Mengapa Adenoid Membesar pada Anak? Peran Infeksi Berulang, Rinitis Alergi, dan Alergi Makanan
Tanya
Apa penyebab adenoid membesar pada anak? Apakah hanya karena infeksi atau ada faktor lain seperti alergi? Benarkah alergi makanan dapat berperan dalam terjadinya pembesaran adenoid dengan meningkatkan risiko flu, pilek, atau rinitis yang berulang? Bagaimana mekanisme terjadinya pembesaran adenoid akibat kondisi tersebut?
Jawaban
Adenoid merupakan jaringan limfoid yang berada di bagian belakang rongga hidung (nasofaring) dan berfungsi sebagai salah satu pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk melalui hidung dan mulut. Pada anak, adenoid secara normal memang berukuran lebih besar dibandingkan orang dewasa karena sistem kekebalan tubuh masih berkembang. Namun, adenoid dapat mengalami pembesaran (adenoid hipertrofi) apabila terus-menerus mendapat rangsangan berupa infeksi atau peradangan yang berulang.
Penyebab tersering pembesaran adenoid adalah infeksi saluran napas atas yang berulang, seperti pilek (common cold), influenza, sinusitis, dan infeksi virus lainnya. Setiap kali terjadi infeksi, adenoid akan aktif memproduksi sel-sel imun untuk melawan kuman. Bila infeksi terjadi berulang atau berlangsung lama, jaringan adenoid dapat mengalami hipertrofi sehingga menjadi lebih besar dan menyumbat jalan napas di belakang hidung.
Selain infeksi, rinitis alergi merupakan salah satu penyebab utama pembesaran adenoid. Pada rinitis alergi, paparan alergen seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur menyebabkan mukosa hidung mengalami inflamasi kronis. Peradangan ini tidak hanya mengenai rongga hidung, tetapi juga melibatkan jaringan limfoid di nasofaring, termasuk adenoid. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan rinitis alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami adenoid hipertrofi dibandingkan anak tanpa alergi.
Alergi makanan juga diduga dapat berperan pada sebagian anak, meskipun hubungannya umumnya bersifat tidak langsung dan tidak terjadi pada semua kasus. Pada anak yang memang memiliki alergi makanan, reaksi alergi dapat menyebabkan inflamasi kronis, terutama pada saluran cerna, yang memengaruhi regulasi sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut pada sebagian anak dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas atas berulang atau memperberat rinitis alergi, sehingga jaringan adenoid lebih sering mengalami aktivasi imun dan akhirnya membesar. Dengan kata lain, alergi makanan bukan penyebab langsung pembesaran adenoid, tetapi dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap proses inflamasi berulang pada anak tertentu.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan lebih sering mengalami gangguan saluran napas atas dibandingkan anak tanpa alergi. Hal ini diduga berkaitan dengan interaksi antara sistem imun saluran cerna dan saluran napas melalui gut–lung axis, yaitu hubungan biologis antara mikrobiota usus, sistem imun, dan jaringan mukosa saluran napas. Bila terjadi gangguan inflamasi yang menetap pada usus akibat alergi makanan, respons imun di saluran napas juga dapat ikut berubah sehingga anak lebih mudah mengalami pilek berulang, rinitis, atau infeksi saluran napas.
Meski demikian, diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan dugaan, gejala, pengalaman sehari-hari, food diary, atau hasil tes IgE maupun skin prick test saja. Menurut berbagai pedoman alergi internasional, pemeriksaan yang menjadi gold standard untuk memastikan alergi makanan adalah Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan secara terkontrol oleh dokter yang berpengalaman. Pemeriksaan ini penting agar anak tidak menjalani diet eliminasi yang tidak diperlukan.
Selain infeksi dan alergi, faktor lain yang dapat menyebabkan adenoid membesar adalah paparan asap rokok, polusi udara, kualitas udara dalam rumah yang buruk, refluks gastroesofageal (GERD) pada sebagian anak, faktor genetik, serta pembesaran fisiologis yang memang terjadi pada usia 2–8 tahun. Pada sebagian anak, kombinasi beberapa faktor tersebut menyebabkan peradangan berlangsung lebih lama sehingga adenoid tetap membesar.
Kesimpulannya, pembesaran adenoid paling sering disebabkan oleh infeksi saluran napas berulang dan rinitis alergi. Pada sebagian anak, alergi makanan yang telah dipastikan melalui Oral Food Challenge (OFC) juga dapat berkontribusi secara tidak langsung dengan meningkatkan inflamasi kronis serta kerentanan terhadap pilek, flu, atau rinitis berulang yang akhirnya merangsang pembesaran adenoid. Oleh karena itu, penanganan adenoid tidak hanya berfokus pada mengatasi sumbatan jalan napas, tetapi juga mencari dan mengendalikan penyebab inflamasi yang mendasarinya agar kekambuhan dapat dicegah. Perlu ditekankan bahwa hubungan antara alergi makanan dan pembesaran adenoid masih terus diteliti, sehingga evaluasi harus dilakukan secara individual berdasarkan gejala, pemeriksaan klinis, dan konfirmasi diagnosis yang tepat.
Referensi
- Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.
- Yonis MA, Ibrahim MA, Farag FK, El Shennawy AM. Relationship between adenoidal hypertrophy and allergic rhinitis in children. Egypt J Hosp Med. 2019;74(1):94-102.





Leave a Reply