DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

LONG FLU SETELAH INFLUENZA A: GEJALA PASCAINFEKSI, RISIKO RESPIRASI, DAN PENYAKIT PENYERTA

LONG FLU SETELAH INFLUENZA A: GEJALA PASCAINFEKSI, RISIKO RESPIRASI, DAN PENYAKIT PENYERTA

Long Flu After Influenza A: Post-Infectious Symptoms, Respiratory Risks, and Comorbid Conditions

Influenza A umumnya dikenal sebagai penyakit akut yang ditandai demam, batuk, nyeri tenggorokan, rinore, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan. Sebagian besar penderita mengalami perbaikan dalam beberapa hari hingga kurang dari dua minggu, tetapi pada sebagian pasien dampak kesehatan dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini semakin mendapat perhatian setelah publikasi studi kohort besar dalam The Lancet Infectious Diseases yang mengevaluasi luaran jangka panjang setelah rawat inap akibat influenza musiman dibandingkan COVID-19 [1]. Istilah “long flu” dapat digunakan secara deskriptif untuk menggambarkan keluhan atau gangguan kesehatan yang menetap setelah episode influenza, tetapi perlu ditegaskan bahwa istilah tersebut belum mempunyai definisi diagnostik universal seperti post-COVID-19 condition. Karena itu, keberadaan gejala setelah influenza tidak boleh otomatis dianggap sebagai satu sindrom klinis yang sama pada semua pasien.

Studi Xie, Choi, dan Al-Aly menggunakan data kesehatan US Department of Veterans Affairs dan mencakup 10.985 pasien yang dirawat karena influenza musiman pada periode 2015–2019 serta 81.280 pasien yang dirawat karena COVID-19 pada periode 2020–2022 [1]. Pasien kemudian dievaluasi untuk berbagai luaran kesehatan setelah fase akut, dengan periode analisis mencapai 18 bulan. Temuan pentingnya adalah bahwa influenza juga dapat diikuti peningkatan risiko sejumlah masalah kesehatan setelah fase akut, walaupun beban keseluruhan multisistem lebih besar pada kelompok COVID-19. Dengan demikian, penelitian tersebut memberikan bukti bahwa dampak influenza dapat melampaui periode ketika demam, batuk, dan gejala akut lainnya telah mereda. Namun, penelitian ini terutama menggambarkan pasien yang cukup berat hingga memerlukan rawat inap dan tidak dapat langsung digeneralisasikan kepada seluruh penderita influenza, terutama anak dengan influenza ringan.

Dari berbagai sistem organ yang dianalisis, konsekuensi jangka panjang setelah influenza menunjukkan perhatian khusus pada sistem respirasi. Hal ini secara biologis masuk akal karena influenza terutama menginfeksi saluran respirasi dan dapat menyebabkan inflamasi saluran napas serta komplikasi seperti pneumonia. Influenza juga dapat menyebabkan sinusitis, otitis, eksaserbasi asma, serta komplikasi pada organ lain termasuk jantung, otak, dan otot [2]. Karena itu, batuk persisten, sesak, penurunan toleransi aktivitas, atau keluhan dada setelah influenza perlu dinilai berdasarkan perjalanan klinis, bukan semata-mata diberi label long flu. Pada sebagian pasien, gejala yang menetap dapat merupakan proses pemulihan pascavirus, sedangkan pada pasien lain dapat menunjukkan komplikasi atau penyakit dasar yang mengalami eksaserbasi.

Kelompok dengan asma perlu mendapat perhatian khusus. Influenza dapat meningkatkan inflamasi pada saluran napas yang sudah mengalami inflamasi kronis dan memicu eksaserbasi asma. Penderita asma memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza, termasuk pneumonia, dan influenza dapat memperburuk gejala asma [3]. Dengan demikian, pasien dengan riwayat asma atau mengi berulang mungkin mengalami perjalanan respirasi yang lebih kompleks setelah influenza dibandingkan individu tanpa penyakit saluran napas sebelumnya. Namun, bukti tersebut lebih kuat untuk menunjukkan peningkatan risiko komplikasi influenza pada penderita asma daripada membuktikan bahwa asma secara khusus menyebabkan suatu sindrom long flu.

Hal yang sama perlu diperhatikan pada seseorang dengan riwayat batuk lama atau batuk berulang. Batuk yang menetap setelah influenza tidak selalu menunjukkan infeksi virus yang masih aktif. Infeksi virus dapat meninggalkan hiperresponsivitas saluran napas, sedangkan asma, rinitis alergi, postnasal drip, sinusitis, atau penyakit saluran napas lainnya dapat mempertahankan gejala. Pada anak, influenza juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya. Oleh sebab itu, apabila batuk terus berlangsung atau kembali memburuk setelah sempat membaik, evaluasi klinis diperlukan untuk membedakan gejala pascainfeksi dari infeksi baru, eksaserbasi asma, atau komplikasi influenza [2].

Infeksi saluran napas berulang harus dibedakan dari long flu. Seseorang yang setelah influenza kembali mengalami demam, pilek, atau batuk dapat mengalami episode infeksi baru dan bukan perpanjangan infeksi influenza sebelumnya. Sebaliknya, keluhan yang menetap tanpa bukti episode infeksi baru dapat mencerminkan proses pascainfeksi atau penyakit dasar. Pada anak, frekuensi infeksi perlu diinterpretasikan berdasarkan usia, paparan terhadap anak lain, musim, kondisi lingkungan, status imunisasi, serta adanya penyakit kronis. Dengan demikian, munculnya episode respirasi baru setelah influenza tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa influenza sebelumnya berlangsung berkepanjangan.

Alergi makanan merupakan kondisi penyerta yang juga perlu diperhatikan, tetapi tidak dapat disebut sebagai penyebab langsung long flu. Hubungan yang lebih relevan secara klinis adalah kemungkinan adanya asosiasi antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang, yang dapat membuat perjalanan keluhan respirasi setelah influenza menjadi lebih sulit dibedakan. Woicka-Kolejwa dkk. melakukan studi retrospektif terhadap 280 anak dengan alergi makanan yang didiagnosis sebagai alergi makanan IgE-mediated. Sebanyak 153 anak (54,6%) dilaporkan mengalami infeksi saluran napas berulang, sedangkan 96 anak (34,3%) memiliki diagnosis asma dan 39 anak (13,9%) mengalami gejala gastrointestinal [7]. Pada kelompok usia 1–2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin berasosiasi dengan peningkatan risiko infeksi saluran napas berulang dengan OR 3,91 (95% CI 1,03–14,87) [7]. Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan epidemiologis yang menarik antara alergi makanan dan infeksi respirasi berulang, tetapi karena desain penelitian bersifat retrospektif dan dilakukan pada populasi anak dengan alergi makanan yang dirujuk ke klinik alergi, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat atau menyatakan bahwa alergi makanan menyebabkan long flu.

Implikasi klinisnya adalah bahwa anak dengan alergi makanan yang mengalami batuk atau pilek berulang setelah influenza perlu dinilai secara hati-hati untuk membedakan gejala pascainfluenza, infeksi respirasi baru, eksaserbasi asma atau rinitis, dan kondisi alergi yang menyertai. Hal ini penting karena infeksi saluran napas berulang dapat secara klinis tampak seperti influenza yang “tidak sembuh-sembuh”. Sebaliknya, tidak tepat pula menganggap setiap episode infeksi berulang pada anak dengan alergi makanan sebagai long flu. Alergi makanan merupakan respons imun terhadap protein makanan tertentu dan dapat memiliki manifestasi kulit, gastrointestinal, atau respirasi, sedangkan infeksi influenza merupakan penyakit infeksi virus. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada pasien yang sama tanpa harus mempunyai hubungan kausal langsung.

Kondisi gastrointestinal seperti FGID, refluks gastroesofagus, nyeri abdomen, diare, atau konstipasi dapat ditemukan bersamaan pada pasien yang mengalami keluhan pascainfluenza, tetapi hubungan kausal langsung dengan long flu belum terbukti. FGID merupakan kelompok gangguan yang kompleks dan dapat menimbulkan gejala seperti nyeri perut, kembung, perubahan pola buang air besar, mual, dan gangguan makan. Pada pasien tertentu, gejala gastrointestinal dapat memperberat persepsi terhadap kondisi setelah infeksi karena terjadi bersamaan dengan kelelahan, gangguan tidur, atau penurunan asupan makanan. Namun, tidak tepat menyatakan bahwa FGID atau “alergi pencernaan” merupakan penyebab long flu tanpa bukti penelitian yang secara khusus menguji hubungan tersebut.

Kemungkinan keterlibatan sistem saraf dalam dampak pascainfluenza juga menjadi bidang penelitian. Influenza dapat menyebabkan komplikasi neurologis akut yang jarang, termasuk ensefalitis dan ensefalopati [4]. Selain itu, penelitian eksperimental oleh Hosseini dan kolega pada model hewan menunjukkan bahwa infeksi influenza A H3N2 dan H7N7 dapat menimbulkan neuroinflamasi serta perubahan struktur dan fungsi jaringan hipokampus yang bertahan melewati fase akut [5]. Temuan tersebut penting untuk memahami kemungkinan mekanisme biologis, tetapi hasil penelitian pada mencit tidak dapat langsung disamakan dengan bukti bahwa manusia mengalami kerusakan otak jangka panjang setelah influenza. Oleh karena itu, istilah seperti brain fog, gangguan memori, atau perubahan kognitif setelah influenza memerlukan penelitian klinis manusia yang lebih kuat sebelum dapat dianggap sebagai manifestasi khas long flu.

Mekanisme yang mungkin menjelaskan sebagian gejala pascainfluenza tidak selalu memerlukan keberadaan virus yang terus-menerus di jaringan tertentu. Respons imun terhadap infeksi dapat menghasilkan mediator inflamasi yang memengaruhi berbagai organ. Pada penelitian eksperimental, perubahan mikroglia, neuroinflamasi, dan fungsi hipokampus setelah influenza A memberikan salah satu kemungkinan mekanistik mengenai bagaimana infeksi respirasi dapat memiliki konsekuensi di luar paru [5]. Namun, mekanisme biologis tersebut belum dapat digunakan untuk memperkirakan secara pasti siapa yang akan mengalami gejala jangka panjang. Penelitian manusia masih diperlukan untuk menentukan hubungan antara respons inflamasi, karakteristik virus, beratnya penyakit akut, kondisi komorbid, dan gejala persisten.

Dari perspektif klinis, perhatian terhadap long flu tidak berarti setiap keluhan setelah influenza harus dianggap sebagai penyakit kronis. Pendekatan yang lebih tepat adalah melakukan penilaian berdasarkan perjalanan gejala. Batuk atau kelelahan yang secara bertahap membaik dapat merupakan bagian dari proses pemulihan, sedangkan gejala yang menetap, memburuk setelah sempat membaik, atau disertai sesak, nyeri dada, gangguan kesadaran, dehidrasi, atau demam kembali memerlukan evaluasi medis. Pada anak dengan asma, penyakit kronis, atau usia sangat muda, risiko komplikasi influenza lebih tinggi sehingga perhatian klinis perlu lebih besar [2,3]. Dengan demikian, diagnosis banding antara gejala pascainfluenza, komplikasi influenza, infeksi baru, dan eksaserbasi penyakit dasar merupakan bagian penting dari evaluasi.

Pencegahan tetap merupakan strategi utama untuk mengurangi beban influenza dan komplikasinya. Vaksinasi influenza tahunan direkomendasikan bagi individu usia enam bulan ke atas, dengan perhatian khusus pada kelompok berisiko tinggi seperti anak kecil dan penderita asma [3,6]. Bukti paling kuat mengenai manfaat vaksin adalah penurunan risiko influenza dan komplikasi berat, termasuk rawat inap pada kelompok tertentu; bukti tersebut tidak boleh diperluas menjadi klaim bahwa vaksin secara spesifik mencegah suatu sindrom long flu yang belum memiliki definisi baku. Selain vaksinasi, pengelolaan penyakit dasar seperti asma, pengurangan paparan terhadap infeksi, dan evaluasi dini pada kelompok berisiko merupakan bagian penting dari pencegahan komplikasi [3,6].

Secara keseluruhan, influenza A tidak selalu berakhir tepat ketika demam dan gejala akut menghilang. Bukti kohort menunjukkan adanya peningkatan risiko sejumlah luaran kesehatan setelah influenza pada pasien yang mengalami rawat inap, terutama pada sistem respirasi [1]. Konsep long flu karena itu merupakan bidang penelitian yang penting, tetapi masih membutuhkan definisi klinis yang terstandar dan penelitian prospektif pada populasi yang lebih luas. Penderita asma, riwayat batuk lama atau berulang, penyakit saluran napas kronis, serta anak dengan berbagai kondisi komorbid dapat mengalami perjalanan klinis yang lebih kompleks setelah influenza. Alergi makanan secara khusus belum terbukti sebagai penyebab long flu, tetapi adanya penelitian yang menemukan asosiasi dengan infeksi saluran napas berulang menunjukkan bahwa kondisi alergi tersebut layak dipertimbangkan ketika mengevaluasi anak yang mengalami episode respirasi berulang setelah influenza [7]. FGID, GERD, diare, nyeri abdomen, konstipasi, dan alergi makanan dapat menjadi kondisi penyerta yang perlu dievaluasi secara individual, tetapi hubungan kausalnya dengan long flu belum terbukti. Fokus klinis sebaiknya tetap pada pembedaan gejala pascainfeksi dari infeksi baru dan komplikasi, pengendalian penyakit penyerta, serta pencegahan influenza melalui vaksinasi dan tata laksana berbasis bukti.

Daftar Pustaka

  • [1] Xie Y, Choi T, Al-Aly Z. Long-term outcomes following hospital admission for COVID-19 versus seasonal influenza: a cohort study. Lancet Infect Dis. 2024;24(3):239–255. doi:10.1016/S1473-3099(23)00684-9.
  • [2] Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Signs and Symptoms of Influenza. CDC; 2024–2026.
  • [3] Centers for Disease Control and Prevention. Flu and People with Asthma. CDC; 2024.
  • [4] Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Signs and Symptoms of Influenza: Complications. CDC; 2024–2026.
  • [5] Hosseini S, Wilk E, Michaelsen-Preusse K, Gerhauser I, Baumgärtner W, Geffers R, Schughart K, Korte M. Long-term neuroinflammation induced by influenza A virus infection and the impact on hippocampal neuron morphology and function. J Neurosci. 2018;38(12):3060–3080. doi:10.1523/JNEUROSCI.1740-17.2018.
  • [6] Centers for Disease Control and Prevention. Flu and Children. CDC; 2026.
  • [7] Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *