Tahukah Anda: Alergi Makanan Menyulut Depresi, Over-Emotional, dan ADHD-like Behavior pada Anak
Yudhasmara Audi, Judarwanto Widodo
Alergi makanan pada anak bukan hanya memunculkan keluhan fisik seperti sembelit, diare, sering mual dan muntah, serta GERD, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan perubahan perilaku dan kesehatan mental. Peradangan kronis di saluran cerna dapat memengaruhi gut-brain axis, sehingga anak tampak lebih aktif dari biasanya (hiperaktif), mudah marah, tantrum lebih sering, cemas berlebihan, gangguan fokus belajar, sulit tidur, bahkan beberapa laporan ilmiah mengaitkannya dengan gejala depresi dan ADHD-like behavior. Ketika makanan pemicu alergi berhasil dihindari dan pencernaan membaik, sering kali terlihat perubahan dramatis: anak menjadi lebih tenang, konsentrasi meningkat, emosi stabil, lebih mudah diarahkan, kemampuan belajar dan kreativitas pun ikut berkembang. Itulah mengapa keluhan perilaku tidak boleh hanya dianggap sebagai masalah karakter, sementara keluhan pencernaan bukan sekadar “gangguan biasa” keduanya bisa menjadi sinyal kuat bahwa ada alergi makanan yang perlu diidentifikasi dan ditangani dengan pendekatan yang tepat, seperti eliminasi makanan terarah dan evaluasi medis komprehensif.
Alergi makanan tidak sekadar menimbulkan reaksi fisik di saluran cerna seperti mual, muntah, diare, atau konstipasi banyak bukti bahwa kondisi ini juga berkorelasi dengan masalah psikososial pada anak dan remaja, termasuk kecemasan, depresi, serta gangguan perhatian atau hiperaktivitas. Sebagai contoh, dalam studi populasi besar oleh Emotional and behavioral problems in adolescents and young adults with food allergy (Ferro dkk., 2016) ditemukan bahwa remaja dengan alergi makanan memiliki peluang jauh lebih tinggi untuk dilaporkan memiliki gejala depresi, kecemasan, maupun ADHD dibanding remaja tanpa alergi (misalnya OR = 4,50 untuk depresi; OR = 3,14 untuk ADHD) dan gejala depresi ini bahkan dapat bertahan hingga dewasa muda.
Secara mekanistik, hubungan antara alergi makanan dan gangguan perilaku/emosi ini mungkin dijelaskan lewat jalur biologis yang dikenal sebagai gut–brain axis (aksis usus–otak), di mana perubahan pada mikrobioma usus, peradangan imun, dan sinyal saraf dapat memengaruhi fungsi otak, suasana hati, dan regulasi emosi dan pada anak dengan food allergy telah dilaporkan adanya gut dysbiosis atau ketidakseimbangan mikrobiota usus, yang dapat mengganggu homeostasis usus sekaligus mempengaruhi status neurobehavioral.
Dampak dari food allergy pada kualitas hidup (quality of life) anak dan remaja juga tidak bisa diremehkan: berbagai penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan menurunkan aspek psikologis, sosial, dan fungsi harian anak dengan food hypersensitivity (FHS) atau alergi makanan melaporkan lebih banyak keluhan kecemasan/depresi, rasa sakit atau ketidaknyamanan, keterbatasan aktivitas, serta penurunan persepsi kesehatan dibanding rekan-rekannya tanpa alergi. Hal ini menunjukkan bahwa alergi makanan bukan sekadar soal perut atau kulit, melainkan bisa berdampak luas pada kesehatan mental, sosial, dan kesejahteraan umum anak.
Karena itu, ketika seorang anak menunjukkan kombinasi gejala pencernaan kronis (sembelit, diare, GERD, mual, muntah) bersamaan dengan perubahan perilaku seperti emosi labil, sulit fokus, hiperaktifitas atau kecemasan maka kemungkinan alergi makanan harus dipertimbangkan. Namun diagnosis harus dilakukan secara tepat: melalui evaluasi medis yang komprehensif, eliminasi terstruktur bila perlu, dan konfirmasi dengan uji standar seperti Oral Food Challenge (OFC) agar tidak keliru menyimpulkan dan menimbulkan pembatasan diet yang tidak perlu, sekaligus agar intervensi bisa mempertimbangkan aspek nutrisi, psikososial dan kesehatan secara keseluruhan. Saat OFC dihindari dengan baik dan benar dalam 1-3 minggu tampak gangguan pencernaan membaik, disertai gangguan penurunan emosi, fokus dan gangguan hiperaktifitas secara bersamaan
Daftar Pustaka
- Ferro MA, Van Lieshout RJ, Ohayon J, Scott JG. Emotional and behavioral problems in adolescents and young adults with food allergy. Allergy. 2016 Apr;71(4):532–540. doi: 10.1111/all.12829.
- Xu G, Liu B, Yang W, Snetselaar LG, Chen M, Bao W, Strathearn L. Association of Food Allergy, Respiratory Allergy, and Skin Allergy with Attention Deficit/Hyperactivity Disorder among Children. Nutrients. 2022 Jan 21;14(3):474. doi: 10.3390/nu14030474. PMID: 35276830; PMCID: PMC8838767.
- Farnetano M, dkk. Gut microbiome features in pediatric food allergy. 2024. (Studi terbaru yang menyoroti peran mikrobiota usus dan gut-brain axis pada food allergy)
- Tryphonas H, Trites R. Food allergy in children with hyperactivity, learning disabilities and/or minimal brain dysfunction. Ann Allergy. 1979 Jan;42(1):22-7. PMID: 760622.
- Artikel review Diet-Gut Microbiota-Brain Axis and IgE-Mediated Food Allergy yang membahas jalur biologis penyambung sistem pencernaan dan otak dalam konteks alergi makanan.








Leave a Reply