DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) pada Anak

 

Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) pada Anak

Pada bayi, anak, dan remaja, Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) merupakan salah satu penyebab tersering gangguan saluran cerna kronis. Berbeda dengan orang dewasa, manifestasi DGBI pada anak sangat dipengaruhi oleh proses maturasi saluran cerna, perkembangan sistem saraf enterik, mikrobiota usus, sistem imun, faktor nutrisi, pola asuh, serta perkembangan psikososial. Oleh karena itu, Rome V menekankan bahwa evaluasi DGBI pada anak harus mempertimbangkan usia, tahap perkembangan, kemampuan anak menggambarkan gejala, serta keterlibatan orang tua dalam pengambilan riwayat penyakit.

Pada awal kehidupan terjadi perkembangan yang sangat cepat pada gut–brain axis. Kolonisasi mikrobiota usus, pematangan sistem imun mukosa, pembentukan sawar epitel usus, serta perkembangan komunikasi antara sistem saraf enterik dan sistem saraf pusat berlangsung secara simultan. Gangguan pada salah satu proses tersebut, misalnya akibat infeksi, penggunaan antibiotik, prematuritas, paparan alergen makanan, atau stres dini, diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya DGBI pada masa kanak-kanak maupun hingga dewasa.

Rome V juga menegaskan bahwa sebagian besar DGBI pada anak bukan merupakan gangguan psikologis semata, melainkan penyakit biologis yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Hipersensitivitas viseral, gangguan motilitas, aktivasi imun mukosa derajat rendah, disbiosis mikrobiota, peningkatan permeabilitas usus (epithelial barrier dysfunction), serta perubahan modulasi nyeri di sistem saraf pusat berkontribusi terhadap timbulnya gejala.

Pada praktik pediatri, DGBI sering memberikan gejala yang tidak spesifik. Bayi dapat mengalami regurgitasi berulang, kolik, konstipasi, sulit makan, muntah, atau gangguan pertumbuhan. Pada anak yang lebih besar keluhan dapat berupa nyeri perut berulang, kembung, cepat kenyang, konstipasi kronis, diare fungsional, sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome), maupun dispepsia fungsional. Keluhan tersebut dapat berlangsung berbulan-bulan tanpa ditemukan kelainan struktural maupun biokimia yang bermakna.

Rome V juga mengingatkan bahwa pada anak, DGBI cukup sering tumpang tindih (overlap) dengan penyakit organik, terutama alergi makanan non-IgE, penyakit celiac, eosinophilic gastrointestinal disorders (EGIDs), inflammatory bowel disease (IBD), intoleransi laktosa, maupun gangguan pascainfeksi (post-infectious DGBI). Oleh karena itu, sebelum menegakkan diagnosis DGBI, dokter harus melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk menyingkirkan penyakit organik, terutama bila terdapat alarm features seperti gagal tumbuh, anemia, muntah persisten, perdarahan saluran cerna, diare kronis, atau penurunan berat badan.

Hubungan antara DGBI dan alergi makanan pada anak mendapat perhatian lebih besar dalam Rome V. Aktivasi sistem imun mukosa akibat protein makanan dapat menyebabkan gangguan motilitas, peningkatan permeabilitas mukosa, aktivasi sel mast dan eosinofil, serta hipersensitivitas viseral yang menghasilkan gejala sangat mirip dengan DGBI. Sebaliknya, inflamasi mukosa akibat alergi makanan juga dapat memicu perubahan komunikasi pada gut–brain axis, sehingga sebagian anak tetap mengalami gejala DGBI meskipun proses alerginya telah membaik. Hal ini menunjukkan adanya hubungan dua arah (bidirectional relationship) antara alergi makanan dan DGBI.

Pada bayi dan balita, alergi makanan non-IgE sering tidak disertai ruam kulit atau hasil tes IgE yang positif. Manifestasinya lebih sering berupa refluks yang sulit diobati, muntah kronis, konstipasi, diare, sulit makan, rewel saat makan, nyeri perut, gangguan tidur, serta berat badan yang sulit meningkat. Gejala-gejala tersebut dapat memenuhi kriteria DGBI sehingga diperlukan evaluasi klinis yang cermat agar tidak terjadi salah diagnosis maupun pembatasan diet yang tidak diperlukan.

Rome V juga menekankan pentingnya diagnosis positif pada DGBI anak tanpa mengabaikan kemungkinan penyakit organik. Pemeriksaan laboratorium, endoskopi, pencitraan, maupun pemeriksaan penunjang lain tidak dilakukan secara rutin pada seluruh pasien, tetapi disesuaikan dengan temuan klinis dan adanya tanda bahaya. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi pemeriksaan invasif yang tidak perlu sekaligus meningkatkan ketepatan diagnosis.

Definisi Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) 

  • Menurut Rome V (2026), Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) didefinisikan sebagai: “A group of disorders characterized by gastrointestinal symptoms related to any combination of: motility disturbance, visceral hypersensitivity, altered mucosal and immune function, altered gut microbiota, or altered central nervous system processing.” (ScienceDirect)
  • Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) adalah kelompok gangguan saluran cerna yang ditandai oleh gejala gastrointestinal kronis atau berulang yang berhubungan dengan satu atau kombinasi beberapa mekanisme patofisiologis berikut:
  1. Gangguan motilitas saluran cerna (motility disturbance)
  2. Hipersensitivitas viseral (visceral hypersensitivity)
  3. Perubahan fungsi mukosa dan sistem imun usus (altered mucosal and immune function)
  4. Perubahan komposisi atau fungsi mikrobiota usus (altered gut microbiota)
  5. Gangguan pemrosesan sinyal oleh sistem saraf pusat (altered central nervous system processing) (Elsevier Health)

Makna Definisi Rome V

Rome V menegaskan bahwa DGBI bukan lagi dianggap sebagai “penyakit fungsional” yang tidak memiliki dasar biologis, tetapi merupakan gangguan yang melibatkan interaksi kompleks antara saluran cerna dan otak melalui berbagai mekanisme biologis yang saling berkaitan. Karena itu, istilah lama Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs) secara resmi ditinggalkan dan digantikan dengan Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) untuk mengurangi stigma bahwa keluhan pasien “hanya karena stres” atau “tidak ada penyakitnya”. (Elsevier Health)

Lima Mekanisme Utama DGBI Menurut Rome V

Mekanisme Penjelasan
Gangguan motilitas saluran cerna Perubahan kontraksi, pengosongan lambung, atau transit usus yang menyebabkan konstipasi, diare, kembung, atau dispepsia.
Hipersensitivitas viseral Peningkatan kepekaan terhadap rangsangan normal sehingga distensi usus ringan dapat dirasakan sebagai nyeri atau rasa tidak nyaman.
Perubahan fungsi mukosa dan sistem imun Aktivasi imun mukosa, peningkatan permeabilitas usus (epithelial barrier dysfunction), dan inflamasi derajat rendah yang berkontribusi terhadap timbulnya gejala.
Perubahan mikrobiota usus Disbiosis memengaruhi metabolisme, motilitas, produksi metabolit, komunikasi imun, dan sinyal saraf antara usus dan otak.
Gangguan pemrosesan sistem saraf pusat Perubahan cara otak menerima, memproses, dan memodulasi sinyal dari saluran cerna sehingga persepsi nyeri dan gejala menjadi berlebihan.

Konsep Penting Rome V

Rome V menekankan bahwa tidak semua pasien memiliki kelima mekanisme tersebut secara bersamaan. Gejala dapat muncul akibat satu mekanisme dominan atau kombinasi beberapa mekanisme, sehingga setiap pasien memiliki profil patofisiologi yang berbeda dan memerlukan pendekatan diagnosis serta terapi yang lebih individual (personalized medicine). (ScienceDirect)

Implikasi Klinis

Perubahan definisi ini mengubah paradigma diagnosis DGBI. Dokter dianjurkan untuk menegakkan diagnosis positif berdasarkan gejala khas dan evaluasi terhadap tanda bahaya (alarm features), bukan menjadikan DGBI sebagai diagnosis eksklusi setelah seluruh pemeriksaan normal. Selain itu, tata laksana tidak hanya berfokus pada gejala, tetapi juga mempertimbangkan gangguan motilitas, fungsi sawar mukosa, respons imun, mikrobiota usus, faktor psikologis, serta kualitas hidup pasien. (ScienceDirect)

Tabel. Spektrum DGBI pada Anak Menurut Kelompok Usia

Kelompok Usia Gangguan DGBI yang Sering Dijumpai Diagnosis Banding Penting
Bayi (<12 bulan) Regurgitasi, kolik infantil, diskezia infantil, konstipasi fungsional Alergi protein susu sapi, FPIES, penyakit Hirschsprung, stenosis pilorus, infeksi
Balita (1–5 tahun) Konstipasi fungsional, diare fungsional, nyeri perut fungsional, gangguan makan Alergi makanan non-IgE, penyakit celiac, malabsorpsi, intoleransi laktosa
Anak sekolah (6–12 tahun) IBS, dispepsia fungsional, nyeri perut fungsional EGIDs, IBD, penyakit celiac, post-infectious DGBI
Remaja IBS, dispepsia fungsional, mual kronis, gangguan defekasi IBD, penyakit celiac, endometriosis (perempuan), gangguan makan

Tabel. Perbedaan DGBI Anak dan Alergi Makanan Non-IgE

Karakteristik DGBI Alergi Makanan Non-IgE
Penyebab utama Gangguan gut–brain axis dan regulasi fungsi saluran cerna Respons imun terhadap protein makanan
Hubungan dengan makanan Tidak selalu jelas Biasanya berhubungan dengan makanan tertentu
Gangguan pertumbuhan Umumnya ringan Lebih sering terjadi
Riwayat atopi keluarga Tidak khas Sering ditemukan
Pemeriksaan IgE Umumnya normal Sering juga normal
Inflamasi mukosa Ringan Dapat lebih nyata dengan infiltrasi eosinofil atau limfosit
Respons terhadap eliminasi makanan Tidak konsisten Sering membaik bila alergen dihindari
Konfirmasi diagnosis Berdasarkan kriteria Rome dan evaluasi klinis Berdasarkan evaluasi klinis dan Oral Food Challenge bila diindikasikan

Implikasi Praktis bagi Dokter Anak

Rome V menegaskan bahwa DGBI pada anak harus dipandang sebagai gangguan biologis yang nyata, bukan sekadar keluhan fungsional atau psikologis. Namun demikian, diagnosis DGBI tidak boleh menghentikan pencarian penyakit organik bila terdapat petunjuk klinis yang mengarah ke alergi makanan, penyakit celiac, EGIDs, IBD, atau kelainan lainnya. Pendekatan yang mengintegrasikan aspek biologis, nutrisi, psikologis, perkembangan anak, serta lingkungan keluarga akan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat dan tata laksana yang lebih efektif.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *