Tahukah Anda : Alergi Makanan Berpengaruh Pada Minimal Brain Dysfunction (MBD) , Gangguan Belajar
Judarwanto Widodo, Yudhasmara Audi
Minimal Brain Dysfunction (MBD) dulu istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana anak menunjukkan kesulitan fungsi otak ringan namun cukup untuk mempengaruhi perhatian, kontrol impuls, atau koordinasi neurologis, tapi tidak menunjukkan kerusakan otak masif atau kelainan struktural yang jelas; kondisi ini sering dikaitkan dengan perilaku hiperaktif dan gangguan belajar.
Learning Disability (kesulitan belajar) adalah gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar seperti memahami bahasa, menalar, membaca, menulis, atau berhitung, padahal intelegensi umum anak berada di kisaran normal dan tidak ada hambatan sensorik (pendengaran/ penglihatan) atau retardasi intelektual.
Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan fokus/hiperaktivitas dibedakan dari MBD sebagai diagnosis modern — ditandai dengan kesulitan mempertahankan perhatian, impulsivitas, dan/atau hiperaktivitas, serta gangguan kontrol perilaku, yang sering mengganggu fungsi akademik dan sosial.
Bukti Hubungan Alergi Makanan dengan Gangguan Neuro-Perilaku
Salah satu studi klasik, Food allergy in children with hyperactivity, learning disabilities and/or minimal brain dysfunction (Tryphonas & Trites, 1979), meneliti 90 anak hiperaktif, 22 anak dengan learning disability, dan 8 anak dengan masalah emosional-inattentive terhadap alergi makanan menggunakan RAST (radioallergosorbent test) terhadap 43 ekstrak makanan hasilnya menunjukkan bahwa 52% dari seluruh anak menunjukkan alergi terhadap minimal satu makanan, dan pada kelompok hiperaktif dengan MBD atau learning disability terdapat asosiasi signifikan antara jumlah alergi dan skor hiperaktivitas dari guru.
Artinya, pada sebagian anak yang sebelumnya didiagnosis MBD / learning disability / ADHD-like, alergi makanan bisa menjadi faktor yang memperberat atau mempengaruhi gejala — misalnya anak menjadi lebih hiperaktif, sulit fokus, atau memiliki learning difficulty ketika memakan makanan yang mereka alergi. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa di antara penyebab kesulitan belajar atau gangguan fokus ada faktor imunologi bukan semata gangguan neurologis bawaan.
Mekanisme dan Implikasi Klinis
Secara mekanisme, kondisi seperti alergi makanan bisa mempengaruhi sistem saraf pusat lewat jalur yang dikenal sebagai gut–brain axis (aksis usus–otak): reaksi imun terhadap allergen makanan, peradangan, serta perubahan mikrobiota usus dapat memengaruhi neurotransmisi, regulasi emosi, kemampuan konsentrasi, dan regulasi perilaku sehingga gejala seperti hiperaktivitas, suasana hati labil, susah fokus, atau gangguan belajar muncul secara bersamaan dengan gejala pencernaan. Banyak literatur kontemporer menyebut bahwa gangguan pencernaan kronis atau intoleransi makanan dapat berdampak pada kesehatan mental dan kognitif anak.
Dengan demikian, ketika seorang anak menunjukkan kombinasi keluhan: gangguan saluran cerna (sembelit, diare, mual, muntah, GERD) plus tanda-tanda seperti mudah marah, sulit konsentrasi, impulsif, belajar kurang maksimal ada alasan kuat untuk mempertimbangkan evaluasi alergi makanan sebagai bagian dari diagnosis, bukan langsung memberi label MBD atau ADHD tanpa pemeriksaan alergi.
Pentingnya Diagnosis Tepat dan Pendekatan Komprehensif
Namun demikian, tidak semua anak dengan MBD atau kesulitan belajar terkait alergi makanan karena banyak faktor lain (genetik, lingkungan, psikososial) juga berperan. Oleh karena itu, diagnosis alergi dan gangguan perilaku harus dilakukan secara hati-hati: melibatkan riwayat klinis, pemeriksaan alergi yang valid, dan jika perlu eliminasi makanan serta konfirmasi kembali. Intervensi harus mempertimbangkan aspek nutrisi, psikologis, dan pendidikan. Pendekatan multidisipliner (dokter, nutrisionis, psikolog/pendidik) akan lebih bijak. Bila alergi teridentifikasi benar, perbaikan pola makan bisa membantu meredam gejala hiperaktifitas, gangguan fokus, atau kesulitan belajar — dan bisa jadi solusi yang lebih tepat daripada langsung memberikan label “disfungsi otak” atau memberi terapi obat tanpa evaluasi penyebab yang mendalam.
Karena itu, ketika seorang anak menunjukkan kombinasi gejala pencernaan kronis (sembelit, diare, GERD, mual, muntah) bersamaan dengan perubahan perilaku seperti emosi labil, sulit fokus, hiperaktifitas atau kecemasan maka kemungkinan alergi makanan harus dipertimbangkan. Namun diagnosis harus dilakukan secara tepat: melalui evaluasi medis yang komprehensif, eliminasi terstruktur bila perlu, dan konfirmasi dengan uji standar seperti Oral Food Challenge (OFC) agar tidak keliru menyimpulkan dan menimbulkan pembatasan diet yang tidak perlu, sekaligus agar intervensi bisa mempertimbangkan aspek nutrisi, psikososial dan kesehatan secara keseluruhan. Saat OFC dihindari dengan baik dan benar dalam 1-3 minggu tampak gangguan pencernaan membaik, disertai gangguan penurunan emosi, fokus dan gangguan hiperaktifitas secara bersamaan
Daftar Pustaka
- Tryphonas H, Trites R. Food allergy in children with hyperactivity, learning disabilities and/or minimal brain dysfunction. Ann Allergy. 1979 Jan;42(1):22-7. PMID: 760622.
- Ferro MA, Van Lieshout RJ, Ohayon J, Scott JG. Emotional and behavioral problems in adolescents and young adults with food allergy. Allergy. 2016 Apr;71(4):532–540. doi: 10.1111/all.12829.
- Xu G, Liu B, Yang W, Snetselaar LG, Chen M, Bao W, Strathearn L. Association of Food Allergy, Respiratory Allergy, and Skin Allergy with Attention Deficit/Hyperactivity Disorder among Children. Nutrients. 2022 Jan 21;14(3):474. doi: 10.3390/nu14030474. PMID: 35276830; PMCID: PMC8838767.








Leave a Reply