DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

Benarkah Gula Membuat Anak Menjadi Lebih Aktif atau Hiperaktif? Tinjauan Berdasarkan Bukti Ilmiah

Benarkah Gula Membuat Anak Menjadi Lebih Aktif atau Hiperaktif? Tinjauan Berdasarkan Bukti Ilmiah

Tanya

Dok, banyak orang mengatakan bahwa permen, minuman manis, atau makanan yang mengandung gula dapat membuat anak menjadi sangat aktif, sulit diam, bahkan hiperaktif. Apakah anggapan tersebut benar? Apakah penelitian ilmiah membuktikan bahwa gula merupakan penyebab hiperaktivitas pada anak?

Jawab

Anggapan bahwa konsumsi gula menyebabkan hiperaktivitas pada anak telah menjadi kepercayaan yang luas selama lebih dari 40 tahun. Hipotesis ini pertama kali dipopulerkan pada tahun 1970-an oleh Benjamin Feingold, yang mengemukakan bahwa gula dan zat aditif makanan dapat memengaruhi perilaku anak. Namun, hingga saat ini, berbagai penelitian dengan desain yang lebih baik belum berhasil membuktikan hubungan sebab-akibat antara konsumsi gula dan hiperaktivitas pada sebagian besar anak.

Sejumlah uji klinis acak tersamar ganda (randomized double-blind placebo-controlled trials) menunjukkan bahwa pemberian gula tidak meningkatkan aktivitas, impulsivitas, maupun gangguan perhatian dibandingkan dengan plasebo. Salah satu penelitian klasik oleh Wolraich dan kolega yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine menemukan bahwa diet tinggi sukrosa tidak menyebabkan perubahan perilaku ataupun fungsi kognitif pada anak yang dianggap sensitif terhadap gula maupun pada anak normal.

Temuan tersebut diperkuat oleh meta-analisis Wolraich dkk. (1995) yang diterbitkan di JAMA, yang menggabungkan berbagai penelitian terkontrol mengenai konsumsi gula dan perilaku anak. Analisis tersebut menyimpulkan bahwa gula tidak memengaruhi perilaku ataupun kemampuan kognitif anak, bahkan pada anak yang sebelumnya diduga mengalami “sugar sensitivity”. Hingga kini, kesimpulan tersebut masih menjadi salah satu dasar rekomendasi ilmiah di bidang pediatri.

Penelitian lain menunjukkan bahwa persepsi orang tua turut berperan dalam munculnya anggapan tersebut. Dalam suatu penelitian, orang tua diberi informasi bahwa anak mereka mengonsumsi gula, padahal sebenarnya anak hanya menerima pemanis buatan (plasebo). Meskipun demikian, orang tua tetap menilai anak mereka lebih hiperaktif. Temuan ini menunjukkan adanya expectation bias, yaitu kecenderungan seseorang melihat sesuatu sesuai dengan keyakinannya.

Secara biologis, belum ditemukan mekanisme yang konsisten yang dapat menjelaskan bahwa gula dalam jumlah normal menyebabkan hiperaktivitas. Setelah dikonsumsi, kadar glukosa darah memang meningkat, tetapi tubuh segera mengatur kadar tersebut melalui hormon insulin sehingga kadar gula kembali stabil. Pada anak sehat, perubahan fisiologis ini tidak terbukti menyebabkan perubahan perilaku yang bermakna.

Bila seorang anak tampak lebih aktif setelah mengonsumsi makanan manis, penyebabnya sering kali bukan kandungan gula itu sendiri, melainkan konteks saat makanan tersebut dikonsumsi. Permen, minuman manis, atau kue biasanya diberikan pada pesta ulang tahun, hari raya, liburan, atau acara bermain bersama teman. Lingkungan yang penuh stimulasi, kegembiraan, aktivitas fisik, dan interaksi sosial jauh lebih mungkin menjelaskan meningkatnya aktivitas anak dibandingkan konsumsi gula.

Meskipun gula tidak terbukti menyebabkan hiperaktivitas, konsumsi gula tambahan (added sugar) tetap perlu dibatasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai organisasi pediatri merekomendasikan pembatasan gula tambahan karena konsumsi berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko obesitas, karies gigi, penyakit hati berlemak non-alkohol, diabetes tipe 2, serta penyakit kardiometabolik di kemudian hari. Dengan demikian, alasan membatasi gula lebih berkaitan dengan kesehatan metabolik daripada perilaku.

Kesimpulannya, bukti ilmiah berkualitas tinggi hingga saat ini tidak mendukung anggapan bahwa gula merupakan penyebab hiperaktivitas pada anak. Berbagai uji klinis dan meta-analisis menunjukkan bahwa konsumsi gula tidak menyebabkan peningkatan aktivitas atau gangguan perhatian pada sebagian besar anak. Orang tua sebaiknya tetap membatasi konsumsi gula demi kesehatan jangka panjang, tetapi tidak perlu menganggap gula sebagai penyebab utama perilaku hiperaktif. Bila seorang anak menunjukkan hiperaktivitas yang menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari, diperlukan evaluasi menyeluruh oleh dokter anak untuk mencari penyebab lain yang lebih relevan.

Referensi ilmiah pilihan

  • Wolraich ML, Wilson DB, White JW. The effect of sugar on behavior or cognition in children: A meta-analysis. JAMA. 1995;274(20):1617–1621.
  • Wolraich ML, Milich R, Stumbo P, Schultz F. Effects of sucrose ingestion on the behavior of hyperactive boys. Journal of Pediatrics. 1985.
  • Wolraich ML, Lindgren SD, Stumbo PJ, et al. Effects of diets high in sucrose or aspartame on behavior and cognitive performance in children. New England Journal of Medicine. 1994;330:301–307.
  • American Academy of Pediatrics. Clinical Report: Added Sugars and Cardiovascular Disease Risk in Children.
  • World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO; 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *