformin: Diberikan pada pasien PCOS dengan resistensi insulin.
    • Kortikosteroid: Pada kasus hiperplasia adrenal kongenital.
  2. Terapi Nonfarmakologis:
    • Laser hair removal atau elektrolisis: Efektif untuk mengurangi rambut terminal.
    • Perubahan gaya hidup: Penurunan berat badan dan aktivitas fisik teratur untuk memperbaiki resistensi insulin.
    • Konseling psikologis: Membantu pasien mengatasi dampak emosional dan sosial dari hirsutisme.

Komplikasi

  • Tanpa penanganan, hirsutisme dapat menyebabkan dampak psikososial berat seperti rendah diri, depresi, dan gangguan hubungan interpersonal.
  • Secara medis, hirsutisme sering menjadi tanda awal gangguan metabolik seperti resistensi insulin, dislipidemia, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular terutama pada pasien PCOS.

Kesimpulan

Hirsutisme merupakan manifestasi klinis dari ketidakseimbangan androgen yang memerlukan pendekatan multidisipliner untuk diagnosis dan terapi. Evaluasi yang sistematis sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab mendasar, terutama PCOS dan gangguan adrenal. Kombinasi terapi hormonal, kosmetik, dan gaya hidup memberikan hasil optimal dalam jangka panjang.

Saran

Dokter perlu melakukan edukasi menyeluruh kepada pasien mengenai pentingnya evaluasi menyeluruh dan kepatuhan terhadap terapi jangka panjang. Penelitian lebih lanjut mengenai faktor genetik dan reseptor androgen di kulit diharapkan dapat membuka peluang terapi yang lebih spesifik dan efektif di masa depan.

Daftar Pustaka 

  • Martin KA, Chang RJ, Ehrmann DA, et al. Evaluation and treatment of hirsutism in premenopausal women: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2018;103(4):1233-1257.
  • Escobar-Morreale HF. Polycystic ovary syndrome: Definition, aetiology, diagnosis and treatment. Nat Rev Endocrinol. 2018;14(5):270–284.
  • Yildiz BO, Bolour S, Woods K, Moore A, Azziz R. Visually scoring hirsutism. Hum Reprod Update. 2010;16(1):51–64.
  • Goodman NF, Cobin RH, Futterweit W, Glueck JS, Legro RS, Carmina E. American Association of Clinical Endocrinologists (AACE) Position Statement on hirsutism, 2021. Endocr Pract. 2021;27(9):957–971.
  • Azziz R, Carmina E, Sawaya ME. Idiopathic hirsutism. Endocr Rev. 2000;21(4):347–362.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *